La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Tercyduk



Part ini panjang, > 2600 kata...


Tap jempolnya sebelum baca, dan jangan lupa tinggalkan jejak komen...


Happy Reading 🖤


.


.


"Apa yang terjadi denganmu, Mrs.Vasquez?" Justin menatap Bella dengan kerlingan mata menggoda. Wajah tampan pria itu selalu tersenyum penuh arti. "Berikan tanganmu biar dokter tampan ini bisa memeriksanya, separah apa lukamu hingga suami buruk rupamu itu panik dan marah-marah agar aku datang dengan segera."


"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Pikiranku jadi parno sendiri?" Bella menyembunyikan tangannya yang tersiram air panas. "Entah kenapa setiap pria menawan tersenyum ke arahku membuatku takut dan sedikit muak." Ia bergumam jujur. Tidak Justin, tidak Andreas, ia selalu salah mengartikan sikap ramah mereka. Apakah ini efek ketakutannya karena perbuatan Matteo atau karena hal lainnya. Intinya, di mata Bella pria menawan kurang menarik.


"Astaga, ucapanmu melukaiku, pernyataanmu membuat seluruh pria tampan di dunia tidak ada harganya," Justin melayangkan tatapan sinis ke arah Glend yang menjadi alasan Bella mengalami hal itu. Dari cerita pria itu, sepertinya Bella sudah takluk kepada si buruk rupa. Panah asmara yang ditancapkan Glend tepat sasaran. Glend tidak mengatakan secara gamblang, hanya saja Justin membuat kesimpulan.


"Kau sudah menikah?" Bella bertanya kemudian.


"Tidak. Tipeku adalah sepertimu. Jika kau berniat bercerai dengan suamimu, kau bisa menghubungiku."


"Kau bukan tipeku," Bella menimpali dengan wajah polos. "Dan tidak ada di dalam agendaku untuk bercerai," imbuhnya kemudian.


"Sialan!" Justin meninju lengan Glend dengan sepenuh hati. "Kau beruntung, Dude!"


"Yeah, sangat beruntung," Glend membenarkan seraya tersenyum tipis, tidak cerah seperti biasanya setiap kali Bella membelanya. Ada beban tersendiri saat ia mendengar pernyataan Bella tentang betapa muaknya wanita itu kepada pria tampan. Bagaimana nantinya ujung cerita mereka. Sungguh Glend tidak ingin selamanya menjadi pria cacat yang lumpuh. Mungkin ia sangat membenci wajah rupawannya tetapi ia juga tidak ingin selamanya menjadi beban bagi Bella yang harus dirawat dan diurus oleh istrinya. Ada kalanya ia juga ingin menggendong Bella, berjalan-jalan sambil bergandeng tangan tanpa membuat wanita itu dipandang remeh karena kondisi fisiknya yang palsu. Selain itu, Glend juga sudah berjanji akan membawa Bella ke hadapan neneknya, tidak mungkin juga ia datang dalam keadaan penyamaran seperti ini. Neneknya tidak tahu tentang kekonyolan yang ia lakukan sekarang. Astaga, apa yang ia pikirkan saat menjalani ide ini?


"Berikan tanganmu agar Justin memeriksanya," Glend mengulurkan tangan yang disambut Bella dengan segera. "Periksalah," perintahnya kepada Justin tanpa melepaskan genggamannya dari tangan Bella.


"Ck! Bermesraan di hadapan pria jomblo yang kesepian, itu namanya tidak sopan."


"Lakukan saja tugasmu, abaikan kemesraan kami," Glend menjawab sekenanya. "Bagaimana kondisi Sharon? Apakah lukanya parah?"


"Cukup parah. Aku bertanya-tanya pria seperti apa yang tega melakukan hal itu kepada istrinya. Kuharap wanita itu segera menggugat cerai suaminya."


"Kudengar Sharon sudah melayangkan gugatan cerai." Glend menimpali.


"Bagus kalau begitu. Dia pasti akan mendapatkan pria yang baik. Dia sangat cantik dan putrinya sangat menggemaskan. Tangan istrimu hanya tersiram air panas, tidak begitu parah. Aku akan memberikan obat luarnya saja agar tidak perih dan tidak berbekas. Omong-omong, Bella, aku mendengar perutmu juga tersiram kopi panas, kau harus menarik bajumu agar aku bisa memeriksanya..."


"Itu tidak perlu, Sialan!" Glen menyela dengan cepat, melayangkan tatapan menghunus kepada sahabatnya. "Apa kau sedang berusaha merayu istriku di depan mataku langsung?"


"Itu namanya jantan dan pemberani, Dude. Tapi jika merayunya di hadapanmu tidak berhasil mungkin aku akan lewat jalur belakang."


"Astaga! Sepertinya kau harus berpikir ulang menjalin pertemanan dengannya, Glend. Apa kataku, pria rupawan cenderung meresahkan." Bella mendelik kesal ke arah Justin. Tawa pria itu langsung lepas mendengar penuturan dan cara Bella menyorotnya dengan manik indah wanita itu.


"Percayalah, Bella, suamimu jauh lebih meresahkan jika standar meresahkanmu adalah wajah rupawan."


Glend tersedak, sahabatnya yang satu ini kadang tidak bisa diajak kerja sama. Rahasianya justru dibuat lelucon oleh pria itu.


"Maksudmu Glend pria rupawan?"


Justin tersenyum penuh arti, "Ya,"


Mendengar jawaban Justin, Glend semakin terbatuk-batuk sampai wajahnya merah padam. Glend bersumpah akan memberi pelajaran kepada pria itu.


"Ya, sebelum wajahnya cacat. Apa kau penasaran wajahnya seperti apa sebelum cacat, Bella. Aku memiliki banyak koleksi fotonya," Justin mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, Bella refleks berdiri merapatkan tubuh ke arah pria itu. Menatap penuh harap bercampur penasaran ke arah ponsel yang sudah ada di dalam genggaman Justin.


"Kalau kau sudah menyelesaikan tugasmu sebaiknya kau pergi." Glend mengusir Justin secara terang-terangan. Ingin rasanya ia berdiri untuk menghajar wajah sahabat laknatnya itu. Salah besar mengundang pria itu kemari. Ingatkan Glend agar mencari dokter baru untuk keluarganya. Justin dihapus dari daftar dokter keluarga. Selain berusaha merayu Bella, pria itu terlalu menyebalkan.


"Kau ingin melihatnya?" Justin tersenyum penuh kemenangan saat Bella menganggukkan kepala dengan cepat.


"Baiklah, mari kita buka galeri terlebih dahulu."


Percayalah, wajah Justin terlihat sangat menyebalkan. Tatapan horor nan menghunus yang dilayangkan Glend kepadanya tidak pria itu gubris sama sekali.


"Bella, aku tidak suka jika kau berdekatan dengan pria lain," tidak berhasil mengusir Justin dari kamar mereka, Glend berubah haluan membujuk istrinya dengan bertingkah sebagai suami posesif.


"Aku tidak akan tertarik atau terjebak dalam rayuannya, percaya padaku." Bella meyakinkan suaminya.


"Masalahnya bukan itu," Glend mengerang frustasi sementara Justin semakin tertawa bahagia menikmati kepanikan pria itu.


"Di mana fotonya, kenapa lama sekali," Bella mengabaikan erangan suaminya. Sungguh ia sangat penasaran seperti apa rupa dari pria yang sudah menikahinya itu. Pria yang dulu menjalin kasih dengan Alice... Akh! Alice lagi dan lagi muncul.


"Aku sedang mencari dimana galeriku," Justin memberi alasan hanya untuk mengulur-ulur waktu.


"Kau sudah melewatkannya.Tadi aku melihatnya, geser slidenya kembali." Bella mengulurkan tangan untuk menggeser slide sebelumnya.


"Akh, kau benar. Ini dia aplikasinya. Kau yakin ingin melihat wajahnya yang sesungguhnya," Justin menekan kalimatnya di akhir.


Bella yang kadang peka kadang lemot tidak menangkap arti di balik kata sesungguhnya. Ia justru mengangguk dengan semangat.


"Kau siap?"


"Ya, tapi aku gugup," ujarnya dengan jujur. Wajah cantiknya juga terlihat antusias, berbanding terbalik dengan Glend yang terlihat gugup. Justin yakin di balik topeng sialan itu, Glend sudah banjir keringat. Ck! Apakah Bella tidak pernah menyadari jika suaminya tidak pernah berkeringat di wajah.


"Gugup karena apa?"


"Entahlah, bicaramu banyak sekali. Di mana fotonya?"


"Dia tidak memiliki fotonya, Bella. Justin hanya membual. Kemarilah, menjauh darinya."


"Aku tidak membual. Nah, ini dia fotonya." Justin menunjukkan sebuah foto, di sana ada Justin, Bill, Alex, dan satu pria yang membelakangi kamera.


Bella tampak serius memperhatikan foto tersebut. Dahinya mengernyit sesekali.


"Akan kubunuh kau, brengsek!" Glend menjalankan kursi rodanya berniat menabrak pria itu. Justin melompat dengan gesit.


"Kau mempermainkanku, heh?" Bella mendorong Justin hingga terjatuh ke lantai. "Wajahnya tidak terlihat sama sekali. Jika hanya kepala belakang yang kau tunjukkan, menurutmu aku bisa menebak wajahnya seperti apa. Ish! kau menyebalkan!"


"Astaga, tenagamu kuat sekali. Dan omong-omong, apa yang kalian berdua lakukan terhadapku? Sepasang suami istri menganiaya seorang dokter yang baru menjalankan tugas di rumah sepasang suami istri tersebut, heh?" Justin segera berdiri, melayangkan tatapan protes kepada Glend dan Bella secara bergantian. "Aku bisa melayangkan tuntutan untuk kalian berdua."


"Silakan," jawab keduanya dengan kompak.


"Nanti, pasti kulaporkan." Justin kembali berdiri di samping Bella. Tidak berhenti untuk membuat kekacauan terhadap Glend. "Aku baru menunjukkan foto pertama kau sudah mendorongku. Kau lihat lah foto selanjutnya, Bella." Justin menggulir foto selanjutnya, ada empat orang pria yang berpose ke arah kamera. Bella sudah mengenal tiga diantaranya. Fokusnya pada satu sosok yang tidak kalah menawan dari ketiga pria itu. Mulutnya menganga, pupilnya bergerak menatap kagum sosok tersebut.


"Ini Glend? Benarkah? Astaga, dia tampan sekali."


Glend yang tadinya sudah tegang dan siap berdiri untuk menghajar Justin, mendadak bingung. Bukan begitu reaksi yang ia duga akan diberikan oleh istrinya.


"Astaga, Glend, kau terlihat panik dan bingung, ada apa, Dude? Wajah tampan rupawan bukanlah sebuah aib, bukan begitu, Bella."


Bella mengangguk, "Pantas saja Alice tergila-gila kepadamu. Tapi omong-omong, Stacy memang mirip denganmu, Glend. Sangat mirip. Kau yakin, Stacy bukan putrimu." Bella kembali memperjelas foto pria yang ia duga sebagai Glend lalu kembali menoleh kepada suaminya.


Glend merampas ponsel tersebut dari genggaman Justin dan melihat foto siapa gerangan yang dipuji oleh Bella.


"Kau salah faham, Bella. Itu bukan suamimu. Suamimu adalah orang yang mengambil foto tersebut," Justin menerangkan.


Glend memperhatikan foto tersebut dengan sorot mata sedih dan terluka. Justin menepuk pundaknya memberi semangat.


"Lalu siapa pria itu?"


"Andreas," Glend memberikan ponsel tersebut kembali kepada Justin. "Saudaraku."


"Kau ingin istirahat?"


"Hmm," Glend mengangguk. "Usir dokter sialan itu dari sini."


Justin tergelak, tidak merasa tersinggung sama sekali. "Baiklah, aku pergi. Jangan lupa satu bulan lagi rapat direksi."


"Hmm." Glend bergumam singkat.


"Omong-omong, istrimu sangat wangi."


"Tutup mulutmu, keparat!"


"Kau menyemprotkan berapa banyak parfum di tubuhmu, Bella? Wanginya enak sekali." Mengabaikan kemarahan Glend, Justin malah menyempatkan diri untuk menggoda Bella kembali.


"Tidak banyak, hanya saja aku memang sengaja menyemprotkannya ke tubuhku. Glend menyukainya."


"Astaga, kau memang berbahaya kalau begitu." Justin geleng-geleng kepala. Bella memang wanita yang menarik, bukan hal yang sulit bagi Bella untuk membuat seorang pria jatuh hati. Glend yang menutup rapat hatinya saja bisa luluh dengan begitu sangat mudah. Ya, wanita jujur, tulus, apa adanya dan lugu lah yang dibutuhkan seorang Glend yang sudah pernah memutuskan untuk tidak menaruh harapan lagi kepada wanita. Tapi sejak pertama melihat Bella, Justin yakin bahwa sahabatnya itu tidak akan pernah melepaskan Bella untuk alasan apa pun. "Aku turut bahagia untukmu, Dude." Justin menepuk pundak Glend sebelum ia pergi.


___


"Akhir-akhir ini kau jadi sering pulang ke rumah." Rose meletakkan secangkir kopi di atas meja. "Maksudku, pulang selalu tepat waktu. Dulu kau selalu lembur."


"Hmm, akhir-akhir ini pekerjaanku tidak banyak. Kau mau pergi," Harry melihat penampilan istrinya yang sudah rapi.


"Ya, aku akan menjemput Lizzie ke kampus. Mungkin kami akan berbelanja dan juga ke salon."


Harry mengangguk, "Hati-hati di jalan."


Harry merebahkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata sembari memijat pelipisnya. Apa yang dikatakan Rose benar adanya. Selama pernikahan mereka, ia selalu lembur dan pulang larut malam. Memilih tidur di ruang utama. Selalu menghindar jika Rose datang memberi hiburan. Ajakan wanita itu selalu ia tolak.


Harry mencoba mengingat-ingat apa alasannya menikahi Rose yang tidak lain adalah sepupu dari mendiang istrinya. Keduanya memiliki paras yang cukup mirip. Akh, ya, kemiripan itu yang membuat Harry akhirnya memilih untuk menikahi Rose. Ia kira dengan menikahi Rose bisa mengobati kerinduan Bella terhadap ibunya. Bella sangat kehilangan saat itu, sementara Harry juga cukup shock dan menderita dengan kematian istrinya yang tidak terduga. Kecelakaan maut itu merenggut nyawa istrinya tanpa ampun. Saat itu Clara dan Bella ingin memberi kejutan kepadanya, dengan mengunjunginya ke perusahaan. Saat itu adalah hari pernikahan mereka. Biasanya Harry selalu meliburkan diri untuk menghabiskan waktu bersama istrinya. Hari itu, ia benar-benar lupa tentang anniversary-nya pernikahan mereka. Harry sangat terpukul, tidak tahu caranya untuk bangkit lagi. Clara adalah hidupnya. Ia hancur, benar hancur. Butuh satu tahun baginya untuk bisa menerima kenyataan bahwa Clara benar-benar sudah tiada.


Harry menghabiskan banyak waktu di perusahaan. Menyibukkan pikirannya dengan segudang pekerjaan. Sharon lah yang selalu menghubunginya, mengingatkan untuk sarapan, untuk kuat, dan untuk menyadarkannya bahwa ia masih memiliki seorang putri yang masih membutuhkan perhatian.


Beberapa bulan mengabaikan panggilan dan pesan pelayannya itu, akhirnya Harry pulang untuk menemui putrinya. Hatinya kembali mencolos saat menemukan Bella histeris dan meraung meminta ibunya kembali. Semua benda gadis itu lempar ke arah Sharon. Sharon tetap pantang menyerah, tidak peduli sebanyak apa benda yang dilempar kepadanya. Ia tetap membawa Bella ke dalam pelukannya. Direngkuhnya Bella kecil hingga akhirnya tertidur pulas. Tapi begitu Bella terbangun, ia kembali histeris.


Kedatangan Rose ke rumahnya lambat laun membuat Bella bisa tenang. Bella tidak histeris lagi dan disitulah ia memutuskan untuk menikahi Rose, mengira jika Rose mampu menenangkan Bella.


"Kau sudah pulang, Mr.Kingston." Suara Sharon membuatnya tersentak kaget.


"Akh, ya. Bagaimana lukamu?" Harry memperhatikan wajah Sharon dengan seksama.


"Sudah lebih baik. Dokter tersebut mengatakan bahwa obat yang ia berikan akan memudarkan bekas luka yang ada di wajahku. Kopimu sudah dingin, aku akan menggantinya dengan yang baru."


Harry menganggukkan kepala.


"Bagaimana kabar terbaru tentang gugatan cerai yang kau layangkan kepada suamimu?" Harry mengikutinya ke dapur.


"Akh, ya, aku mendapatkan surat dari mereka dan gugatanku di terima. Kami sudah bercerai."


"Secepat itu." Harry mengernyit bingung.


"Surat gugatan tersebut sudah kulayangkan sejak tujuh bulan yang lalu," Sharon menjelaskan.


"Oh, selamat kalau begitu. Aku akan mendaftarkan Polly ke sekolah mulai besok. Tidak usah khawatirkan tentang biayanya. Polly harus memiliki masa depan."


"Tapi..."


"Kopinya sudah selesai?"


Sharon mengangguk sembari memberikan cangkir kopi tersebut.


"Terima kasih," Harry membawanya kembali ke ruang utama.


"Kau tampak letih, Mr. Kingston." Sharon duduk di kursi yang berseberangan dengan Harry.


"Ya, ada sedikit masalah." Harry pun mencurahkan kegundahannya kepada Sharon. Semuanya mengalir begitu saja.


___


Glend terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya panas dan kering. Ia kehausan. Glend menoleh ke arah Bella yang tertidur dengan pulas. Mengulurkan tangan membelai istrinya dengan lembut seraya tersenyum bahagia. "Kau cantik sekali."


Puas memandangi wajah istrinya yang tertidur pulas, Glend segera duduk. Tenggorokannya yang kering sedikit membuatnya tidak nyaman.


Glend mengambil gelas yang ada di atas nakas. Kosong tidak berisi. Ia harus pergi mengambilnya sendiri karena tidak tega membangunkan istrinya.


Glend menurunkan kaki secara perlahan dan penuh hati-hati agar tidak membuat Bella terganggu. Dilihatnya jam di atas nakas yang menunjuk ke angka 03.00 dini hari. Ia pun berdiri, berjalan mendekati kursi rodanya lalu keluar menuju dapur.


Glend memindai sekitar, sunyi dan senyap. Semuanya sedang tertidur dengan pulas. Glend sampai di dapur, ia pun berdiri di depan lemari pendingin. Membuka kulkas tersebut dan mengambil sebotol air mineral. Glend minum sambil berdiri. Pintu toilet terbuka, Glend terkejut dan hampir menyemburkan air minum dari dalam mulutnya. Ia menoleh cepat dan akhirnya ia pun tersedak hinga terbatuk-batuk begitu melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


Harry dan Sharon keluar dari dalam toilet sambil berciuman dengan sangat ganas dan liar.


Harry sepertinya sudah dipenuhi hasrat dan gairah sehingga tidak menyadari jika ada orang lain di ruangan tersebut. Andai saja Sharon tidak mendorong Harry, mungkin pria itu tidak akan berhenti.


"A-ada orang lain." Sharon berbisik, menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang sudah merona.


"Orang lain?" Suara Harry serak dan berat. Tentunya Glend tahu apa penyebabnya.


Harry menoleh dan maniknya membeliak tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Selamat pagi, ayah mertua?" Glend melambaikan sebelah tangan, tersenyum penuh arti menatap Harry dengan tatapan geli.


"Ka-kau...?"


"Ya, aku, menantumu."


"Maksudku, kau bisa berdiri?"


Glend seketika menyadari keadaannya yang sedang berdiri. Belum sempat ia menjelaskan lampu tiba-tiba menyala. Glend menoleh, "Kau dalam masalah, Harry. Istrimu sedang berjalan kemari." Glend segera manarik kursi rodanya dan duduk di sana.


Wajah Sharon terlihat pucat dan panik. Glend sangat menikmati pemandangan di hadapannya.


"Aku penasaran sudah berapa lama kau dan Sharon di bilik toilet itu berciuman? Bibirmu dan juga Sharon sampai membengkak seperti itu. Kau bermain api, Harry."


"Pikirkan saja penjelasan apa yang akan kau berikan kepadaku dan juga putriku tentang kebohonganmu, Vasquez." Harry mengalihkan tatapannya kepada Sharon, "Tenanglah, perbaiki pakaianmu," Harry memberi isyarat agar Sharon mengancing piyamanya.


Glend tergelak geli. Ternyata ayah mertuanya memiliki nyali yang begitu kuat. Tidak meminta Sharon bersembunyi di dalam toilet.


"Apa yang kalian lakukan di sini? Berkumpul di dapur di jam seperti ini?" Rose menatap penuh selidik satu persatu wajah-wajah yang ada di sana.


"Aku haus." Glend menjawab apa adanya sambil mengangkat botol minumannya.


"Kau?" Rose menatap Sharon dari atas hingga ke bawah. Menyorot wanita itu penuh selidik.


"To-toilet di dalam kamar rusak. Permisi." Sharon segera berlalu melakukan penyelamatan atas dirinya.


"Kau haus?" Harry bertanya. "Aku akan membawanya ke kamar," tukas pria itu lalu mengalihkan tatapannya kepada Glend. "Kita akan berbicara besok."


Glend menganggukkan kepala. "Sesama pria harusnya saling menjaga rahasia, Ayah mertua. Bukan begitu, Ibu tiri?"