La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Aku Mewakili Suamiku



"Selamat datang di Anndora," Queen Hellga menerbitkan senyum hangat di sudut bibirnya. "Bagaimana kondisimu, Nak?" tanya wanita tua itu kepada Glend.


"Ya, beginilah," sahutnya enteng mengabaikan sorot mata tajam yang dilayangkan sang ayah kepadanya.


"Kau pasti lelah, ayo masuk dan beristirahat. Kamarmu dan Bella sudah disediakan." Melalui ekor matanya, Queen Hellga memberi perintah kepada salah satu pengawal agar membawa koper milik Glend dan Bella.


"Apa kabar, Granny?" Bella langsung memeluk wanita tua, tidak menyadari raut terkejut dari semuanya.


"Bagaimana kabarmu, Ayah mertua?" Bella tersenyum hangat sembari mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan King Anndora tersebut. Lagi, semuanya kembali terkesiap.


Protokol lain di dalam kerajaan, tidak boleh menyentuh anggota kerajaan secara sembarangan. Berjabat tangan jika anggota kerajaanlah yang mengulurkan tangan terlebih dahulu.


"Baik." King Bryson menyambut uluran tangannya bahkan mengusap punggung tangannya dengan tangan kiri pria setengah baya itu. "Bukankah aku sudah memberimu peringatan agar tidak datang kemari? Kau memiliki nyali rupanya."


Glend menyeringai sinis lalu. "Berjabat tangannya biasa saja. Tidak usah berlama-lama. Aku khawatir air liurmu keluar, Yang Mulia. Jika hal itu terjadi, sama saja dengan kau mempermalukan dirimu sendiri di hadapan orang lain. Ah, aku lupa jika Yang Mulia tidak mempunyai rasa malu sama sekali." Sarkasnya dengan sorot mata mengejek.


"Sama sepertiku, kau pandai dalam memilih wanita," sahut pria itu tidak kalah sengit.


Rahang Glend semakin kaku, "Jangan samakan aku dengan dirimu."


"Kenyataannya di tubuhmu mengalir darahku, Son. Selamat datang di Anndora."


Glend terdiam, itu fakta yang tidak terbantahkan sama sekali. Hal yang paling ia sesali. Ia malu mengakui pria itu sebagai ayahnya.


"Jelas aku tidak sama denganmu. Tabiatmu yang murahan itu tidak akan pernah terjadi padaku. Tidak akan kubiarkan wanitaku menderita hingga depresi, King Bryson."


"Masih terlalu cepat untuk bersikap sombong," King Bryson menimpali dengan wajah yang tidak kalah sinis. "Bawa mereka ke kamar," King Bryson memutar tubuh, berjalan meninggalkan mereka.


"Kita akan bertemu saat makan malam, Nak." Queen Hellga mengusap pundak Glend dengan lembut. Glend mengangguk patuh. Queen Hellga pun menyusul King Bryson diikuti oleh Alice setelah wanita melayangkan tatapan mencemooh ke arah Bella. Wanita itu berjalan dengan sangat anggun, layaknya putri bangsawan. Jika mengingat cara wanita itu menghina Glend dengan kata-kata menjijikkan mungkin tidak akan ada yang percaya jika dia adalah seorang putri.


"Uncle." Stacy berlari dan melompat ke atas pangkuan Glend. "Kau datang berkunjung? Atau kau datang untuk kembali?"


"Berkunjung, Sayang. Astaga, coba kulihat, setinggi apa dirimu sekarang."


Ya, Glend masih mengingat semuanya dengan jelas tentang masa lalunya. Memorinya yang hilang adalah sejak kecelakaan yang ia alami lima tahun lalu. Artinya hanya kenangan bersama Bella yang tidak ada di dalam memorinya.


"Wow, kau sudah tinggi rupanya."


"Aku senang kau kembali Uncle." Stacy mendaratkan satu kecupan manis di pipinya.


"Stacy," Alice datang menghampiri. Bella mulai waspada. Seperti yang dikatakan Alex, di sini ia tidak boleh lalai sedikit pun. "Mrs. Stella sudah tiba, saatnya kau belajar."


"Ough, God! Ini membosankan. Bisakah sekali ini saja aku libur, Mom. Aku ingin bermain dengan Uncle."


"Tidak bisa, honey. Ayo kembali ke kamarmu."


"Baiklah, Uncle, sampai berjumpa saat makan malam." Stacy kembali mendaratkan satu kecupan sebelum ia pergi masuk ke dalam istana.


"Selamat datang kembali di Anndora, Glend," Alice menatap pria itu penuh kerinduan, sementara Glend hanya menatapnya dengan tatapan kosong.


"Ya, terima kasih," Bella menimpali. "Aku mewakili suamiku, bisa kau tunjukkan di mana kamar kami, Alice?"