
Bella melihat Glen berbalik badan, perlahan meninggalkan ruangan tersebut. Bella mengusap air matanya yang hampir jatuh, ia tidak ingin Felix melihat hal itu. Selang beberapa lama, Felix melepaskan bibirnya dari bibir Bella. Keduanya saling menatap satu sama lain sembari menyunggingkan senyum.
"Terima kasih sudah menerima lamaranku." Felix membawa Bella ke dalam pelukannya. Memeluk wanita itu dengan erat dan enggan untuk melepasnya. Ia ingin waktu berhenti detik itu juga agar wanita yang ia cintai itu selalu dalam rengkuhannya.
"Terima kasih sudah bertahan di sisiku," Bella mengulurkan tangan, membalas pelukan Felix. "Terima kasih untuk semuanya."
Felix menganggukkan kepala lalu mendaratkan bibir di pucuk kepala Bella.
Justin, Alex, dan Bill kompak menarik napas.
"Ini salahmu," Bill menuding serta melayangkan tatapan menohok kepada Justin. "Kau memaksa dan menghasut Bella untuk mengakhirinya dengan kejam."
"Niatku hanya untuk memprovokasi. Mana kutahu dia menganggapnya dengan serius," ucapnya penuh sesal. Justin semakin merasa bersalah saat melihat Glend menyaksikan pemandangan itu dengan tatapan nanar. Lagi dan lagi sahabatnya itu harus hancur dan terluka.
"Sudahlah. Mungkin memang jalannya seperti ini," Alex menengahi. "Sebaiknya kita pergi menyusul Glend sebelum ia melakukan hal bodoh yang bisa membuat nyawanya melayang." Ucapan Alex dibenarkan oleh keduanya. Mereka pergi begitu saja tanpa permisi kepada tuan rumah yang mengadakan pesta. Mereka benci keadaan ini. Seperti yang dikatakan Justin, Glend mungkin masih sanggup menanggung rasa sakit yang sama secara berulang kali. Meski rasa sakit itu menghantamnya hingga babak belur, tapi mereka sebagai sahabat, sudah tidak bisa menyaksikan seorang Glend kembali menderita. Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Memaksanya menerima penghiburan dari wanita lain bukanlah hal yang mudah. Sudah dikatakan, Glend bodoh dalam hal cinta. Jika sudah menyangkut perasaan, sulit baginya untuk bangkit.
"Kau baik-baik saja?" Bill memijat bahu Glend yang ternyata memilih duduk di bangku taman.
"Ya, aku baik-baik saja. Jauh lebih baik. Bella berada di tangan yang tepat." Ia menyunggingkan senyum sumringah yang bagi ketiga sahabatnya terlihat seperti tangisan memilukan.
"Aku menyukai negara ini," Justin berdecak. Rasanya tidak adil jika Glend enggan menginjakkan kaki di negara britania raya ini lantas mereka juga harus melakukan hal yang sama.
"Kau boleh tinggal kalau begitu," pungkas Glend dengan ekspresi datar. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju parkiran.
🦗
Felix tidak menyangka akan kedatangan tamu ke rumahnya di saat ia sedang menikmati secangkir kopi buatan salah satu pelayannya. Pasalnya, ini masih terlalu pagi untuk bertamu.
"Apakah ada hal mendesak sehingga kau menghampiriku pagi-pagi sekali, Mr. Vasquez." Felix mempersilakan Glend untuk duduk.
Glend mengambil posisi yang berseberangan dengan pria itu. Meja menjadi pembatas diantara keduanya.
"Apakah ini masalah mansion yang ingin kau beli?" Felix menoleh ke belakang untuk melihat apakah gerombolannya ikut menyusul. Di matanya, keempat pria itu bagaikan teletubies. Kemana selalu bersama saling bergandeng tangan.
"Ya, salah satunya itu. Aku memutuskan untuk tidak membeli rumah tersebut," ucapnya to the point. Felix menganggukkan kepala, tidak menanyakan alasannya apa.