
Anndora, negara kecil yang indah. Bukan negara kaya tapi sangat makmur. Meski tidak banyak destinasi di negeri tersebut, tapi mereka tetap sangat serius di bidang pariwisata. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya tempat-tempat menyenangkan yang didirikan. Mulai dari hotel, resort, tempat ski dan lain sebagainya. Tak hanya itu, pemerintah sana juga menghapus segala pajak. Sehingga negara ini juga jadi surga belanja yang luar biasa.
Hal pertama yang Bella lihat saat ia turun dari pesawat adalah pegunungan sejauh mata memandang.
"Kita sudah sampai?" Bella tidak bisa memungkiri jika negara ini benar-benar indah luar biasa. "Oh astaga, ini istana?"
"Ya, bagian belakang istana, Princess." Alex berdiri di belakangnya. Memberi jarak diantara mereka. Sikap Alex tidak sesantai saat mereka berada di dalam pesawat. Pria itu mendadak menjadi kaku.
"Astaga, kau membuatku malu. Princess? Oh Tuhan, tidak... tidak... Panggil aku seperti biasa, Alex." Bella mundur dan menyejajarkan posisi mereka. Alex kembali mundur ke belakang.
"Kenapa kau menghindar? Hais, kupikir kita sudah menjadi teman sejak berada di dalam pesawat. Biar kuberitahu padamu, dibandingkan Bill, aku lebih menyukaimu."
"Terima kasih, Princess," Alex membungkukkan badannya sedikit seperti sedang memberi hormat. Selain kaku, Alex menjadi irit berbicara.
"Ck! Kau membuatku tidak nyaman," Bella mendelik, dialihkannya pandangannya kepada suaminya. Rahang pria itu mengeras kaku, kedua tangannya terkepal kuat. Glend sedang berperang dengan dirinya. Gejolak emosi menghantam setiap urat nadinya.
Anndora, negara kelahirannya. Satu-satunya tempat yang menjadi kenangannya bersama sang ibu. Tapi, di tempat ini juga kepahitannya bermula. Ia bagaikan anak yang tidak dianggap. Bryson tidak pernah sekali pun menoleh kepadanya meski ia melaungkan suara meminta perhatian pria angkuh nan biadab itu.
"Kau baik-baik saja?" Bella mengusap bahunya dengan lembut.
Bella terdiam. Ia tidak tahu akan memberi penghiburan seperti apa kepada Glend. Tidak ada secuil pengetahuan tentang masa lalu pria itu yang ia ketahui.
"His majesty, King Bryson, Quen Hellga, dan Princess Alice memasuki lapangan," seru kepala pengawal istana mengumumkan kedatangan raja, ratu, dan putri Anndora.
King Bryson berjalan beriringan dengan Queen Hellga, sementara Alice berada di belakang mengikuti mereka. King Bryson tampak gagah dengan setelan jas mewahnya. Sementara Queen Hellga juga tidak kalah anggun begitu pun dengan Alice. Dengan berat hati Bella harus mengakui hal itu.
Semua kompak melakukan bowing, kecuali Glend tentunya. Ia sengaja tidak menunjukkan rasa hormatnya sama sekali. Matanya justru menatap geli pada Bella yang juga ikut melakukan bow.
"Apa yang kau lakukan?" Glend berbisik yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Memberi salam seperti yang mereka lakukan. Apa istilahnya? Bowing."
Glend mengangguk membenarkan. "Para pria dari keluarga kerajaan wajib menundukkan leher, sedangkan para perempuan harus melakukan curtsy ketika bertemu dan menyapa Ratu. Kau harus menekuk lututmu, jangan terlalu rendah. Begitulah para wanita memberi hormat."
"Astaga, dalam memberi hormat juga ada aturannya," Bella menggigit bibirnya. Ia yakin akan ada lebih banyak aturan lagi ke depannya selama ia ada di sini. Kini Bella sadar jika ia tidak benar-benar menginginkan seorang pangeran dalam hidupnya. Jika memang ia benar-benar menginginkan hal itu, harusnya ia sudah mempelajari protokol dasar dalam kerajaan.
"Selamat datang di Anndora," Queen Hellga menerbitkan senyum hangat di sudut bibirnya. "Bagaimana kondisimu, Nak?" tanya wanita tua itu kepada Glend.