
Selama tiga hari, Bella setia menemani Glend di rumah. Tidak tega meninggalkan pria itu sama sekali sendirian di rumah meski Glend sudah memintanya pergi ke kampus.
Bella tahu bagaimana rasanya dibiarkan sendiri dalam keadaan sakit. Ia sudah sering mengalami hal itu. Jatuh sakit saat ayahnya tugas di luar kota dan hanya ada Rose dan Lizzie. Kedua manusia itu tidak akan berbelas kasih, ia tetap akan diminta menyiapkan sarapan meski sesungguhnya ada pelayan di sana. Mencuci baju mereka dengan menggunakan tangan serta membereskan kamar mereka. Untung saja ia tidak disuruh membersihkan seluruh bagian rumah. Mungkin ia akan pingsan.
Sakitnya akan sembuh begitu saja tanpa ke dokter atau pun minum obat. Rose akan menyembunyikan persediaan obat juga menyembunyikan makanan. Hanya ada roti yang bisa ia makan.
Seingatnya, ia selalu menjadi gadis yang baik dan penurut sejak ayahnya menikah dengan Rose, tapi entah kenapa ibu dan anak itu sangat membencinya. Sesungguhnya Rose adalah kakak sepupu ibunya. Ayah dan Ibunya menikah saat Bella berusia 12 tahun dan Lizzie saat itu berusia 11 tahun.
"Kau melamun?"
Bella menoleh, menemukan Glend yang menatapnya penuh penasaran.
"Filmnya habis sejak sepuluh menit yang lalu, kau melewatkan endingnya."
Bella kembali mengalihkan tatapannya ke layar televisi yang menayangkan film Aladin, pria yang menyamar menjadi pangeran hanya untuk mendapatkan putri Jasmine.
"Endingnya pasti mereka hidup bahagia," Bella bergumam tidak semangat.
"Kau tidak menikmati ceritanya?"
Bella mengangguk membenarkan, "Aku kurang menyukai Aladin. Dari awal ia berbohong dan kemudian ia menjadi serakah dan egois menggantungkan permintaannya kepada si Jin."
"Dia hanya terlalu mencintai putri Jasmine, menurutku. Seorang pria yang dimabuk cinta, pasti berusaha mati-matian untuk memenangkan hati wanitanya."
"Apa kau pernah melakukan hal demikian?"
Glend tersentak, wajahnya memang terlihat flat, tapi pupilnya bergerak tidak nyaman, garis bibir pria itu juga berubah.
"Akh, jadi kau pernah merasakannya sebelum wajahmu berubah seperti ini."
Glend hanya diam menatapnya. Apa yang dikatakan Bella benar adanya. Sebelum kecelakaan yang ia alami, ia memiliki satu wanita yang sangat ia cintai. Hubungan mereka baik-baik saja. Bersama wanita itu adalah saat-saat paling bahagia dalam hidupnya. Wanita itu mampu meredam amarah, kekecewaan, sakit hati yang ia rasakan terhadap ayahnya, Marcus Dixton. Glend menanggalkan nama Dixton dari namanya sejak kecelakaan itu terjadi. Baginya, wanita itu adalah penawar disaat ia sedih melihat nasib ibunya atas pengkhianatan yang dilakukan ayahnya.
"Apa dia meninggalkanmu setelah wajahmu seperti ini?"
"Aku mengantuk," Membahas masa lalunya bersama Bella bukanlah hal yang ingin ia lakukan.
"Bercerita lah kepadaku, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Aku masih ingat saat kau mengatakan kenapa para wanita sangat serakah. Apakah mantan kekasihmu mengeruk hartamu?"
"Aku tidak ingin membahasnya," tegasnya dengan nada dingin. Mengingat kecelakaan itu membuat hatinya kembali tersayat-sayat. Ia merasa menjadi manusia paling bodoh.
"Aku ingin mendengarnya."
"Hanya karena kau penasaran lantas aku harus memuaskan rasa penasaranmu itu," cetusnya dengan nada sengit. Netranya juga menatap Bella dengan tajam membuat Bella seketika terhenyak. Ya, wajar saja, selama ini Glend selalu berbicara dengan nada lembut meski terkadang sangat mesum. Tapi bersikap dingin seperti ini baru pertama kali ia lakukan. Kedua bahunya juga sudah tegang akibat menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak.
"Ka-kau membuatku takut," cicit gadis itu dengan wajah memelas seperti bocah yang memohon untuk tidak dimarahi karena sudah berbuat kesalahan.
Glend mengembuskan napasnya, mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ia perlu menenangkan diri. Bayangan itu kini terekam jelas. Dua mobil beradu dan berbalik, disusul mobil yang berada di belakangnya. Ledakan terdengar menyusul. Setelah itu, dia tidak mengingat apa lagi yang terjadi dan begitu ia sadar, dua kabar duka ia dapatkan dalam satu waktu. Ibu dan saudara laki-lakinya meninggal dunia.
"Aku akan mengantarmu ke kamar jika begitu." Bella berdiri dari tempatnya, berjalan ke belakang kursi roda dan segera mendorongnya. Hanya ada keheningan. Bella pun sepertinya sudah tidak berani untuk membuka mulut.
"Aku ada di kolam berenang, kau bisa memanggilku kapan saja." pamit gadis itu setelah menyelesaikan tugasnya membantu Glend untuk berbaring di atas ranjang.
_____
Bella masih merenung di kursi pantai di tepi kolam. Emosi yang ditunjukkan Glend begitu nyata. Ia merasa bersalah karena sudah bersikap terlalu lancang. Memangnya kenapa ia harus mengorek-ngorek masalah pribadi pria itu. Wajahnya sampai cacat begitu, tentu saja kisah yang Glend alami bukan cerita yang seru untuk dibagikan. Di samping rasa bersalah yang ia alami, Bella jadi bertanya-tanya seperti apa kiranya rupa Glend sebelumnya.
Bella menggeleng, mengenyahkan Glend dari pikirannya. Ia mengambil sebuah buku yang ia letakkan di atas nakas. Salah satu buku koleksi pria itu.
Ck! Ia berdecak, buku yang ia ambil tentang saham dan kemajuan perusahaan. Di halaman pertama ia sudah mengantuk dan memilih untuk memejamkan mata. Tidak butuh waktu lama, ia pun tertidur dengan wajah yang tertutup dengan buku.
Bella melenguh dalam tidurnya, perlahan kelopaknya terbuka. Tidak ada lagi buku di atas wajahnya. Mungkin jatuh, begitu lah pikirannya. Bella meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku karena tertidur dalam posisi tidak nyaman dan pas.
"Kupikir kau ingin berenang, ternyata kau hanya pindah tidur."
Bella sontak saja menoleh ke sumber suara. Glend ternyata duduk di dekatnya bersama buku yang tadi berniat Bella baca.
"Sejak kapan kau di sini? Kau memperhatikanku saat tidur?" refleks ia menyilangkan kedua tangan di dadanya. Kemudian ia sadar jika ia mengenakan bikini model swimdress yang tidak mengekspos tubuhnya secara berlebihan.
"Sejak tadi." Glend mengukir senyum di wajahnya. Tidak ada lagi jejak ketegangan di sana. Mungkin tidur berhasil membuatnya lebih tenang. Tapi pertanyaannya, apakah dia sungguh tidur?
"Sejak tadi itu kapan tepatnya?"
"Satu jam yang lalu mungkin."
"Dan kau mencuri buku itu dari atas wajahku?"
"Buku ini milikku jika kau lupa, Bella."
"Jadi apa yang kau lakukan?"
"Memperhatikan wajahmu."
"Pengintip!" Bella berdiri dan dengan satu kali lompatan ia sudah berada di dalam kolam. Melintasi kolam beberapa kali dan akhirnya berenang ke tepi kolam.
"Airnya pasti sangat segar." Glend menatap kagum perpaduan kulit Bella dengan terpaan sinar matahari dan juga birunya air kolam. Pemandangan yang begitu feminim dan menggoda.
"Ya. Kau ingin mencobanya? Aku akan membantumu."
"Dan kita berdua akan tenggelam."
"Kenapa kau tidak membayar seorang terapis untuk membantumu berjalan. Mungkin saja kau mendapatkan keajaiban."
"Aku memiliki istri yang bisa membantuku, kenapa aku harus repot-repot membayar mahal seorang terapis." Dan Glend sudah pernah melalui itu semua. Selama satu tahun ia harus tinggal bersama seorang terapis handal.
"Aku tidak ahli dalam hal itu."
"Katakan apa keahlianmu selain merayuku di kolam berenang."
"Merayumu di ranjang, mungkin." Dan Bella pun kembali melintasi kolam setelah membuat Glend terkejut dengan penuturan gadis itu.