
"Apa aku sudah mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu?" Glend bertanya begitu mereka sampai di taman yang tidak terawat. Taman yang menjadi pembahasan Bella dan ayahnya beberapa saat lalu.
"Ini ketiga kalinya," Bella membersihkan bangku taman yang berdebu menggunakan tangannya. Glend segera menariknya mundur ke belakang. Pria itu mengeluarkan sapu tangan dari balik jasnya untuk membersihkan tangan Bella. Setelah Glend membersihkan tangan Bella, pria itu lalu membersihkan bangku kemudian membentangkan sapu tangan di atas bangku tersebut.
"Duduklah."
Bella menghela napas panjang. Sikap manis pria buruk rupa ini lah yang tidak bisa ia lupakan.
"Apa kau tidak merindukanku? Seperti yang kau katakan, aku sudah mengatakannya sebanyak tiga kali, tapi tidak sekali pun kau mengikrarkan rindumu padaku."
"Itu karena aku tidak merindukanmu." Bella menengadahkan kepala ke atas menatap langit bertabur bintang. Hembusan angin malam membuatnya sedikit menggigil. Bella memeluk dirinya sendiri, mengusap lengan untuk menghangatkan tubuhnya sendiri.
"Kau kedinginan?"
"Ini sudah hampir larut malam, wajar saja aku kedinginan. Tidak usah membuka jasmu hanya untuk menghangatkan tubuhku. Kita tidak sedang syuting drama Korea."
Gerakan tangan Glend yang hendak membuka kancing kemejanya terhenti begitu mendengar apa yang dikatakan Bella. Pria itu terkekeh geli. Ya, ini Bellanya. Sudah tidak mengherankan lagi.
"Biasanya wanita menyukai hal seperti itu."
"Mungkin yang kau katakan adalah Alice in Wonderland."
"Alice? Apa kau sedang cemburu, Bella?"
"Apakah aku terlihat sedang cemburu, Vasquez? Sepertinya cemburu bukan kapasitasku," sahut Bella dengan ketus. "Ini sudah larut malam, sebaiknya kau pulang karena aku juga sudah mengantuk."
Tadinya Bella berharap Glend datang membawa penjelasan. Tapi sepertinya harapannya itu hanya sia-sia. Tidak ada tanda-tanda bahwa Glend akan menjelaskan hal itu.
"Kenapa aku harus pulang sementara kau di sini? Aku akan pulang jika kau ikut denganku."
Bella menyunggingkan senyum tipis mendengar ucapan Glend yang terdengar sangat bijak sekali. Saat ia memilih pergi kenapa Glend tidak menahan atau pun mengejarnya. Setelah satu minggu pria itu baru muncul, bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku tidak akan pulang denganmu."
"Ya, tidak masalah. Aku akan tetap tinggal di sini, bersamamu," tandas pria itu dengan tebal muka. Tidak tahu malu sama sekali.
"Aku sedang marah padamu, bisakah kau bertingkah tidak menyebalkan?" Bella sudah tidak tahan lagi dengan sikap Glend yang masa bodoh seolah tidak ada masalah diantara mereka.
"Aku tahu kau sedang marah padaku, Bella. Untuk itulah aku datang kemari, membujukmu."
"Aku tidak membutuhkan bujukan atau pun rayuan, Glend," ucap Bella dengan nada lelah. Yang ia butuhkan adalah penjelasan tentang statusnya. Apakah ia orang ketiga di tengah hubungan Glend dan Alice.
"Kau sudah kedinginan. Sebaiknya kita kembali ke dalam. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, menjelaskan apa pun yang menjadi gundahmu."
Sesampainya di rumah, Glend mengerutkan dahi melihat Harry yang sedang beralih profesi menjadi dokter dadakan di bawah tatapan menghunus sang istri, Rose.
"Aku tidak tahu jika kau juga ahli dalam pengobatan, Harry?" Glend mengulum senyum penuh arti saat pria tengah baya itu tersentak.
Plak!
Glend mendapat pukulan di pundaknya. Pun ia mendongak dan menyengir lebar melihat Bella yang sedang melotot penuh protes ke arahnya. Glend menarik tangan yang digunakan Bella untuk memukulnya, membawa tangan itu ke bibirnya. Glend mengecupnya dengan lembut.
Setelah melakukan hal itu dia kembali mengalihkan tatapannya pada Harry, "Maksudku, Ayah mertua? Di mana dokter yang kau hubungi tadi?"
"Dia berhalangan hadir karena sedang sakit. Besok pagi dia akan mengutus asistennya." Harry mengganti kapas yang sudah dipenuhi darah Sharon.
"Ck! Bagaimana bisa seorang dokter sakit?"
"Dokter juga manusia," Bella menimpali.
"Ah, ya, kau betul, Sayang," diusapnya tangan Bella yang masih ada di dalam genggamannya. "Siapa pun bisa sakit," imbuhnya membenarkan.
Harry yang melihat sikap Glend yang melunak di hadapan putrinya sedikit tidak percaya. Glend pria yang sulit untuk diajak kerja sama dalam dunia bisnis, tapi jika menurutnya suatu perusahaan lain bisa memberikan keuntungan besar bagi perusahaannya, Glend akan meminta asistennya Bill untuk menyambangi perusahaan itu, menawarkan kerja sama.
"Omong-omong, kenapa kau duduk di sini, ibu tiri? Tugasmu sudah selesai? Di mana si saudari tiri?"
Rose terlonjak kaget, si buruk rupa ini benar-benar membuatnya kehilangan keberanian. Mulai sekarang, ia harus menyusun rencana untuk menyingkirkan pria itu dari rumah mereka.
"Satu kamar sudah selesai. Sedangkan kamar yang ingin kau tempati, asistenmu menyuruhku keluar setelah menyingkirkan barang-barang dari sana."
"Si saudari tiri, kemana dia? Dia tidak ikut andil?"
"Lizzie sedang lelah dan sudah beristirahat," jawab Rose dengan wajah ketus. Selain wajah Glend yang membuatnya muak, sikap dan cara berbicara pria itu juga sangat menyebalkan. Sepertinya Rose harus banyak mengonsumsi buah penurun tensi selama Glend ada di sini, di rumah mereka. Godaan untuk merusak sisa wajah yang lain benar-benar sangat menggoda. Ide itu mungkin bisa ia masukkan ke dalam daftar rencananya.
"Istirahat? Yang lelah bukan hanya dia, Ibu tiri. Aku sangat lapar, bangunkan dia dan siapkan makanan untuk kami."
"Apa kau pikir kami pembantu? Kau bisa melakukan delivery order!"
Glend tergelak, "Jangan meninggikan nada suaramu, Ibu tiri. Bisa-bisa besok kau tidak bisa berbicara lagi. Bangunkan putrimu dan lakukan apa yang kuinginkan. Bukankah kau yang tidak menginginkan pembantu ada di rumahmu. Kau ingin mengabdi kepada keluarga ini. Ibu tiri, aku bagian dari keluarga ini," ucapnya dengan ringan tanpa beban.
"Bisakah kau memanggilku Rose atau Mrs.Kingston? Sebutan ibu tiri yang kau ucapkan berulang kali membuat telingaku sakit," Rose melayangkan protes. Glend si pria buruk rupa itu benar-benar sangat pandai menggunakan mulut untuk membuat lawan bicaranya naik darah. Rose tahu jika Glend sedang meledek statusnya dan entah kenapa Rose merasa jika si lumpuh dan cacat itu tahu sesuatu tentang dirinya.
"Tujuannya memang itu, Ibu tiri. Membuat telingamu sakit juga membuat kau sadar posisimu. Cepatlah, perutku sudah tidak bisa diajak kompromi."
"Suamiku," Rose meminta perlindungan kepada Harry. Meski Rose sedang marah dan kesal kepada Harry, tetap saja saat ini hanya Harry yang bisa membantunya. "Ini sudah tengah malam, aku juga sedikit lelah."
"Masaklah seadanya saja, Rose. Dia tamu kita."
Rose mengatupkan bibir menahan amukan. Ia tidak boleh menunjukkan sifat aslinya di depan suaminya. Dengan berat hati ia pun berdiri, "Sharon, kau bisa membantuku?"
Rose melayangkan tatapan menghunus kepada Glend sebelum wanita itu meninggalkan ruang utama.
"Dia hampir membunuhku dengan tatapannya," cetus Glend seraya terkekeh.
"Jadi namamu, Sharon?"
Sharon mengangguk, masih terasa sakit jika wanita itu membuka mulut.
"Kamarnya sudah siap," Bill dan beberapa orang muncul secara bersamaan.
Glend memutar kursi rodanya menghadap asisten yang merangkap sebagai sahabatnya itu. "Kerja bagus, Bill. Minta Justin datang kemari esok pagi. Selamat beristirahat." Bill mengangguk juga berpamitan kepada Bella dan yang lainnya.
"Well, kurasa saatnya kita masuk kamar masing-masing." Glend menatap Sharon dan ayah mertuanya silih berganti.
"Kenapa kau menatap kami seperti itu?" Protes Harry yang tidak nyaman dengan cara Glend memandanginya.
Glend tergelak mendengar protes ayah mertuanya sementara Sharon hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam.
"Memangnya apa yang salah dengan caraku memandangimu, Ayah mertua. Aku hanya salut pada pekerjaanmu. Kau mengobati luka Sharon dengan penuh hati-hati. Bahkan tanganmu tidak lepas dari genggaman Sharon."
Bella yang tidak menyadari hal itu sontak menurunkan tatapannya dan maniknya seketika membeliak kaget.
"Sharon hanya tidak tahan saat aku membersihkan lukanya, Vasquez."
"Jadi kau memberi kekuatan dengan menggenggam tangannya, Ayah mertua?"
Wajah Harry merah padam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Jangan menggoda orang tua, Glend." Akhirnya Bella menimpali. Ia kasihan kepada Sharon yang merasa malu.
"Aku hanya bertanya-tanya ada apa dengan tatapan ibu tirimu tadi. Ternyata suaminya sedang menggenggam wanita lain di hadapannya langsung. Aku tidak tahu jika ayahmu memiliki nyali yang begitu kuat, Bella." Glend masih saja menggoda Harry tanpa ampun. Ditatapnya pria tengah baya itu dengan kerlingan mata menggoda namun senyum yang ia tunjukkan penuh dengan ejekan.
"Tentunya nyalimu lebih hebat, Glend." Bella menatapnya penuh arti. Glend bukan pria bodoh yang tidak menangkap arti di balik sindiran tersebut.
"Apakah suamimu selalu bertingkah kekanakan seperti ini, Bella?" Tanya Harry penasaran. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan berita yang beredar. Bengis dan kejam.
"Ya, selalu menyebalkan, Dad."
"Aku menyayangimu, Bella. Kau tahu itu?" Glend menimpali.
"Aku tidak mengetahuinya."
"Aku baru saja memberitahumu."
"Cih! Kau pikir aku percaya padamu."
"Aku mengatakannya bukan untuk menarik kepercayaanmu." Glend mengulum senyumnya. "Aku menyayangimu, sungguh."
"Dan aku membencimu!"
Glend menggeleng, "Kau tidak membenciku, kau merindukanku. Omong-omong kenapa badanmu kurus sekali. Mogok makan karena tidak ada yang menyuapimu?"
"Ya, karena kau sibuk menyuapi dua perem... " Bella segera menghentikan kalimatnya di udara begitu menyadari di mana posisi mereka sekarang, di hadapan ayahnya. Ayahnya akan bersedih dan sakit hati jika mengetahui ada perempuan lain di tengah hubungan rumah tangganya. "Kau tidak pernah menyuapiku, Glend. Aku bukan anak kecil."
"Ya, kau bukan anak kecil. Kau istriku yang cantik. Bagaimana jika kita kembali ke kamar, aku sudah tidak tahan untuk memelukmu dan mencium wangimu."
"Rose sedang menyiapkan makanan untukmu, bukannya kau sangat lapar?"
"Aku hanya memberinya pelajaran, kau pikir aku sudi menikmati makanannya?"
"Apakah ibumu melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, Bella?" Harry yang dari tadi menyimak perdebatan kecil mereka, sedikit terganggu mendengar pernyataan Glend yang mengatakan bahwa pria itu sedang memberi pelajaran.
"Dad, ini sudah malam, sebaiknya kau juga beristirahat."
"Ya, Ayah mertua, apa yang dikatakan istriku benar. Kau sudah tua, begadang sudah tidak cocok untuk tubuhmu. Antarlah Sharon dan Polly ke kamar baru mereka. Kamar yang sudah dibersihkan ibu tiri. Kau juga kembali lah ke kamarmu, Ayah mertua. Jangan sampai salah kamar." Sempat-sempatnya Glend meledek Harry dengan lelucon menggelikan.
"Sungguh aku juga tidak sabar untuk menghabiskan malam dengan istriku. Aku merindukan pijatannya," Glend tersenyum genit. Dengan kurang ajarnya pria itu menekan kalimatnya di akhir. Harry dan Sharon tersedak kompak lalu kembali dibuat terkejut saat tiba-tiba Glend menarik tangan Bella hingga duduk di atas pangkuannya.
"Katakan selamat malam pada ayah mertua dan juga Sharon, Bella."Glend berbisik di telinga Bella.
"Kau tidak harus berbisik dan menghembuskan napasmu!"
"Aku sengaja melakukannya," selorohnya dengan enteng. "Bagaimana kau suka?"
"Tidak! Kau membuat buluku jingkrak-jingkrak!"
"Sebaiknya kalian masuk ke dalam kamar!" Harry menggeram kesal. "Pertunjukan macam apa ini?! Dan Vasquez, sebaiknya kau memikirkan berapa lama kau akan menginap di sini. Tingkahmu terlalu mengkhawatirkan. Jaga
sopan santunmu sedikit. Jangan membuat kami kehilangan kewarasan dengan pertunjukkan konyolmu."
Glend tergelak tidak merasa malu sama sekali. Sementara Bella sudah membenamkan wajah di lehernya. Pun Glend memeluk istrinya dengan erat, mengusap punggung Bella dengan lembut.
"Aku sedang kasmaran, maklumi saja. Dan jika kewarasanmu hampir hilang, kau memiliki istri untuk meluapkan apa yang tertahan, Ayah mertua. Ingat, jangan salah kamar. Selamat malam, Sharon, selamat malam, Ayah mertua. Semoga mimpi indah." Glend menjalankan kursi rodanya meninggalkan Harry dan Sharon yang kehilangan kata-kata.
Sementara Rose di dapur sedang berbicara dengan seseorang melalui panggilan seluler.
"Aku tidak mau tahu, kita harus menyingkirkan mereka. Dari awal, aku sudah menolak rencanamu ini. Sudah sepuluh tahun berlalu, tidak ada yang kudapatkan selain membalaskan rasa sakit hatiku atas Clara kepada putrinya. Segera hancurkan Harry dan rebut posisinya."