La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Sirkuit



"Duduklah sembari kau menunggu Gavin turun dari kamarnya."


Glend menuruti permintaan Bella, ia segera duduk di sofa disusul oleh wanita itu.


"Aku tidak akan mengucapkannya kalau begitu."


"Tidak masalah."


Hening, keduanya hanya saling menatap untuk sejenak. Glend lah yang memalingkan wajah terlebih dahulu. Ia bisa mengacaukan semuanya jika terus-terusan memandangi wajah Bella. Melihat bibir yang penuh luka dan mata sembab wanita itu, ingin rasanya ia menarik Bella ke dalam pelukannya. Hanya ia dan Tuhan yang tahu seberapa banyak ia memaki dirinya untuk memberi peringatan kepada dirinya agar tetap tenang dan terkendali. Percayalah, ini butuh usaha besar.


"Aku tidak tahu kita harus membicarakan apa." Glend bergumam.


"Apa kau sudah makan?" Sama seperti Glend Bella juga merasakan hal yang sama. Bingung mencari topik karena suasana hati yang tidak sinkron dengan pikirannya.


"Apa kau ingin memasak untukku?"


Bella tertawa kikuk. Pertanyaan yang sangat ringan tapi memiliki jawaban yang sangat berat.


"Hm, bagaimana persiapan pernikahanmu?"


"Apakah kita harus membahas itu, Glend?"


"Kurasa tidak." Glend dan Bella kompak menarik napas.


🐈


"Wooaaa, sirkuit balap!" Gavin memekik kegirangan. Ia senang, sangat senang. Dibandingkan berkuda, ia lebih menyukai sirkuit.


"Kau senang, Buddy?"


"Tentu saja! Menjadi salah satu pembalap handal adalah keinginanku, Iron Man! Terima kasih sudah membawaku kemari."


Glend tertawa, perasaannya membuncah. Akhirnya ia tidak salah mengenali keinginan putranya. Saat di arena pacu kuda, Gavin tidak terlalu semangat, tapi ia bisa melakukannya dengan baik. Bocah itu juga menyimak pelajaran dengan baik. Ini berkat ajaran yang diberikan oleh Felix. Dari sana Glend bisa melihat jika Gavin sebenarnya menyukai hal-hal yang menguji adrenalin. Mengikuti instingnya, ia memutuskan untuk membawa Gavin ke sirkuit. Sepanjang perjalan menuju sirkuit, jantungnya sebenarnya sudah tidak aman. Gavin tidak seperti Grace yang banyak bicara. Gavin lebih bersikap tenang dan sok dewasa.


"Wuah. Aku yakin suatu saat kau akan menjadi pembalap yang berani dan hebat. Kau ingin terjun langsung?"


Gavin terkejut, ia kira mereka hanya akan menyaksikan para pembalap yang sedang berlatih ternyata Glend mengajaknya terjun ke sana secara langsung. Wajahnya berbinar cerah seketika. Sudah sejak lama bocah itu memimpikan hal ini. Bagaimana rasanya duduk di balik setir kemudi mobil balap tersebut.


"Benarkah aku boleh mencobanya, Uncle?"


Glend mengangguk mantap mencoba mengabaikan cubitan di hatinya setiap anak-anaknya memanggilnya dengan sebutan Uncle.


"Ya! Kau harus menguji kemampuanmu secara langsung."


"Aku akan menikmatinya. Ini pengalaman pertamaku dan aku merasa gugup. Katakan sesuatu agar aku lebih yakin dan tidak gugup, Uncle."


"Percayalah pada kemampuanmu dan ingat, aku di sini mendukungmu dengan sepenuh hati," Glend menarik tangan mungil putranya itu dan meletakkannya di dadanya. Keduanya saling bersitatap lalu kompak memamerkan senyum terbaik mereka.


"Aku merasa lebih baik," tukas Gavin. Glend mengangguk. Melalui ekor matanya, ia meminta seseorang mendekat membawa perlengkapan yang dikenakan untuk melindungi Gavin dari cedera yang bisa saja terjadi mengingat ini pertama kali Gavin terjun secara langsung ke sirkuit. Glend yakin jika Bella mengetahui hal ini, wanita itu akan memaki dan mencincangnya.


Seorang pelatih memberi pengarahan pada Gavin. Bocah itu mendengarkannya dengan serius dan seksama. Glend mengulum senyum melihat mimik antusias di wajah putranya itu.


"Oke, sekarang saatnya beraksi," Wajah Gavin berubah sumringah.


"Kita kan bertarung, setuju, Buddy?"


"Setuju! Aku akan mengalahkanmu, Uncle!"


"Dan aku tidak berbaik hati padamu, Dude."


"Ini akan lebih menarik, Uncle!"


"Oke!!"