La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Happy Ending



"A-aku mengandung cucu kalian."


Atmosfer ruangan itu tiba-tiba berubah, mendadak sunyi seolah tidak ada kehidupan. Bahkan hembusan napas pun tidak terdengar. Semua refleks menahan napas masing-masing.


Helli hanya bisa merutuki kebodohannya. Harusnya ia memberitahu Gavin terlebih dahulu soal kehamilannya yang sudah memasuki minggu ke lima. Ia melupakan hal itu hingga Glend, yang tidak lain ayah dari kekasihnya menyinggung hal tentang kehamilan.


Apakah ia akan ditolak atau bagaimana, ia pun sudah tidak yakin. Helli hanya bisa menunggu reaksi dari empat manusia di hadapannya. Jangan tanya Gavin, pria itu sudah tidak ada bedanya dengan zombie. Hidup tapi tidak bernyawa. Shock? Tentu saja! Baru satu menit yang lalu, pria itu dengan sangat yakin mengatakan bahwa dirinya tidak akan menghamili seorang wanita.


Manik mata Helli mulai panas. Ia takut ditolak, ia juga khawatir Gavin akan diusir dari rumah, dikeluarkan dari daftar keluarga. Ini salahnya. Sekarang, bagaimana ia harus mengatasi situasi ini? Sungguh ia pun tidak tahu.


Helli hampir saja menangis, tapi tangisannya kembali masuk ke dalam mata begitu mendengar lengkingan suara Grace.


"What?! Hamil? Astaga, apa aku tidak salah mendengar?" Grace melompat dari kursinya dan menghampiri Helli. "Kau hamil? Sungguh?" dipegangnya kedua tangan Helli. Helli hanya bisa menganggukkan kepala dengan pasrah, tidak semangat sama sekali. "Oh Tuhan, selamat untukmu. Ini kabar yang membahagiakan!" Grace memeluk Helli dengan erat.


Helli terlalu terkejut untuk membalas pelukan wanita itu dan saat ia hendak mengulurkan tangan untuk membalas pelukan Grace, wanita itu kembali memegang kedua tangannya.


"Aku sungguh akan menjadi seorang Aunty? Oh, ini akan sangat menyenangkan." Grace melompat-lompat kegirangan. "Ayo, kita rayakan ini!" Helli pun spontan ikut melompat-lompat kegirangan.


"Grace, hentikan!" Bella menahan tangan kedua wanita itu. "Helli sedang hamil dan kau malah mengajaknya melompat-lompat."


"Oh, Mom, aku hanya terlalu bahagia. Maafkan aku, Helli."


Helli hanya tersenyum tipis. Ia yakin wajahnya terlihat aneh karena senyum yang terlalu dipaksakan.


"Kau sedang hamil, lalu kenapa kau berdiri?" Bella tersenyum hangat. Tangannya mengusap lembut perut Helli yang masih rata. "Ayo, sebaiknya kau duduk." Bella menuntunnya untuk duduk di sofa. Glend segera beranjak, memberikan kursinya untuk Helli.


Pria setengah baya itu menghampiri putranya tepat waktu. Karena begitu ia berdiri di sisi Gavin, pria itu hampir saja tumbang.


Ya, Gavin merasakan lututnya lemas seketika. Ini benar-benar kejutan. Ia akan menjadi seorang ayah. Astaga, hal ini tidak pernah terpikir olehnya dan sekarang ia merasakan perasaan membuncah tidak terkendali.


"Kau baik-baik saja, Dude? Apa kau juga tidak mengetahuinya?" Glend mengusap pundak putra kebanggaannya yang kurang ajar itu.


"A-aku me-merasakan tubuhku gemetar, Dad. A-apakah Helli baru saja mengatakan ia mengandung? Mengandung anakku?"


"Ya, itulah yang dikatakannya."


"Oh, Dad, bagaimana ini? I-ini terlalu menakjubkan. Aku akan menjadi seorang ayah."


Glend tersenyum, "Kau pasti akan menjadi ayah yang hebat, Son."


Sementara Glend berusaha menenangkan Gavin, Bella dan Grace menatap penuh kagum wanita yang dihamili oleh Gavin.


"Apa kau merasa mual, pusing, atau gejala lain yang membuatmu tidak nyaman?" senyum hangat Bella masih senantiasa terbit di wajahnya yang cantik.


"A-aku hanya sedikit merasa pusing, Mrs. Vasquez." Helli menundukkan kepala, tidak berani untuk menatap wajah Ibu dari kekasihnya itu.


"Kau sedang mengandung cucuku, tidakkah sebaiknya kau mengubah caramu memanggilku." Bella mengusap kepala Helli, rasanya sama dengan cara Gavin membelai rambutnya. Hangat dan menenangkan.


Perlahan Helli mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata paling teduh yang pernah ia lihat.


"Maafkan kebrengsekan putraku dan maafkan kericuhan yang memalukan tadi. Selamat datang di keluarga Vasquez, Sayang." Bella merentangkan tangannya. Helli masih meragu untuk mengartikan ucapan dan isyarat yang diberikan oleh Bella.Ia masih merasa tidak layak. "Kemarilah, berikan pelukanmu pada ibumu ini," Ah! Helli tidak malu-malu lagi untuk menumpahkan tangisannya. Tapi ia berani bersumpah, tangisan yang keluar kali ini adalah tangisan bahagia.


"Mo-Mom?" Helli menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Bella.


"Ya, Mom."


Helli mengangguk, "Mom." Akhirnya Helli tahu bagaimana rasanya pelukan seorang ibu. Benar-benar menenangkan.


"Oh, putriku yang malang," Bella membelai rambutnya dengan penuh hati-hati. "Aku turut berduka untuk ibumu dan sekarang kami adalah keluargamu, Sayang."


"A-apakah Gavin akan dihapus dari daftar keluarga?"


Bella terkekeh, "Aku tidak ingin mengambil resiko dibenci oleh cucuku. Dia selamat karena kau sedang mengandung." Helli bernapas lega. Beberapa saat yang lalu Glend mengatakan bahwa Gavin tidak akan selamat jika membuat seorang wanita hamil di luar nikah, tapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya.


Bukan tanpa alasan mereka, memaafkan Gavin. Bella dan Glend tahu jika putranya mencintai Helli, pun sebaliknya. Tidak ada pembenaran dalam perbuatan mereka yang hamil di luar nikah. Bella dan Glend hanya berharap ke depannya, Gavin dan Helli bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan tentunya bisa menjadi orang tua yang hebat.


"Mi amor..."


Helli mengurai pelukannya bersama Bella meski ia masih sangat ingin berlama-lama dalam dekapan wanita hangat itu. Tapi, eranngan Gavin memerintahnya untuk menoleh.


"Ini benar-benar kejutan," manik pria itu berkaca-kaca. "Ka-kau mengandung anakku di rahimmu?"


Helli mengangguk, "Anak kita."


"Oh, Helli," Gavin menarik Helli ke dalam pelukannya. "Terima kasih, Sayang." Dihadiahinya Helli dengan kecupan bertubi-tubi di seluruh permukaan wajah wanita itu. "Terima kasih." Dicakupnya kedua pipi Helli, ditatapnya wanita itu dengan teduh dan penuh cinta. Sebulir air mata menetes dari manik indahnya. "Kau benar-benar luar biasa. Demi Tuhan, aku sangat mencintaimu, Helli!" Dalam sekejap bibir mereka menyatu satu sama lain.


Glend tersedak dan memalingkan wajahnya dengan salah tingkah. Bella segera menghampirinya. "Kau ingin?" bisik wanita setengah baya itu.


"Tentu saja!" Glend baru saja hendak menempelkan bibirnya ke bibir istrinya, suara Grace menghentikan aksi tersebut.


"Hentikan perbuatan mesum kalian! Aku masih suci dan polos!"


Apakah Gavin peduli? Jawabannya, tidak sama sekali. Ia mengabaikan rintihan protes adik kesayangannya tersebut.


"Kita butuh kamar," Glend berbisik di telinga istrinya. Bella mengangguk.


"Tiga hari lagi, pernikahan kalian akan di gelar, Dude!" teriak pria itu sebelum membawa istrinya pergi dari ruang utama.


Gavin memberikan jempolnya.


"Tanyakan Helli, seperti apa konsep yang ia inginkan, berandalan!" Seru ibunya.


Akhirnya Gavin melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu menoleh kepada ibunya. "Aku mencintaimu, Mom!"


Bella tersenyum, "Aku mencintai kalian semua. Dan Grace, mulai lah memikirkan masa depanmu!"


_END_


.


.


.


Kepoin cerita keturunan Vazquez dengan Judul di bawah iniπŸ‘‡πŸ‘‡



Dan cerita Felix si pria baik hati