
Glend yang sudah dipenuhi kabut amarah tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Ia hanya akan mempercayai apa yang ia lihat dan dengar secara langsung.
"Kurasa kau memang sudah sangat menyukai si tua bangka itu," Glend mengulurkan tangan, Bella menyambutnya mengira dirinya lah yang akan disentuh oleh suaminya. Begitu tangannya terulur, tiba-tiba Alice muncul dari belakang.
Glend menarik wanita itu lalu mendorong Alice ke dinding. Glend lalu menyerang bibir wanita itu. Bella shock, kakinya mendadak kebas dan kehilangan tenaga. Keduanya berciuman dengan sangat liar di hadapannya. Akh! Bella merasakan sakit luar biasa di dadanya. Sakit yang belum pernah ia rasakan bahkan saat Rose dan Lizzie menghinanya. Saat itu, Bella tahu ia sudah jatuh cinta pada suaminya. Bukankah tidak akan sakit jika tidak ada cinta. Bella merasakan hantaman keras di jantungnya, ibarat hatinya disayat sembilu tidak akan cukup, sayatan itu berubah menjadi cincangan yang hanya meninggalkan puing-puing yang sulit untuk disatukan kembali. Hancur tidak berbentuk. Bella merasakan udara direnggut paksa darinya. Apa lagi alasannya untuk bertahan di sini? Harusnya dari awal ia mendengarkan apa kata ayah mertuanya agar tidak pernah menginjakkan kaki kemari.
"G-Glend," lirihnya. Disentuhnya bahu pria itu, berharap sentuhannya mampu menyadarkan suaminya yang ia anggap sebagai suatu kesilapan.
"G-Glend, aku di... di si-sini. Bellamu. Jangan lakukan ini kumohon." Air mata pun tidak terbendung lagi. Glend mengabaikannya, pria itu justru menurunkan cumbuannya ke leher Alice hingga wanita binal itu mengeluarkan erangan yang sangat menjijikkan.
"Tidak, Bella tidak sanggup untuk melihat ini lagi. Ia harus pergi. Ini terlalu menjijikkan. Ia merasakan perutnya melilit sakit luar biasa.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Bella berlari.
"Ayah," tangisnya pecah saat ia sampai di kamar Bryson.
Bryson yang sedang mengobati lukanya tersentak kaget. Ia berdiri dan menghampiri Bella.
Bryson memejamkan matanya, sangat menyesal dengan kecerobohan putranya itu. Bryson lagi dan lagi merasa gagal menjaga dan melindungi putranya. Ia tahu ini adalah awal kehancuran Glend. Bryson merasakan matanya perih luar biasa. Ia ayah yang gagal. Sangat buruk. Setelah Andreas berhasil diracuni otaknya, kali ini Glend akan merasakan hal yang sama. Bryson yakin kehancuran yang akan dirasakan pria itu akan lebih sakit dibanding dengan apa yang ia rasakan.
"Bella..."
Bella menggelengkan kepala. "Aku tidak akan sanggup lagi, aku ingin menyerah. Ayah..."
"Tenanglah. Kendalikan dirimu. Kau tidak boleh mengalami stress. Ingat, di rahimmu sedang ada janin yang membutuhkan ibu yang kuat. Kau tidak selemah itu."
Bella menggeleng. "Aku sungguh tidak kuat lagi."
"Jangan katakan seperti itu, Bella. Ayah mohon, ini akan selesai sebentar lagi. Bertahanlah. Glend akan kembali kepadamu. Ayah berjanji."
Ya, Bella sedang mengandung, hanya Bryson juga wanita asing yang dipercayai Bryson yang mengetahui hal itu. Wanita muda yang baru keluar dari dalam toilet waktu itu adalah perawat yang sengaja dibayar oleh ayahnya untuk memeriksa kesehatan Bella.
Bella mengalami mual dan ngidam, hingga setiap ia merasakan hal itu, Bella pergi ke kamar Bryson. Di sana ia bisa muntah sepuasnya, makan sepuasnya. Kehamilannya tidak boleh diketahui karena hal itu akan membuat hidup Bella dalam bahaya.