
"Samuel lama banget sih mas, sudah dua gelas aku habiskan kopi ini tapi dia belum muncul juga. sampai pegal pantatku" Akmal memperbaiki posisi duduknya, mencari posisi ternyaman.
memang untuk menghilangkan kantuk, keduanya memilih menikmati kopi yang disediakan oleh pak Nanto. Kenapa pak Nanto, sebab ibu Nani telah masuk ke dalam kamar dan pastinya sudah terlelap dalam tidurnya. maka dari itu, pak Nanto lah yang membuatkan mereka kopi. Dan itu sudah gelas kedua mereka habiskan. Dan sudah dua piring pisang goreng pula yang telah habis dimakan.
"apa jangan-jangan yang mengirim pesan tadi bukan Victor lagi" kembali Akmal bersuara.
"coba hubungi saja Samuel, mana tau dia sudah ada di pulau ini" pak Nanto yang terus menemani mereka, menguap beberapa kali.
"nggak ada signal pak" Alex melihat layar ponselnya.
"di belakang rumah, di bawah pohon beringin ada signal di sana. Memang di sini susah signal, hanya tempat-tempat tertentu saja yang ada. Ayo saya antar, kalau di depan sebenarnya ada juga tapi jangan sampai ada telinga lain yang sedang menguping lagi"
"biar saya sendiri saja pak, bapak dan Akmal di sini saja" Alex berdiri berjalan ke arah dapur untuk ke halaman belakang rumah.
hoaaam....
Akmal menguap lebar, kantuk yang mulai menyerang membuat matanya mengeluarkan air.
"mau saya buatkan kopi lagi den...?" tanya pak Nanto.
"nggak usah deh pak, nanti perut aku kembung. Malam ini aku sudah menghabiskan tiga gelas minuman. Tadi satu gelas teh dan sekarang dua gelas kopi. Harusnya aku nggak ngantuk lagi ya pak, tapi kok mataku semakin mengecil saja" Akmal membuka matanya lebar-lebar, sulit rasanya melawan kantuk saat ini.
"ya sudah, den Akmal masuk tidur saja di kamar. Biar saya yang menunggu kedatangan Samuel. Kalau dia sudah datang, nanti saya bangunkan kamu"
"aku tidur di sini saja deh pak, malas pindah ke kamar" Akmal merebahkan dirinya di sofa. Baru beberapa detik, suara dengkuran halus terdengar keluar dari mulutnya.
pak Nanto geleng-geleng kepala, ia pun sebenarnya mulai mengantuk berat namun karena menunggu seseorang alhasil kantuk berat itu ditahannya.
Tidak lama Alex datang dari arah dapur, melihat Akmal sudah mendengkur, Alex mulai tergiur untuk tidur.
"bagaimana den...?" tanya Akmal.
"nggak aktif pak, saya hanya mengirimkan pesan saja dan mudah-mudahan dia baca" Alex mendaratkan tubuhnya di sofa.
"tidur di kamar saja den, kalau di sini mana bisa nyaman"
"nggak apa-apa pak, kalau di kamar takut nggak dengar ada yang datang. Sebaiknya bapak saja yang masuk tidur di kamar biar kami yang tetap di sini"
"baiklah, nanti ketuk saja pintu kamar saya kalau misal Samuel telah datang"
"iya pak"
Pak Nanto membawa gelas juga piring yang ada di atas meja ke arah dapur. Sementara Alex mencari posisi ternyaman untuk menyusul Akmal yang sudah lelap di alam mimpi.
_____
Udara dingin di malam itu tidak membuat empat anak manusia menghentikan perjalanan. Kedatangan Samuel juga Naomi membuat Aji Wiguna mendesak agar mereka melanjutkan perjalanan. dirinya tidak ingin terlambat sedikitpun untuk menyelamatkan Najihan.
jika memang Alvin juga Diandra bersekutu dengan Gandha Sukandar palsu maka kemungkinan dua orang itu akan membawa Najihan ke hadapan bos mereka.
"aaw" Naomi meringis ketika kakinya menginjak sesuatu.
Samuel bergegas jongkok dan memeriksa, wanita itu menginjak kerang yang duriannya lumayan besar. Untungnya tidak terlalu dalam, jadi luka itu tidak begitu besar. Namun meskipun begitu, kaki mulus Naomi sudah terluka dan mengeluarkan darah.
"kalau sudah seperti itu, mungkin kita akan lama sampainya" ujar Fatahillah.
Mereka yang mengikuti sepanjang pesisir pantai, naik ke atas dan berhenti di rerumputan. Samuel mengikat luka itu dengan dasi yang masih terpasang di lehernya.
"biar aku gendong" ucap Samuel sembari mengikat luka Naomi.
"tapi..."
"aku tidak mau mendengar kata tapi dan penolakan sekarang. Dengan kakimu yang seperti ini, waktu kita habis diperjalanan" tegas Aji Wiguna. Seketika Naomi terdiam, melihat wajah Aji Wiguna yang sejak tadi menahan amarah, nyali wanita itu menciut.
Samuel hendak berjongkok di depan Naomi, pada saat itu terdengar bunyi ponsel pesan masuk. Semua orang saling pandang dan saling mengambil ponsel masing-masing.
"bukan ponselku" Aji Wiguna kembali menaruh ponsel itu di kantung jaketnya.
"aku juga bukan, mungkin diantara kalian berdua"
Naomi diam sebab bukan juga ponselnya yang mengeluarkan suara pesan masuk. Kini ketiganya menatap Samuel yang sedang sibuk melihat isi pesan itu.
"Alex" kening Samuel mengerut.
"dari Alex...? Coba baca Sam" Fatahillah penasaran.
Alex : apakah kamu sudah sampai di pulau bambu...? aku dan Akmal menunggu kamu di rumah pak Nanto. Ada yang harus kita bahas dan ini masalah tentang Victor. Dia datang membawa pesan agar kita menemuinya di pohon raksasa.
"jadi benar kalau Victor masih hidup...? Itu berarti orang yang menghubungi kamu kemarin benar-benar Victor Sam" Naomi langsung bersuara ketika mendengar nama Victor.
"Victor menghubungi kamu Sam...?" Fatahillah menatap Samuel.
"aku sebenarnya nggak tau entah itu benar-benar Victor atau bukan. Dia hanya menyebutkan namanya kalau dia adalah Victor dan setelah itu teleponnya mati. Aku hubungi kembali tapi sudah tidak aktif lagi. Kalau benar Victor yang memberikan mereka pesan, berarti kita harus segera sampai ke sana"
"tapi bagaimana kalau itu adalah jebakan. Kalian kan sudah tau Alvin juga Diandra pastinya ada di pulau ini. Mungkin saja itu jebakan yang mereka rencanakan. Apalagi Gandha Sukandar palsu itu, pasti telah mengetahui keberadaan kita di sini" Aji Wiguna membuat pikiran Samuel dan Fatahillah ragu-ragu.
"masuk akal juga, tapi... tidak ada salahnya kita mencoba untuk pergi" ungkap Fatahillah. "kita jalan sekarang, di sana kita akan diskusikan masalah ini" lanjutnya.
"ayo Na" Samuel kembali berjongkok di depan Naomi.
Naomi terpaksa digendong oleh Samuel, di punggung lelaki itu. Perhatian yang diberi oleh Samuel membuat Naomi merasa tersentuh. Ia mulai mengagumi laki-laki itu.
Berjalan jauh nan melelahkan tidak membuat mereka gentar untuk terus maju. Hingga lampu dermaga pulau bambu mulai terlihat di depan mata.
"Alhamdulillah" Samuel bergumam dan Naomi mendengarnya.
"capek ya Sam. Maaf sudah membuatmu repot" Naomi melap keringat yang ada di kening Samuel.
"aku ok Na, buktinya aku masih kuat gendong kamu" Samuel tersenyum dan memalingkan wajah hendak melirik Naomi. Karena wajah Naomi juga sedang melihatnya dengan lekat dari arah samping maka seketika itu, bibir tipis Naomi mendarat tiba-tiba di pipi Samuel.
Kaget, nervous dan salah tingkah....
Samuel diam dengan mata yang membulat sementara Naomi, langsung menutup mulutnya.
"ma-maaf Sam, aku tidak sengaja" cicit Naomi begitu malu. Bisa-bisanya dia mencium lelaki itu. Dadanya berdebar-debar tidak karuan.
Samuel diam saja tidak menjawab, ia mengayunkan langkah untuk menyusul Fatahillah juga Aji Wiguna yang sudah sedikit jauh dengan mereka. Diamnya Samuel membuat Najihan merasa bersalah dan tidak enak hati.
"Sam" panggilnya dengan begitu pelan.
"Humm" jawaban Samuel semakin membuat Naomi gugup.
"k-kamu marah ya...?"
"hei....lewat sini Ga, jangan di situ" Samuel malah memanggil kedua teman mereka dan mengabaikan pertanyaan Naomi. Sebenarnya bukan mengabaikan hanya saja pertanyaan wanita itu bertepatan dengan ketika Aji Wiguna dan Fatahillah hendak mengambil langkah ke bawah jembatan.
Karena dipanggil, Fatahillah dan Aji Wiguna berbelok arah. Untung saja mereka langsung bersembunyi saat seseorang menyoroti mereka dengan cahaya senter. Samuel bahkan menempel di pohon bersama Naomi. Wanita itu telah turun dari gendongan Samuel. Dan saat hendak berjalan, cahaya senter mengarah ke arah mereka. Tentu saja Samuel menarik Naomi untuk bersembunyi.
"ada apa...?" suara itu terdengar dari arah jembatan.
"aku seperti mendengar suara seseorang"
kembali cahaya senter itu di arahkan ke berbagai arah, di pohon-pohon yang berdiri tegak dan cahaya senter itu tidak menangkap satu bayangan manusia pun.
"tidak ada apapun, mungkin kamu salah dengar atau itu adalah suara mereka. Sudah biarkan saja jangan diganggu" yang dimaksud suara mereka adalah suara makhluk tak kasat mata yang berkeliaran di pulau itu.
Setelah merasa aman, keempatnya keluar dari persembunyian. hal mengejutkan kembali terjadi lagi antara Samuel juga Naomi dan itu lebih intim dari yang pertama tadi. Bagaimana tidak, saat ini bibir keduanya saling bersentuhan. Ketika Samuel merasa telah aman, dirinya refleks berbalik menghadap ke depan. Padahal saat itu tubuhnya juga Naomi saling bersentuhan, alhasil ciuman kedua itu berlangsung secara tiba-tiba dan tanpa dikira.
Samuel mundur dan memegang bibirnya, hal yang sama dilakukan oleh Naomi. Wanita itu menggigit bibir, rasanya ingin sekali masuk ke dalam lubang tanpa terlihat lagi. Sementara Samuel, ia menatap lekat Naomi yang menundukkan kepala.
"Na, maaf aku...aku tidak sengaja" Samuel tidak enak hati, apalagi melihat Naomi yang tidak ingin menatapnya.
"Na, maaf...apakah kamu marah...?"
"nggak" Naomi mengangkat kepalanya dan tersenyum. "itu terjadi tanpa di sengaja, aku pun melakukan hal yang sama tadi, jadi.... tidak perlu minta maaf"
"hei, pacarannya nanti saja, ayo bergerak kembali sebelum kita ketahuan" Fatahillah melempar batu ke arah mereka, dan mengajak keduanya untuk berjalan kembali.
Samuel dan Naomi salah tingkah. Bagaimana bisa Fatahillah mengatakan mereka sedang berpacaran sementara keduanya tidak memiliki hubungan apapun. namun demikian, kejadian yang tidak terduga itu membuat keduanya canggung dan tidak nyaman.
"ayo Na, pelan-pelan saja. Rumah pak Nanto sudah tidak jauh lagi" Samuel menggenggam tangan Naomi membantunya untuk berjalan.
Mereka tidak melewati belakang villa namun mereka langsung tembus di belakang rumah yang dihuni oleh pak Nanto. Keadaan di dalam terlihat gelap karena lampu yang di dapur sepertinya dimatikan oleh pak Nanto.
"lewat mana...?" tanya Fatahillah.
"di depan saja, siapa tau Alex menunggu kita di depan" jawab Aji Wiguna.
Keempatnya bagai pencuri yang mencari cara untuk bisa masuk ke dalam rumah yang menjadi target operasi. berjalan pelan dan memperhatikan sekitar, jangan sampai ada anak buah Gandha Sukandar yang berkeliaran di sekitar itu.
nasib baik berpihak kepada mereka. Tidak ada siapapun selain pohon-pohon yang menjulang tinggi dan juga tanaman bunga yang dirawat oleh istri pak Nanto.
tok... tok...tok
Fatahillah mengetuk pintu tiga kali, hening bagai di kuburan. tidak ada seorangpun yang datang untuk membuka daun pintu itu.
tok... tok...tok
"Alex, buka Lex...ini kami" ucap Fatahillah pelan.
"Lex...buka pintunya" panggil Aji Wiguna.
Samar suara itu masuk di telinga Alex. ia bangun dan mengucek mata, pandangannya mengarah ke arah pintu yang kembali terdengar suara ketukan dan suara seseorang memanggil namanya.
"bos, apakah itu bos...?" Alex mendekat dan bertanya.
"iya, ayo cepat buka pintunya" jawab Aji Wiguna.
Alex memutar anak kunci sehingga pintu itu terbuka lebar. Ketika melihat empat orang berdiri dihadapannya, Alex langsung memeluk Aji Wiguna.
"ayo masuk dan tutup kembali pintunya" ujar Samuel.
Mereka masuk ke dalam dan mendekati sofa dimana Akmal sudah mendengkur di sana. Alex pun ikut bergabung setelah mengunci kembali pintu rumah.
"apa ada kotak p3k...?" tanya Samuel.
"mungkin ada tapi aku tidak tau dimana tempatnya. Sebentar, aku bangunkan pak Nanto dulu" jawab Alex.
Alex meninggalkan mereka berjalan ke arah kamar pak Nanto yang ada di dekat dapur. Sementara di depan, Fatahillah kini dipeluk oleh Akmal karena ia duduk di samping pemuda itu.
"Mal, bangun" lengan Akmal digoyangkan oleh Fatahillah.
"tunggu sebentar sayang, aku belum puas loh"
"lah... mimpi apa dia sampai manggil sayang" Aji Wiguna terkekeh geli.
"Mal... bangun nggak" kembali Fatahillah bersuara.
"cium dulu tapi ya. Ayo sayang, cium sebentar saja"
bibir Akmal mulai monyong maju ke depan. Naomi tidak dapat menahan tawa melihat kelakuan Akmal, begitu juga Aji Wiguna dan Samuel.
"cium gigi mu"
Plaaaak
tangan Fatahillah menabok bibir monyong Akmal, alhasil pemuda itu langsung tersentak dan terbangun duduk.
"loh, apakah aku sedang bermimpi. Kenapa mbak Gita sekarang menjadi mas Fatah ya" Akmal mengucek matanya sementara Samuel, menikkan satu alisnya ketika mendengar Akmal memanggil nama asli Fatahillah.
"belum sadar juga kamu ya, mau aku buang ke laut" ancam Fatahillah.
"jadi ini benar mas Fatah...? Akmal mulai tersadar.
"memangnya kamu pikir aku siapa...?"
"ya ampun...jadi kangen deh" Akmal langsung bergelayut manja di lengan Fatahillah.
"kenapa dia memanggil kamu dengan panggilan Fatah...?" akhirnya Samuel bertanya juga.
belum mendapatkan jawaban, Alex datang bersama pak Nanto yang sedang memegang kotak p3k di tangannya.
"siapa yang terluka...?" tanya pak Nanto saat kotak itu ia simpan di atas meja.
"kaki Naomi terluka, untungnya tidak dalam" Samuel melupakan pertanyaannya karena pertanyaan yang dikeluarkan oleh pak Nanto.
Dengan cekatan Samuel mengobati kaki Naomi kemudian melilitkan dengan kain kasa. perhatian kecil itu lagi-lagi membuat Naomi tersentuh.
"sudah jam tiga, apa sebaiknya kita berangkat sekarang...?" ucap Alex.
"apakah pohon raksasa itu jauh...?" tanya Akmal. Pertanyaan Akmal mewakili Fatahillah juga Aji Wiguna.
"lumayan jauh, kalau tidak salah pohon itu sudah berdekatan dengan perkebunan ganja milik Gandha Sukandar" jawab Samuel.
"apa tidak sebaiknya nanti pagi saja kalian pergi. Istirahatlah dulu, kalian juga butuh energi untuk menghadapi musuh. Tidurlah dulu sebelum subuh datang" ucap pak Nanto.
"iya benar, sebaiknya kalian tidur saja dulu. Bagaimana kalian akan melawan Gandha Sukandar kalau kalian tidak memiliki waktu untuk istirahat" Naomi setuju dengan usulan pak Nanto.
"tapi Najihan"
"kenapa dokter Najihan...?" tanya Akmal.
Mereka memang belum menceritakan perihal Diandra dan Alvin. Saat itu Samuel menceritakan semuanya dan tentu saja mereka kaget.
"jangan-jangan Gandha Sukandar itu sudah tau juga kalau aku dan mas Alex adalah komplotan mas Fatah" ucap Akmal.
"kenapa kamu memanggil Gara dengan panggilan Fatah, itu kan bukan namamu" kembali Samuel mengingat pertanyaan tadi.
"habisnya nama itu adalah nama yang disebutkan oleh mas Fatah sejak pertama kali kami berkenalan. Aku sudah terbiasa dengan nama itu. Siapa suruh mas Fatah tidak jujur dengan nama aslinya" jawaban Akmal membuat Fatahillah tersenyum, jawaban cerdas menurutnya.
"ooh...aku pikir"
"kenapa...?" Fatahillah mengangkat alis.
"nggak...jadi sebaiknya kita lanjut apa istirahat dulu....?"
"istirahatlah dulu, aku masih mengantuk" Akmal kembali berbaring.
Mereka pun sepakat untuk mengistirahatkan diri sebelum pagi menjelang. Di kamar yang telah di sediakan oleh pak Nanto, mereka mulai membaringkan tubuh. Naomi tentu saja mendapatkan kamar tersendiri.
pagi harinya, Alex juga Akmal kembali ke villa. Setelah sholat subuh, mereka mulai berbincang dan yang akan pergi ke pohon raksasa adalah Aji Wiguna juga Samuel. Sementara Akmal dan Alex akan tetap berada di sisi Gandha Sukandar. Fatahillah sendiri akan mengikuti kemana perginya Gandha Sukandar. Takutnya laki-laki itu mulai curiga dengan dua pemuda yang baru beberapa hari bekerja dengannya. Jika hal itu terjadi maka Fatahillah sudah siap siaga melindungi keduanya.
Fatahillah tidak ingin siapapun terluka dalam misi mereka. Ia tidak meragukan kemampuan Aji Wiguna, maka dari itu dialah yang akan menemui seseorang yang mengaku sebagai Victor. Naomi sendiri tetap berada di rumah pak Nanto dan kesepakatan itu disetujui oleh semua orang.