
"Kau yakin kita harus pergi sekarang?" pertanyaan ini terdengar berulang kali dari mulut yang berbeda dan jawaban yang diberikan Glend selalu sama. Hanya sebuah anggukan.
Ketiga temannya kompak menarik napas, menatap miris ke arahnya. Tadi malam, mereka kembali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kali ini, bukan Bella yang menjadi topik pembicaraan mereka, melainkan kedua anaknya, Gavin dan Grace yang ternyata menyadari hubungan mereka. Glend bercerita dengan seraut wajah bahagia yang diselingi tangis yang sulit mereka artikan. Bahagia mungkin, tapi ketiga pria itu setuju jika perasaan sedih, patah, hancurlah yang mendominasi keadaan pria itu.
"Tidak berpamitan kepada Bella?" Bill melayangkan pertanyaan sembari memasukkan pakaiannya yang terakhir ke dalam koper.
"Untuk apa aku berpamitan. Ayo berangkat."
"Langsung menuju Rusia?"
"Kita akan mampir ke Sisilia. Kudengar Stacy sedang berlibur di sana. Aku akan mengunjunginya sebentar." Glend mendorong kopernya, begitu pun dengan yang lain.
"Gavin dan Grace, apa kau juga tidak ingin melihat mereka terakhir kali?"
"Itu akan semakin mempersulit langkahku. Mereka anak-anak yang cerdas dan pengertian. Aku bangga dengan mereka."
Justin, Alex dan Bill saling bersitatap. Keputusan Glend sudah bulat. Tidak ada lagi alasan yang bisa mencegah keinginan pria itu. Glend benar-benar merelakan semuanya.
"Tubuhmu jujur. Saat kamu mengalami sakit fisik, kau menangis. Tapi hati itu pembohong. Itu tetap diam bahkan saat sakit. Kemudian, saat kau tidur, kau akhirnya menangis dan merengek seperti anak anjing." Justin merangkul pundaknya memberi dukungan.
Kenangan yang menyanyat dan menyakitkan. Hanya mereka yang memiliki ingatan seperti itu yang terkubur di dalam hati mereka yang dapat menjadi lebih kuat, lebih bergairah, dan fleksibel secara emosional. Dan hanya mereka yang bisa mencapai kebahagiaan. Bella mungkin sudah mencapai kebahagiaannya dan Justin berharap Glend juga merasakan hal serupa. Tidak adil jika Glend harus dibayangi masa lalu dan terkekang akan bayangan tentang Bella.
"Aku sudah selesai menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh orang lain," tukasnya dengan bijak. Keberadaan Felix Orlando sudah pasti bisa membahagiakan ketiga orang-orang yang begitu dicintainya itu. Bella, Gavin dan Grace. Dari awal, pria itu sudah merangkul dan melindungi mereka. Glend percaya bahwa Felix akan menepati janjinya.
"Lalu bagaimana dengan kebutuhanmu?" Alex membuka pintu mobil untuk Glend. Glend berdiri, tidak langsung masuk ke dalam mobil. Ia menatap Alex, kemudian menarik kedua sudut bibirnya. "Aku memiliki banyak uang, aku pria kaya. Aku tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhanku."
"Kau tahu bukan itu maksudku." Alex mendorong tubuh Glend agar masuk ke dalam mobil. "Disaat menyedihkan seperti ini, kau juga sangat menyebalkan!"
"Jika kau ingin membuat orang di sekitarmu bahagia, kau harus menemukan kebahagiaanmu sendiri terlebih dahulu. Menjadi egois tidak selalu berarti buruk. Cobalah untuk hanya memikirkan kebahagiaanmu ketika keadaan terlalu membuat stres. Tidak apa-apa melakukan itu." Alex kembali mengeluarkan kata-kata bijak yang dibenarkan oleh Justin dan Bill. Entah kenapa mereka tidak rela dan tidak bisa menerima kepasrahan yang ditunjukkan pria itu. Apakah Glend yang terlalu berbesar hati atau hati mereka yang terlalu sempit, atau mungkin saja Glend sedang bersikap munafik untuk melindungi dirinya.
"Cinta adalah tentang kesabaran, Dude. Felix melakukan itu selama bertahun-tahun lamanya."