La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Dia Tidak Keterlaluan



"Apa kalian mendengar apa yang dikatakan Felix Orlando tadi? Sepertinya telingaku bermasalah." Justin mengorek telinganya, mengira jika pendengarannya memang sedang bermasalah.


"Jika kau mendengar bahwa Bella adalah tunangannya, kurasa bukan pendengaran kita yang bermasalah." Bill menatap Glend dengan tatapan prihatin. Pria itu masih menatap keluar cafe meski mobil yang membawa Bella dan anak-anaknya sudah tidak terlihat lagi.


"Mereka anak-anakku," Glend bergumam lirih.


Alex merangkul pundaknya. "Mereka sangat mirip denganmu, Dude. Selamat, kau ternyata sudah menjadi seorang ayah dari dua anak yang sangat menggemaskan. Saat melihat bocah laki-laki itu tadi, aku seolah sedang melihatmu waktu saat kita masih kecil. Aku bahkan sengaja mengambil fotonya untuk kutunjukkan kepadamu." Alex mengeluarkan ponsel, memperlihatkan beberapa gambar yang ia ambil secara diam-diam.


"Aku turut berduka untukmu," Justin membantunya agar duduk di kursi. "Takdirmu memang sangat menyedihkan." ucap Justin tanpa berniat untuk menyindir. "Bella sungguh keterlaluan jika dia melupakanmu begitu saja. Dia hidup bahagia sementara kita sengsara." Justin tidak serius dengan ucapannya. Kalimat itu hanya tercetus begitu saja. Tujuh tahun bukan waktu yang sedikit. Perubahan adalah hal yang sangat wajar. Tidak ada yang tahu kepada siapa seseorang akan jatuh cinta, tapi kita pasti tahu kapan harus berhenti mencintai, menunggu dan memperjuangkan seseorang tersebut. Bella melakukan hal itu dengan baik. Ia pernah berjuang untuk Glend dan ketika tidak menemukan harapan, ia tahu kapan harus mundur. Menurut Justin, bukan salah Bella jika wanita itu sudah bisa move on dari sahabatnya, hanya saja, ia dan teman-temannya tidak kuat melihat nasib Glend, si musafir cinta yang menyedihkan.


"Bella tidak keterlaluan, Son." Bryson bersuara.


Keempat pasang mata itu menoleh ke arah pria yang mereka anggap berperan aktif dalam menyembunyikan Bella selama ini.


"Bella yang kalian lihat sekarang adalah Bella yang baru lahir kembali. Tujuh tahun lalu, sama seperti Glend, Bella juga hampir gila. Menganggap semua pria berwajah sama yang berniat untuk menyakitinya. Bukan hanya pria, ia juga histeris jika seorang wanita mendekatinya. Dalam penglihatannya, wajah mereka terlihat seperti Alice yang hendak menghabisi nyawa anaknya.


___


"Siapa kalian?!" Bella menjerit histeris saat ia sudah siuman.


"Tenanglah, Nona..." seorang perawat mengulurkan tangan hendak menenangkannya. Bella melompat dari bangkar, mengambil benda secara asal untuk dijadikan senjata. Tiang infus itu ia layangkan kepada si perawat.


"Menjauh dariku! Jangan ambil bayiku! Pergi...!!" Bella tanpa ampun menyerang si perawat hingga wanita malang itu meminta tolong. Para perawat laki-laki segera datang menghampiri untuk melerai. Bella semakin histeris.


"KALIAN SEMUA BERSEKONGKOL UNTUK MEMBUNUH ANAKKU? TIDAK! TIDAK ADA YANG BISA MENYENTUHKU ATAUPUN BAYIKU!." Bella berniat berlari namun dua perawat segera menahannya.


"Kau masih sakit, Nyonya. Tenanglah. Di sini tidak akan ada yang menyakitimu."


"Jangan menyebutku murahan." Bella menatap perawat itu dengan tatapan rapuh yang penuh luka. "Katakan pada Alice bahwa aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi kumohon jangan menyakiti bayiku, Glend."


Para perawat itu saling beradu pandang. Bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Bella.