
"Negara kelahiranmu sangat indah, Glend." Bella melepaskan jas yang dikenakan oleh suaminya. Terbiasa melakukan hal itu sewaktu Glend berpura-pura lumpuh dan cacat, hingga terkadang ia lupa jika pria itu normal, senormal-normalnya.
"Tapi tidak dengan kenangan yang ada. Kau mandi lah, makan malam setengah jam lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Apa ada protokol tertentu saat berada di meja makan, Glend?"
"Kita tidak selamanya di sini. Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini. Lakukan seperti biasanya. Tidak usah mengikuti protokol yang ada. Kecuali kau memang bermimpi untuk menjadi seorang princess." Ucapan pria itu sedikit sinis dan menohok. Bella hanya bisa menarik napas, mencoba memaklumi jika pria itu sedikit terguncang.
"Baiklah, aku akan mandi."
Sepuluh menit kemudian, Bella keluar dari dalam toilet. Gerald juga sudah selesai. Pria itu mengenakan pakaian santai, layaknya pakaian rumahan.Tshirt putih polos dipadukan dengan celana panjang berwarna khaki.
"Kakimu baik-baik saja?" Bella bertanya, sedikit khawatir melihat Glend yang sedang berdiri di depan cermin.
"Sedikit ngilu. Aku harus melatihnya jika tidak ingin aku lumpuh dan duduk selamanya di kursi roda."
"Ck! Asal kau tahu saja, kau sangat pintar melakoni pria lumpuh. Aku bahkan sampai terkecoh olehmu."
"Aku tidak mengingatnya. Apakah aku harus meminta maaf?" Mata mereka bertemu melalui pantulan cermin. Untuk sesaat mereka hanya saling memandang. Bella lah yang pertama memalingkan wajahnya.
"Untuk apa meminta maaf jika kau merasa tidak bersalah. Simpan saja maafmu sampai ingatanmu pulih."
"Kau ingin ingatanmu pulih atau tidak?" Bella menimpali pertanyaan pria itu dengan pertanyaan. Pertanyaan yang baru dilayangkan Glend kepadanya adalah pertanyaan yang sudah berulang kali bahkan ratusan kali ia pertanyakan kepada dirinya dan ia belum menemukan jawabannya sama sekali. Bella tahu kemungkinan itu pasti ada, tapi ia memilih untuk berpegang pada kemungkinan bahwa Glend pasti akan mengingatnya kembali. Itulah yang ia perintahkan kepada hati dan pikirannya walau setan dalam dirinya juga ikut berbisik mematahkan perintahnya tersebut.
"Aku tidak terlalu penasaran," jawaban Glend semakin mematahkan usaha Bella yang mencoba meyakini bahwa Glend akan kembali padanya.
"Sayang sekali, meski kuakui kenangan kita tidak begitu banyak, tapi yang kulihat kau begitu menikmati hidupmu saat bersamaku." Bella menyembunyikan kegetiran dalam nada suaranya. Ayolah, saat ini ia ibarat pengembala yang tersesat di sarang penyamun hanya karena penasaran dengan kehidupan pria yang menikahinya. Diantara jutaan penduduk Anndora, ia hanyalah orang asing di sana. Orang asing yang tidak mengenal siapa-siapa sama sekali. Termasuk Glend sendiri. Ia hanya tahu fisik pria itu, tapi tidak dengan cerita hidup pria itu, tidak dengan sikap dan sifat yang sesungguhnya. Mesum, lembut dan legit. Hanya itu yang bisa ia gambarkan tentang sosok suaminya. Tapi sekarang, kelembutan itu pun seolah menghilang dari pria itu.
Pertanyaannya, kenapa Bella penasaran?
Karena aku peduli.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau menikmatinya saat bersamaku?"'
"Ya," akunya jujur apa adanya.
"Jadi apa jawaban dari pertanyaanku? Bagaimana jika ingatanku tidak pulih?"
"Apakah kau akan mengutukku jika salah satu janjiku tidak kutepati?"
"Seperti yang kukatakan bahwa aku tidak terlalu penasaran, jadi prihal janji yang tidak kau tepati, mungkin aku tidak akan peduli. Ayolah, aku lupa tentang apa yang terjadi diantara kita."