La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Semoga Dia Tidak Mengingatnya



Semua terkejut, tanpa terkecuali. Jeritan Hellga dan Alice menggema di ruangan tersebut. Para pengawal kerajaan segera menangkap tersangka dan memasukkannya ke dalam tahanan bawah tanah. Kecuali Alex. Kejadian ini akan menjadi sejarah yang akan dikenang sepanjang masa. Anndora, negara yang tidak mempunyai pasukan tentara, sedangkan polisi hanya bertugas menjaga keamanan kota. Untuk hukum yang berlaku di sana, mutlak keputusan raja. Inilah yang disesalkan Bryson, kenapa dulu ia begitu lemah. Ya, tentu saja lemah, semua orang yang berarti baginya dijadikan sandra. Ia tidak bisa berkutik. Ia tidak berdaya hingga Bella datang menyadarkannya.


Hari itu, disaat Glend terbaring koma di rumah sakit, Bryson menahan diri agar tidak menangisi keadaan putranya. Tidak ada yang tahu apa yang ia rasakan saat itu. Sebagai seorang ayah, tentu saja ia sangat terluka melihat putra kesayangannya terbaring tidak berdaya. Ia berhasil membentuk imejnya menjadi seorang ayah yang tidak penuh kasih. Hingga ketiga teman putranya juga tidak menaruh simpati padanya. Semua sibuk menenangkan Hellga.


Lalu tanpa diduga, Bella berdiri di sampingnya, mengusap punggungnya dengan lembut, "Glend, pria yang kuat. Dia akan bangun dan sehat kembali. Kau tidak usah bersedih, Ayah mertua."


Bella begitu peka dan penuh perhatian, detik itu juga, Bryson untuk pertama kalinya tersenyum sejak kepergian istrinya, Jenita.


"Glend! Itu semua tidak benar. Ini hanya konspirasi. Jangan percaya, Glend! Aku sungguh mencintaimu, percayalah. Kita akan menghancurkan nenek lampir itu begitu kita menduduki tahta. Kumohon, Glend, percaya padaku. Jangan biarkan aku dihukum. Tolong selamatkan aku, Glend!"


Glend seolah tuli. Ia satu-satunya makhluk di ruangan itu yang tetap bergeming di tempat. Wajahnya pucat pasi, nyawanya seolah melayang dari raganya. Hatinya dihantam oleh ribuan jarum. Perih, sakit, hancur, itulah yang ia rasakan atas kebodohannya selama ini. Atas keserakahan orang-orang yang berada di sekitarnya. Ini masih reaksi atas pengkhianatan yang dilakukan terhadapnya. Bryson tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ingatan itu pulih. Jika ingatan tentang Bella kembali bersemayam di hatinya. Bryson tidak berani untuk membayangkannya sama sekali.


"Aku seorang ayah." Glend bergumam sebelum akhirnya ia pingsan tidak sadarkan diri.


Dua hari kemudian, Bryson menyerahkan tahtanya. Pemilihan dilakukan berdasar suara rakyat dan akan dirapatkan apakah orang yang terpilih tersebut layak menjadi pemimpin.


"Glend sudah bangun, Yang Mulia," Justin datang memberi kabar. Sampai pemimpin yang baru dilantik, Bryson untuk sementara tetap bertugas.


Bryson mengangguk sembari melangkahkan kaki ke luar dari ruangannya. "Apakah ia sudah mengingat tentang Bella?"


"Sepertinya belum, Yang Mulai. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia sudah mengingat tentang Bella."


Bryson mengangguk, "Semoga dia tidak mengingatnya, selamanya." Ucap pria itu. Tanpa sadar Justin menarik napas panjang.


Bryson menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya, "Kau tidak suka dengan pernyataanku?"


Justin segera menggeleng, "Tidak, Yang Mulia. Siapa yang berani membantah ucapanmu." Justin segera menundukkan kepala. "Yang Mulia..."


"Jika yang ingin kau tanyakan adalah keberadaan Bella, aku juga tidak tahu jawabannya, anak muda."