
"Maafkan aku," Glend mengembuskan napas panjang. "Dia pria yang sangat baik, tapi Bella, aku tidak akan pernah ikhlas melepaskanmu selama di keningmu belum tertulis nama pria yang menjadi pemilikmu seutuhnya." Glend menyatukan kening mereka. "Aku akan tetap di sini, seperti ini, memiliki cinta yang masih sama untukmu selama semuanya masih terlihat abu-abu."
"Felix pria yang baik, Glend. Kami sudah bertunangan. Aku miliknya dan aku baru saja mengkhianatinya."
Glend tersenyum getir, ia menjauh, mundur beberapa langkah. "Aku lah yang menggodamu. Ya, dia pria yang baik. Aku tidak akan menyalahkan apa pun keputusan yang akan kau ambil, Bella. Apa pun itu, asal kau bahagia."
"Kudengar Ella sangat tergila-gila padamu."
"Jangan mendorongku dengan cara seperti itu, Bella." Glend bergumam lirih.
🐾
"Kau dari mana saja?" Felix menarik tangan Bella agar duduk di sampingnya. "Grace dan Gavin sudah tidur." Ucap Felix saat melihat Bella merotasi pandangannya.
"Terima kasih, Felix. Mereka pasti sangat kecewa padaku."
"Mereka sangat mencintaimu. Kau tahu itu."
"Aku akan meminta maaf pada mereka."
"Ya, lakukan lah esok hari. Mau berdansa denganku?"
Bella terkejut mendengar ajakan pria itu. Selama ini, Felix tidak pernah mengajaknya berdansa baik dalam jamuan yang ia hadiri atau pun jamuannya sendiri.
"Ayolah, kau bahkan berdansa dengan Justin Romano, aku cemburu."
Bella akhirnya menyanggupi permintaan pria itu. Mereka pun bergabung dengan para tamu yang juga sedang menikmati alunan musik di lantai dansa.
"Hmm?"
"Bagaimana menurutmu jika kita menikah?"
Bella mendongak, menemukan tatapan Felix yang terlihat sangat memohon.
"Kau terdengar seperti sedang melamarku."
"Ya, itulah yang kulakukan. Aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya, Bella." Katakanlah Felix egois, tapi dengan ikatan suami istri, ia bisa memberi aturan dan batasan yang jelas pada Bella. Felix bukan pria bodoh yang tidak mengetahui arti seorang Glend Vasquez di hidup Bella.
"Baiklah, aku menantikan pesta yang sangat luar biasa, Felix!" Ya, ini keputusan terbaik untuk mengakhiri semuanya. Felix pria tulus yang tidak layak untuk disakiti. Tanpa pria itu, Bella belum tentu bisa seperti sekarang. Felix juga mencintai anak-anaknya sebesar pria itu mencintainya. Selain Felix, ada satu sosok yang juga memiliki perasaan serupa, yaitu Ella. Wanita itu juga sudah sabar menunggu Glend menoleh ke arahnya. Apa yang dikatakan Justin benar adanya. Mengakhiri dengan tuntas demi menghindari orang lain terluka lebih banyak.
"Ka-kau menerima lamaranku? Sungguh?"
Bella mengangguk, "Apa kau ingin kutolak?"
Felix menggeleng cepat. Secara tiba-tiba, ia mengangkat tubuh Bella, "Aku bahagia sekali. Aku mencintaimu, Bella." Felix kembali menurunkan Bella. "Bolehkah aku," ia memperhatikan bibir Bella.
Bella tersentak untuk sesaat. Ia dan Glend baru saja berciuman. Namun, kemudian ia mengangguk sembari melengkungkan sebuah senyuman yang dianggap Felix sebagai bentuk sebuah izin.
Tidak menunggu waktu lama, Felix mengikis jarak wajah keduanya. Dalam sekejap, bibir meraka sudah menempel. Felix berbunga-bunga. Ini adalah ciuman pertama mereka dan kabar baiknya, Bella menerima lamarannya. Ia akan melupakan apa yang ia lihat tadi.
Sementara Felix sedang berbahagia, tidak jauh dari mereka ada Glend yang memperhatikan mereka. Glend gusar, ia cemburu, tapi apa daya, Bella sudah membuat keputusan. Glend menundukkan kepala, tersenyum dengan getir. Bella benar-benar membuat semuanya dengan jelas. Apa lagi yang ia harapkan di sini? Semuanya selesai. Kandas seiring dengan lamaran Felix. Dengan lunglai ia berbalik badan, tidak ingin melihat kebersamaan Felix dan Bella lebih lanjut lagi.
"Hati, tetaplah kuat. Otak, tetaplah waras."