
"Argghhh!!! Ini membosankan!" Grace mendaratkan bokongnya di atas sofa. Tidak berapa lama, dua orang pengawal datang membawa begitu banyak barang belanjaan hingga para pengawal tersebut kesulitan membawanya. Mereka tidak bisa melihat lagi jalan yang mereka lalui karena tumpukan barang yang menutupi wajah mereka.
"Letakkan saja di situ. Dan jangan lupa ambil bagianmu." Rico dan Noval, pengawal pribadi Grace, terang saja tidak menolak apa yang dikatakan majikan cantik mereka itu. Kapan lagi bisa menikmati barang branded yang terjamin keasliannya. Didata di seantero Britania Raya, mungkin hanya mereka pengawal yang memiliki barang-barang high class. Rico mengambil sepatu, jam tangan, dan sebuah kemeja keluaran Gucci terbaru. Noval mengambil sebuah tas mewah untuk dihadiahkan kepada kekasihnya. Dasar pria tidak punya modal. Prinsipnya, jika ada yang gratis kenapa tidak. Berkat barang-barang branded yang ia hadiahkan kepada kekasihnya yang matre, wanita itu jadi mencintainya setengah hidup.
"Kau memang yang terbaik, Gre." Seru Rico dan Noval secara bersamaan. Password yang selalu mereka ucapkan selesai mengambil hadiah dari nona muda tersebut.
"Hm... Katakan apa yang akan kalian lakukan setelah ini?"
"Berdoa agar kekayaan Mr.Vasquez surut dan ludes." Tentu saja mereka tidak akan melakukan hal itu. Justru yang mereka doakan adalah sebaliknya. Vasquez bangkrut, artinya mereka juga akan melarat.
"Ya, betul. Berdoa lah dengan bersungguh-sungguh!" Grace menatap kedua pria itu dengan penuh ancaman. Keinginan yang sangat konyol memang mengingat Grace mengharapkan masa kejayaan ayahnya hancur dan bangkrut. Ia bosan menjadi kaya. Karena dengan kekayaan yang mereka miliki, ia diperlakukan layaknya putri. Ia bosan. Ia ingin mandiri dan yang terpenting, ia ingin bekerja! Ayah dan saudara laki-lakinya tidak mengizinkan hal tersebut sehingga ia ditawan di dalam mansion mewah yang penuh dengan cinta. Setiap hari yang ia lakukan hanya shopping, menghamburkan uang sesuka hatinya. Membeli mobil mewah layaknya minum obat. Tiga kali sehari! Pemikirannya yang naif, mengira dengan membuang uang ayahnya secara percuma, mereka akan langsung jatuh miskin.
"Kau belanja lagi?" Bella datang membawa segelas orange juice segar dan sepotong brownies dengan lelehan cokelat yang melimpah buatan tangan sang ibu tercinta. Indahnya dunia.
Bella memukul paha putrinya mendengar pertanyaan enteng gadis itu. "Berhenti meminta atau pun mengatakan hal yang konyol, Gre. Banyak orang, karyawan yang menumpangkan hidup pada perusahaan di bawah naungan Vasquez." Bella mengusap keringat yang membasahi jidat putrinya. Wajar saja Grace kelelahan dan banjir keringat, ini sudah lebih dari lima jam sejak ia keluar menghamburkan uang ayahnya. "Daddy bekerja untuk kita. Berdoa lah untuk hal yang baik."
"Oh Mom, aku ingin bekerja!"
"Kau boleh bekerja. Tidak ada yang melarangmu."
"Tidak di perusahaan Daddy!"
"Kalau begitu tidak bisa. Kau harus dilatih terlebih dahulu jika ingin bekerja di perusahaan lain. Omong-omong kau membeli pesanan Mommy?" Bella mengambil beberapa paper bag, membukanya satu persatu untuk memeriksa barang yang ia minta.
Grace mendessah panjang, "Aku ingin adik dengan segera. Tidak masalah di usiaku yang sekarang, aku akan merawat dan mencintainya. Berjuanglah dengan semangat, Mom!" Grace ikut membongkar paper bag, mencari apa yang diinginkan oleh ibunya. "Lingerie, oh, lingerie, di manakah kau berada?"