La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Hadiah



Selamat kepada Zazila Rokhim karena sudah menjawab dengan benar pertanyaan di IG. Harusnya ada tiga pemenang. Tapi cuma satu yang menjawab benar, jadi Zazila mendapat pulsa 50k.. Selamat Zazila dan terima kasih sudah mendukung Bella-Glend!!


🐇


"Mom, Dad, aku akan berkencan dengan Uncle Iron Man!" Grace melompat-lompat kegirangan begitu melihat kehadiran Glend yang baru saja turun dari mobil sport miliknya.


"Uncle!!" Grace berlari dengan kedua tangan yang merentang lebar. Glend segera menyambutnya dengan melakukan hal serupa. "Ah! Wangi sekali. Legit bagaikan yupi!!" Grace memeluk erat leher Glend seraya membenamkan kepala di ceruk leher pria itu. Glend terkekeh geli. Kata legit otomatis mengingatkannya pada momen bahagianya bersama Bella. Ibu dan anak sama saja. Sama-sama perayu ulung!


Glend membawa Grace dalam gendongannya menuju Bella dan Felix yang berdiri menatap mereka. Selain mereka ada Gavin juga di sana.


"Hei, Buddy!" Glend mengulurkan kepalan tangannya yang disambut Gavin dengan semangat.


"Mom, Dad dan Grace tidak percaya jika aku mengalahkanmu, Uncle. Katakan pada mereka jika aku tidak mengarang cerita."


Glend terkekeh sembari menganggukkan kepala. "Ya, kau hebat, Dude. Dan aku punya sesuatu karena sudah berhasil mengalahkanku."


"Mom, Dad, kalian dengar itu. Aku memang mengalahkan Uncle! Ck! Uncle berkata, pria hebat tidak akan pernah berbohong, ucapan mereka adalah hal yang harus dipegang. Right, Uncle?"


Glend kembali menganggukkan kepala dengan bangga. Nasehatnya diingat oleh putranya. Ia tidak ingin jika kebrengsekannya menurun kepada putranya. Semua yang terjadi antara dia dan Bella bermula dari suatu kebohongan yang ujungnya berkahir petaka. Glend ingin Gavin tumbuh menjadi pria hebat yang membanggakan dan ia yakin Felix sangat mampu mendidik anaknya. Anak mereka bertiga.


"Woah, selamat kalau begitu," Felix mengulurkan tangan, Gavin menyambutnya dengan senyum bangga mendekati angkuh. "Kau memang jagoan! Dad tidak tahu jika kau sangat menyukai sirkuit. Hm, lain kali kita akan bertanding."


"Kita akan lihat nanti. Omong-omong, apa hadiah atas kemenanganmu?"


"Ah ya," Gavin bersorak kegirangan. Bocah itu menatap Glend penuh minat, "Apa hadiahku, Uncle?"


Glend menyerahkan sebuah paper bag yang ia tenteng di tangan kirinya. Gavin menerimanya dengan capat. Tidak sabar ingin melihat apa kira-kira isi hadiahnya.


"Apakah lego Iron Man?" tebaknya asal.


"Apakah aku juga akan mendapatkan hadiah, Uncle?" protes Grace yang menatap iri pada saudara kembarnya.


"Kau tidak berhasil mengalahkan Uncle, tentu saja kau tidak mendapatkannya." Gavin menimpali tanpa menoleh ke arah Grace. Ia sibuk mengeluarkan isi dari dalam paper bag tersebut. Sebuah kotak dalam ukuran yang tidak terlalu besar.


"Tapi aku menemaninya berkencan!" Grace tidak mau kalah. Ia bersikukuh ingin mendapatkan hadiah juga. "Uncle, apa aku akan mendapatkan hadiah?" Grace merengek manja dengan memasang wajah andalannya, memelas seperti anak kucing yang minta dielus.


"Tentu saja. Kau juga akan mendapatkan hadiah." Glend menyatukan hidung mereka, menggeseknya dengan gemas membuat Grace terkikik geli.


"Apa ini?" pertanyaan Gavin menghentikan aksi mereka. Semua menoleh kepada bocah laki-laki yang mengernyit bingung menatap beberapa lembar kertas yang digulung dengan sebuah pita. Gavin melepaskan simpul pita tersebut. Dahinya semakin mengernyit dalam begitu membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Ia benar-benar tidak bisa menangkap isi dari surat tersebut. "Ini seperti surat perjanjian," bocah itu bergumam. "Apakah kau salah memberi hadiah Uncle? Ini seperti kontrak kerja," Ya, Gavin sering membaca kontrak kerja milik Felix saat pria itu mengajaknya ikut menghadiri pertemuan. Tapi ini sedikit berbeda.