
"Kau datang?" Bella memperhatikan wajah Glend dengan seksama. Ia kira tidak akan melihat pria itu lagi semenjak lamaran Felix ia terima dua hari lalu. Bella tidak tahu harus bernapas lega atau bagaimana melihat sosok Glend yang tampak baik-baik saja. Tidak ada lingkaran hitam di bawah mata pria itu pertanda tidur pria itu pulas tanpa ada gangguan. Sementara dirinya selama dua hari ini tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Terima kasih buat pencetus yang sudah menciptakan seperangkat kosmetik yang bisa menyamarkan mata pandanya. Namun, bengkak di matanya tidak bisa ia sembunyikan.
"Kau baik-baik saja?" Fokus Glend bukan pada mata sembabnya, tapi pada luka di bibir wanita itu.
Bella hanya menganggukkan kepala.
"Aku ingin mengajak Gavin ke suatu tempat."
"Oh." Bella hanya bergumam.
"Boleh aku masuk?" Glend bertanya karena tidak mungkin ia masuk begitu saja.
"Hah? Tentu saja," sahut wanita itu tanpa beranjak dari depan pintu. Bella linglung, tatapannya juga terlihat kosong, pikirannya melayang entah kemana.
"Lalu, dari mana aku harus lewat?"
Bella kemudian tersadar, ia pun segera meminggirkan tubuhnya. "Maaf, silakan masuk."
"Kau sariawan? Bibirmu penuh dengan luka."
"Aku sengaja menggigitnya."
Glend menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap Bella dengan intens.
"Se-sepertinya aku mengalami alergi. Bibirku gatal dan aku terpaksa menggigitnya."
"Jangan melukai dirimu. Kau harus menjadi pengantin tercantik untuk Felix."
Bella tertegun, jantungnya berdetak tidak seirama. Dadanya mendadak sesak dan ginjalnya serasa dicubit. Bukan karena ucapan Glend melainkan karena ketenangan yang ditunjukkan pria itu.
"Di mana Gavin?"
"Kenapa kau tidak menanyakan keberadaanku juga, Uncle!" Grace muncul dengan suaranya yang khas.
Glend tersenyum sembari menghampiri bocah cilik itu. "Kupikir kau masih tidur, Princess."
"Kau tidak akan menyukai tempatnya, Sayang." Glend beralasan.
"Bagaimana kau tahu aku tidak menyukai tempatnya sementara kau belum mengatakan kemana tempat yang menjadi tujuanmu bersama Gav, Uncle."
Glend tergelak mendengar jawaban cerdas putrinya itu. Ia memang hanya memberi alasan secara asal.
"Tempat yang kami kunjungi akan sangat bising, panas dan penuh keringat. Kau akan bosan, Little girl."
"Tapi aku ingin diajak juga ikut bersamamu, Uncle. Kau tidak adil!" Grace bersedekap sembari memalingkan wajahnya yang manyun.
"Besok, kita yang akan pergi berkencan. Berdua." Glend menyentil hidung Grace, gemas dengan tingkah pola gadis cilik itu.
"Benarkah? Hanya berdua? Aku tidak ingin Ella Collins ikut bersama kita!"
"Hanya kita berdua." Glend berjanji sembari memberikan kelingkingnya. Cara berjanji anak kecil yang biasa ia lihat di televisi.
"Ya, hanya kita berdua."
"Baiklah, aku akan memanggil Gav kalau begitu. Kurasa ia sudah selesai." Grace berbalik dan menaiki anak tangga.
"Hati-hati, Sayang," Glend memberi peringatan. Grace memperlambat langkahnya begitu mendengar nasehatnya. Glend terkekeh. Anak-anaknya begitu cerdas dan penurut.
Glend berbalik, menemukan Bella yang masih bergeming di tempatnya.
"Ehmm, apakah aku perlu mengucapkan selamat padamu?" Mendadak keduanya merasa canggung.
"Aku tidak tahu," Glend mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa salah tingkah. "Duduklah sembari kau menunggu Gavin turun dari kamarnya."
Glend menuruti permintaan Bella, ia segera duduk di sofa disusul oleh wanita itu.
"Aku tidak akan mengucapkannya kalau begitu."
"Tidak masalah."