
Justin, Alex, Bill bersimpuh di hadapan Bella yang sedang memandangi suaminya yang tidak sadarkan diri. Glend sudah mendapat perawatan, luka di kepalanya cukup parah. Untungnya tidak menyebabkan tulang tengkoraknya retak. Namun, bisa dipastikan Glend akan mengalami geger otak.
"Daripada bersimpuh di sana, lebih baik baik kalian pikirkan bagaimana cara membangunkannya," Bella bergumam lirih. Matanya sudah bengkak akibat menangisi pria itu selama berjam-jam lamanya.
Orang yang sudah membuat Glend terbaring di sana sudah berhasil diamankan. Rudolf dan Rose lah yang melakukannya. Pasangan kekasih itu sudah diamankan oleh pihak yang berwajib. Saat ini Harry dan Sharon lah yang mengurus hal itu. Memastikan Rudolf dan Rose dihukum secara setimpal.
"Bella, kami merasa bersalah kepadamu. Tapi sungguh, kami tidak bermaksud untuk membohongimu." Justin bersuara. "Glend melakukan ide konyol itu tanpa sepengetahuan kami." Sempat-sempatnya Justin menyalahkan Glend disaat pria itu sedang terbaring tidak berdaya.
"Dan setelah kalian tahu, yang kalian lakukan adalah menikmati lakon yang ia mainkan. Sudahlah Justin, kau dan yang lain tidak perlu meminta maaf. Tugas kalian adalah membuatnya bangun agar..." Suara Bella tercekat di tenggorokan. Apa yang terjadi dua hari yang lalu adalah hal paling mengerikan dalam hidupnya setelah kecelakaan maut yang ia alami bersama ibunya.
"Agar aku bisa memarahinya." Dengan susah payah Bella menyelesaikan ucapannya.
"Bagaimana cara kami membangunkannya?" Bill yang juga merasa bersalah tidak bisa berpikir jernih lagi. Bryson dan yang lain sudah terbang dari Anndora menuju New York. Bella akan mendapat kejutan lagi.
"Jika aku tahu, aku sudah melakukannya sejak kemarin," Bella menimpali dengan nada datar. Fokusnya tetap pada sosok yang ada di hadapannya itu. Bella sedang berperang dengan hati dan pikirannya. Memerintah keduanya agar sejalan bahwa yang di hadapannya itu adalah sosok asli pria yang menikahinya. Ck! Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya. Namun, setelah Bella merekam semua kejadian tentang kebersamaannya bersama Glend maupun Andreas, sesungguhnya semuanya sangat jelas.
Mulai dari panggilan Cinderella, kesigapan pria itu saat menyelamatkannya dari Matteo. Ketidakpedulian Glend saat Bella membahas Andreas karena ternyata mereka adalah orang yang sama.
"Dia tidak koma. Dia hanya belum sadarkan diri."
"Sama saja, Bella." Justin menimpali. "Glend mengalami pembengkakan atau perdarahan jaringan otak. Pembengkakan yang terjadi pada otak membuat otak dalam tengkorak menjadi terhimpit dan otak mengalami tekanan yang cukup kuat. Hal ini menyebabkan oksigen yang mengalir menuju otak pun menjadi terhambat."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Justin. Aku tidak membutuhkan penjelasan medismu. Yang kuinginkan dia bangun. Itu saja. Dia masih berutang penjelasan kepadaku." Bella menahan air matanya agar tidak runtuh. Sudah cukup ia menangis seharian. Ia tidak ingin dirinya sakit.
Justin menelan salivanya, "Aku salah bicara lagi," pria itu bergumam pelan.
"Seperti yang kukatakan, Bella. Coba kau ajak dia berbicara." Alex kembali membeli saran.
"Kenapa bukan kau yang mengajaknya, Alex? Bukankah dia juga mencintaimu."
Ketiga pria itu saling melempar pandangan. Mereka mati kutu.
"A-aku akan mencobanya kalau begitu," Alex dengan enggan berdiri. Jika ia boleh memilih, lebih baik ia bersimpuh selama berjam-jam lamanya daripada harus mengajak berbicara seorang pria tampan yang tidak sadarkan diri. Pria menawan yang selama ini menyamar jadi pria lumpuh yang buruk rupa.