
"Harusnya kau tidak perlu melakukan ini, Andreas." Bella menatap beberapa paper bag yang ada di dalam genggamannya. Di sini, Lizzie pasti merasa diuntungkan. Baju KW-nya berubah menjadi original.
"Kita sudah belanja, tidak mungkin aku tidak membeli sesuatu untukmu. Lagi pula aku sudah berjanji."
"Andreas, maaf, tapi aku bisa membayarnya." Meski ia harus menggunakan kartu yang diberikan Glend. Itu lebih baik daripada menerima pemberian orang asing yang secara terang-terangan menyatakan perasaan padanya. Bella tidak ingin memberikan celah atau pun harapan pada Andreas untuk bisa menjalin hubungan yang lebih dekat. Pria ini terlalu menawan, akan sangat mudah menggoyahkan hati wanita mana pun. Termasuk Bella. Ya, Bella meragukan keteguhan imannya. Mengingat kondisi dan suasananya yang sedikit kacau, perhatian dari orang lain bisa saja membuatnya berpaling dan mengkhianati pernikahannya.
"Aku memiliki uang. Jujur, aku bahkan tidak tahu kemana aku akan mengenakan gaun-gaun mahal ini." Wajah Bella tampak frustasi mengingat berapa banyak uang yang dikeluarkan Andreas untuknya.
"Kenakan saat kau bermain dengan Polly dan Meimei."
Bella tersenyum geli mendengar cara Andreas menyebut dengan akrab dua nama sahabat kecilnya seolah pria itu sudah lama mengenal keduanya.
"Kau belum bertemu dengan Meimei."
"Aku akan berkenalan dengannya nanti. Masuklah, aku akan mengantarmu pulang. Kau pasti sudah lelah." Andreas membuka pintu mobil untuk Bella, seperti biasa diletakkannya tangannya di atas kepala gadis itu untuk melindungi Bella dan benturan.
"Hanya kali ini, lain kali aku tidak ingin kau membeli barang mewah untukku lagi."
Andreas masuk ke dalam mobil. Ditunggunya Bella mengenakan sabuk pengaman sebelum ia melajukan mobil. "Artinya kita kan bertemu lagi dan aku bisa membeli sesuatu untukmu. Sesuatu yang lebih murah. Baiklah, aku menantikan pertemuan selanjutnya, Bella."
Bukan begitu konsepnya, Bella tidak menginginkan ada pertemuan yang direncanakan. Tapi karena ia sudah lelah, ia malas untuk merespon ucapan pria itu. Ia memilih untuk memalingkan wajah ke luar jendela.
Andreas menarik napas kasar. Ia tidak berhasil membuat wanita itu menoleh ke arahnya. Selalu saja ada batas, jarak yang dibentangkan Bella terlalu jelas. Gadis itu tetap murung saat mereka bersama hampir 4 jam lamanya. Bella sering merenung dan hal itu membuat Andreas ingin memaki.
Perjalanan mereka menuju rumah orang tua Bella, hanya diisi dengan kesunyian hingga mereka sampai di tempat mereka bertemu tadi. Bella meminta agar diturunkan di sana. Tidak berminat untuk berbasa basi dengan menawarkan kopi kepada Andreas.
"Kau tidak mengundangku masuk, Bella?"
"Aku tidak terlalu mengenalmu dan aku bukan orang yang ramah, Andreas."
Andreas tersedak mendengar penuturan menohok yang disampaikan dengan nada ringan tersebut.
"Tidak terlalu mengenal? Aku bahkan menyelamatkanmu dari si bajiingan itu dan kita sudah berciuman sebanyak dua kali."
"Itu bukan berciuman. Kau yang mencuri ciumanku!" ketus Bella dengan wajah masam. Selanjutnya wajahnya berubah muram, matanya merah menahan tangisan. Bella mendongak, menghindari agar tangisannya tidak roboh.
"Sialan, brengsek, aku tidak bisa menahannya lagi." Bella menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar meredam tangisannya agar tidak pecah. "Ini sudah satu minggu, hampir 170 jam, aku tidak mendengar kabarnya. Apa dia baik-baik saja? Dia selalu bangun lebih awal, duduk di ruang makan dengan secangkir kopi, menungguku turun ke bawah lalu menyajikan sarapan untukku. Apakah dia melakukan hal sama untuk wanita itu?"
Andreas menarik Bella ke dalam pelukannya. Tidak ada suara yang ia keluarkan karena memang tidak tahu bagaimana cara menghibur wanita itu.
"Aku juga marah padamu." Bella mendorong tubuh Andreas agar menjauh darinya. "Kenapa kau harus menciumku! Kenapa kita harus bertemu. Ka-kau, kau membuatnya meragukan." Bella meracau tidak jelas. Bella hanya tidak tahu bagaimana cara meluapkan rasa sesak di dadanya. Tekanan dari Rose dan Lizzie membuatnya semakin frustasi. Tidak ada hiburan dan pelampiasan. Entah sejak kapan beradu jawab dengan Glend merupakan hiburan terbaik baginya. Glend selalu menjadi objek pelampiasan amarah yang sangat menyenangkan.
"Jika dia mencintaimu dia tidak akan pernah meragukanmu."
Bella tersenyum getir, "Tidak ada cinta."
"Bagaimana kau tahu?"
"Dia tidak pernah mengatakannya."
"Terkadang semuanya hanya perlu ditunjukkan melalui tindakan, Bella. Apakah sebelumnya kau dan dia pernah membicarakan hal demikian?"
Bella menggeleng, "Aku juga tidak mengharapkan dia mengatakan hal itu. Hubungan ini sangat sulit dijelaskan. Tidak akan pernah ada cinta." Bella mengusap air matanya menggunakan punggung tangan dengan kasar. "Kenapa aku harus membahas ini denganmu?"
Selama satu minggu Bella bisa menahan diri, mencoba menganggap semua baik-baik saja meski ia tahu hatinya sedang tidak bain-baik saja. Saat ayahnya bertanya, ia menerbitkan senyum terbaik. Enggan meluapkan kesedihan dan berbagi cerita dengan sang ayah karena ia tidak tahu memulainya seperti apa.
Andreas terkekeh, "Entahlah," pungkas pria itu. "Tunggulah, aku akan membuka pintu untukmu."
"Silakan, Cinderella." Andreas mempersilakan.
"Bella! Apa kau tahu ini sudah jam berapa? Kau ingin membuat kami mati kelaparan, hah? Sementara kami menunggumu di rumah, kau sibuk menggoda pria lain." Lizzie dengan langkah cepat menghampirinya.
Bella hanya bisa menghela napas panjang, tapi harus ia akui meladeni kemarahan Lizzie dan ibunya cukup ampuh menyingkirkan Glend dalam benaknya walau hanya sejenak.
"Apakah mereka selalu memperlakukanmu demikian?" Andreas menggeram menahan marah, tidak terima dengan kalimat merendahkan yang dicetuskan Lizzie kepada Bella.
"Kenapa kau lama sekali? Di mana pakaianku? Aku akan menghajarmu jika kau tidak berhasil membelinya." Lizzie merampas semua paper bag dari genggaman Bella. Selanjutnya ia memekik kaget melihat gaun yang sama persis tapi terlihat lebih wow. "Ini luar biasa. Tidak diragukan lagi, jika pria-pria yang menggunakan jasamu adalah pria kaya bodoh yang bisa kau kuras uangnya sesuka hati."
"Bagaimana, kau suka, Lizzie? Itu tinggal satu-satunya. Original dan bukan tiruan seperti milikmu."
Mendengar suara berat seseorang menyebut namanya, Lizzie mengangkat kepala. Paper bag yang ada di dalam genggamannya terjatuh. Mulutnya menganga, matanya menatap takjub sosok menawan yang ada di hadapannya itu.
"Kenapa kau kemari?" tanya Bella dengan wajah masam. Dipungutnya paper bag yang berjatuhan di tanah. "Tutup mulutmu, Lizzie, sebelum lalat membuang kotoran di sana." Sarkasnya.
Lizzie tersadar, sontak mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Dress yang tidak sengaja dirusak Bella adalah barang tiruan. Bella membeli yang asli untukmu."
"Oh, ya." Wajah Lizzie berubah warna karena merasa malu.
"Kau menipunya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik." Andreas menyunggingkan senyum tipis, namun tatapan yang ia layangkan kepada Lizzie penuh ejekan. Lizzie yang terpesona dengan sosok Andreas tidak menyadari kesinisan pria itu.
"A-aku tidak menipunya. Bella memang selalu berlebihan. Selalu memberikan yang terbaik untuk semuanya. Bukan begitu, Bella?" Lizzie meminta pembenaran dari Bella.
"Aku terpaksa," tukasnya dengan datar sembari melangkah pergi meninggalkan Andreas dan Lizzie. Ia sudah meminta pria itu pergi tapi Andreas tidak mengindahkannya sama sekali. Jadi sekarang bukan urusannya lagi apa pun yang Andreas dan Lizzie bicarakan.
Sampai di rumah, Bella langsung naik ke lantai atas, tempat di mana kamarnya berada. Berada paling sudut dan paling kecil diantara empat kamar yang ada. Ruangan yang dulu dipake pengasuh Bella untuk menyimpan pakaian dan barang-barang selama ibunya masih hidup. Sementara pengasuh tersebut tidur di kamar yang dengan Bella.
Bella membuka kamar. Hanya ada tempat tidur dengan ukuran kecil yang hanya mampu menampung satu tubuh, lemari pakaian dan satu set meja rias, sebuah kipas dan tidak memiliki toilet sama sekali. Tidak ada ubahnya dengan Cinderella yang tidur di atas loteng.
Bella menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang hingga menimbulkan bunyi. "Ini melelahkan," gumamnya sembari memejamkan mata.
"Baiklah, mari menyibukkan diri dengan memasak." Meski sesungguhnya hal yang dibutuhkan Bella saat ini adalah tidur. Seperti yang dikatakan Andreas bahwa ia perlu istirahat.
Bella mengeluarkan baju ganti dari lemari dan membawanya turun ke bawah. Untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyerangnya, ia perlu mandi sebelum memasak.
Sepuluh menit kemudian ia keluar dari dalam toilet dan langsung berkutat dengan sayur-sayuran. Disaat menyiapkan makanan seperti ini adalah hal yang paling membuatnya tersiksa. Bersama Glend, ia diperlakukan seperti ratu. Disajikan makanan enak tanpa khawatir ada yang memarahinya. Terkadang Bella bertanya-tanya, kenapa Rose begitu kejam dan pelit kepadanya mengingat ayahnya sangat rutin memberikan belanja bulanan kepada ibunya.
Hampir satu jam, akhirnya ia menyelesaikan masakannya. Salmon dan kentang parut sesuai perintah Rose tadi pagi. Hari ini ayahnya pulang larut. Jika demikian, biasanya Rose akan memberi perintah agar Bella memasak hanya untuk dua porsi. Dirinya tidak pernah dihitung.
Bella menoleh ke belakang, melihat apakah ada tanda-tanda Rose dan Lizzie akan muncul. Dirasa aman, ia pun menikmati kentang goreng renyah buatannya. Ia tidak menyukai kacang-kacangan, tetapi ia sangat menyukai kentang. Sedikit miris, ia harus menikmati semua ini dengan cara sembunyi-sembunyi.
"Kau makan seperti orang kesetanan."
Bella terlonjak kaget, semua makanan yang ada di mulutnya menyembur keluar.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Andreas berdiri tepat di belakangnya. Menatapnya dengan sorot mata aneh. Bingung, terkejut, kasihan, iba, semua berbaur jadi satu.
"Apa baru saja kau makan secara diam-diam?" tatapan pria itu lembut mendayu. Andreas mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Tangannya terulur membersihkan jejak makanan di sekitar mulut Bella.
Bella menepis tangan Andreas dari wajahnya. "Ti-tidak. Kentang goreng memang selalu membuatku lupa diri. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Berkunjung. Lizzie menawarkan agar aku mampir. Tidak baik menolak tawaran orang lain."
Bella mengangguk tanpa minat. "Kembali lah ke tempatmu kalau begitu, aku akan membuatkan kopi untukmu setelah aku membersihkan ini." Bella mengambil waslap untuk membersihkan jejak makanan yang keluar dari mulutnya tadi sebelum Lizzie atau ibunya mulai menyadarinya.
"Astaga, kau di sini rupanya." Lizzie muncul sebelum Bella selesai membersihkan jejak makanannya. "Kau sudah makan, Bella?" hardik Lizzie dengan tatapan horor.
"Memangnya apa yang salah jika dia makan?" rahang Andreas mengetat keras. Sorot matanya tajam menghunus. Kali ini Lizzie menyadari hal itu, ia terkesiap takut.
"Akh tidak apa-apa. Hanya saja, kami biasanya selalu makan bersama bagaimana layaknya keluarga berkumpul di meja yang sama. Sebaiknya kita kembali ke ruang utama. Ibuku sudah ada di sana dan ingin berkenalan denganmu."
Andreas mengusap wajahnya kasar. Pria itu terlihat frustasi. "Aku akan menebus semuanya," ucap pria itu penuh arti sebelum ia berbalik meninggalkan Bella.
"Aku akan melaporkanmu pada ibu." Lizzie melayangkan ancaman tanpa mengeluarkan suara. "Kembali ke kamarmu dan jangan turun jika aku atau pun Ibu memanggilmu, kau mengerti."
Bella tidak menyahut karena tanpa disuruh oleh wanita itu, ia pun ingin kembali ke kamar merebahkan diri. Melupakan beban dunia untuk sejenak dengan menjelajah di alam mimpi.