La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Aku Mengandung Anakmu



Bella bergeming di tempatnya, menatap Glend dengan penuh luka. Apa lagi yang harus ia lakukan untuk menyadarkan suaminya tersebut.


"Jangan katakan aku tidak memberimu peringatan untuk pergi," Glend lagi dan lagi berbuat kesalahan fatal. Untuk ketiga kalinya ia mencumbu Alice di hadapan Bella. Hancur sudah. Hati Bella yang sudah retak kini semakin hancur bagaikan puing.


"Lepaskan dia, Glend kumohon."


Glend tidak mengindahkan.


"Aku akan pergi jika kau tidak melepaskannya sekarang juga."


Alice semakin mendorong tubuh Glend hingga keduanya berbaring di atas ranjang.


"Aku tidak main-main dengan ucapanku, Glend Vasquez! Aku akan bercerai jika kau tidak juga beranjak dari sana!"


Pluk!


Kemeja pria itu dilempar ke wajahnya. Keduanya semakin liar dan menjadi.


"Aku mengandung anakmu," Bella merintih dengan suara mengiba. Sayang, Glend yang sudah gelap mata juga tidak mendengar hal itu. Katakan, wanita mana yang sanggup melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain? Entah itu karena gangguan ingatan atau pun tidak, faktanya, Glend tidak menghargainya sama sekali. Tidak terenyuh dengan permohonan Bella yang berulang kali memohon. Hanya wanita naif yang masih bisa menerima hal ini dengan lapang dada. Sayangnya, Bella bukan termasuk wanita yang sangat naif.


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya." Bella berbalik, wajahnya membentur dada yang begitu bidang. "Katakan Ayah, apakah kau masih ingin memintaku bertahan?" Bella membenamkan wajahnya ke dada King Bryson yang juga tidak kalah terkejutnya melihat kebrengsekan yang dilakukan putranya.


"Son," Suaranya akhirnya berhasil menarik perhatian Glend.


Pria itu mengangkat kepala dan menoleh ke belakang. Ia beranjak dari tempat tidur, menatap dua sosok yang ada di hadapannya dengan tatapan aneh seakan King Bryson dan Bella adalah orang asing yang tidak ia kenal sama sekali.


"Apa kau sedang mengajariku sekarang, Bryson? Jika kau ingin putramu memiliki akhlak yang baik, harusnya kau didik ia sejak dini. Yang kau lakukan justru menyiksaku dengan segala hukuman yang bahkan tidak bisa ditoleransi oleh tubuhku. Kutahu aku tidak begitu diharapkan olehmu, kau anggap sebagai penghalang bagi putra tersayangmu itu. Berulang kali, aku mencoba menarik perhatianmu hingga akhirnya aku memilih menyerah. Tapi Andreas datang meyakinkanku bahwa ini hanya sementara. Ternyata pria yang kuanggap dewa adalah sosok iblis lainnya. Dia benar-benar putramu, Bryson. Lalu sekarang kau memasang wajah terkejut melihatku yang sedang bercumbu dengan wanita lain selain istriku? Katakan, aku belajar dari siapa? Dirimu, Yang Mulia. Seperti yang kau katakan, darah kotormu mengalir di dalam tubuhku. Kenapa kau harus terkejut?"


"Glend, putraku, kuakui kesalahanku. Tapi kumohon, tolong meminta maaf kepada istrimu sebelum semuanya terlambat. Ini semua sudah tidak benar."


"Ya, aku setuju padamu, semuanya tidak ada yang benar. Bella sudah meminta cerai, aku tidak keberatan sama sekali. Karena aku tidak menginginkan pernikahan sama sekali di dalam hidupku. Well, kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, Bella. Kita bercerai."


Bella meneguk salivanya dengan susah payah. Sakit tapi tidak berdarah. Ini menyesakkan sangat menyakitkan. Perjuangan yang sia-sia. Keputusan yang sangat salah. Jika sudah begini, siapa yang harus disalahkan?


Glend memungut baju yang ia lempar tadi lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


King Bryson mengusap punggung Bella, ia jelas tahu bagaimana hancurnya hati menantunya itu.


King Bryson mendekati Alice, menyorot wanita itu dengan tatapan jijik.


"Kau tidak memberi hormat?" sinis pria setengah baya itu.


Alice pun segera melakukan curtsy. Setelah memberi hormat, Alice kembali menegakkan tubuhnya.


Plak!


"Wanita hina yang kotor! Cih!"


Bryson berbalik dan membawa Bella keluar dari ruangan tersebut.