La Belle Et La Bete

La Belle Et La Bete
Daddy, Lakukan Sesuatu



Tidak berapa lama seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Terkejut melihat kondisi Bella yang menggigil ketakutan. Ia memberi perintah kepada beberapa perawat agar membawa ke dalam ruangan untuk mendapatkan perawatan.


"Jangan melukai ibuku. Ibuku akan baik-baik saja. Ia hanya takut melihat darah," Grace menjelaskan kondisi ibunya. Sang dokter mengangguk dan tersenyum.


"Ibumu hanya akan diberikan obat penenang. Katakan, gadis pintar, di mana keluargamu yang lain? Ayahmu?"


"Apakah Gavin baik-baik saja, dokter? Tolong selamatkan dia."


"Tentu. Tapi kami butuh orang tuamu, Sayang. Kami harus berbicara dengan mereka."


"Katakan saja padaku. Seperti yang kau lihat, ibuku sedang tidak bisa diajak berbicara."


Dokter itu kembali tersenyum, ia mengusap kepala Grace dengan lembut. "Kau anak yang pintar, tapi ada beberapa hal yang tidak dimengerti oleh anak seusiamu, Sayang." ucap sang dokter dengan nada lembut tanpa bermaksud untuk meremehkan Grace.


"Aku akan mengerti. Aku harus mengerti," Grace bersikeras. "Gavin harus selamat. Saudaraku harus sembuh."


"Di mana ayahmu, Sayang? Apakah dia sudah menuju kemari. Saudaramu membutuhkan banyak darah. Dan persediaan di rumah sakit hanya tinggal dua kantong lagi. Untuk itulah kami harus berbicara dengan ayahmu."


"Tas ibuku menghilang. Daddy Felix sedang pergi karena ada pekerjaan mendesak. Aku tidak tahu nomornya... Ah, berikan aku ponselmu, Uncle dokter. Aku akan menghubungi Daddy. Aku memiliki nomornya."


Si dokter dengan segera memberikan ponselnya. Grace segera menekan angka demi angka yang sudah ia hafal luar kepala. Ya, saat berkencan dengan Glend, keduanya sepakat akan saling bertukar kabar.


🐇


"Ck! Sudah kukatakan sebaiknya menyewa pesawat pribadi. Inilah yang terjadi. Penerbangan tertunda beberapa jam. Oh, Tuhan, menunggu adalah yang membosankan!" Glend menggerutu dengan wajah masam. Sudah tiga jam mereka menunggu di bandara, harusnya penerbangan mereka menuju Sisilia adalah dua jam yang lalu.


"Menunggu adalah keahlianmu, Dude. Ini baru tiga jam, kau sudah melalui hitungan tahun dan tidak pernah mengeluh sama sekali." Bill menyeletuk enteng tanpa mengalihkan fokusnya dari game yang sedang ia mainkan.


"Ya, betul!" Sahut Alex dan Justin kompak.


Glend baru saja hendak mengeluarkan makiannya, tapi ia urungkan begitu merasakan getaran di saku celananya. Ia mengeluarkan ponsel, dahinya mengernyit melihat deretan nomor tanpa nama. Ia sedang kesal, tidak berniat untuk menjawab panggilan dari nomor yang tidak ia kenali.


"Siapa?" Justin yang duduk di sampingnya bertanya.


"Tidak tahu."


"Angkat saja, mungkin saja itu Bella yang ingin memintamu kembali datang ke pelukannya." Justin sempat-sempatnya menggoda. Ia masih tidak rela jika Glend dan Bella berkahir dengan cara seperti ini.


"Sekali lagi kau membuka mulutmu, aku tidak akan sungkan untuk merobeknya, Justin Romano!" Glend menolak panggilan tersebut, namun nomor itu kembali muncul.


Glend dengan kasar menggulir tombol hijau di ponselnya. "Breng..."


"Daddy..."


"Grace?" Glend sontak berdiri begitu mengenali suara putrinya. "Kenapa kau menangis, Sayang? Apakah kau terluka?"


"Dokter, katakan nama rumah sakit ini?"


Jantung Glend sontak berhenti berdetak begitu mendengar kata rumah sakit. Ia langsung melarikan kakinya ke luar dari bandara.


"Santiago Hospital." Glend mendengar jawaban sang dokter.


"Dad..."


"Ya, Sayang. Daddy akan menuju ke sana. Semua akan baik-baik saja. Jangan takut."


Glend mengemudi seperti orang kesetanan. Justin yang dengan sigap mengikutinya berlari ke luar bandara, berhasil melompat ke dalam taksi yang pengemudinya ditarik paksa Glend untuk keluar. Ya, Glend mengemudi taksi yang berada tepat di luar bandara. Perjalanan yang harusnya ditempuh selama 35 menit, Glend berhasil memangkasnya. Mereka sampai di rumah sakit setelah melalui 20 menit perjalanan.


"Daddy..." Grace berlari mengejarnya.


Glend bernapas lega karena putri kecilnya itu baik-baik saja. Lantas siapa yang sedang terluka? Glend tidak melihat Bella, Gavin maupun Felix. Kembali jantungnya dibuat ketar ketir. Kenapa tiga sosok itu tidak ada yang terlihat?


"Daddy," Grace seketika meraung begitu berada di pelukan Glend. "Gavin terluka. Tubuhnya mengeluarkan banyak darah. Daddy, lakukan sesuatu? Gavin tidak boleh mati."


Glend melarikan kakinya untuk melihat kondisi putranya. Hatinya mencolos melihat kondisi Gavin yang sedang ditangani oleh beberapa dokter.


"Apa yang terjadi?"