
"Bagaimana dengan ini? Tidak, lenganku terlihat besar. Tapi gaun yang ini membuatku terlihat semakin kecil. Apa aku mengenakan gaun merah ini? Astaga ini terlalu mencolok. Kurasa putih gading akan cocok untukku. Oh Tuhan, aku justru terlihat semakin pucat.
Hm, sepertinya aku memiliki gaun berwarna hitam yang kau beli tiga bulan lalu." Bella masuk kembali ke dalam walk in closet untuk mencari gaun tersebut.
"Sejak kapan ibumu seperti ini?" Felix melihat ranjang wanita itu sudah dipenuhi oleh pakaian yang menggunung.
"Seharian," Grace dan Gavin menjawab dengan wajah uring-uringan. Sekarang waktu sudah menunjukkan angka 17.58, sedangkan acara dimulai pukul 19.00. Grace dan Gavin belum bersiap sama sekali karena ibu mereka sibuk memilih pakaiannya sendiri.
"Baiklah anak-anak, minta pelayan membersihkan tubuh kalian. Pakaian sudah Daddy siapkan di kamar.
"Oh Dad, kau yang terbaik," Grace melompat ke atas ranjang untuk memberikan kecupan di pipi Felix.
"Astaga, gaun pemberianmu juga ternyata sudah sangat sempit," Bella keluar dari dalam ruangan dengan wajah cemberut dan lelah.
"Aku membawa ini untukmu, cobalah. Semoga kau menyukainya." Felix memberikan paper bag yang ia tenteng sejak tadi. Bella segera meraih dan membuka kotak tersebut. Sebuah gaun mewah berwarna hijau.
"Felix, ini indah sekali. Terima kasih." Bella kembali masuk ke dalam ruangan untuk mencoba gaun tersebut. Tidak berapa lama, ia keluar dengan wajah sumringah. Bella puas dengan balutan gaun tersebut di tubuhnya. Pas dan mengagumkan. "Bagaimana menurutmu?"
"Kau luar biasa, Bella." Felix menatapnya dengan tatapan memuja. Di matanya, Bella benar-benar luar biasa.
"Aku akan berdandan sedikit, di mana anak-anak?"
"Mereka sudah diurus pengasuh mereka."
"Hm, aku akan selesai dalam sepuluh menit." Bella duduk di meja rias sementara Felix memilih duduk di atas ranjang memandangi Bella dengan intens dari pantulan kaca.
"Aku tidak pernah mencium kau memakai parfum yang baru saja kau beli. Aku menyukai aromanya."
"Apa kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu?"
Bella mengangkat tatapannya dan manik mereka bertemu. Bella tersenyum, pun Felix membalas senyum wanita itu dengan tidak kalah lebar.
"Aku tahu, Felix. Aku melihat dan merasakannya. Kau juga sangat mencintai anak-anakku."
"Mereka anak-anakku juga," Felix berdiri, berjalan mendekati Bella lalu berdiri tepat di belakang Bella. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah kotak perhiasan. Felix membuka kotak tersebut yang ternyata berisi sebuah kalung. Felix memasangkannya di leher Bella, kemudian ia menunduk, memberikan kecupan di bahu wanita itu. "Bagaimana kalungnya, kau menyukainya?"
"Aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Menyukai barang pemberianmu. Terima kasih."
🐇
"Bella," Panggilan seseorang menghentikan langkah Bella. Ia menoleh, senyumnya langsung mengembang begitu melihat wanita setengah baya berjalan mendekati mereka.
"Mrs. Collins," Bella mengulurkan tangan yang disambut wanita itu dengan segera. "Kau terlihat sangat mengagumkan," puji Bella.
"Kau juga terlihat luar biasa." Wanita itu tersenyum. Ia menatap Bella dan Felix saling bergantian.
"Ini berkatmu juga, Mrs.Collins." Renata Collins adalah psikolog yang membantu penyembuhan Bella. "Ah, apa ini Ella Collins, putri bungsumu?"
"Ya, ini putriku."
"Bella Kingston." Bella mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah. Ella menyambut uluran tangan tersebut.
"Astaga, pantas jika Felix tergila-gila padamu." Ella melayangkan kerlingan nakal pada Felix yang merangkul Bella dengan sangat posesif.