
Gara memegang wajahnya, tidak menyangka di dunia ini ada wajah yang begitu mirip dengannya padahal mereka bukan saudara kembar. postur tubuh pun bahkan sama persis hanya saja tentunya style keduanya sangatlah berbeda.
"siapa kalian...?" Gara menatap tajam ke arah mereka
kedua matanya memindai setiap orang sampai kini tatapannya tertuju kepada Akmal. seketika keningnya mengkerut, dan ia mulai teringat dengan ucapan Akmal waktu di pesta pernikahan Alvian dan Selmi.
"Akmal... bagaimana bisa kamu berada di sini...?"
"emm itu..." Akmal menggaruk kepala, ia tidak tau mesti menjawab apa
Aji Wiguna merasa heran karena Gara tidak mempan dengan ajian gendam yang ia berikan. padahal orang-orang yang mereka temui sudah tidak sadarkan diri namun pemuda itu masih sadar dan tidak terlihat terpengaruh sama sekali.
"sepertinya dia sakti, buktinya ajian gendam ku saja tidak mempan padanya" bisik Aji di telinga Fatahillah
"aku tanya sekali lagi kalian siapa...? kalian mau merampok...?"
"bagaimana ini...?" tanya Hasan
"kita culik paksa saja dia" ucap Alex
"kalian mau menculikku...?" Gara tersenyum mengejek " hahaha...lucu sekali. baru kali ini ada yang mau menculikku. katakan siapa bos kalian, apa dia pak Kuncoro atau pak Ganding...?" Gara dengan santai duduk di sofa. kedua kakinya ia angkat di atas meja
Fatahillah memperhatikan pemuda yang mirip dengannya itu. sementara Gara pun memperhatikan dirinya, pemuda itu berdiri dan langsung melesatkan serangan ke arah mereka. tidak siap dengan serangan yang dilakukan oleh Gara, Akmal dan Alex terpental menghantam dinding sementara Fatahillah, Hasan dan Aji Wiguna berhasil menghindar.
"kalian datang ingin membunuhku sepertinya. jangan harap kalian dapat menyentuhku"
Gara mengarahkan tangannya ke arah guci yang ada di sudut ruangan itu. kemudian ia melempar guci itu ke arah Akmal. Fatahillah berlari dan menendang guci besar itu hingga jatuh ke lantai dan pecah.
"terimakasih mas" Akmal bangun begitu juga yang dengan Alex
kini pertarungan empat lawan satu, Gara bahkan tidak mempunyai rasa takut sedikitpun jika dirinya akan melawan mereka berlima.
Fatahillah maju ke depan, keduanya saling berhadapan dengan dingin. Gara tersenyum tipis, sorot matanya tajam memindai Fatahillah.
"mau bertarung...? ah aku lupa, memang itu yang kalian inginkan bukan. baiklah akan aku ladeni, dan jika kalian kalah maka katakan kepada bos kalian sampai mati aku tidak akan membiarkan posisiku tergeser dan mereka mengambil alih. aku tidak sudi mereka yang memimpin dan membuat semua orang menderita"
Gara menendang sofa dengan kerasnya hingga sofa itu bergeser menyerang Fatahillah. Fatahillah menahan sofa itu dengan satu kakinya, semua orang mundur agar tidak terkena serangan.
Gara melompat dan melayangkan tendangan, Fatahillah menangkis menggunakan kedua tangannya. dirinya mundur beberapa langkah karena tendangan Gara yang begitu kuat. pertarungan di dalam rumah itu tidak dapat dihindari, bahkan keduanya sudah berada di luar rumah di halaman depan.
"apa kita hanya akan melihat saja...?" Hasan khawatir Fatahillah terluka sebab menurut cerita dari ibu Khadijah kalau Gara, cucu dari Samsir memiliki kekuatan yang sakti. dia penguasa gunung Gantara, jelas saja ilmunya begitu tinggi jika menjadi pemimpin
"bukannya Fatahillah telah menjadi semakin kuat setelah penyatuan energi dengan mustika merah. kita lihat saja apa yang akan terjadi" Aji Wiguna menjawab dengan tenang
"tapi kalau mas Fatah kalah bagaimana...?" Akmal nampak cemas
"tidak semudah itu sepertinya untuk mengalahkan Fatahillah" jawab Aji Wiguna
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
serangan yang sama-sama bertemu menimbulkan suara ledakan yang begitu keras. baik Fatahillah maupun Gara, keduanya mundur beberapa langkah karena terkena pukulan masing-masing lawan.
(*dia kuat sekali) batin Fatahillah. dirinya memegang bahunya yang terkena pukulan dari Gara
(rupanya dia begitu sakti, siapa sebenarnya pemuda ini) batin* Gara memegang dadanya
"aku tidak mengenalmu dan aku tidak punya urusan denganmu bahkan kalian semua. jika kalian dibayar untuk datang membunuhku, maka percuma saja karena kalian tidak akan bisa. pulang dan katakan kepada Kuncoro atau siapapun bos kalian. katakan kalau aku Gara Sukandar tidak akan menyerahkan apa yang mereka inginkan. tapi jika kalian tetap memaksa untuk membunuhku maka aku tidak akan segan-segan juga untuk membunuh kalian"
"kami tidak mempunyai bos seperti yang kamu ucapkan" Fatahillah akhirnya bersuara
"hhh... omong kosong, tidak mungkin kalian datang kalau bukan karena di suruh"
saat itu hujan sudah mulai redah meskipun masih tersisa rintik-rintik. keduanya berdiri berjarak beberapa langkah saja. saat itu Gara hendak kembali bersiap untuk menyerang Fatahillah, namun tiba-tiba telinganya berdengung begitu keras. ia bahkan menutup kedua telinganya. kedua lututnya jatuh menopang tubuhnya.
"GANGAN"
GRAAARR
seekor harimau muncul secara tiba-tiba. ia mengelilingi tubuh Gara, menyalurkan energinya kepada tuannya itu. dikelilingi Gara sebanyak tiga kali kemudian harimau itu berhenti dan duduk di depan Gara.
"mas Fatah, dia mempunyai pelindung sama seperti dirimu.... seekor harimau" Akmal mengangga sungguh tidak percaya, mereka semua berlari ke arah Fatahillah dan berdiri di sampingnya
Fatahillah terdiam dengan mulut yang terkatup rapat. tidak menyangka, kalau pemuda itu mempunyai hewan peliharaan gaib sama seperti dirinya.
Gara membuka kedua matanya, dilihatnya harimau miliknya sedang menatap iba padanya. kedua telinganya mengeluarkan darah, darah yang hitam pekat yang hampir saja membuat tubuhnya ambruk jika saja harimau itu tidak cepat ia panggil.
"terimakasih Gangan, kamu luar biasa" Gara memeluk harimau itu
kembali ia berdiri, harimau putih berdiri di depannya memasang badan untuk melindungi tuannya.
GRAAARR
terlihat harimau itu begitu marah, ia berpikir kalau mereka telah melukai tuannya. harimau itu melompat hendak menyerang, Fatahillah segera memanggil harimau putih miliknya. Langon datang dan melompati harimau milik Gara, hingga harimau itu tidak dapat menyentuh mereka.
(apa...? bagaimana bisa... bagaimana bisa dia memiliki peliharaannya sama sepertiku) Gara terkejut dan membulatkan mata
Langon dan Gangan sudah saling berhadapan. keduanya berputar-putar bahkan taring yang tadinya tidak ada mulai muncul begitu panjangnya. begitu juga dengan kuku tajam mereka, keduanya bersiap untuk saling serang.
belum juga dimulai pertarungan, sebuah anak panah meluncur cepat dan mengenai bahu Gara. bukan hanya sampai di situ, beberapa anak panah kembali meluncur. Gangan melompat dan menangkis anak panah itu agar tidak kembali melukai tuannya. bahu Gara terluka, anak panah itu tertancap di bahu sebelah kiri.
kembali ratusan anak panah dilesatkan. Fatahillah membuat tabir pelindung begitu juga dengan Gara. Aji Wiguna melindungi dirinya dan Alex, anak panah itu tidak menyentuh mereka dan hanya berbelok arah.
"kita di serang ucap Hasan"
"bukan kita, tapi lebih tepatnya mereka sedang menyerang Gara" timpal Fatahillah
Gara mencabut anak panah itu, ia menggigit bibir karena begitu sakit lukanya sekarang. darah mengucur, dengan tangan kanannya ia menutup luka itu.
ratusan anak panah berhenti menyerang, tabir pelindung mulai menghilang. namun bukan berarti mereka telah aman sebab kini ternyata mereka semua telah terkepung oleh orang-orang yang memunculkan diri dari segala arah.
"Gea" Gara melihat wanita itu keluar dari rumah bersama dua orang yang berada di belakangnya, laki-laki dan perempuan
"wah sayang... ternyata kamu punya teman sekarang ya" Gea tersenyum dan mendekati mereka
"sudah aku duga, kamu memang akan melakukan ini" Gara menatap tajam wanita itu
"hahaha" Gea tertawa dan bertepuk tangan
Fatahillah dan yang lainnya, hanya melihat sebab mereka tidak tau apa yang terjadi antara keduanya. Akmal pun bahkan bingung, bukannya mereka sepasang kekasih namun kenapa kini wanita itu seakan terlihat untuk menghabisi Gara.
"aku di suruh oleh ayah kamu untuk menyingkirkan dirimu sayang" Gea tersenyum tipis "dan apakah kamu tau kalau pak Kuncoro dan pak Ganding adalah orang-orang suruhan ayahmu
Fatahillah dan yang lainnya kaget, bagaimana mungkin Gandha berniat untuk membunuh anaknya sendiri.
"apa aku tidak salah dengar...?" ucap Hasan
"Gandha ingin membunuh anaknya sendiri, mengerikan sekali" timpal Akmal
Gara mengepalkan tangan, amarah dalam dirinya kini mulai menjadi. tidak menyangka ayahnya sendiri menginginkan kematiannya.
"benar sekali, kamu benar-benar pintar. taukah kamu kalau dulu wanita yang kamu cintai meregang nyawa di tempat ini. saat itu aku sangat menikmati wajahnya yang begitu ketakutan"
"apa kamu juga yang membunuh Bulan istriku...?" Gara mengeraskan rahangnya, urat-urat lehernya semakin terlihat
Gea tersenyum menyeringai, ia mendekati Gara dan berdiri di hadapannya.
"demi keselamatan mu dia merelakan nyawanya untukmu. sayangnya dia terlalu bodoh, tanpa berpikir kalau kamu juga akan ikut mati nantinya"
plaaaak
tamparan keras mendarat di wajah mulus Gea, mata wanita itu membulat karena Gara kini berani bermain kasar. selama keduanya bersama, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik padanya.
ughhh
Gara mencekik leher Gea, satu tangannya yang besar melingkar di leher wanita itu. Gea kesakitan sebab Gara mencekik lehernya dengan begitu kuat.
dua orang tadi datang dan berusaha melepaskan Gea dari cekikan Gara. wanita itu terbatuk-batuk dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.
"brengsek...bunuh mereka semua" teriak Gea memegang lehernya
"bersiap dan melawan" perintah Fatahillah
berjumlah lebih dari lima puluh orang, mereka menyerang Gara dan juga Fatahillah serta teman-temannya. kedua harimau ikut andil melawan mereka. bahkan harimau putih mengeluarkan suara aungannya, beberapa orang terkapar di tanah dengan telinga yang berdarah.
Akmal mengeluarkan pedangnya dan menebas siapa saja yang datang menyerangnya. Fatahillah mengeluarkan Kerispatih miliknya, sedang yang lain melawan dengan tangan kosong. tapi tetap saja tangan kosong itu jelas memiliki kekuatan di dalamnya.
Gara mempunyai senjata, tombak yang dilapisi emas. ujung tombaknya itu berbentuk segitiga dengan bola kristal di tengahnya. mereka melawan menggunakan senjata masing-masing.
dua orang teman Gea tadi kini sedang bertarung dengan Gara. dua lawan satu, meskipun bahunya sedang terluka tidak membuat Gara menyerah begitu saja dan mati ditangan wanita iblis yang bersembunyi dari sifat lembutnya.
hanya dalam satu pukulan, dua orang langsung tumbang akibat pukulan tangan Fatahillah. bukan hanya itu, ia pun bisa melesat dengan cepat dan menghabisi semua lawannya. kekuatan mustika merah begitu besar energinya.
sedang Gara, dirinya yang terluka kewalahan menghadapi dua lawannya. tubuhnya terhuyung saat laki-laki itu menendang perutnya. ia jadikan tombaknya sebagai tumpuan dirinya agar tidak terjatuh ke tanah.
swing
swing
dua serangan melesat, Gara menangkis menggunakan tombaknya. kembali dirinya di serang, dengan membabi-buta.
bugh
bugh
Gara berhasil memukul keduanya dengan tombaknya. dua orang itu terseret mundur beberapa langkah.
"dia sangat sakti meskipun dirinya terluka. satukan kekuatan dan bunuh sekarang juga" ucap si wanita
"baiklah, mari lakukan itu" jawab si lelaki
keduanya menutup mata dan telapak tangan mereka saling bersentuhan. dari dalam tubuh keduanya keluar cahaya merah, energi keduanya saling menyatu membentuk kekuatan yang luar biasa besar.
"Gangan, bantu aku" teriak Gara
harimau itu melompat berdiri di samping tuanya. Gara menancap tombaknya di tanah. kedua tangannya ia letakkan di depan dada dengan membentuk segitiga. saat itu juga di keningnya, muncullah gambar garis segitiga berwarna kuning. matanya tertutup mengalirkan energinya ke keningnya itu.
"serang" wanita itu memberikan perintah, keduanya mengarahkan telapak tangan ke arah Gara
"Gangan....sekarang"
GRAAARR
harimau itu mengeluarkan cahaya dari mulutnya sementara energi Gara yang berkumpul di keningnya, melesat ke arah dua orang itu. kekuatan mereka sama-sama bertemu. semakin lama dua orang itu semakin maju ke depan, Gara yang terjepit memutar tubuhnya dan mengeluarkan cahaya kuning dari telapak tangannya melesat menyerang dua orang itu.
wuuusshhh
ddduuuaaaar
ddduuuaaaar
kedua orang tadi terpental jauh bahkan jatuh ke dalam danau. Gea begitu kaget, Gara dapat mengalahkan kedua temannya padahal bisa dibilang tubuh pemuda itu sedang tidak stabil.
ledakan yang dahsyat itu mengundang perhatian yang lainnya. orang-orang suruhan Gea sudah dihabisi satu persatu. dua orang tadi langsung mati setelah bertarung dengan Gara. tubuh keduanya mengambang di air dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
sedang Gara, dia jatuh ke tanah dan muntah darah. tombaknya langsung menghilang begitu saja.
GRAAARR
harimau miliknya memeluk tubuhnya, Gara memegang dadanya yang terasa begitu sakit.
"aku baik-baik saja, terimakasih telah membantuku. kamu hebat Gangan" Gara membalas pelukan harimau itu
Fatahillah takjub, bukan hanya dirinya namun mereka semua takjub. keturunan Samsir Sukandar benar-benar memiliki kekuatan yang begitu besar dan sakti. Fatahillah dapat merasakan energi itu saat mereka bertarung tadi.
Gea hendak melarikan diri, sayangnya harimau milik Gara melompat dan menghadangnya. wanita itu ketakutan setengah mati saat Gangan maju dengan perlahan dan bersiap menerkam tubuhnya.
"dia mau dibunuh, apa kita tidak membantunya...?" tanya Akmal
"dia pantas mendapatkan itu" Aji Wiguna menjawab pelan
Gea semakin mundur perlahan, tubuhnya bergetar karena takut.
"jangan bunuh aku, jangan bunuh aku"
ia berlari ke arah rumah dan Gara mengejarnya. setelah tertangkap, ia mencengkik leher wanita itu.
Gea meronta-ronta, tangannya memukul wajah Gara namun sekuat apapun usahanya untuk melawan tidak sepadan kekuatan yang ia punya dengan tenaga Gara. di tangan Gara Sukandar, wanita yang bernama Gearis itu mati setelah dicekik.
"aku akan mengirimmu ke ayahku" ucap Gara, tubuh Gea sudah tidak lagi bernyawa
Gara mendekati Fatahillah dan yang lainnya, dirinya berdiri di hadapan mereka.
"aku tidak tau siapa kalian tapi akan aku ucapkan terimakasih karena telah membantuku"
"jika kalian bukan anak buah ayahku maka pergilah dan aku tidak punya urusan lagi dengan kalian"
Gara memutar tubuh dan berjalan meninggalkan mereka. namun suara Fatahillah membuat langkahnya terhenti.
"tidak semudah itu untuk pergi begitu saja saudaraku" ucap Fatahillah
saat Gara membalikkan badan, saat itu juga Fatahillah melesat dan memukul tengkuknya hingga pemuda itu pingsan. sementara harimau milik Gara mengamuk dan hendak menyerang, namun Langon menjadi tameng bagi tuannya.
"tenang saja, kami tidak akan membuat tuanmu terluka. jadi tidak perlu cemas" Fatahillah melihat harimau milik Gara
GRAAARR
harimau itu tentu saja tidak percaya, namun kini Fatahillah mengancam untuk membuat Gara terluka jika harimau itu menyerang mereka. tidak ingin tuannya kenapa-kenapa, harimau milik Gara terpaksa patuh kepada Fatahillah.