La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Tamu Tak Diundang



Tok. Tok.


Bella yang hampir terbuai di alam mimpi terusik dengan ketukan di pintu. Ia mendesah, apa lagi yang diinginkan ibu dan anak itu.


Dengan langkah gontai, ia menuju pintu. Bergumam dalam hati semoga ia tetap bisa menahan amarah, tidak membalas semua tindakan yang dilakukan Rose dan Lizzie. Karena jika sampai hal itu terjadi akan berdampak kepada ayahnya.


"Dad?" Ternyata yang berdiri di ambang pintu adalah sang ayah.


"Daddy mengganggu tidurmu?" Harry tersenyum hangat.


"Tidak. Kupikir kau lembur hari ini, Dad."


"Daddy memutuskan untuk pulang. Boleh Daddu masuk?"


"Tentu saja." Bella membuka pintu lebih lebar, memberi ruang kepada Harry agar bisa masuk.


Harry menarik napas panjang setiap ia memasuki kamar putrinya itu. Kamar yang menurutnya sangat sempit dan pengap.


"Pindah lah ke kamarmu yang dulu, Bella." Hal yang selalu ia ucapkan setiap kali ia mengunjungi Bella ke kamar.


"Kamar itu selalu mengingatkanku tentang Mom. Banyak kenangan di sana." Jawaban Bella pun selalu sama.


Apa yang dikatakan Bella memang benar adanya. Di kamar Bella yang dulu, mereka sering menghabiskan waktu bersama bahkan kamar Bella bisa dikatakan kamar mereka bertiga. Clara Kingston, Ibu Bella sering tidak bisa tidur jika tidak bersama putrinya.


"Kau bisa bertukar kamar dengan Lizzie jika kau mau, Sayang. Daddy akan memintanya."


Bella menutup pintu kamar lalu bergelayut manja di lengan ayahnya. Direbahkannya kepala di atas pundak ayahnya.


"Aku senang di sini, Dad. Kau pun pasti tahu jika pemandangan dari sini cukup bagus. Aku bisa melihat taman bunga yang dulu sering kita gunakan untuk menghabiskan waktu. Aku akan bermain sepeda, main ayunan, sedang kau dan Mom menikmati secangkir kopi. Sesekali Mom menghampiriku, menyeka keringatku dengan bajunya yang bersih dan wangi. Kau akan datang membawakan minuman."


Bella dan ayahnya berdiri di depan jendela. Keduanya menatap taman itu dengan sendu. Dulu banyak berbagai bunga di sana. Kini taman itu hanya ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Jika sudah memanjang, Rose hanya akan memanggil seseorang untuk membersihkannya. Sering kali Bella ingin menanami taman tersebut, tapi selalu dihalangi oleh Rose.


"Diakhir pekan kita akan berenang bersama." Harry menimpali. Rautnya wajahnya sedih mengingat kebersamaannya bersama dua orang yang sangat ia cintai. Harry selalu melihat tawa di wajah Bella. Sejauh dalam ingatannya, Bella selalu saja ceria. Tapi akhir-akhir ini, Harry seakan kehilangan senyum putrinya. Sudah satu minggu, Bella masih saja terlihat murung.


"Sayang," dibelainya rambut putrinya dengan penuh sayang.


Bella mendongak, menerbitkan senyum lebar hingga memamerkan barisan giginya yang rapi. Bella memang tersenyum tetapi senyum itu tidak menular ke matanya. Harry bisa melihat hal itu.


"Ya, Dad."


"Apa kau bahagia?"


Senyum di wajah Bella memudar seketika. Itu adalah pertanyaan paling sulit baginya saat ini. Apa itu bahagia? Yang ia tahu kebahagiaannya sudah sirna sejak kepergian ibunya.


"Bagaimana dengan Daddy?" kembali Bella menerbitkan senyumnya.


"Daddy akan bahagia jika kau bahagia, Sayang."


"Aku bahagia, Dad." Melingkarkan tangan di pinggang ayahnya, memeluknya dengan erat. Tempat ternyaman memang berada di dalam rengkuhan seorang ayah seakan pelukan hangat sang ayah mampu menarik semua beban hidup yang diletakkan di pundaknya.


Harry menarik napas panjang. Ia tahu jika putrinya sedang berbohong tapi ia tidak ingin mendesak Bella yang nantinya akan merasa tertekan.


"Apakah ibumu dan Lizzie memperlakukanmu dengan baik? Entah ayah yang kurang menyadari atau bagaimana, tapi ayah tidak pernah melihatmu bergabung dengan mereka. Bella, jika hubunganmu dengan mereka tidak baik-baik saja..."


"Kami baik-baik saja, Dad. Tidak usah khawatirkan hal itu." Bella semakin memperdalam pelukannya. Ia tidak ingin ayahnya kesepian lagi. Jika Rose meninggalkan ayahnya, entah apa yang akan terjadi pada ayahnya.


"Daddy hanya ingin kau tahu bahwa bagi Daddy kebahagiaanmu adalah yang paling utama. Jadi sekarang, apakah kau mau bercerita? Kenapa kau di sini? Suamimu berbuat kesalahan?"


Harusnya Bella sudah menduga hal ini. Akan tiba waktunya ayahnya akan mempertanyakan keberadaan suaminya. Bella tidak tahu harus menjawab apa.


"Tidak. Dia hanya sedang dalam perjalanan bisnis. Aku tidak bisa ikut mendampinginya."


"Jadi bagaimana perjalananmu dan suamimu selama di Sisilia?"


Astaga, Bella melupakan hal itu. Ia memang menghubungi ayahnya saat ia hendak menyusul Glend. Tidak ada perjalanan bisnis.


"Sisilia kota yang sangat indah. Hanya saja aku belum sempat mengunjungi lautnya yang mengagumkan karena Glend harus menghadiri pertemuan dengan kliennya. Itu membuatku bosan jadi aku memutuskan untuk kembali. Lagi pula aku merindukanmu, Dad."


Kebohongan yang sangat terlatih, Bella! Bella mencemooh dirinya. Betapa mulusnya kalimat-kalimat penuh kebohongan itu meluncur dari mulutnya. Ya, harus ia akui jika berbohong di hadapan ayahnya sudah sering ia lakukan. Terutama tentang Rose dan Lizzie.


"Daddy tidak bertanya tentang Sisilia, Bella. Yang Daddy maksud kebersamaanmu dengan suamimu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"


"Glend pria yang hangat, Dad. Sama sepertimu. Dia sangat baik. Dia memperlakukan layaknya putri. Sikapnya itu sangat berbanding terbalik dengan berita yang kau sampaikan, Dad. Aku tidak melihat kebengisan sama sekali." Bella kembali merutuk lidahnya yang mengeluarkan pujian tentang Glend.


Harry terkekeh, "Syukurlah jika demikian. Kebengisannya menjatuhkan lawan bisnisnya tidak berdampak dalam hubunganmu dengannya. Mr.Vasquez tidak kenal belas kasihan dalam berbinis. Ia tidak akan sungkan-sungkan menyingkirkan musuh hingga hancur tak bersisa dan sulit untuk bangkit lagi."


"Jadi kau sungguh tidak pernah melihat wajahnya, Dad?"


Harry menggeleng. "Vasquez Group sebelumnya adalah milik mendiang kakeknya. Adrian Romero Vasquez. Diamond Stars. Sejak ia mengambil alih perusahaan, ia pun mengubah nama perusahaan tersebut, dan dalam kurun waktu sebentar bisnis ini berkembang pesat. Daddy hanya pernah bertemu dengan ibunya yang sesekali datang menyambangi perusahaan sebelum wanita itu meninggal. Jenita Vasquez. Tidak ada yang tahu jika Jenita memiliki seorang putra." (Tolong ingatkan saya, apakah di bab sebelumnya sudah pernah disebutkan nama mendiang ibu kandungnya Glend? Saya lupa).


"Apa kau pernah mendengar tentang ibunya yang menikah dengan seorang Dixton, Dad?"


"Daddy tidak pernah mendengarnya, Sayang. Hanya saja, dari gosip yang beredar, Jenita sempat melarikan diri dari keluarganya. Hanya sebatas itu karena Mr. Vasquez sangat tertutup dengan kehidupan pribadi keluarganya."


Bella kembali merenung. Jadi apa hubungan Dixton dan Vasquez sebenarnya?


Sebuah batu kecil sengaja dilempar ke jendela kamarnya.


"Polly," gumamnya sembari melongokkan kepala ke luar jendela. Ia memang memberitahu kepada Polly jalan rahasia jika ingin bertemu dengannya dalam keadaan mendesak.


"Bella," akhirnya ia melihat sosok Polly yang berdiri di dekat tangga.


Bella melihat jam dinding yang menunjuk ke angka 21.00. Pasti terjadi sesuatu yang buruk.


"Aku akan segera turun. Tunggulah di sana sebentar."


"Ada apa?" Tanya Ayahnya. "Kenapa Polly bisa ada di sana?" Ya, Harry juga mengenal Polly karena Sharon, ibunya Polly adalah pengasuh yang dulu bekerja di rumah mereka. Sharon tiba-tiba mengundurkan diri dua minggu setelah Harry menikah dengan Rose. Akh, Harry ingat kapan terakhir Bella tersenyum bahagia. Sehari sebelum kepergian Sharon. Bella menangis selama berhari-hari di kamar setelah Sharon meninggalkan rumah mereka.


"Sepertinya Leonard Smith memukul Aunty. Aku harus melihatnya, Dad. Polly pasti sangat ketakutan." Bella segera menuruni tangga yang diikuti oleh Harry di belakang.


"Bella." Polly menghambur ke dalam pelukan Bella. "Aku melihat ayahku mencambuk ibuku. Dia juga mencekik leher ibuku hanya karena ibu mengatakan tidak memiliki uang."


"Apa?" Meski aduan seperti ini sering ia terima, tetap saja Bella merasa terkejut. Kenapa ada pria jahat seperti Leonard yang tega menyakiti istrinya. Ck, ia juga kesal kepada Sharon yang menerima semua perlakuan itu dengan sabar.


"Selamatkan ibuku, Bella. Ayo, kita selamatkan ibuku." Polly menarik tangan Bella agar mereka segera menuju rumah kontrakan Polly dan keluarganya.


____


"Jika kau tidak memiliki uang, harusnya kau melacur, sialan!" Leonard melempar Sharon hingga punggung wanita itu menabrak dinding.


"Kenapa bukan kau saja yang menjual diri, Keparat!" Sharon sudah tidak bisa sabar lagi. Diambilnya lampu meja dan dilemparnya ke arah suaminya yang berhasil ditangkis oleh Leonard.


"Oh, kau sudah mulai berani menantangku, heh?" Pria bertatto itu menerjang Sharon, menarik baju Sharon dengan kasar. Pria itu sedang mabuk berat dan dipastikan sedang kalah dalam berjudi.


"Aku sudah melayangkan tuntutan cerai kepadamu." Sharon menatapnya nyalang.


"Cerai? Siapa yang memberimu izin, hah?"


"Aku tidak perlu izin darimu atau kau lebih suka kulaporkan ke pihak yang berwajib?" ancam Sharon. Badannya sudah remuk redam. Entah apa yang merasukinya selama ini hingga ia memilih bertahan dengan pria biadab itu. Sebentar lagi ia akan bebas dari kekejaman pria itu setelah hakim meloloskan permintaan cerai yang ia layangkan.


"Melaporkanku? Benarkah? Lakukan sekarang, aku ingin melihatnya apakah kau memiliki keberanian." Dibelainya wajah Sharon dengan lembut lalu ia menunduk dan mencium kasar bibir wanita itu. Sharon meronta, memberontak, berusaha meloloskan diri.


"Mr.Smith, lepaskan istrimu atau aku akan berteriak dan memanggil polisi!"


Leonardo berdecak, ia sudah sangat hafal dengan suara Bella yang selalu saja suka ikut campur dengan masalah keluarganya.


Dilemparnya Sharon hingga kembali terpental. Bella dan Polly berlari menghampiri, membantu Sharon untuk berdiri.


Bella meringis melihat luka lebam yang hampir memenuhi wajah Sharon. Matanya panas menahan air mata.


"Kau keterlaluan Mr.Smith!" Bella menatapnya sinis. Andai Sharon tidak melarang Bella untuk mengadukan pria itu, mungkin sudah sejak lama Leonard mendekam di balik jeruji besi.


"Kenapa kau selalu ikut campur, Bella Kingston? Ini membuatku muak! Kau selalu mencari gara-gara denganku, apa kau ingin kuhajar juga?" Leonard mendekati ketiganya , menyeringai iblis membuat wajah jahatnya semakin terlihat totalitas.


"Sekali kau menyentuhku, aku tidak akan sungkan-sungkan melaporkanmu!"


"Cih! Wanita selalu saja bermulut besar."


"Lakukan saja jika kau ingin membuktikan apakah aku akan melakukannya atau tidak?" Bella menantangnya tanpa rasa takut. Karena jika pria itu menyakiti Bella, Sharon tidak akan punya hak melarang Bella untuk menuntut Leonard. Dan yang dilakukan Bella adalah sengaja memancing pria itu.


"Kau benar-benar membuatku muak!" Leonar mengulurkan tangan hendak menarik leher Bella, tapi tiba-tiba tubuh pria itu terpental jatuh ke samping.


"Jika ingin menyentuh putriku, kau harus berhadapan denganku, Leonard Smith." Harry segera menghubungi polisi dan melaporkan apa yang terjadi.


Bella berlari ke dalam pelukan ayahnya. Polly pun memeluk ibunya. Tidak berapa lama polisi pun datang dan akhirnya Sharon memberikan kesaksiannya. Leonard dibawa ke kantor polisi untuk diamankan.


Harry merotasi matanya ke seluruh ruangan yang terlihat seperti kapal pecah. Sempit dan pengap. Lebih pengap dari kamar putrinya, Bella. Ia tidak tahu jika Sharon hidup sangat menyedihkan. Bella tidak pernah mengatakannya. Ck! Ini karena ia lebih sering menghabiskan waktu di kantor.


"Lukamu harus diobati, Sharon. Sebaiknya kau dan Polly ikut bersama kami ke rumah. Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa lukamu atau kau lebih suka ke rumah sakit?" Harry menatap iba kepada mantan pengasuh putrinya dulu. Sharon terlihat lebih tua dari yang ada di dalam ingatannya. Jelas sekali jika hidup wanita itu dipenuhi dengan tekanan.


"Sebaiknya kita bawa ke rumah, Dad. Di rumah sakit siapa yang akan menjaga mereka." Bella tidak keberatan untuk menemani Polly menjaga Sharon di sana tetapi pagi-pagi sekali Bella sudah harus menyiapkan sarapan untuk Rose dan Lizzie.


"Aku tidak apa-apa, Bella. Terima kasih atas tawarannya, Mr.Kingston. Aku akan mengobati lukaku sendiri." Sharon menundukkan kepala, menyembunyikan rasa malu di hadapan mantan majikannya.


"Kita tidak memiliki obat-obatan, Ibu," ucap Polly dengan polos.


"Baiklah, kita ke rumah." Harry membuat keputusan. Pun keempatnya berjalan menuju kediaman Kingston.


"Sepertinya kau kedatangan tamu, Dad." Bella melihat sebuah mobil Jaguar F-Type berwarna merah parkir di pekarangan rumah mereka.


Harry mengerutkan dahi, mencoba menggali memori apakah ia memang memiliki janji temu malam ini di rumahnya.


"Arghhhhh..." lengkingan suara Rose dan Lizzie membuat mereka terkejut. Keempatnya saling melempar pandang dan kompak berlari ke dalam rumah untuk melihat apa kiranya yang membuat Rose dan Lizzie berteriak.


Bella terpaku di ambang pintu melihat siapa gerangan tamu mereka.


"Cara mia..."