La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Khilaf Yang Menjadi Candu



Bella harusnya tidak heran dengan penampakan kamar yang baru ia masuki, tapi nyatanya tetap saja dia terkejut. Ia terpaku di tengah ruangan, merotasi matanya ke seluruh sudut kamar. Kamar yang sudah tidak terpakai selama sepuluh tahun kini berubah menjadi kamar yang begitu indah hanya dalam sekejap. Tempat tidur dengan ukuran besar dan sudah tentu nyaman dan empuk. Dilapisi sutra hijau yang begitu lembut.


"Terima kasih," lirih Bella. Selain taman bunga, kamar ini merupakan salah satu tempat paling banyak ia menghabiskan waktu bersama ibunya.


"Kau senang? Kau suka?"


Bella mengangguk cepat. "Sangat suka," Bella memutar tubuh menghadap Glend, menerbitkan senyum tulus untuk pertama kali sejak Glend menginjakkan kursi rodanya di kediaman Kingston.


Pun Glend membalas senyum wanitanya itu tidak kalah lebar. "Aku senang kalau kau suka."


Bella berjalan mendekati lemari baru yang ukurannya juga lumayan besar. Dibukanya lemari tersebut, seperti dugaannya bahwa pakaian Glend sudah tersusun rapi di sana.


"Kau ingin mengganti bajumu?"


"Ya," sahut Glend singkat.


Bella pun mengeluarkan piyama dari lemari. Diletakkannya di atas ranjang lalu dihampirinya suaminya kemudian mendorong kursi roda tersebut ke dekat ranjang.


"Bagaimana perjalanan?" Bella bertanya seraya melepaskan jas yang membalut tubuh suaminya. Akan horor suasananya jika ia melucuti pakaian suaminya dalam keadaan hening. Meski ia masih kecewa dan enggan untuk berkomunikasi, tetapi kegugupannya perlu diminimalisir. Berdua di taman dan berdua di kamar benar-benar suasana yang berbeda.


Bella meneguk saliva saat ia harus membuka kancing kemeja suaminya satu persatu.


"Berbicaralah," Bella kembali mengeluarkan suara namun ia enggan menatap wajah suaminya. Ia lebih memusatkan perhatiannya ke anak kancing yang menempel di baju suaminya seolah kancing-kancing itu sangat menarik perhatiannya. "Aku sedang bertanya tentang perjalananmu? Kau pulang bersama Bill?" Kebungkaman Glend mau tidak mau akhirnya membuat Bella mengangkat kepala. Pria itu ternyata sedang menatapnya. "Kau terlihat seperti sedang ingin menerkamku."


"Itulah yang sedang kupikirkan," sahut pria itu dengan nada serius. Netra keduanya saling mengunci.


"Untungnya kau lumpuh dan tidak bisa berdiri," Bella memalingkan wajah terlebih dahulu. Dibukanya anak kancing pertama disusul dengan anak kancing kedua dan seterusnya. Berjalan mulus tanpa ada drama tangan yang gemetar atau semacamnya walau harus Bella akui sesungguhnya tangannya sedikit berkeringat. Setidaknya Glend tidak menyadari hal itu.


Bella berdiri dan berjalan ke belakang suaminya. "Rentangkan tanganmu," perintahnya yang segera dilakukan Glend dengan patuh. Bella pun melepaskan kemeja sutra tersebut dari tubuh suaminya.


"Aku merasa diuntungkan dengan kelumpuhan yang kau alami. Andai saja kau pandai berjalan, aku yakin kau sudah menerkamku di detik kita sampai di kamar ini." Bella melipat kemeja tersebut dan meletakkannya di atas meja rias, dari sana ia kembali mendekati Glend dengan piyama yang sudah ada di tangannya.


"Kau jadi banyak bicara jika sedang gugup," celetukan pria itu membuat langkah Bella terhenti. Glend menyorotnya dengan tatapan mengejek juga bercampur geli. "Saat di taman juga di ruang utama kau sangat irit bicara. Mendadak begitu sampai di sini, kau banyak bicara. Kau merasa tidak aman denganku, heh?"


"Kenapa aku harus takut padamu?" Bella tetaplah Bella. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya meski sangat sulit. "Memangnya apa yang bisa dilakukan pria lumpuh sepertimu?"


"Kau penasaran?" pria tengil itu menantangnya.


"Kau bukan pria yang bisa membangkitkan rasa penasaranku, Mr. Vasquez."


Glend tergelak alih-alih merasa tersinggung. "Oh ya?" si pria buruk rupa itu mengikis jarak diantara mereka. Bella melotot kesal. "Jadi pria seperti apa yang bisa membangkitkan rasa penasaranmu?"


"Setidaknya bukan sepertimu."


"Sepertiku itu bagaimana, Bella?" Glend menarik tangan Bella untuk ia genggam sehingga piyama yang ada di tangan Bella jelas terjatuh.


"Lepaskan aku?"


"Kenapa? Kau tidak menyukai aku menyentuhmu? Tanganmu berkeringat." Glend mengulum senyum penuh arti dan pria itu sudah tidak bisa menahan tawanya lagi saat melihat Bella menatap horor kepadanya.


"Tatapanmu bisa membunuhku, Bella."


"Itulah tujuannya agar kau mati!" tandas Bella. Walau kematian pria itu bukanlah hal yang ia inginkan. Oh Tuhan, maafkan aku. Aku hanya terbawa emosi.


"Kau akan menjadi janda," kelakar pria itu. Glend selalu menanggapi semua ucapan Bella sebagai lelucon yang sangat menghibur.


"Aku tidak peduli."


"Kau berbohong."


"Tau apa kau tentangku."


"Aku tahu jika selama satu minggu ini kau merindukanku hingga membuatmu kurus kering seperti ini."


Dari jutaan umat di dunia, mungkin hanya Glend satu-satunya pria buruk rupa yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Itulah yang ada di dalam benak Bella.


Bella menghentakkan tangannya dari genggaman pria itu. Ia mundur beberapa langkah.


"Sebaiknya kau pakai bajumu agar kau bisa tidur. Setiap kata yang keluar dari mulutmu benar-benar mengundang amarah bagi siapa pun yang mendengarnya. Aku tidak ingin mengorbankan waktuku hanya perihal rindu," ucapnya sinis dan menohok.


Bella memungut kembali piyama yang terjatuh tadi. Dengan sigap ia segera memakaikannya di tubuh suaminya, mengancing dengan gerakan cepat. "Lepaskan celanamu dan jangan mengeluarkan satu kalimat pun dari mulutmu. Aku sudah mengantuk."


Glend kembali melakukan perintah Bella dengan patuh. Dalam hening, Bella memasangkan celana pria itu. Ia pun segera berdiri namun di detik berikutnya ia sudah berada di atas pangkuan pria itu dan dalam sekejap Glend sudah menanggalkan blushnya.


"Astaga, apa yang sedang kau lakukan?" Bella menyilangkan kedua tangan di dada untuk melindungi asetnya.


"Kau sudah membantuku mengganti pakaian dan aku ingin melakukan hal yang sama."


Lobang hidung Bella kembang kempis menahan amarah. Ia tidak lumpuh hingga membutuhkan orang lain untuk membantunya.


"Yang kulihat bukanlah itu, kau sedang mencuri keuntungan dariku!" tudingnya dengan nada sengit tidak bersahabat.


"Kenapa aku harus mencuri. Kau istriku, aku mempunyai hak di sini. Ouh Bella aku merindukan saat kau datang kepadaku dan berkata, Glend, aku ingin nafkah batin."


Bugh!


Bella meninju dada pria itu lalu kemudian membenamkan wajah di sana karena merasa malu jika mengingat kejadian malam itu.


Astaga! Ujian berat bagi seorang Glend yang sejak beberapa jam lalu berusaha menahan hasratnya agar tidak menyerang Bella dan mendekapnya ke dalam pelukannya.


"Aku membencimu!" Bella berkata pelan.


Glend mengangguk, "Maafkan aku." Akhirnya ia menyalurkan keinginannya. Direngkuhnya Bella ke dalam pelukannya, dikecupnya secara berulang pucuk kepala wanita itu.


"Aku tidak tahu apakah yang akan kusampaikan ini bisa mengurangi kadar kebencianmu terhadapku atau tidak." Diurainya pelukan mereka meski sesungguhnya ia masih tidak rela. "Lihat aku," Pintanya dengan nada lembut mendayu.


Bella menggeleng, menolak untuk melihat. "Tidak ada yang menarik di sana. Kau bukan pria tampan."


"Kau memuji mataku yang indah."


"Itu saat aku khilaf."


"Kalau begitu khilaf lah selamanya."


"Aku yang akan rugi dan kau yang akan diuntungkan di sini jika aku khilaf."


Glend tergelak, sekarang apa yang sedang mereka bicarakan sebenarnya.


"Kita sedang tidak berdagang, Bella. Untung dan rugi tidak ada di dalam suatu hubungan. Bukan juga bisnis yang juga harus melakukan negosiasi."


"Faktanya pernikahan ini berawal dari negosiasi." Bella mengingatkan. Hari itu ia datang menemui pria itu yang langsung diberikan solusi atas masalah yang menimpa ayahnya.


"Negosiasi itu berakhir setelah malam itu, Bella. Ini bukan tentang bayar hutang atau pun solusi untuk masalah yang menimpa Harry. Ini bukan tentang untung rugi, Bella. Ini tentang hubungan kita..."


"Itu jika pasangan tersebut saling mencintai." Bella menyela dengan cepat.


"Kau tidak mencintaiku?"


"Kalau begitu tugasku adalah membuatmu jatuh cinta kepadaku."


"Agar aku bisa dibodohi olehmu? Mengabaikan kejanggalan yang ada. Seingatku, kau mengatakan akan menjelaskan sesuatu tetapi sampai detik ini kau belum juga menjelaskan apa pun."


"Ah, ya, aku melupakannya." Glend membelai wajah Bella dengan lembut. Tanpa sadar Bella memejamkan mata menikmati sentuhan hangat di pipinya. Detik selanjutnya matanya terbuka lebar, membeliak kaget. Glend menciumnya! Apa-apaan pria ini, masalah mereka belum mendapatkan titik terang, tapi tetap saja si buruk rupa itu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Bella mendorong tubuh suaminya, tautan bibir mereka terlepas paksa. "Apa yang kau lakukan?" Bella menyapu bibirnya menggunakan lidah. Sekujur tubuhnya panas dingin, bibir pria itu masih terasa di sana. Reaksi tubuh yang luar biasa mengingat ciuman itu berlangsung hanya dalam hitungan detik.


"Menciummu." dahi Glend sedikit mengernyit seolah bingung dengan pertanyaan Bella.


"Kenapa kau melakukannya?"


"Kenapa aku melakukannya?" Alisnya semakin bertaut. Kali ini benar-benar bingung dengan pertanyaan istrinya tersebut. "Kau memintanya."


"Kapan aku memintanya?!" hardik Bella dengan wajah merona.


"Kau memejamkan matamu, kupikir kau sedang memberi kode agar aku menciummu." Sepertinya kepolosan dan keluguan istrinya sudah menular kepadanya. Saat Bella memejamkan mata, Glend bersorak kegirangan. Sungguh ia mengira jika Bella sedang memberi izin kepadanya. "Jadi sebenarnya kau ingin kucium atau tidak?" Oh Tuhan, pertanyaan macam apa ini? Kenapa Glend juga mendadak konyol dan bodoh.


"Tentu saja tidak. A-aku hanya menikmati sentuhan tanganmu yang hangat di pipiku. Aku juga tidak sadar jika aku sedang memejamkan mata."


"Bibirku lebih hangat, Bella."


"Tapi aku tidak ingin kau cium!"


"Jadi kau ingin apa? Tidak mungkin aku minta maaf atas ciuman singkat yang terjadi karena aku salah menangkap sinyal."


"Aku menginginkan penjelasan, Glend Vasquez!"


"Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan? Turunkan emosimu, jangan marah-marah." Glend mengusap lengan Bella yang polos. Matanya melirik sedikit ke bawah ke belahan dada wanita itu, tanpa sadar ia justru mencengkram lengan Bella.


"Apa lagi ini, kau melukaiku!" Bella menepis tangan Glend dari lengannya. "Kau sangat aneh."


Tentu saja aneh, aku menginginkanmu! Glend bergumam dalam hati.


"Wajar saja aku emosi, kau memancing amarahku." Diamnya Glend membuatnya kesal tapi jika pria itu juga membuka mulut, Bella justru tersulut emosi. Entah apa sebenarnya yang ia inginkan dari pria itu.


Kedatangan Glend sudah cukup mengejutkan baginya. Ia marah tapi juga senang. Ia membutuhkan penjelasan tapi sesungguhnya ia juga takut mendengar penjelasan dari pria itu. Ia takut jika dirinya memang dijadikan sebagai yang kedua.


Lalu apakah aku ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya?


Pertanyaan itu jelas sangat mengusiknya. Jika ia dijadikan sebagai yang kedua, harusnya Bella senang. Dengan begitu ia mempunyai alasan untuk menggugat cerai dan lepas dari jerat pria buruk rupa. Cerita La Belle Et La Bete akan berkahir. Ia akan melanjutkan impiannya. Berakhir happy ending seperti kisah Cinderella, ia akan menunggu pria rupawan yang kaya datang menjemputnya.


Bukankah ada pangeran rupawan yang mendekatiku. Andreas. Lalu kenapa aku enggan menoleh?


Bella benar-benar dibuat setengah frustasi dengan pergulatan hati dan pikirannya yang tidak sejalan.


"Kau terlihat sangat seksii jika sedang marah. Kedua matamu melotot lebar seakan pupilnya akan mencuat keluar. Hidungmu kembang kempis dan wajahmu merona merah. Sangat menggoda."


"Aku tidak membutuhkan rayuan, Glend."


Glend mengangguk tersenyum, pun ia mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sebuah amplop putih yang dilipat.


"Bacalah."


Dengan ragu Bella menerima amplop tersebut. Dibukan perlahan kertas yang ada di dalamnya. Di bagian atas tertulis sebuah nama rumah sakit. Bella membaca tiap kalimat yang ada di sana. Dahinya sesekali mengernyit karena tidak faham apa sebenarnya yang ingin Glend tunjukkan di sana.


Hingga nama Glend dan Anastasia Dixton tertulis di sana dan dinyatakan bahwa tes DNA yang dilakukan tidak menemukan kecocokan. Yang artinya tidak ada hubungan darah antara keduanya.


"Anastasia..."


"Stacy." Glend menjawab keraguan Bella. "Stacy nama kecilnya, Bella. Aku mencintai juga menyayanginya. Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu saat itu, karena yang kutahu Stacy adalah putriku yang kuragukan hingga aku mengajukan tes DNA ulang. Dan hasilnya adalah yang ada di tanganmu. Stacy bukan putriku, tapi dia sudah seperti putri bagiku."


"Lalu, Alice?"


"Mantan kekasihku."


"Kau mencintainya."


"Tidak jika sekarang."


"Dulu?"


"Kau akan marah jika aku menjawab jujur, c**ara mia."


"Jawab saja!"


"Ya!"


"Aku membencimu!" Bella berdiri dari atas pangkuan Glend, berlari masuk ke dalam toilet dan mengurung dirinya di sana.


Glend menghembuskan napas panjang. Begitulah wanita, jika berkata jujur dianggap salah, berbohong juga semakin masalah.


"Bella, buka pintunya."


"Aku marah padamu!"


"Kau memintaku jujur."


"Tapi aku tidak menyukai jawabanmu."


"Jadi kau ingin aku berbohong? Baiklah, dia hanya wanita masa laluku yang tidak mempunyai arti apa-apa lagi. Masa depanku ada di sini, bersamaku, mengurung diri di dalam toilet. Omong-omong apa kau sedang cemburu, Bella?"


Pintu dibuka kasar. Bella keluar sudah mengenakan jubah mandi. "Tidak usah besar kepala. Asal kau tahu saja, selama kau tidak di sini seorang pria tampan juga menyatakan cinta padaku dan mungkin dia lebih kaya darimu," Bella mengangkat dagu dan mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya angkuh.


"Dan bisa kutebak usahanya menarik perhatianmu tidak berhasil." Glend menjalankan kursi rodanya dan sengaja menabrak Bella hingga kehilangan keseimbangan.


"Kau ingin melukaiku, hah?"


Glend tidak menyahut, tangannya justru sibuk membuka tali jubah mandi yang Bella kenakan, melempar benda itu begitu saja hingga menyuguhkan pemandangan indah baginya.


"Maafkan aku karena mengabaikanmu selama satu minggu. Selain menunggu hasil tes DNA tersebut, aku juga harus menjaga Granny yang sedang sakit. Aku sungguh merindukanmu, Bella."


.


.


.


Yuhuu.... Ini sebanyak 2000 kata, genk! Jangan ada yang bilang lagi jika part ini pendek.


Yang senyum-senyum baca part ini, angkat tanganmu, Shagy.🤙


Luangkan waktu untuk komen ya. Semakin banyak komen semakin semangat nulis bab selanjutnya.