
Sesuai permintaan Bella, Glend tidak membalas pesan tersebut lagi. Dimasukkannya kembali ponselnya ke dalam saku. Menanti dengan manis sang pujaan hati datang menghampiri.
Mata mereka saling mengunci, senyum terbit dikedua sudut bibir mereka. Setengah meter lagi, Bella akan sampai di hadapannya. Terdengar suara yang melesat cepat. Glend menoleh, membeliak melihat sebuah mobil menerobos lampu merah, melaju kencang mengarah kepada Bella.
"Bella..." Glend sontak berdiri, berlari menyelamatkan Bella.
Bella mematung di tempat, tidak menyadari bahaya yang mengintainya. Ia terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat. Glend, suaminya, berdiri dan berlari menghampirinya.
"Argghh..." Bella berteriak, tubuhnya terhempas kuat ke dada suaminya. Mereka terjatuh, berguling-guling.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Glend membantu Bella berdiri. Memeriksa seluruh bagian tubuh istrinya. "Sikumu terluka, lecet dan berdarah." Glend membersihkan tanah yang menempel di luka istrinya. Meniupnya secara perlahan. "Selain sikumu, apa masih ada yang terluka, Sayang?" Glend mencakup wajah Bella dengan kedua tangannya. Menatap Bella dengan penuh khawatir.
Bella hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tidak merasakan apa pun. Ia terkejut dan juga...
Glend menarik Bella ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan erat. "Oh Tuhan, kupikir hal buruk akan terjadi padamu."
"G-Glend..."
"Ya, Sayang."
"Kau bisa berdiri."
Tubuh Glend membatu seketika. Ia memang akan jujur tapi bukan begini rencananya.
"Be-Bella." Mendadak ia gugup.
Bella mengurai pelukan mereka. Ditatapnya Glend dari atas ke bawah dengan ekspresi tidak terbaca.
"Be-Bella, aku bisa menjelaskan, Sayang."
"Ternyata kau sangat tinggi," Bella bergumam pelan. Bella kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan Glend. "Aku hanya sebatas dadamu, Glend."
"Oh Tuhan, Glend...." Tiba-tiba Bella memekik kaget. "Katakan jika ini bukan mimpi! Kau sungguh bisa berjalan?!"
"Hah? Oh."
"Ya ampun, aku bahagia sekali." Bella kembali memeluk suaminya. "Inikah kejutan yang kau katakan? Kau bisa berjalan. Ini kejutan paling membahagiakan dalam hidupku. Apa kau bisa melompat, Glend? Menggerakkan kakimu seperti ini?" Bella kembali melepaskan pelukannya. "Lihat aku," Bella kemudian melompat-lompat kecil. "Kau bisa? Ayo lakukan?" Digenggamnya kedua tangan suaminya. Lalu Glend pun mengikuti permintaan Bella. Mereka berdua melompat-lompat dan berputar-putar. "Glend, kau bisa berjalan. Kakimu berfungsi normal. Aku bahagia untukmu, sungguh." Manik Bella berkaca-kaca. Ia terharu. "Mulai sekarang kita bisa berkencan sambil bergandeng tangan! Ah, aku tidak sabar." Bella menangis haru.
Melihat air mata di wajah Bella, Glend merasa bersalah. Ia tertohok. Betapa tulusnya wanita yang ia cintai itu.
"Bella, sebenarnya aku memang bisa berjalan."
"Hah?" Bella mengernyit bingung.
"Empat tahun yang lalu aku memang tidak bisa berjalan, Bella."
"Maksudmu? Kau berpura-pura lumpuh? Untuk apa? Kenapa melakukan hal konyol seperti itu? Kau merusak kebahagiaanku." Bella merengut kesal!
Glend mengira Bella akan marah, setidaknya itulah reaksi normal yang sangat wajar. Bella merasa dibohongi, pasti. Tapi wanita itu memilih mengesampingkan perasaannya. Ia bahagia untuk Glend. Bersyukur pria itu ternyata mampu berjalan.
"Kau berutang penjelasan kepadaku. Sekarang aku ingin menikmati hal ini. Ayo, kita berkencan. Ya ampun, aku senang sekali." Bella menunduk melihat kaki Glend yang ternyata sangat panjang. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang? "Hais, melihat kaki panjangmu aku malah berdebar, dasar pembohong!"
Glend tergelak. "Oh, Bella." Ditariknya Bella ke dalam pelukannya. "Kau benar-benar wanita ajaib yang sangat baik. Maafkan aku, Sayang."
"Jika kau masih memiliki stok kebohongan, katakanlah sekarang juga!" Bella menatapnya horor. "Kau membohongiku, tentu saja kau harus dihukum dan diberi pelajaran. Aku tidak ingin dibohongi secara berulang kali. Jadi sebaiknya kau keluarkan semua stok kebohonganmu."
Bella benar, ini saatnya Glend mengungkapkan semuanya. Biarkan mereka memulainya dari awal.
"Bella, aku, wajahku... mengenai wajahku..." Kalimat Glend kembali terhenti. Sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Bella yang membelakangi jalan jelas akan menjadi sasaran si pengendara. Glend memutar posisi tubuh mereka dan mendorong istrinya hingga Bella terjatuh dan terkilir. Ia tidak bisa berdiri.
"Aaargghhhh..... GLEND!!!" Bella berteriak histeris, kepala Glend dihantam dengan tongkat bisbol berulang kali. "TIDAAAKKKKK...." Bella menjerit histeris. Topeng itu terlepas, menampilkan sosok Glend yang sesungguhnya. Bella semakin histeris. Masih belum menyadari jika itu adalah sebuah topeng. Wajah Glend sudah berlumur darah. Tubuh Glend berputar-putar hingga akhirnya terpental jauh. Ditabrak dengan sengaja oleh pengendara motor yang memberikan pukulan kepada suaminya.