
Justin salah prediksi, ia mengira ingatan Glend hanya memakan waktu sebentar, nyatanya tidak demikian. Setelah ia berdiskusi dengan beberapa rekannya yang lebih ahli dalam hal itu, kasus yang dialami oleh Glend ternyata cukup rumit.
Glend kehilangan sebagian ingatannya, di bawah alam sadarnya, pikirannya sedang berusaha melindungi dirinya sendiri untuk menghapus ingatan yang menurutnya buruk.
Justin menolak pernyataan itu, ia menjelaskan pada rekannya bahwa yang hilang justru memori yang paling indah.
Ya, hal itu juga bisa terjadi. Jelas rekannya tersebut. Ketakutan akan kehilangan juga bisa menyebabkan hal itu terjadi. Cinta yang berlebihan, kepanikan, dan ketakutan bisa memicu hal ini. Glend pernah mengalami luka, luka abadi yang ditorehkan Anndora di hatinya. Pengkhianatan, diabaikan, bahkan tidak dianggap sama sekali. Glend merasa terbuang, hingga saat bertemu Bella, ia begitu berarti. Glend dihargai, dilindungi, bahkan dipuja. Itu terlalu indahnya baginya hingga ada ketakutan sendiri jika Glend tidak mampu membuat Bella bahagia, wanita itu akan meninggalkannya sama seperti yang orang-orang di Anndora.
Glend pria yang sangat rapuh, ya, sangat rapuh. Anndora lah yang membentuknya seperti itu. Kesalahan besar saat dalam kondisi sakit, Glend di bawa kesana. Kerapuhan, rasa sakit, dan merasa rendah diri justru memicu dendam yang tiada berarti dari dalam dirinya. Rasa sakit yang ia dapatkan di sana, menggerogoti setiap aliran darahnya. Ia nelangsa. Tidak dibutuhkan! Glend sudah menyematkan hal itu pada dirinya. Tapi meski demikian, ia masih berharap untuk mendapatkan pengakuan dari sang ayah. Di matanya, Ayahnya orang yang begitu patuh terhadap ibu suri, untuk itulah ia selalu mendekatkan diri dengan sang ibu suri dengan harapan ibu suri bersedia membantunya untuk mendekatkan dirinya kepada sang ayah.
Kebenciannya kepada ayahnya tidak lebih besar dari rasa rindunya yang sesungguhnya. Tapi kembali ia dihadapkan pada kenyataan, bahwa semuanya adalah palsu. Ia yang rapuh semakin hancur luluh lantak. Ia berada di tengah-tengah orang yang ternyata tidak menginginkannya hidup sama sekali. Lalu Bella datang mengatakan, percaya padaku, Glend. Terang saja pria itu menolak. Ia tidak ingin dihancurkan berulang kali hanya karena kata percaya. Seorang pria yang haus akan kasih sayang keluarga, berubah menjadi pria bodoh yang penuh luka. Apa yang dilakukan Anndora pada Glend, membuatnya takut untuk berharap, Anndora seolah meneriakkan kepadanya, Hei, Glend, kau tidak diharapakan oleh siapa pun!
Hal ini lah yang memicu alam sadarnya bahwa memang tidak ada yang tulus kepadanya, tidak ada yang mengharapkannya, jangankan untuk melindungi orang yang ia sayangi, melindungi dirinya sendiri saja ia tidak mampu.
Dokter akhirnya melarang Glend untuk memaksakan ingatannya. Akan selalu ada kemungkinan. Glend akan kembali mengingat Bella, namun hal itu akan membuatnya diserang rasa bersalah yang berlebihan mengingat apa yang sudah terjadi kepada Bella. Bisa-bisa pria itu gila. Kemungkinan kedua, jika ia terus memaksa hal itu, Glend tidak akan mengingat apa pun lagi bahkan tidak bisa mengenali dirinya sendiri.
"Ya, aku ingin hidup normal."
"Di mana Daddy?" Hubungannya bersama Bryson juga semakin membaik. Bryson selalu berusaha menghabiskan waktu sesering mungkin dengannya. Mereka melakukan banyak hal. Main golf bersama, memancing, main bola, basket, berenang, catur, bahkan berkuda bersama. Mereka melakukan apa yang dulu belum sempat mereka lakukan.
"Aku di sini, Son. Kudengar kau akan menjalani terapi?" Bryson melirik tangan putranya yang baru saja selesai diperban. "Kau terluka lagi?" Bryson menarik napas panjang.
"Cermin itu lagi dan lagi meledekku, Dad."
"Dia hanya iri dengan ketampanan yang kau miliki, Son." Bryson mengusap pundak putranya seraya mendaratkan bokong di samping Glend. Ucapannya terdengar seperti sebuah kelakar, tapi percayalah Bryson hanya tidak tahu bagaimana caranya untuk menghibur putranya tersebut. Ia ikut andil dalam kehancuran yang dialami Glend. Kerapuhan pria itu terbentuk karena cara yang ia pilih untuk melindungi putranya ternyata sangat salah.
"Dia menyebutku gila dan menyedihkan, Dad." Glend tersenyum getir dengan tatapan sayu yang memohon perlindungan kepada sang ayah.
"Kalau begitu tindakanmu sudah benar. Kau harus menghancurkannya. Putraku tidak gila, kau kebanggaanku, Son."
Oh Tuhan, kenapa tidak menghukumku saja. Bisik Bryson di dalam hati. Hatinya hancur melihat ketidakberdayaan putranya itu.