
"Kau melanggar aturan yang ada, Nak." Seru Queen Hella dengan nada lembut tanpa bermaksud menyalahkan.
"Oh, Granny, ini aturan yang sangat konyol sekali. Kurasa aturan itu perlu diubah. Peraturan harusnya tidak menyulitkan pihak lain. Aku sangat lambat dalam mengunyah makanan, begitu juga dengan Stacy. Hidangan di atas meja begitu banyak, aku ingin mencicipinya semuanya tetapi tidak pernah sempat karena kau sudah selesai makan. Ayolah, Granny, ini tidak adil."
Queen Hellga tersenyum, "Aturan ini sudah ada bahkan sebelum aku menjadi ibu suri, Nak."
"Dan sekarang kau adalah ibu suri, kau bisa mengubahnya, Granny." Bujuk Bella dengan nada setengah merengek. Selama ini tidak ada yang berani mendesak atau pun menyarankan sesuatu yang masuk akal kepada seorang ibu suri.
"Nak, hanya karena kau tidak bisa mengikuti protokol yang ada, lalu kau menyarankan hal itu. Maaf, Sayang, aku tidak memiliki wewenang untuk itu..."
"Astaga," Bella menyela ucapan Queen Hellga yang sontak membuat semua mata tertuju ke arahnya. Alice yang berseberangan dengannya bahkan hampir mengeluarkan biji matanya. Namun, sejurus kemudian, wanita itu menyeringai puas. Alice yakin, Bella akan mendapatkan masalah setelah ini."
"Yang kudengar harusnya raja yang berbuat wewenang. Keputusan mutlak ada di tangan raja. Ayah mertua, tolong pertimbangkan saranku," Bella memasang wajah memelas. Sudut bibir Bryson terangkat membentuk senyuman. "Oh astaga, kau tersenyum."
"Bella, hentikan. Diam lah, kau sudah terlalu banyak bicara." Glend menarik tangan Bella agar wanita itu menoleh ke arahnya.
"Astaga, kau cemburuan sekali. Itu ayahmu, senyumnya begitu menawan, sama sepertimu."
Glend melayangkan tatapan tajam, tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Bella.
"Glend, sebaiknya kau makan, aku akan mengisi piringmu," Alice memegang lengan pria itu, mengusapnya dengan lembut.
"Nah, sebaiknya kau makan," Alice meletakkan piring yang sudah terisi di hadapan Glend.
Bella segera mengambil alih piring tersebut. "Dia masih memiliki istri yang bisa melayaninya dengan baik. Terima kasih atas perhatianmu, Alice. Tapi sikap yang kau lakukan tadi sedikit tidak pantas untuk seorang putri. Glend pria beristri dan istrinya ada di hadapanmu. Jadi perhatikan sikapmu sekali lagi."
"Kau..."
"Ehmm." Kalimat Alice menggantung di udara begitu mendengar deheman dari King Bryson yang tentu saha disengaja untuk melerai perdebatan di meja makan.
"Maafkan aku," Alice bergumam.
"Kenapa kau diam saja saat dia melayanimu," Bella mencubit lengan suaminya tanpa ampun hingga pria itu meringis dengan suara tertahan.
"Kau sibuk berbicara. Kau yang memberi celah," Pria itu mendorong tangan Bella dari lengannya.
"Artinya kau akan menyantap apa yang dia sajikan?"
"Apa salahnya?"
"Jelas salah! Kau jangan cari perkara denganku, Glend."
"Kau mengancamku?"
"Aku memberi peringatan."
"Ehemm," Kembali King Bryson berdehem. "Sebaiknya kalian berdua membicarakan masalah kalian berdua di dalam kamar."
"Ah, ya, satu lagi, Ayah mertua, tolong aturan larangan berbicara jika raja dan ratu tidak mengajak berbicara terlebih dahulu. Tuhan menciptakan mulut untuk kita berkomunikasi, sudah sepatutnya kita memanfaatkannya sebaik mungkin. Salah satunya ya ini, aku mengemukakan pendapatku dengan menggunakan mulut. Kita adalah keluarga, kenapa harus ada aturan seperti itu. Ini konyol."
"Akan kupertimbangkan apa yang kau katakan." sahut King Bryson.
____
"Lihatlah, wanita itu mulai menunjukkan statusnya yang rendah. Aku sudah tidak sabar untuk menyingkirkan wanita itu. Seenaknya dia mengubah aturan yang ada. Aku muak dengannya!"
"Sabarlah, sebentar lagi ini akan berakhir, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Menjadi ratu Anndora."