
"Aku menginginkan nafkah batin."
Kalimat yang benar-benar mampu membuat seluruh saraf seorang Glend Vasquez kehilangan fungsinya. Entah itu kalimat ajakan, seruan, tuntutan, atau justru bentuk penyerahan diri, sungguh Glend tidak tahu dimana yang lebih tepat. Yang ia tahu, darahnya berdesir hebat luar biasa.
Sekarang ia meragu, siapa beberapa jam lalu yang menginginkan permainan berbahaya. Bella sepertinya menerima tantangannya. Bukan sepertinya lagi, tapi Bella memang menyanggupinya dan menawarkan permainan yang benar-benar sangat berbahaya. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Bella." Glend mencoba melepaskan tangan Bella dari lehernya tapi gadis itu justru mempererat rangkulannya.
"Jangan menolakku,"
Bisikan Bella yang dilontarkan dengan nada setengah memohon benar-benar meruntuhkan pertahanan Glend sebagai seorang pria. Kacau, benar-benar kacau. Tidak seharusnya ia menantang Bella.
Glend akhirnya membalas pelukan istrinya. Mengusap punggung gadis itu dengan lembut. "Apa yang sedang kau lakukan, Bella?"
"Aku menginginkanmu."
Glend tersenyum. Ia tahu Bella mati-matian menyembunyikan kegugupannya.
"Menginginkanku?"
Glend merasakan Bella mengangguk di pundaknya.
"Katakan apa yang kau inginkan dariku?" Dikecupnya pucuk kepala Bella dengan penuh kasih sayang. Entahlah, Glend sungguh tidak bisa mengartikan kondisi ini. Dia yang menantang tapi justru dirinya yang bingung disaat Bella menyanggupi tantangannya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya."
"Nafkah batin seperti apa yang kau minta, Bella? Perhatian? Bukankah aku sudah memberikannya?" Imbuhnya sembari memperdalam pelukannya. Percayalah, Glend juga sedang melawan iblis yang ada pada dirinya. Dalam kondisi mabuk seperti ini tentunya butuh usaha keras untuk mempertahankan akal sehatnya.
Beberapa saat lalu, ia bahkan sudah lepas kendali. Mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan. Bella tidak mengambil hati ucapannya dan justru datang kepadanya.
"G-Glend..."
"Hmmm?"
"Jangan membuatku malu. Aku mempertaruhkan harga diriku dan seorang suami tidak boleh menolak istrinya." Bella merengek seperti menahan tangis. "Percayalah, ini sangat berat untukku. A-aku mengalami situasi yang sangat mengerikan. Aku hampir dilecehkan. Aku memanggil namamu, memanggil ayahku untuk datang menyelamatkanku. Tapi yang datang justru pria itu. Aku berhutang kepadanya. Kehormatanku masih terjaga. Tolong jangan menganggap ciuman yang terjadi diantara kami adalah balasan atas kebaikannya. Bukan seperti itu konsepnya. I-itu terjadi begitu saja. Tapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya, sungguh."
"Lalu bagaimana denganku? Apa yang kau rasakan?"
"Entahlah. Yang kutahu kau adalah suamiku."
"Dan kau ingin menyerahkan dirimu seutuhnya?"
Bella mengangguk.
"Tidak merasa jijik dengan wajahku yang buruk."
"Aku mulai terbiasa dengan wajahmu yang buruk."
Glend ingin tertawa tapi ia tahu jawaban yang diberikan Bella apa adanya.
"Apa kau tidak takut?"
"Sangat takut. Tapi aku tahu kau tidak akan melukaiku."
"Kau percaya kepadaku?"
"Ya."
"Apa kau pernah bercinta sebelumnya?"
"Apa maksudmu?" Bella akhirnya melepaskan pelukannya. Wajah cantiknya tampak tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkan Glend kepadanya.
"Aku hanya bertanya, cara mia. Jawabanmu sangat perlu untukku," Dibelainya wajah Bella dengan lembut disertai dengan tatapan teduh yang menghanyutkan. "Agar aku tahu bagaimana caranya untuk menyenangkanmu."
"A-aku masih virgin." Bella menundukkan kepala.
Glend bersorak ria. Jika memungkinkan, ia ingin mengadakan selebrasi dengan memutar kursi rodanya. Tapi ia harus menahan diri karena tindakan konyol tersebut justru akan membuat Bella kaget dan bingung.
"Ba-bagaimana dengan berciuman." Sial! Ia terlalu bersemangat hingga mendadak gugup kembali.
"Ci-ciuman?" Sepertinya Bella memang buka. tipe wanita yang pintar berbohong. Wajahnya langsung gugup mendengar pertanyaan suaminya.
"Aku bukan orang pertama? Ada orang lain?"
"Dia mencurinya. Sungguh! Andreas mencuri ciuman pertamaku di acara prom night. Lalu yang kau menjadi pria keduaku. Kita melakukannya di kolam berenang. Lalu...."
Bella menghentikan kalimatnya. Bisa-bisa Glend marah jika tahu bahwa Andreas mencuri ciumannya lagi yang artinya Andreas menang jika dibandingkan dengan suaminya. Andreas merasakan bibirnya sebanyak dua kali dan bersama Glend mereka baru melakukannya satu kali!
"Lalu apa, Bella?" disingkirkannya anak rambut yang menutupi wajah Bella. Meski membelakangi sinar bulan, pancaran kecantikan wanita yang ada di atas pangkuannya masih sangat jelas.
"Lalu?
"Ya, Lalu? Kalimatmu menggantung. Selesaikan lah."
"Jangan membuatku penasaran. Sesuatu yang menggantung itu sangat tidak enak, Sayang."
Deg!
Sontak Bella mengangkat kepala mendengar kata sayang yang baru diucapkan pria itu padanya.
"Katakanlah."
"Kau memanggilku sayang?"
"Kau tidak ingin kupanggil demikian?"
"Jantungku berdebar."
"Artinya kau menyukai panggilanku."
"Begitukah?"
"Ya, Sayang."
"Darahku berdesir."
"Hmm, artinya kau sangat menyukai caraku memanggilmu." Berbincang dengan Bella, artinya harus siap dengan berbagai topik. Sesaat mereka membahas nafkah batin. Sesaat kemudian membahas pria pertamanya dan selanjutnya Glend harus menjadi guru yang baik untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan Bella yang lugu yang tentunya selalu jujur dan di luar dugaan.
"Jangan sampai pria lain menyadari kelebihanmu. Aku bisa kacau."
"Kelebihan?"
"Ya, keluguan dan ketelmianmu. Baiklah, Bella, mari membuat semuanya jelas. Aku akan memberikannya."
"Hah?"
"Memberikan nafkah yang kau minta."
"Oh."
Oh? Astaga, mereka sedang membahas malam pertama, menyingkap tirai surga dunia setelah hitungan bulan sebagai suami istri. Oh? Bella benar-benar menguji kesabaran. Jawaban singkat yang terkesan enteng seolah yang mereka bahas adalah ramalan cuaca hari ini.
"Aku ingin menjadi orang yang pertama bagimu. Katakan jika kau bersedia."
"A-aku bersedia."
"Kau gugup?"
"Te-tentu saja. Ini pertama kalinya bagiku."
"Kau terpaksa?"
"Tidak! Aku yang memintanya. Aku yang menyerahkan diriku dengan senang hati, jadi jangan menolakku." Bella membasahi bibirnya yang mendadak kering. "Kau tinggal menikmatinya."
Oh Tuhan, perkataan absurd apa lagi ini. Lugu, berani, agresif, benar-benar perpaduan yang membuat pria tidak bisa berkutik. Glend mati gaya.
"Kudengar dari ayahku, banyak wanita yang lari ketakutan dari ruanganmu. Itu pasti karena wajahmu yang mengerikan. Kasihan sekali kau. Hasratmu tidak terpenuhi dan itu pasti sangat menyiksa. Sekarang, kau bisa tenang Glend. Aku di sini bersamamu." Bella mencakup kedua wajah suaminya, mengunci tatapan pria itu dengan tatapannya yang tulus.
Deg!
Kali ini jantung Glend yang tidak normal. Bolehkan ia menangis? Ini momen lucu yang mengharukan. Glend bersumpah tidak akan pernah melepaskan Bella apa pun yang terjadi.
"Kalimatmu terlalu berbahaya, Bella."
"Tidak. Aku mengatakan yang sejujurnya. Aku berjanji akan setia padamu. Aku tidak akan membiarkan pria lain menciumku lagi. Percaya padaku. Tapi kau jangan serakah dengan mengharapkan aku akan mencintaimu. Ingat, ini bukan dongeng. Selama pernikahan kita berjalan, entah sampai kapan pun itu, aku akan melaksanakan tugasku sebagai istri yang baik. Tidak semua wanita serakah. Aku buktinya."
Kali ini Bella menjanjikan hal yang terlalu berani. Setia. Walau bagi Glend, kesetiaan adalah hal yang tabu. Ia mencoba tidak mengambil hati ucapan Bella demi menjaga hatinya sendiri. Dan di balik janji yang diucapkan dengan serius, Bella selalu menyelipkan hal tak terduga. Jangan mengharapkan cinta? Heh? Dan gadis itu juga memuji dirinya sendiri. Bukti bahwa tidak semua wanita serakah. Benarkah?
"Bagaimana jika pada akhirnya kau jatuh cinta padaku, Bella?"
"Meski kemungkinan itu sangat tipis, tapi jika seandainya hal itu terjadi, kuharap kau juga jatuh cinta padaku agar cintaku tidak bertepuk sebelah tangan."
Lihatlah! Selalu di luar dugaan, bukan? Ingin rasanya Glend merekam pembicaraan ini dan memamerkannya kepada Justin, Bill dan Alex.
"Aku sedang mabuk, apa kau tidak keberatan kita melakukannya malam ini?"
"Aku ingin sekarang!"
"Kau yang akan memimpin."
"Dengan bimbingan dan arahanmu."
Glend mengangguk seraya tersenyum. "Langkah pertama, cium aku!"
a few moments later..... Eng...iii.... Engg.... Skip!! Puasa Woiiii...tak usah berharap lebih!!