
"Jadi sekarang kita acara tidur?" Bella bertanya dengan wajah polos tanpa berniat untuk menggoda. Ia tidak sadar jika pertanyaannya itu saja sudah mengandung godaan.
"Memangnya acara apa lagi? Ini sudah jam 01.00 dini hari."
Setelah mendapat penjelasan, Bella akhirnya melunak, kembali ke sikap awalnya. Manis, menyenangkan juga menggemaskan.
Bella yang duduk di depan meja rias segera beranjak, naik ke atas ranjang bergabung bersama suaminya.
"Kau wangi sekali," Glend mendaratkan satu kecupan di pundak Bella. Hanya sebentar. Tidak boleh lama-lama karena terlalu berbahaya untuk hasratnya yang mudah terpancing.
"Hmm, aku memakai sabun, lation, dan parfum milikku. Selama ini aku hanya memakai sabunmu." Bella memasukkan kaki ke dalam selimut tebal, selimut yang juga menutupi tubuh suaminya. "Bagaimana, kau tergoda?" kali ini sikap jahilnya lagi kumat. Ia sengaja menyampirkan rambut panjangnya ke bahu kanannya hingga memamerkan lehernya di bagian kiri.
"Jadi kau sengaja untuk menggodaku?" Glend menyambut kejahilan Bella dengan menurunkan tatapannya ke leher wanita itu. Memandanginya dengan sorot mata lapar yang sesungguhnya tidak sedang dibuat-buat.
"Selamat malam, Glend." Bella membaringkan tubuh, memejamkan mata.
"Mimpi indah, Sayang." Glend merapatkan tubuh mereka lalu memberikan kecupan hangat di kening Bella. "Kupikir ada acara lain lagi," bisiknya di telinga Bella.
"Kau yang mengatakan ini sudah jam satu." Bella menimpali tanpa membuka matanya sama sekali. "Sebenarnya banyak yang ingin kutanyakan padamu, tapi kau juga sudah lelah, sebaiknya kita memang tidur, Glend."
"Ya, kau benar. Katakan kau sudah memaafkanku sebelum kau benar-benar tidur."
"Katakan, apakah aku satu-satunya wanita yang kau nikahi?" Bella justru bertanya.
"Ya, hanya kau. Tidak ada yang lain."
"Kalau begitu aku memaafkanmu." Bella memiringkan tubuh menghadap suaminya, merangkul Glend dengan mesra, membenamkan wajah di dada suaminya. "Kau juga sangat wangi. Aku menyukainya."
Inilah yang disukai Glend dari istrinya. Sikap manis yang tidak dibuat-buat. Tidak jatuh hati kepada wanita seperti Bella adalah hal yang mustahil baginya.
"Ceritakan kepadaku tentang pria menawan yang sedang mencoba menarik perhatianmu."
"Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Namanya Andreas, itu saja."
Glend berdehem, "Kau tidak tertarik padanya?"
"Kau ingin aku tertarik padanya?"
"Katamu dia tampan."
"Itu benar." Sejauh dalam ingatan Bella, Andreas adalah pria paling tampan yang pernah ia kenal tentunya setelah ayahnya. Selain menawan, Bella yakin jika pria itu juga sangat kaya. "Jika diingat-ingat, aku bertemu dengannya sehari sebelum aku bertemu denganmu. Walau sangat berbeda, tapi kau dan dia memiliki satu kesamaan, manik grey yang mengagum-, maksudku iris mata yang sangat bagus." Bella tiba-tiba mengendurkan pelukannya, menengadahkan kepala, menatap manik Glend dengan intens. "Kau yakin saudaramu sudah meninggal?" pertanyaan itu tiba-tiba meluncur tanpa Bella rencanakan, bahkan ia pun tersentak mendengar pertanyaannya sendiri.
"Namanya Andreas sama seperti nama saudaramu. Manikmu juga sangat mirip dengannya."
Glend berdehem, "Fantasi yang luar biasa." Glend mengusap wajah Bella dengan jemarinya. "Sebaiknya kita tidur. Ceritamu tidak menarik karena dia tidak berhasil menarik perhatianmu."
"Jadi kau sungguh ingin aku tertarik padanya? Kau yakin? Kurasa tidak akan ada wanita lagi yang bersedia tidur di sisimu jika aku memilih untuk bersamanya."
"Banyak wanita yang ingin tidur denganku, Bella."
"Apa Alice termasuk salah satunya?"
"Mungkin."
Bella langsung melepaskan pelukannya lalu mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya. Nama Alice selalu membuatnya uring-uringan. Apakah ia sungguh sedang cemburu? Pertanyaan itu pun melintas di benaknya. Ada rasa tidak rela saat Glend menyebut nama Alice.
Glend tidak menyebut nama Alice, aku lah yang selalu membahasnya!
Kekesalannya semakin bertambah menyadari jika dirinya yang mencari perkara, selalu mengaitkan nama Alice dalam pembahasan mereka. Sepertinya ia perlu memperjelas tepatnya seperti apa hubungan Glend dan Alice di masa lalu. Kenapa Stacy sempat diduga sebagai putrinya.
"Jadi selama satu minggu, apa saja yang sudah kalian lakukan?"
"Tidak banyak." Glend menarik Bella kembali ke dalam pelukannya. Sama seperti Bella, Glend juga merasa tidak nyaman setiap membahas wanita itu. Ada beban berat yang seolah terus menghantui dan menggerogotinya.
"Jawabanmu meragukan. Ceritakan padaku tentang hubunganmu dengannya."
"Tidak ada yang menarik."
"Kau mengatakan bahwa kau mencintainya." Jelas sekali jika Glend enggan untuk berbagi cerita dengannya. Sangat tidak masuk akal jika Glend mengatakan tidak ada yang menarik disaat Glend dan Alice pernah menjalin kasih. Dari sudut pandangnya, Alice masih menaruh harapan besar kepada Glend.
"Dulu."
"Yang kutanyakan juga tentang sejarahmu bersamanya. Kau masih menyimpan rasa kepadanya? Heh?" Sifat wanita lainnya, jika si pria enggan menjelaskan, si wanita mendadak menjadi pakar spekulasi. Melayangkan praduga-praduga tidak berdasar yang bisa saja memancing kemarahan.
"Untuk apa memikirkan sejarah menyakitkan jika di sini sudah ada masa depan yang begitu manis," dan sudah sifatnya pria membual dengan rayuan mematikan.
"Menyakitkan?" Rayuan Glend tidak ampuh. Pengalihan yang dilakukannya tidak berhasil. "Sesuatu yang menyakitkan terjadi karena semuanya tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Banyak kenangan indah yang justru menjadi duri beracun yang menggerogoti."
"Bisakah kita tidak membahasnya, Bella."
"Aku hanya tidak ingin berbagi kesedihan denganmu dan menemukanmu menatapku dengan iba. Aku tidak ingin membawa masa laluku ke hubungan kita yang sekarang."
"Apakah sangat menyakitkan?"
"Sangat."'
"Aku penasaran," ia bergumam.
"Tidak sekarang. Karena sekarang waktunya kita tidur. Akh, aku melupakan sesuatu. Di mana jasku?" Glend merotasi matanya ke seluruh ruangan untuk mencari jas miliknya.
"Seingatku, aku melemparnya ke sofa. Mau kuambilkan?"
"Jika kau tidak keberatan."
"Jika aku keberatan memangnya apa yang bisa kau lakukan? Berjalan ke sana untuk mengambil yang kau butuhkan?" sarkas Bella dengan tatapan meledek.
Glend tertawa renyah. "Aku akan memberi hukuman pada lidahmu setelah kau mengambil jas milikku."
Bella menurunkan kakinya, berjalan menuju sofa. Jas itu memang ada di sana. Bella pun membawanya bersamanya.
"Kau menginginkan ponselmu?" Bella kembali duduk di samping suaminya sembari meletakkan jas milik Glend di atas pangkuan pria itu.
"Tidak." Glend mencari sesuatu di balik jas mahal tersebut. "Aku menemukannya." Sebuah kotak perhiasan.
"Apa itu sogokan?"
Glend kembali tertawa. "Ini cincin pernikahan, Bella. Aku belum menyematkannya di jarimu." Glend membuka kotak tersebut dan sepasang cincin yang begitu indah terpampang di sana.
"Berapa harganya? Berliannya terlihat sangat kecil," Bella mengulurkan tangannya agar Glend segera menyematkan cincin tersebut ke jari manisnya. Tidak menunggu lama, Glend segera mengabulkan keinginanya. Cincin itu tersemat dengan indah di jari manisnya. Pas dan cocok.
Glend membawa tangan Bella untuk ia beri kecupan manis di sana. "Kau menyukainya?"
"Aku tanya berapa harganya?"
"Kenapa? Kau ingin menjualnya?"
"Jika terdesak," Bella terkikik geli.
"Jangan pernah melepaskannya. Kau menyukainya?"
Bella mengangguk cepat, "Aku bahkan sangat terharu, bolehkah aku menangis?"'
"Hanya kau satu-satunya wanita yang terharu dinikahi pria buruk rupa sepertiku, Bella." kelakar Glend. Ia penasaran bagaimana reaksi Bella jika mengetahui wujud aslinya. Tapi sepertinya Bella justru sangat nyaman dengan sosok dirinya yang sekarang. Sosok buruk rupa. Ck! Rencana awalnya tidak seperti ini. Ia hanya akan berpura-pura sehari untuk melihat reaksi wanita itu. Glend mengira reaksi Bella akan sama dengan wanita-wanita lain yang sebelumnya sudah ia ajak untuk menikah. Bukan benar-benar menikah, hanya pernikahan sebatas kontrak. Sayang, semua tidak berjalan mulus saat para wanita itu melihat sosoknya yang mengerikan. Mereka berlari terbirit-birit detik itu juga. Bella berbeda, gadis itu juga takut tapi memilih bertahan. Awalnya, pengorbanan yang Bella lakukan hanya untuk keselamatan ayahnya. Tapi semakin ke sini, Glend tahu jika Bella melakukan semuanya karena sadar jika dirinya adalah seorang istri. Glend bisa merasakan ketulusan wanita itu. Ketulusan yang sulit didapat untuk zaman sekarang.
"Hm, kau benar. Untuk itu tolong kerja samanya, jangan mengecewakanku dan juga membuatku sakit hati. Kau harus bersyukur memiliki istri cantik sepertiku disaat aku tidak mengeluh memiliki suami buruk rupa sepertimu. Di mana cincinmu, biar kusematkan di jarimu." Bella tersenyum lebar begitu cincin tersemat di jari suaminya. "Aku akan mengambil fotonya, di mana ponselku, ah, di atas nakas," Bella mencondongkan tubuh melewati Glend hingga tubuh mereka menempel untuk sesaat. Sentuhan yang mungkin dianggap Bella sangat sepele justru sangat berpengaruh pada seorang Glend Vasquez.
"Nah, mari kita ambil fotonya. Hm, jemarimu ternyata juga sangat bagus. Panjang, mulus dan terawat. Aku baru memperhatikannya. Jika aku mempostingnya di Insta, akan banyak yang tertipu hanya karena kau memiliki jemari yang begitu indah. Para netizen akan berkomentar spill wajahnya, pasti sangat mengagumkan luar biasa. Untuk menghindari fitnah itu, sebaiknya aku tidak mempostingnya. Lagi pula cukup aku yang menikmati jemarimu yang aduhai ini."
Glend hanya bisa tersenyum mendengar ocehan-ocehan istrinya yang menggemaskan itu. Tingkah, tindakan serta kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Bella selalu mengandung racun yang membuat Glend melambung seketika. Meski di setiap ucapan Bella terselip ejekan kasat mata. Bagi Glend, itu kejujuran yang sangat manis.
"Selesai! Ada 15 foto. Kau ingin berfoto denganku? Hm, sudah pasti jawabannya iya. Baiklah, mari kita ambil foto wajah yang tidak selaras ini." Bella merapatkan wajahnya ke wajah Glend yang rusak lalu tersenyum ke arah kamera. Saat timer menunjuk angka satu. Bella memiringkan kepala, memberi kecupan di sana. Glend ternganga, shock dengan kecupan Bella yang tidak terduga. "Fotonya satu saja. Sudah cukup. Cincin sudah tersemat, apakah ada ciuman seperti pengantin pada umumnya?"
"Sure,"
Bella menyapu bibirnya, membasahinya dengan lidahnya. "Aku akan memejamkan mata."
"Aku akan menciummu kalau begitu." Glend menurunkan tatapannya pada bibir ranum tersebut. Bibir yang sejak tadi ingin ia rasakan.
"Aku gugup."
"Aku tidak sabar," Glend menimpali.
"Kau mesum sekali. Hanya ciuman sebagai syarat pelengkap. Tidak ada lumatann atau sejenisnya. Kau mengerti."
"Yes, mam."
Bella mencondongkan tubuh sembari memejamkan mata. Tangan Glend menyelusup ke rambutnya, menarik tengkuknya lebih dekat. Bibir mereka pun bersatu, mengalun dalam ritme lambat dan intim. Bella melingkarkan tangan di balik leher suaminya, membalas setiap apa yang diberikan Glend kepadanya.
Dan saat matahari mulai terbit, mereka belum juga tidur sama sekali.
.
.
.
NB: Tolong para ibu-ibu, kaum Hawa yang sedang berpuasa, berhenti berfantasi 🥴🥴 Glend Bella hanya sekedar curhat hingga lupa waktu, oke!!