La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Kita Akan Tinggal Bersama, Nanti.



"Aku akan mengantarmu dan Grace pulang ke rumah. Makan dan istirahatlah. Gavin akan ikut bersamaku. Berhubung besok adalah akhir pekan, Gavin akan menginap di rumahku."


"Kenapa aku tidak di ajak!" Grace malayangkan protes dari bangku belakang.


"Kau ingin meninggalkan ibumu sendirian, little girl?" Felix menoleh menatap wajah Grace yang merajuk dengan memanyunkan bibir serta tangan mungil yang bersedekap. Terlihat lucu dan menggemaskan.


Grace mendesah, "Yeah, Mommy tidak ingin jauh-jauh dariku. Kenapa Daddy tidak tinggal di rumah kami saja atau kami yang tinggal di rumah Daddy?" pertanyaan polos itu meluncur begitu saja. Felix tersenyum, ia memandang wajah Bella yang langsung berubah tidak enak hati.


"Kita akan tinggal bersama, nanti, tidak lama lagi." Felix mencondongkan tubuh seraya mengulurkan tangan untuk menarik hidung gadis kecil itu.


"Kau selalu mengatakan begitu, Dad," cetus Gavin dengan mimik datar.


Felix hanya terkekeh menanggapinya kemudian Ia pun menoleh kepada Bella, digenggamnya tangan wanita itu. "Jangan memasang wajah seperti itu, aku masih kuat untuk menunggu sampai kau siap."


Ya, hampir tujuh tahun mengenal Bella, bukan hal yang mudah untuk merebut perhatian ibu dari dua anak itu. Felix jatuh cinta pada pandangan pertama pada Bella, di saat wanita itu sedang mengandung. Ia masih ingat, saat itu Bella sedang melakukan pemeriksaan ke rumah sakit, kebetulan Felix juga melakukan hal yang sama untuk lengannya yang terkilir karena jatuh dari motor. Bella mengalami pecah ketuban dan secara tiba-tiba menarik tangannya yang terkilir. Mau tidak mau, Felix menemani Bella hingga kedua bayinya lahir. Sejak hari itu, Felix gencar mendekati Bella. Wanita itu selalu menolak dan terus menolak, hingga satu tahun yang lalu, Bella menerima perasaannya. Penantiannya selama lebih dari enam tahun terbayar sudah. Bella membuka hati untuknya. Ingin rasanya ia melamar Bella, menjadikan Bella miliknya seutuhnya, tapi ia juga tidak ingin membuat Bella tertekan, ia harus menahan diri, membuat Bella nyaman dan percaya seutuhnya kepadanya.


"Kau akan kembali ke kantor?"


Felix mengangguk, "Ya, aku ada pertemuan dengan seseorang. Seseorang berniat membeli mansion yang ada di Westminster. Aku memintanya datang ke kantor. Pertemuannya jam lima sore. Aku dan Gavin masih sempat mengantarmu dan juga Grace. Kami juga akan mandi sebelum kembali ke kantor. Hubungi aku jika kau mengalami mimpi buruk. Grace, peluk ibumu saat dia tiba-tiba menangis." Felix mengusap kepala gadis kecil itu dengan penuh sayang. "Kita sudah sampai," Mobil berhenti di sebuah rumah yang cukup mewah. Felix segera turun, membuka pintu untuk Bella dan anak-anaknya. "Berikan Daddy pelukan," Felix berjongkok di hadapan Grace. Bocah itu langsung menghambur ke dalam pelukannya.


"Aku menunggu bonekaku," Bisik bocah itu di telinga Felix. Pria itu tergelak.


"Tentu saja. Besok kau akan mendapatkannya. Pria sejati tidak akan pernah berbohong."


"Hmm, kurasa Gavin bukan pria sejati, dia selalu mengumbar kata-kata." Grace mencibik. Gavin berdecak sembari merentangkan tangannya. Grace pun melakukan hal yang sama. "Aku akan merindukanmu." Ucap bocah itu.


"Aku butuh healing, adik perempuanku. Kau selalu menyiksaku." Tandas Gavin tidak punya perasaan. Ya, Grace sangat manja jika ada dirinya di sana. Tingkah gadis itu cenderung menyulitkannya. Tapi percayalah, keduanya saling menyayangi layaknya upin dan ipin.