
sayup-sayup aku mendengar suara azan subuh. aku membuka mata dengan lebar dan tidak mendapati lagi Zelina yang berada di sampingku. mungkin dirinya ke kamar mandi untuk berwudhu.
aku bangun dan mengumpulkan nyawa yang belum masuk sempurna ke dalam raga. setelah merasa lebih baik, aku keluar dari kamar. di rumah ini kamar mandinya berada di belakang dekat dapur jadi aku harus melangkah melalui beberapa kamar untuk bisa sampai di dapur.
aku bertemu dengan Zelina yang sepertinya baru saja selesai berwudhu.
"sudah bangun mas...?" tanya Zelina
"sudah" jawabku
"Akmal dan yang lainnya sudah menuju ke masjid, mas tidak ingin pergi sholat di masjid...?"
"aku berwudhu dulu dan akan menyusul mereka"
"pagi nanti kita pergi belanja ya mas, kan tidak mungkin memakai ini ini saja, masa iya kita tidak ganti baju"
"boleh, nanti kita ajak Akmal dan yang lainnya" jawabku
"sikat gigi untuk mas Fatah ada di gelas plastik berwarna biru ya, mas Fatah warna biru aku warna merah"
"terimakasih sayang" ucapku memberikan senyuman kepada istriku
Zelina mengangguk kemudian meninggalkan ku sendiri. aku masuk ke kamar mandi. mencuci muka, menggosok gigi dan kemudian berwudhu.
aku berpamitan kepada Zelina untuk ke masjid. masih jam 04.40, masih gelap dan belum terlihat pagi menyapa. aku melangkahkan kaki menuju ke masjid yang tidak jauh dari rumah ini.
mungkin puluhan meter namun tidak berkilo-kilo meter. banyak santriwati dan santriwan yang bergegas ke masjid. bahkan aku melihat ada beberapa orang dewasa, sepertinya mereka adalah ustad dan ustazah yang mengajar di pondok pesantren ini.
aku melangkah masuk ke dalam dan mataku celingukan mencari orang-orang yang aku kenal. aku melihat Akmal dan Hasan yang duduk berdampingan. ku ayunkan langkah menghampiri mereka dan duduk di samping Akmal.
"aku kira mas Fatah tidak akan datang" ucap Akmal
"kalian kenapa tidak menungguku...?" tanyaku
"kan tidak mungkin kami mengedor-ngedor pintu pengantin baru, bisa habis jadi ayam geprek di tangan ibu nanti kami" jawab Akmal
"pak Umar dan pak Odir mana...?"
"tuh, mereka di depan. bersama kiayi Anshor dan kiayi Zulkarnain" Akmal menunjuk ke arah depan
aku mengenal punggung pak Umar dan pak Odir serta pak Karim. namun untuk kedua kiayi yang Akmal maksud aku tidak tau bagaimana perwarakan mereka sehingga aku tidak tau mana wajah kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor.
masjid yang besar ini dipenuhi oleh para santri, dan tentunya antara laki-laki dan perempuan jelas terpisah.
sholat subuh akan dimulai, seorang laki-laki yang berjenggot tidak begitu panjang dengan pakaian serba putih, maju ke depan. dia sepertinya yang akan menjadi imam untuk kami semua.
"itu adalah kiayi Zulkarnain" Akmal memberitahu aku dan Hasan
"berarti yang di sebelah kirinya tadi adalah kiayi Anshor ya" ucap Hasan
"iya" jawab Akmal
tidak ada lagi suara karena kiayi Zulkarnain telah menyerukan takbir dan mengangkat tangan.
aku segera membaca niat sholat subuh dan membaca takbir kemudian mengangkat tangan dan meletakkan di atas perut.
"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kanan
"assalamu'alaikum warahmatullahi" salam ke kiri
kami berdoa di pimpin oleh kiayi Zulkarnain. setelahnya, ada sebagian para santri yang membubarkan diri namun masih ada sebagian yang duduk melingkar dan di temani oleh seorang ustad. biasanya jika seperti itu, pengalamanku yang tidak lama berada di pesantren, mereka akan menyetor hafalan. biasanya memang seperti itu, tergantung ustad yang membimbing mereka. entah mau selesai sholat magrib atau sholat subuh.
"Mal, sini" panggil Ali dengan pelan
kami bertiga mendekati mereka yang sudah duduk melingkar bersama kiayi Zulkarnain dan kiayi Anshor. barulah aku dapat melihat wajah keduanya yang begitu terduh dengan tatapan yang lembut.
kiayi Zulkarnain memiliki jenggot yang lebat namun tidak begitu panjang, sementara kiayi Anshor hanya memiliki jenggot yang tipis.
"mereka ini yang meminta bantuan kepada kita kiayi" ucap Ali membuka percakapan
"anak siapa yang sakit...?" tanya kiayi Zulkarnain
"anak saya kiayi" jawab pak Umar
"sudah berapa lama...?"
"sudah menjelang tiga bulan kiayi, sampai sekarang belum juga sembuh. kami sudah berobat kemanapun tapi tidak ada hasil"
sementara aku merasa kikuk karena kiayi Anshor sejak tadi terus menatap diriku dengan lekat. bahkan tatapannya membuat aku meneguk ludah dengan susah. apakah ada yang salah dari penampilan ku sehingga beliau begitu memperhatikan aku dengan begitu lekat.
kira-kira kapan kita akan melakukan pengobatan kiayi" tanya Ali dengan sopan
"malam Jum'at, pada malam Jum'at kita akan mengobatinya. untuk sekarang setiap selesai sholat, bacakan asma Allah di satu gelas yang berisi air putih dan minumkan kepadanya" jawab kiayi Zulkarnain
"baik kiayi" jawab pak Umar
"anak muda, boleh saya tau siapa namamu...?" tanya kiayi Anshor kepadaku
"Fatahillah Malik kiayi" jawabku
kiayi Anshor manggut-manggut dan tidak lagi bertanya. aku juga merasa bingung kenapa beliau menanyakan namaku, namun jika aku pikir itu bukan sesuatu yang aneh. kami adalah tamu bagi mereka, jelas identitas kami harus mereka ketahui.
"semoga kalian betah berada di sini, kalau butuh sesuatu tinggal beritahu Ali untuk menyiapkan keperluan kalian" ucap kiayi Anshor
"terimakasih banyak kiayi sudah menerima kami dengan baik" ucap pak Odir
"pak Odir, sudah lama sekali kita tidak bertemu. bagaimana keadaan anak istrimu...?" tanya kiayi Zulkarnain kepada pak Odir
jika kiayi Zulkarnain menanyakan kabar yang terdengar akrab, berarti keduanya saling mengenal satu sama lain.
"Alhamdulillah kiayi, kami semua sehat. sampai saat ini kami belum bisa membalas kebaikan yang kiayi lakukan untuk kami" jawab pak Odir
"kita sama-sama membantu waktu itu pak, tidak perlu sungkan" kiayi Zulkarnain tersenyum
kami bercerita banyak hal dengan kedua guru besar pesantren Abdullah ini. pukul 06.00, kami kembali ke rumah. di perjalanan hal ingin aku tanyakan kepada pak Odir kini ditanyakan oleh Hasan.
"paman saling kenal ya dengan kiayi Zulkarnain...?" tanya Hasan
"justru karena aku kenal makanya itu aku menyuruh kamu untuk memberitahu pak Umar agar Hanum dibawa berobat kepada beliau. apa kamu ingat saat Intan diikuti oleh jin jahat dan ingin mengambilnya" jawab pak Odir
"ingat paman, waktu itu aku tidak bisa pulang karena harus ke luar kota. lalu apa hubungannya dengan kiayi Zulkarnain...?" tanya Hasan
"beliau lah yang menyembuhkan Intan, adikmu. kalau bukan karena beliau, mungkin Intan sudah tidak tertolong waktu itu. Intan kesurupan dan bahkan ingin bunuh diri. untungnya ada kiayi Zulkarnain. waktu itu kiayi Zulkarnain baru saja habis di copet. beliau dari tempat saudaranya dan akan kembali ke tempat tinggalnya. namun karena tidak tidak punya ongkos, beliau memilih duduk di depan kios bibimu. bibimu yang belum pernah melihat kiayi Zulkarnain, langsung bertanya beliau orang mana. sehingga kiayi Zulkarnain menceritakan apa terjadi padanya. saat itulah kami membawa masuk ke dalam rumah dan memberi beliau makan karena sudah satu hari beliau tidak makan karena tidak punya uang"
"di saat itu kiayi Zulkarnain melihat kondisi Intan yang semakin hari semakin parah. beliau menyembuhkan Intan. dari situlah kami saling kenal. paman membantu beliau memberikan ongkos untuk kembali pulang ke tempat tinggalnya. sampai bertahun-tahun paman tidak lagi mendengar kabar tentangnya, namun karena kamu meminta tolong kepada paman untuk mencari orang pintar yang dapat menyembuhkan penyakit aneh, paman jadi terpikir dengan kiayi Zulkarnain. paman mencari informasi tentangnya dan yang paman dapatkan, beliau tinggal di gunung Sangiran"
"karena aku kembali memperkenalkan diri. semoga dengan diobati beliau, Hanum kembali sehat" ucap pak Odir
"Aamiin" kami semua mengaminkan harapan pak Odir
"jangan lupa pak Umar, setiap selesai sholat bacakan asma Allah di gelas yang berisi air dan meminumkan kepada Hanum. pengobatan akan dilakukan besok malam" ucap Ali
"iya, insya Allah akan saya terapkan" jawab pak Umar
rumah yang kami tempati sudah semakin dekat. aku melihat Najwa sedang menyapu di teras rumah. dia telah menggunakan baju gamis dan hijab, padahal dirinya sebenarnya tidak mengenakan hijab. namun karena di area pesantren, jelas di tempat ini tidak boleh memakai pakaian yang tidak menutupi aurat.
"assalamu'alaikum" ucap kami semua
"wa alaikumsalam" jawab Najwa
"Najwa ternyata gadis yang rajin ya" ucap pak Odir
Najwa hanya tersenyum dan kemudian masuk ke dalam rumah. kami tidak langsung masuk melainkan duduk berlesehan di teras rumah. tidak lama Najwa datang kembali bersama Zelina. mereka membawa teh hangat dan juga cemilan.
"setelah ini kami akan langsung pulang" ucap pak Karim
"sarapan dulu pak, tidak lama lagi makanan akan terhidang" ucap Zelina
"kami malah jadi merepotkan" ucap pak Karim
"bahkan kemarin kami loh pak yang merepotkan bapak sekeluarga. benar kata Zelina, sarapan dulu setelah itu baru pulang" timpal pak Umar
"mbak Zelina, nanti kalau pulang kalian semua singgah lah lagi di rumah" ucap Najwa
"insya Allah, ayo masuk" ajak Zelina kepada Najwa
Najwa mengangguk tersenyum kemudian mereka berdua masuk ke dalam. aku melirik ke arah mereka, Najwa melingkarkan tangannya di lengan Zelina. mereka sepertinya semakin dekat, sudah seperti kakak dan adik.
pukul 8 pagi setelah sarapan, pak Karim dan Najwa akan kembali ke kota S. lambaian tangan Zelina dan kedua ibu yang ada di depan kami mengantar kepulangan ayah dan anak itu. Zelina bahkan menghela nafas setelah mobil pak Karim tidak terlihat lagi.
"kenapa wajahnya seperti itu...?" tanyaku
"sedih aja mas, Najwa udah pulang. padahal aku senang sekali berteman dengan dia, serasa punya adik" jawab Zelina
"kan nanti akan bertemu lagi" ucapku
"Najwa memang anak yang baik dan sopan, cantik lagi" ucap ibu Afifah
"cocok dengan Akmal ya bu" celetuk Hasan
"lamarkan untuk Akmal saja kak" timpal Ali melirik Akmal yang sibuk dengan ponselnya
"eh, Akmal kan sama dokter Anisa....iya kan Mal ya" ucap pak Odir
"kenapa malah bahas aku sih sekarang. nanti deh aku pikir-pikir dulu, mau pilih yang mana antara yang seumuran atau yang beda usia. koleksi dulu mereka kayaknya nggak apa-apa kan ya" balas Akmal tersenyum manis
plaaaak
"aduh ibu, suka gitu deh kalau mukul. sakit banget" Akmal meringis karena ibu Afifah memukul pahanya
"kamu pikir anak orang mainan mau mengoleksi mereka. sembarangan kalau bicara" ibu Afifah kembali mencubit Akmal
"ampun bu ampun, astaga, bisa mati cepat aku sebelum menikah" Akmal melompat ke arah Ali dan bersembunyi di belakang pamannya itu
"tolong keponakanmu ini paman, kakakmu tercantik sedunia sedang mengamuk, aku tidak bisa menjinakkan dia sekarang" ucap Akmal merapatkan badannya di punggung Ali
"dasar anak edan kamu ya, kamu pikir ibu singa mau dijinakkan segala" ibu Afifah berniat menarik telinga Akmal namun dengan cepat Akmal masuk ke dalam ketiak Ali
"kamu ini loh Mal, tidak pernah berubah" Ali menjitak kening Akmal karena gemas dengan kelakuan keponakannya itu
kami semua geleng kepala dan terkekeh pelan. Akmal ini memang anak muda petakilan sepertinya.
seperti yang diinginkan Zelina, hari ini kami akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian. aku dan istriku saat ini berada di dalam kamar.
"ini untukmu" aku menyerahkan kartu ATM kepadanya
"untukku...?" tanyanya dan mengambil kartu ATM yang ada di tanganku
aku memegang tangan Zelina dan membawanya di bibirku kemudian mengecupnya dengan lembut.
"aku tau uang yang kamu hasilkan lebih banyak dari gaji aku. tapi bagaimanapun juga kamu adalah tanggung jawabku sekarang. semua kebutuhan mu baik lahir maupun batin adalah tanggung jawabku" ucapku menatap matanya dengan lekat
"mungkin isi di dalamnya tidak seberapa tapi aku ingin kamu menggunakan uang itu untuk kebutuhan kamu. maafkan aku jika hanya sebesar itu yang bisa aku berikan"
Zelina tersenyum hangat kemudian memegang wajahku dengan telapak tangan kanannya.
"berapapun itu, asal dari kamu...aku terima mas. aku tidak mempermasalahkan besar kecilnya pendapatan mu, asal mas selalu bersamaku itu sudah cukup"
aku meraih pinggangnya yang ramping kemudian memeluknya, mencium keningnya beberapa kali. hingga kami saling beradu tatap. entah mungkin karena naluri seorang laki-laki, aku mendekatkan wajah ke arahnya dan kemudian bibir kami saling bersentuhan.
Zelina menutup matanya saat bibirku mendarat di bibirnya yang tipis. aku semakin ingin memperdalam ciuman kami dengan ******* bibirnya yang lembut. setelahnya aku menghentikan aksiku dan menatap wajah istriku yang menurut ku begitu cantik.
"aku mencintaimu" bisikku di telinganya
"aku juga mencintaimu suamiku" jawabnya tersenyum manis
"oh iya, mobilmu sekarang tidak bisa lagi diperbaiki, apa kita beli saja mobil terlebih dahulu untuk mengganti mobilmu yang terbakar kemarin. untuk rumah, nanti aku akan menabung lagi, bagaimana...?"
"tidak usah memikirkan mobil itu mas. aku masih mempunyai satu mobil lagi di rumah. nanti kita pakai itu saja saat kembali ke kota S"
"kamu tidak marah kan.. ?"
"mas ini ada-ada saja, untuk apa aku marah. lagipula itu musibah bukan hal yang kita sengaja untuk membakarnya" Zelina memeluk pinggangku
"kamu memang wanita yang berhati mulia" aku kembali mengecup bibirnya singkat
"kita keluar ya, Akmal dan Hasan pasti sudah menunggu kita" ucap Zelina
"ya sudah, ayo"
kami berdua keluar dari kamar, di teras rumah Akmal dan Hasan tengah duduk di kursi sambil bermain ponsel.
"lama sekali sih mas, sampai kering aku menunggu kalian. mengerti sedikitlah dengan kami yang para jomblo ini" sungut Akmal dengan wajah cemberut
"lah, kan sudah ditawari dua wanita tadi.. tinggal milih yang mana yang kamu suka. tapi kamunya malah sok jual mahal, turunin harga juga kali Mal, biar cepat laku" jawabku
"emang mas pikir aku jualan apa" Akmal mengomel namun itu terlihat lucu bagiku
kami masuk ke dalam mobil Hasan. aku yang menyetir sedang Zelina di sampingku. Akmal dan Hasan di kabin tengah. pelan aku menjalankan mobil hingga keluar dari gerbang pesantren, kemudian mobil yang aku bawa membelah jalan raya menuju ke tempat tujuan.