
Felix mengarahkan tatapannya kepada Glend. Pria itu berdiri sembari membawa Grace ke dalam gendongannya. Dengan senyum ramah, ia mendekati Glend.
"Oh, Tuan Bryson. Kau di sini?" Pria itu menundukkan kepala sedikit. "Bagaimana kesehatanmu? Bella mengatakan kau mengalami nyeri sendi di lutut. Ia sangat khawatir padamu. Apakah obat yang kuberikan memberi pengaruh?"
Bryson mengangguk, "Terima kasih, Son. Obatnya cukup membantu."
Felix mengangguk, "Kudengar kau membeli boneka yang diinginkan cucumu. Hais, kau selalu menjadi pemenang di hatinya," Felix menyentil hidung Grace dengan gemas. Grace terkikik geli.
"Gerakanmu lamban, Dad. Grandpa selalu bertindak dengan cepat. Kau tak usah cemburu, aku tetap mencintaimu!" Cup!" Grace menghadiahinya satu kecupan di pipi. Felix tergelak lalu membalas ciuman yang diberikan bocah itu. Ya, Felix kembali mencium pipi Grace yang mulus.
Ibarat luka yang tak kunjung sembuh, selalu ada saja hal yang membuat luka itu menganga. Luka yang dialami Glend layaknya racun yang sudah menggerogoti seluruh tubuhnya. Menganga di setia saraf-sarafnya. Melihat tingkah manis antara Felix dan Grace bagaikan air garam yang disiram ke atas lukanya tersebut. Perihnya tidak bisa ia jelaskan. Glend tidak kuat melihat ini semua. Ia memalingkan wajah, melihat Bella dan seorang bocah laki-laki yang terlihat sangat mirip dengannya. Hanya saja manik bocah itu sama seperti Bella, pun warna rambutnya juga diwarisi dari Bella. Apa ini? Hatinya kembali berbisik? Apakah anak Bella dan Felix? Ahh! Ia tidak sanggup membayangkannya. Tidak mungkin! Ia masih memiliki cinta yang luar biasa besar kepada Bella, tidak mungkin Bella melupakannya begitu saja. Tidak bisa!
"Mr..." Felix menggantung kalimatnya karena memang tidak mengetahui nama dan tidak mengenal Glend sama sekali meski sosok Glend terasa tidak asing.
Glend menoleh, menatap Felix dengan sorot tidak bersahabat.
"Terima kasih sudah menyelamatkan putriku..." Felix tersenyum hangat, terlihat jika ucapan terima kasih pria itu sangat tulus.
Putriku? Dia menyatakan kepemilikan atas putriku.
"Aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi dengan putriku andai kau tidak berada di sini. Sungguh aku berutang budi padamu, Mr..."
"Glend Vasquez."
Felix terperanjat. Ya, sekarang ia mengingatnya. Glend Vasquez.
"Astaga, maafkan aku yang tidak mengenali dirimu. Felix Orlando." Felix mengulurkan sebelah tangannya. Glend menyambutnya tanpa minat. "Perusahaanmu memutuskan untuk memakai jasa Orlando Group dalam pembangunan pusat perbelanjaanmu. Selamat, D'Amour mall menjadi pusat perbelanjaan yang sangat diminati."
Glend hanya menganggukkan kepala. Sesungguhnya ia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Felix. Ia sibuk memikirkan seperti apa hubungan Bella dengan pria itu.
"Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkan putriku."
Glend tidak memberikan komentar apa-apa. "Ah, kenalkan..." Felix menarik Bella ke sampingnya. "Tunanganku, Bella Kingstone. Dan ini putra dan putri kami, Gavin dan Grace."
Bolehkah Glend mengamuk kepada semesta atas takdir yang menggelikan ini? Menurutnya ini sangat tidak adil. Oke, dia memang salah, tapi apa yang terjadi semua di luar kendalinya. Bukan inginnya seperti ini.
Glend tersenyum getir, "Tunangan?" Dia menyorot Bella yang menatapnya tanpa ekspresi. "Glend Vasquez," Glend mengulurkan tangan, ia mengira Bella tidak akan menerima uluran tangannya, ternyata wanita itu menyambutnya.
"Bella."
"Senang bertemu denganmu, Bella."
"Itu hanya cara kerja takdir untuk mempertemukan kita kembali."
Bella menarik uluran tangannya lalu menoleh kepada Bryson. "Ayah, kurasa kami harus pergi. Gav, Gre, ucapkan selamat jalan pada Grandpa."
Gavin memberikan pelukan kepada Bryson. "Aku akan mengalahkanmu bermain catur untuk minggu depan, Grandpa."
"Aku menanti kemenanganmu, Son." Bryson mengecup pucuk kepala Gavin.
"Jaga kesehatanmu," Gavin dengan lagak sok dewasa.
"Tentu saja, anak muda." Bryson tergelak.
"Bye, Grandpa." Grace melambaikan tangannya. "Bye, Uncle Iron Man, kuharap kita bisa bertemu kembali," Grace mencondongkan tubuh untuk memberi kecupan di pipi Glend. Glend merasakan maniknya berkaca-kaca. Betapa manisnya sikap putrinya itu.
"Bye, Uncle." Glend menunduk, menemukan Gavin ternyata sudah berdiri di depannya, di samping Felix. Felix tersenyum sembari mengusap kepala bocah itu.
"Sampai jumpa," Glend mengusap wajah Gavin, memaksakan bibirnya untuk tersenyum walau sangat sulit.
Felix menggendong Grace, merangkul pundak Bella di sisinya, sementara Gavin saling menggenggam dengan Bella. Keempatnya berbalik, berniat meninggalkan Cafe.
"Bella!!!"
Langkah mereka terhenti. Bella terkejut melihat tiga pria yang juga tidak kalah terkejut melihat kehadirannya.
"Oh Tuhan, ini sungguh dirimu."
"Kau bisa membuat kami gila."
"Aku sungguh merindukanmu," Justin menyerobot, melewati Bill dan Alex. Dengan santainya ia menarik Bella ke dalam pelukannya. "Oh Tuhan, ternyata benar ini dirimu." Justin mengurai pelukannya. "Kau semakin luar biasa." Justin melayangkan tatapan kagum secara terang-terangan.
"Ehm," Felix sengaja berdehem.
Justin menoleh, "Oh, Mr.Orlando." Ia mengernyit bingung melihat keberadaan pria itu. "Kau..." Kalimatnya menggantung melihat sosok Grace yang ada di dalam gendongannya lalu beralih ke Bella dan Gavin.
"Kau memeluk tunanganku tanpa permisi, Mr. Romano. Aku pria pencemburu," Felix tersenyum seraya menarik Bella kembali ke sisinya.
"Tu-tunangan?" Mendadak ia menjadi gugup. Diliriknya Glend yang sudah bagaikan zombi. "Uncle?" Dahinya kembali mengernyit menyadari kehadiran Bryson.