Fatahillah

Fatahillah
Bab 82



Haninayah sudah terlelap di samping ibunya, malam itu yang Maha Kuasa masih melindungi mereka dari orang-orang dzalim yang ingin menyakiti keduanya. sementara lima orang itu masih berada di luar sana. pemuda yang menolong Haninayah dan ibunya tetap berada di jendela mengintip ke arah luar. tepat di depan rumahnya kelima orang itu berdiri dan membicarakan sesuatu.


"pasti mereka masuk ke salah satu rumah warga, nggak mungkin mereka bisa lari secepat itu"


"tapi kamu lihat kan rumah warga sudah terkunci semua pintunya. siapa yang mau menerima tamu malam buta seperti ini"


"bukannya tadi ada sepeda motor yang masuk ke gang ini sebelum kita sampai ke sini. mungkin saja pengendara sepeda motor itu yang menyelamatkan mereka"


"itu sepeda motor" salah satunya menunjuk ke arah sebuah motor yang terparkir di balik pagar rumah


"di rumah sana juga punya sepeda motor, di sana juga ada" yang lain menunjuk rumah lainnya


"ya sudahlah, kita hubungi bos Faisal saja kalau kita kehilangan mereka. kita harus tetap pantau kawasan ini, aku yakin mereka masih berada di sekitar sini"


salah seorang merogoh ponselnya dan mencari nomor bos mereka, pemuda itupun menutup tirai jendela dan mendekat ibunya yang sedang tegang di ruang tamu, takut kalau orang-orang itu mendatangi rumah mereka.


"ibu masuklah ke kamar, aku akan berjaga di sini"


"ibu temani kamu saja"


"ibu meragukan kemampuan ku...? ibu kan tau aku bisa bela diri jadi ibu jangan khawatir. lagipula orang-orang itu tidak mengetahui kalau wanita tadi dengan ibunya berada di rumah kita. masuklah bu, semuanya akan baik-baik saja"


"kamu hati-hati nak"


pemuda itu mengangguk dan tersenyum, dengan berat hati sang ibu meninggalkan dirinya di ruang tamu. ia harus memastikan terlebih dahulu orang-orang itu pergi barulah dirinya masuk ke dalam kamarnya. ia kembali mengintip mereka di jendela.


(halo bos... mereka berhasil kabur)


(goblok... menangkap wanita saja tidak becus)


(maaf bos, tapi sepertinya ada yang membantu mereka)


(dasar bodoh, kalau begitu pergi dari tempat itu jangan sampai kalian dicurigai bisa bahaya)


(tapi kami ingin memantau tempat ini bos, kami yakin mereka masih berada di sekitar sini)


(kalian mau dicurigai warga sebagai penculik anak...? tinggalkan tempat itu sekarang juga, kita bisa cari waktu lain untuk menangkap mereka)


(baik bos)


"apa kata bos Faisal...?"


"dia menyuruh kita untuk pergi"


"lalu kita nggak jadi memantau tempat ini...?"


"ini perintah bos, ayo kita pergi"


kepergian orang-orang itu membuat pemuda itu lega. ia menuju ke sofa dan membaringkan tubuhnya di tempat empuk itu. karena memang merasa lelah sejak tadi, ia pun tertidur di sofa ruang tamu.


setelah sholat subuh Fatahillah, Hasan dan Akmal akan meluncur ke kota X. pesan yang dikirimkan oleh Haninayah mengusik tidurnya semalaman, apalagi setelah sholat subuh pak Umar memberitahu dirinya agar segera ke kota X. di sana dirinya bisa melakukan penyatuan energi, setelahnya dia dan Hasan mungkin akan langsung ke gunung Gantara sementara Akmal akan membawa pulang Haninayah dan ibu Kamila ke kota B.


saat ini Fatahillah sedang melakukan pelukan perpisahan dengan ibunya, ibu Laila. semenjak semalaman ia tidak bertemu dengan ibunya itu sebab ibu Laila menemani salah satu santri yang sedang sakit demam dan tidak ingin ditinggal oleh wanita yang ternyata mempunyai hati yang lembut dan penyayang.


"Firdaus meminta doa ibu" ucap Fatahillah merengkuh ibu Laila di pelukannya


"doa ibu selalu menyertaimu nak, pegilah dan lawan kebathilan, insya Allah pertolongan Allah akan selalu ada untukmu" ibu Laila menarik diri dan tersenyum hangat


"Firdaus akan langsung ke gunung Gantara bu"


senyum ibu Laila redup seketika, helaan nafas panjang keluar dari lubang hidungnya. ia mundur selangkah dan menatap Fatahillah.


"Firdaus akan menyelamatkan ayah"


"bahaya nak" ibu Laila menggeleng


Fatahillah kembali mendekat dan memegang kedua tangan ibu Laila. ia cium dengan lembut tangan yang sudah mulai keriput itu, sebagai tanda bahwa ia benar-benar mencintai ibunya.


"semuanya akan baik-baik saja jika ibu tidak pernah berhenti memanjatkan doa untuk Firdaus. Firdaus akan membawa pulang ayah dan kita berkumpul seperti dulu"


air mata yang sejak ibu Laila tahan pada akhirnya tumpah juga. sesak di dada yang ia rasakan mengingat suaminya yang sudah puluhan tahun di tahan di gunung Gantara. awalnya ia mengira kalau suaminya telah meninggal namun saat kiyai Zulkarnain memberitahukan yang sebenarnya, hatinya kembali perih mengingat bagaimana penderitaan yang dialami oleh suaminya.


Fatahillah kembali memeluk ibunya, usapan lembut dan ciuman lembut ia daratkan di kening ibunya.


saat ini semua orang tengah berkumpul di rumah tempat tinggal keluarga pak Umar. baik kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain, ada di tempat itu kecuali umi Zainab, Maryam dan Naila yang tidak berada di tempat.


Hasan mendekati Hanum yang sedang menundukkan kepala karena merasa berat Hasan akan pergi lagi.


"bisa bicara sebentar...?" tanya Hasan


Hanum mengangguk pelan, mereka ke arah dimana sedikit jauh dari semua orang.


"maaf Han, aku harus pergi lagi" berat namun Hasan harus mengatakan itu


"iya" hanya itu yang keluar dari bibir Hanum


Hasan menghela nafas, ingin rasanya memeluk wanita yang ada di depannya itu namun semua itu tidak mungkin ia lakukan.


"aku punya sesuatu untukmu"


Hanum mengangkat kepala membalas tatapan Hasan yang penuh kehangatan. Hasan mengambil sesuatu di kantung jaketnya, sebuah kotak kecil berwarna merah. saat dibuka sebuah cincin yang indah berada di dalamnya. Hanum menutup mulut, sulit percaya kalau Hasan melakukan semua itu.


"aku akan melamarmu secara resmi jika nanti aku telah kembali. cincin ini aku pasangkan di jari manis mu sebagai tanda bahwa aku telah mengikatmu sekarang" Hasan memasang cincin itu di jari manis Hanum


"kamu melamarku San...?" mata Hanum nampak sudah berkaca-kaca memandang cincin cantik itu sudah melingkar di jari manisnya


Hasan mengangguk dan tersenyum, ia ingin sekali menghapus air mata kekasihnya itu namun sungguh, tangannya begitu sulit untuk ia gerakkan. keinginan itu hanya sebatas dalam hati saja.


"aku akan menunggumu, sampai kamu kembali selama apapun aku akan menunggumu" Hanum meneteskan air mata


pak Umar dan ibu Rosida mendekat keduanya, Hasan canggung dan menggaruk kepala sebab takut hubungan mereka akan ditentang. namun siapa sangka pak Umar malah merangkul Hasan.


"jangan membuat putriku menunggu terlalu lama San atau tidak saya akan menikahkan dia dengan ustad di sini" pak Umar menggoda Hasan


"ayah" Hanum merengek manja


"insya Allah, semoga perjalanan kami dimudahkan pak dan secepatnya saya akan pulang untuk melamar Hanum" Hasan menjawab yakin


"ibu senang mendengar berita bahagia ini, semua kalian disatukan dalam ikatan pernikahan" ibu Rosida merangkul Hanum


"aamiin" semuanya mengaminkan


"berarti tidak lama lagi paman akan mempunyai menantu ya" pak Odir datang menghampiri mereka


"kita akan menjadi besan pak" pak Umar tersenyum sumringah


"Alhamdulillah pak, saya sangat setuju mereka menikah" pak Odir ikut bahagia


mereka kembali bergabung bersama yang lain. Fatahillah mendekati Ali dan meminta maaf jikalau dirinya tidak bisa menyaksikan pernikahan ustad itu pagi nanti sebab dirinya harus segera berangkat ke kota X.


"tidak masalah jangan pikirkan itu. kalian berhati-hatilah di manapun berada dan cepat kembali" Ali memeluk Fatahillah. Akmal dam Hasan pun mendekat dan ikut memeluk Ali


ketiganya kini mendekat ke arah dua guru besar pesantren Abdullah. mereka mencium tangan keduanya dan meminta restu serta doa untuk keselamatan mereka.


"berhati-hatilah, Allah selalu menjaga kalian" Kiayi Anshor menepuk bahu Hasan


setelah berpamitan kepada semua orang, ketiganya masuk ke dalam mobil. Hasan menatap Hanum dengan lembut dan tersenyum seakan mengatakan "tunggu aku kembali" sementara Hanum mengangguk kecil dan melambaikan tangan.


subuh berlalu pagi menjelang. kini di pesantren Abdullah disibukkan dengan pernikahan Ali dan Maryam. di dalam kamar Maryam sedang di make up secantik mungkin, wajahnya tidak pernah tersenyum dan bahkan ia begitu merasa tidak bahagia. namun lagi-lagi ucapan umi Zainab semalam membuatnya harus menerima Kenyataan. saat dirinya dari kamar Naila dan akan masuk ke dalam kamarnya, umi Zainab memanggilnya dan mengajaknya bicara.


"pernikahan itu sakral nak dan bukan untuk dijadikan mainan. jangan pernah berpikir kamu untuk mengajak Ali melakukan pernikahan kontrak dengan alasan kalian tidak saling mencintai. jika itu kamu lakukan maka umi dan Abah akan sangat kecewa padamu"


"tapi bagaimana dengan kak Naila umi, aku telah merebut kebahagiannya"


"ingat nak, jadilah nanti istri yang dapat menenangkan hati suami. menjadi air baginya dikala dahaganya datang, menjadi selimut baginya, menjadi tempat ternyaman untuk dirinya pulang. umi tau saat ini kalian belum saling mencintai, tapi jika Allah sudah membolak-balik hati kalian, insya Allah semuanya akan baik-baik saja. maka memintalah yang baik-baik untuk rumah tangga kalian nanti. masala Naila, seiring berjalannya waktu dia akan mengerti kalau apa yang kadang kita inginkan belum tentu dapat kita gapai"


Maryam berkali-kali mengehala nafas berat, dadanya seakan sesak untuk bernafas. padahal ada impian yang ingin ia capai dalam berumahtangga sayangnya impian itu harus dirinya kubur dalam-dalam.


"senyum sedikit ustazah, masa pengantin baru wajahnya masam seperti itu" ustazah Ayna yang sedang mendandani Maryam membuka suara


"aku kehilangan senyum ustazah Ay, bagaimana mungkin aku senyum jikalau..." Maryam menggantung ucapannya


"jangan menyalahkan takdir ustazah Maryam, kadang di awal memang kita anggap takdir yang datang begitu kejam namun tanpa kita sangka biasanya di akhir kita mensyukuri pernah menjalani takdir seperti itu. ikhlas dan menerima itulah kuncinya" ustazah Ayna berkata lembut


semua telah siap, keluarga besar kiayi Anshor pada hari itu datang untuk menyaksikan pernikahan putri bungsu dari pemilik pondok pesantren Abdullah.


pak Umar dan juga yang lainnya kini menjadi keluarga mempelai laki-laki. saat ini Ali sudah berada di masjid, kiayi Anshor yang akan menikahkan mereka pun sudah menempati tempat duduknya. tinggal menunggu kedatangan calon pengantin wanita.


keluarga kiayi Anshor menyongsong Maryam ke masjid. tiba di sana mereka duduk di belakang, sebab saat ini keduanya harus duduk berpisah terlebih dahulu sebelum sah. Naila mencoba menguatkan diri, sakit memang apa yang ia rasakan namun dirinya tidak dapat berbuat apapun selain menerima kenyataan.


"bismillahirrahmanirrahim, saudara Rahman Ali. apakah anda bersedia menikahi putri kandung saya yang bernama Siti Maryam...?" kiayi Anshor bertanya


Ali menutup mata, semuanya tidak bisa lagi ia ubah. ini adalah keputusan yang telah ia ambil dan dirinya harus menerima semuanya.


"bismillah, saya bersedia" jawab Ali dengan yakin


"bagaimana denganmu putriku, apakah kamu bersedia menikah dengan Rahman Ali bin Ubaidillah...? laki-laki yang akan membimbing mu nanti, laki-laki yang akan menjadi imam bagimu dalam ibadahmu kepada Allah dan dalam kehidupanmu" Kiayi Anshor bertanya kepada Maryam


Maryam menggigit bibir, untuk menjawab pertanyaan ayahnya saja rasanya begitu sulit. ia hanya menundukkan kepala dan meremas jemarinya.


"jawab nak" umi Zainab berkata pelan


Maryam mengangkat kepala, matanya merah menahan tangis. matanya mengarah ke arah Naila yang kini sedang menundukkan kepala. perasaan bersalah itu semakin membuat Maryam gelisah


"bagaimana nak...?" kiayi Anshor kembali bertanya


huufffttt


Maryam menghela nafas berulang kali, ia menutup mata dan membukanya kembali.


"saya bersedia" jawabnya pelan


semua orang merasa lega mendengar jawaban dari Maryam. kini ijab qobul pun di mulai.


"kamu siap Ali...?"


"siapa kiayi"


"bismillahirrahmanirrahim, saudara Rahman Ali bin Ubaidillah. saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya Siti Maryam binti Anshor dengan mas kawin uang sepuluh juta rupiah, dua cincin emas senilai 10 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai"


"saya terima nikahnya Siti Maryam binti Anshor dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"


"bagaimana saksi...?"


"sah"


"Alhamdulillah"


kini Maryam diizinkan untuk duduk di samping suaminya. keduanya saling berhadapan. Ali memasangkan cincin pernikahan di jari manis Maryam dan setelah itu Maryam melakukan hal yang sama. Maryam mencium punggung Ali setelahnya Ali mendoakan istrinya dan meniup ubun-ubun Maryam setelah itu ia pun mencium kening istrinya.


Hanum merangkul Naila, ia tau kesedihan yang dirasakan wanita itu.


"aku baik-baik saja Han, tidak perlu cemas" Naila berkata pelan


"aku tau karena kamu wanita yang kuat" Hanum tersenyum


selesai pernikahan, dua orang datang menjadi tamu di pesantren itu. semua orang masih berada di dalam masjid. keduanya menghampiri beberapa orang santriwati yang sedang menjaga stand makanan.


"cari siapa ya pak...?" salah seorang santri laki-laki datang menghampiri mereka


"kami ingin bertemu dengan seseorang yang bernama Fatahillah, apakah dia ada di sini...?"


para santri saling pandang. mereka tau Fatahillah namun mereka belum tau kalau Fatahillah ternyata sudah berangkat ke kota X.


"sepertinya mas Fatahillah ada di masjid bersama yang lainnya sebab hari ini ada pernikahan di sana" jawab santri


"bisa tolong panggilkan, bilang saja ada temannya yang mencari"


"kalau begitu silahkan mas berdua duduk dulu biar saya panggilkan mas Fatah" santri itu melangkah namun ia berbalik lagi "maaf nama mas berdua siapa...?" tanyanya


"Aji Wiguna, bilang kepada Fatahillah kalau Aji Wiguna mencarinya" jawab Aji Wiguna


"oh baiklah"


santri itu bergegas ke masjid sementara santri yang lainnya menyediakan dua kursi untuk tempat keduanya duduk.


satu santri itu telah tiba di masjid dan masuk ke dalam, ia celingukan mencari Fatahillah di dalam namun sampai sudah beberapa kali matanya menyelidik sekitar, tidak ia lihat ada seseorang yang ia cari di dalam itu.


"kok mas Fatah nggak ada ya" dirinya menggaruk kepala


ibu Afifah yang melihat santri itu celingukan, ia pun beranjak dan mendekatinya.


"cari siapa nak...?" tanya ibu Afifah


"eh anu bu...saya cari mas Fatah. ada temannya yang datang mencari kalau tidak salah namanya tadi Aji Wiguna"


"masya Allah, Fatahillah sudah berangkat ke kota X tadi subuh. beritahu mereka menunggu dulu sebentar ya, suguhkan mereka minuman dan juga kue yang tersedia"


"baik bu"


santri itu kembali sementara ibu Afifah ke tempat duduknya. di sana ibu Rosida bertanya dan ibu Afifah menjawab kalau ada teman Fatahillah yang datang mencari pemuda itu.


santri tadi sudah kembali, ia memberitahu Aji Wiguna dan Alex kalau Fatahillah sudah tidak ada pesantren itu, pemuda itu telah pergi ke kota X tadi subuh.


"jadi bagaimana ini bos...?"


"kita ke kota X sekarang"


"tapi apakah kita tidak meluruskan pernikahan tadi, harusnya mereka tidak menikah karena..."


"sudah biarkan saja, lagipula kamu mau kita dihajar di sini karena telah menyuruh orang-orang untuk menuduh mereka berbuat zina. ayo kita pergi" Aji Wiguna menjawab berbisik di telinga Alex


para santri hanya diam menatap keduanya, merasa aneh mengapa keduanya bisik-bisik namun mereka tidak berani untuk bicara.


"kalau begitu kami pergi saja" Aji Wiguna bangkit dari duduknya begitu juga dengan Alex


"mas berdua tidak menunggu yang lainnya saja...? sebentar lagi mereka akan datang"


"tidak usah, kami ada urusan mendadak. ayo Al"


keduanya pergi meninggalkan stand makanan, mereka berdua kembali ke mobil.


"ayo Al, kita harus menyusul Fatahillah ke kota X"


"baik bos. tapi apakah bos yakin dia mau membantu kita...?"


"aku akan menawarkan bantuan juga padanya, jadi saling menguntungkan bukan"


Alex menjalankan mobil dan meninggalkan pesantren Abdullah. jarak yang di tempuh untuk ke kota X sangatlah jauh, harus melewati berjam-jam di jalan raya. namun demikian tetaplah keduanya harus ke kota itu, demi membuka kunci kekuatan Aji Wiguna, mereka harus bertemu dengan Fatahillah Malik.


_______________________________________


catatan :


Masya Allah, hari ini adalah hari pertama kita melakukan ibadah puasa. selamat berpuasa untuk kalian semua yang melaksanakannya, semoga ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima oleh yang Maha Kuasa.