La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Jangan Jatuh Cinta Padanya



Apa yang terjadi?" Bill bertanya kepasa Ella tapi langkahnya menghampiri Glend yang terlihat pucat.


"Ingatannya kembali," sahut Ella.


Bill tentu saja terkejut. Haruskah ia mengucapkan selamat atau berduka. Tapi yang pasti penampakan sahabatnya itu jauh lebih kacau dan menyedihkan. Bill menghampiri Glend, menopang tubuh pria itu dengan segera.


Glend mengangkat kepalanya, dipandangnya Bill dengan tatapan rapuh tidak berdaya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa dan ia berharap Bill bisa mengatasi kekacauan hatinya saat ini.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Bill sembari menuntunnya masuk ke dalam mobil. "Kita harus segera pulang."


"Di mana Bella, di mana istriku?"


Langkah Bill terhenti. Hatinya ikut tersayat mendengar kata istri. Sepertinya Glend lupa jika mereka sudah bercerai.


"Kau dan Bella..."


"Aku tidak mau mendengar!" Glend melayangkan tatapan tajam kepadanya.


"Kau bertanya," Bill bergumam sembari membuka pintu mobil. "Hati-hati dengan kepalamu, akhir-akhir ini kepalamu terlalu sensitif, aku tidak ingin ingatanmu kembali hilang." Pungkas pria itu. Glend hanya diam tidak menanggapi, otaknya sibuk merekam memori kebersamaannya dengan Bella. Haru itu, ia akan mengatakan kebenarannya kepada Bella tentang kebohongannya yang berpura-pura cacat dan lumpuh. Namun, kecelakaan itu datang tidak terelakkan.


"Ahhh...." sesak di dadanya semakin menjadi tatkala ia mengingat bahwa Bella memang tidak akan pernah mentolerir pengkhianatan dalam bentuk apa pun. Glend menyadari kesalahannya sangat fatal. Wajar saja jika Bella memutuskan pergi menghilang.


"Bella sedang hamil, berjuang melawan kejahatan dan kemunafikan di Anndora, sementara aku sibuk dengan rasa sakitku juga kenanganku di Anndora. Apakah Bella baik-baik saja? Bagaimana kandungannya. Dia mengalami pendarahan terakhir kali Bella berada di Anndora. Itulah yang dikatakan Ayahku. Bella.... Arhhhh!!" Glend tiba-tiba menggila di mobil dan bahkan membanting kemudi yang sedang disetir oleh Bill. Untung saja Bill berhasil mengendalikannya dengan baik.


"Hei, Bodoh! Kau ingin melenyapkan nyawa sahabat dan juga terapismu?! Kau baik-baik saja, Ella?"


"Y-ya, jantungku hampir copot."


"Kau boleh menuntutnya, aku yang akan menjadi saksi untukmu."


"Pinggirkan mobilnya." Glend bergumam sinis.


"Pinggirkan mobilnya, Bill atau aku akan melompat keluar!"


Bill berdecak kesal, yang waras yang mengalah. Ia pun meminggirkan mobil dengan segera. Glend turun, membuka kasar pintu kemudi. "Turun!"


"Apa maksudmu, kau ingin membawa mobil? Tidak bisa!"


"Turun, sialan!" Glend membuka kasar sabuk pengaman di tubuh Bill lalu menarik pria itu keluar. Glend kemudian membuka pintu belakang, meminta Ella untuk segera turun.


"Glend, kau tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini. Kau bisa membahayakan dirimu."


"Turun dan dengarkan selagi aku berbicara dengan baik-baik."


Ella melirik ke arah Bill. Bill menganggukkan kepala, Ella pun akhirnya memilih turun.


Glend kembali masuk ke dalam mobil, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dalam sekejap mobil itu menghilang dari pandangan mereka, melesat jauh berpacu dengan angin.


"Apakah dia akan baik-baik saja?" Ella tampak khawatir.


"Dia pasti akan baik-baik saja. Tidak akan berniat bunuh diri setelah ia mengingat Bella. Khawatirkan saja dirimu." Bill menyorot Ella dengan seksama kemudian ia menghela napas panjang. "Dari awal kami sudah mengatakan bahwa dilarang untuk menggoda Glend."


"Aku tidak menggodanya," Ella melayangkan protes. Tidak terima dengan tudingan pria itu.


"Ya, tapi kau jatuh cinta kepadanya."


Ella terkesiap.


"A-apa maksudmu?"


"Ella, kukatakan kepadamu, Glend bukan pria yang mudah untuk kau sentuh. Pria itu sangat bodoh jika sudah menyangkut hati dan perasaan. Dia tidak akan pernah menoleh kepadamu karena Bella juga bukan wanita sembarangan. Sebelum perasaanmu semakin menjadi, sebaiknya kau kubur perasaanmu itu dalam-dalam. Lagi pula, bukankah seorang terapis dilarang jatuh cinta kepada pasiennya. Bersikaplah profesional."