
Samuel yang sedang mengemudi kini ponselnya berdering di saku celananya. dengan tangan kanannya ia mengambil ponsel itu sementara tangan kirinya tetap memegang setir.
"dokter Najihan" gumam Samuel
"angkat saja, mana tau penting" Fatahillah melihat nama yang tertera di ponsel itu
Samuel yang baru hendak menekan tombol hijau, panggilan itu mati seketika.
"lah kok mati"
Samuel menghubungi balik dokter Najihan, masuk namun tidak diangkat dan beberapa detik berikutnya nomor dokter itu tidak bisa dihubungi lagi.
"nggak aktif lagi"
"mungkin ponselnya lobet"
"nggak mungkin, dokter Najihan tidak seperti ini sebelumnya. semoga saja tidak terjadi sesuatu dengannya"
"memangnya siapa yang akan menyakitinya, dia kan tidak punya musuh"
"bukan karena punya musuh lalu diri kita akan tidak baik-baik saja Ga. maksud aku semoga tidak terjadi sesuatu dengannya seperti musibah kecil misalnya selain pembunuhan"
"kirim pesan saja, katakan kita akan menemuinya setelah pulang dari kantor"
"kamu saja yang kirim pesan, kamu kan punya nomornya. aku sedang menyetir, bahaya"
Fatahillah mencari nama Najihan di nomor kontak yang ada di ponselnya. dokter Najihan, nama itu yang Gara simpan di ponsel miliknya. dengan lincah kedua ibu jari Fatahillah mengetik pesan dan mengirimkan kepada dokter yang belum pernah ia lihat wajahnya itu.
mobil itu memasuki halaman gedung pencakar langit yang begitu tinggi. Gantara grup, yang tertulis besar di halaman perusahaan. sementara mobil yang disetir oleh Hasan berhenti tidak begitu jauh dari perusahaan itu. mereka berdua memperhatikan gedung tinggi yang bisa dikatakan adalah Peru besar di gunung Gantara.
"kaya juga keluarga Sukandar ya" ucap Hasan
"hummm" Aji Wiguna menjawab singkat dengan tablet yang ada di tangannya
Hasan memutar kepala untuk melihat apa yang dilakukan oleh temannya itu.
"sedang mengamati apa...?"
"lihatlah" Aji Wiguna memperlihatkan apa sedang ia tonton
"astaghfirullah, sampai separah ini. apa yang harus kita lakukan untuk menyembuhkan mereka. kejadian seperti ini baru saja kita alami. Fatahillah pasti stres memikirkan cara mengatasi masalah ini" Hasan merinding melihat orang-orang yang begitu brutal menyerang orang-orang lainnya
"pasti ada penyebabnya" ucap Aji Wiguna
"maksud kamu...?"
"tidak mungkin mereka tiba-tiba menjadi seperti ini jika tidak terjadi sesuatu kepada mereka. sakit saja pasti karena ada penyebabnya seperti demam misalnya. biasanya karena terkena hujan maka tubuh mulai merasa lemah dan tidak bertenaga. atau tiba-tiba sakit perut, biasanya karena penyebabnya terlalu banyak makan yang pedas. begitu juga dengan virus ini" Aji Wiguna tetap fokus dengan tablet miliknya
"kamu benar" Hasan mengangguk paham "bagaimana kalau kita mencari tahu apa penyebabnya" lanjutnya dengan tatapan meminta persetujuan
"satu-satunya cara hanya pergi ke tempat wilayah yang telah masuk zona berbahaya. tapi disana pastinya sangat berbahaya untuk kita berdua"
"lalu apa gunanya ilmu yang kita miliki jika melawan orang-orang seperti itu saja kita tidak bisa"
"kamu yakin akan ke sana...?"
"tentu saja. kita harus membantu Fatahillah menyelesaikan masalah ini dengan begitu tugas kita mencari ayahnya akan tetap berjalan seperti rencana sebelumnya"
"baiklah, kita ke sana sekarang. biar aku memberitahu yang lain"
mobil Hasan bergerak meninggalkan Gantara grup. keduanya akan memilih wilayah mana yang akan mereka tuju.
sementara itu, di perusahaan Gantara grup yang.melihat kedatangan sang bos besar, semua orang berbaris saling berhadapan dan menundukkan kepala menyambut kedatangan Gara Sukandar, penguasa gunung Gantara.
Fatahillah saat ini mengganti gaya rambutnya sama persis seperti gaya rambut Gara Sukandar, saudara kembarnya. dengan wibawanya dan auranya yang dingin, dirinya terlihat begitu seperti CEO muda yang bersikap dingin dan tegas. Samuel mengikuti langkah kaki Fatahillah.
"di lantai mana...?" tanya Fatahillah setelah mereka telah berada di dalam lift
"lantai 10, tempat biasa. itu saja kamu lupa" Samuel menekan tombol angka 10
"bukan lupa hanya saja pikiran ku bercabang sekarang jadi aku nggak fokus" Fatahillah membela diri
"ya aku mengerti. tenangkan saja pikiranmu, aku akan membantumu melawan mereka nanti. tapi ya tetap aku harus mendapatkan dukungan dari kamu. aku kan hanya suruhanmu saja"
"mulai sekarang apapun yang menjadi urusanku akan menjadi urusanmu juga kecuali masalah pribadi"
"siap bos, aku tidak akan membuat bos kecewa" Samuel kini bersikap profesional sebagai seorang bawahan
keduanya sampai di lantai 10, Fatahillah sengaja membiarkan dirinya berjalan beriringan dengan Samuel agar dirinya hanya mengikuti kemana Samuel akan membawanya.
kini mereka telah berada di ruang rapat petinggi perusahaan, Fatahillah menghela nafas panjang. apapun yang terjadi di dalam nanti, dirinya tetap akan mempertahankan posisinya.
pintu yang terbuat dari kaca namun tidak transparan itu di dorong olehnya, semua kepala memutar ke arahnya saat dirinya telah memasuki ruangan besar itu. mereka semua berdiri dan memberikan hormat kepada Fatahillah. setelah mereka kembali duduk setelah Fatahillah mempersilahkan mereka untuk duduk.
"kenapa lama sekali...?" seorang laki-laki baya bertanya pelan kepada Fatahillah
"maaf pak Henry, tadi di jalan macet jadi kami terpaksa terlambat" bukan Fatahillah yang menjawab namun Samuel yang menimpali karena laki-laki itu duduk di samping pak Henry
kini Fatahillah telah mengetahui siapa yang bernama Henry di ruangan itu, semuanya berkat Samuel. laki-laki itu hanya mengedipkan mata dan memainkan balpoin yang ia pegang.
Fatahillah membalas senyuman Samuel kemudian tatapannya mengarah kepada semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"karena pak Gara telah datang lebih baik kita mulai saja rapat dadakannya" ucap seorang laki-laki baya memakai kacamata
pertemuan hari itu menimbulkan suasana yang nampak serius. padahal ruangan itu sudah di kelilingi AC namun banyak dari mereka yang masih kepanasan dan terus menyerang Fatahillah.
"harusnya pak Gara sebagai pimpinan, jangan dulu memikirkan liburan ke luar kota. karena kelalaiannya sekarang seluruh wilayah Gantara terancam oleh virus itu" seorang wanita cantik menyerang Fatahillah dengan tatapan mata yang nampak dingin dan serius
"saya bukannya pergi berlibur, tapi sedang melakukan perjalanan bisnis. bukankah Gantara grup juga melakukan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar di berbagai kota. bagaimana anda sampai bisa mencap saya hanya pergi liburan saja. apa anda melihat saya dengan kedua mata anda nona...?"
"buktinya pekerjaan di kantor terbengkalai hanya karena keluarnya kamu ke kota X. sekarang lihatlah, kita dalam masalah sekarang. sekarang apa yang akan anda lakukan pak Gara...?"
dapat Fatahillah lihat kalau wanita itu terus menyudutkan dirinya.
"saya akan melakukan yang terbaik untuk kembalinya keadaan seperti semula. tentunya saya membutuhkan dukungan kalian semua"
"sudah tiga hari pak Gara, namun anda belum melakukan apapun terkait masalah ini. kalau tidak sanggup sebaiknya mundur saja, masih banyak yang bisa menangani kejadian ini" seorang laki-laki baya menimpali
"saya memang hanya menanam saham namun kalau tidak ada kami, bisa apa perusahaan ini. pak Gandha lebih baik menjadi pimpinan daripada anaknya"
mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, Fatahillah tersenyum tipis. sepertinya memang banyak orang-orang yang berada di pihak Gandha Sukandar untuk menjatuhkan dirinya.
"Gara juga telah membuktikan kinerjanya selama ini. perusahaan yang hampir bangkrut bisa ia normalkan kembali, bahkan dirinya bisa menangkap seseorang yang melakukan korupsi uang perusahaan dengan memanipulasi data keuangan. dan anda pak Raden, bukankah anda...tau akan kejadian itu. Gara juga bahkan menyelamatkan usaha kecil yang anda dirikan saat hendak akan bangkrut dan setelah sukses anda berjanji untuk menanam saham di perusahaan ini" pak Henry angkat bicara
pak Raden wajahnya menegang saat pak Henry membahas korupsi di perusahaan Gantara grup saat tiga tahun lalu. namun karena telah termakan oleh hasutan setan, maka akal sehat pun tidak dapat lagi menjadi pembimbingnya untuk melihat kebenaran.
"tetap saja, pak Gara harus secepatnya bertindak. kejadian ini membuat penghasilan perusahaan menurun. itu karena barang yang harus di pasarkan sampai saat ini belum juga di pasarkan sebab terhalang oleh situasi genting sekarang ini. bisa-bisa pihak konsumen akan membatalkan kerjasama dan kita akan rugi besar"
"jangan lupa pak Gara, selain memikirkan perusahaan, pikirkan juga manusia yang berada di naungan wilayah gunung Gantara. wilayah C dan wilayah X sudah menjadi zona berbahaya dan kabarnya beberapa menit yang lalu, wilayah G juga telah masuk dalam zona berbahaya. banyak orang-orang yang mati karena penyakit ini. aku harap pak Gara dapat melakukan tindakan secepatnya" seorang wanita duduk di samping Samuel, memberikan informasi baru
"benarkah Hafsah...? secepat itu...?" Samuel tentu saja kaget mendengar informasi dari wanita itu
"aku juga diberitahu teman yang tinggal di wilayah G. kabarnya, mereka sekarang akan dibawa ke tempat aman tempat pengisolasian" jawab Hafsah
"lakukan yang terbaik pak Gara. semua keputusan dan tindakan ada di tangan anda" orang bijak memberikan dukungan
"iya pak, selamatkan semua orang. untuk urusan perusahaan kita bisa saling bekerjasama tetap menstabilkan pendapatan dan pengeluaran"
Fatahillah bersyukur masih ada orang-orang yang berpihak padanya.
"kenapa pak Gara tidak turun tangan langsung menghadapi peristiwa ini. dengan begitu, mungkin akan ada pertimbangan pak Gara tidak akan digantikan nanti" wanita yang menyudutkan tadi mulai berbicara lagi
"anda berniat menggantikan pak Gara mbak Naomi...? kenapa bukan mbak saja yang turun tangan dengan begitu mungkin anda bisa terpilih menjadi relawan untuk membantu para dokter yang kewalahan di wilayah X atau wilayah C" Hafsah langsung menskak wanita itu
Naomi menatap tajam ke arah Hafsah namun bukannya takut Hafsah malah menantang dengan menatap lebih sengit. sementara pak Raden, dirinya begitu kesal dan mengirimkan pesan kepada seseorang untuk mengabari apa yang terjadi di pertemuan kali ini.
"apa yang harus aku periksa Sam...?" tanya Fatahillah
pertemuan mendadak itu telah usai, Fatahillah dan Samuel kini telah berada di ruangan CEO Gantara grup.
"aku akan memeriksa beberapa dokumen sementara kamu tandatangani berkas-berkas yang ada di atas meja itu"
"sebanyak ini...?" Fatahillah bertanya kaget
"itu konsekuensi dari liburan kamu wahai bos. tenang saja, jika aku sudah selesai maka aku akan membantu kamu"
"bagaimana kalau kita kerjakan ini nanti saja. sekarang sebaiknya kita mencari solusi untuk menangani virus yang sudah membuat banyak orang mati"
"tidak bisa Ga. apa kamu tidak ingat apa yang dikatakan ayahmu. meskipun masalah ini membuatmu teralihkan tapi jangan sampai melupakan tugasmu sebagai seorang CEO perusahaan. jika tidak maka dia yang akan mengambil alih semuanya"
jawaban Samuel membuatnya menghela nafas dan menjatuhkan dirinya di kursi yang biasa Gara tempati. Fatahillah memijit pelipisnya, rasa sakit kepala tiba-tiba menyerangnya. ia bahkan mengerjap beberapa kali karena dirinya merasa penglihatannya mulai kabur.
"astaghfirullah" Fatahillah hampir jatuh dari kursinya jika saja Samuel tidak segera menahannya
"kamu kenapa Ga...? kamu baik-baik saja...?" Samuel membawa Fatahillah untuk duduk di sofa
"kepalaku pusing" Fatahillah memegang kepalanya yang terasa berdenyut
"tunggu sebentar biar aku ambilkan obat"
Samuel keluar dari ruangan itu sementara Fatahillah membaringkan tubuhnya di sofa. perlahan penglihatannya mulai normal kembali. namun sakit kepala yang ia rasakan tidak hilang juga. dirinya kelelahan, sejak hari-hari kemarin tidak sekalipun ia istrahat dengan cukup sehingga kini akhirnya dirinya hampir saja tumbang.
Samuel datang dengan segelas air putih dan bungkusan obat yang ada di tangannya. dengan telaten dirinya meminumkan obat kepada Fatahillah.
"apa kepalamu benar-benar sakit...?"
Fatahillah mengangguk namun dengan mata yang terpejam. dirinya ingin sekali tidur walau hanya sebentar saja.
"apa perlu aku panggilkan dokter Najihan untuk datang memeriksa mu...?"
mendengar nama dokter itu di sebut, Fatahillah membuka mata dan menatap Samuel.
"bagaimana kalau kita yang pergi menemuinya. sebelum mendapatkan cara untuk mengatasi masalah ini, aku tidak akan tenang Sam"
Fatahillah hendak bangun namun Samuel menahannya dan membuatnya kembali berbaring.
"kamu sedang sakit sekarang, bagaimana kalau kamu tumbang seperti tadi"
"aku baik-baik saja setelah meminum obat darimu"
"jangan keras kepala Ga. kamu pikir dengan sakit begini bisa menarik simpati orang-orang untuk membantu kita. malahan orang-orang yang mendukung ayahmu hanya akan menjatuhkan mu dengan menggunakan sakit mu sebagai alasan. istirahatlah sebentar, biar aku yang mengerjakan pekerjaanmu"
"jika aku berdiam diri saja, bagaimana dengan rakyatku Sam"
"tidak perlu cemas. aku telah menghubungi Taufik dan dia telah mengevakuasi orang-orang yang belum terkena virus itu. sementara orang-orang yang sudah terpapar oleh virus, mereka dalam pencarian untuk ditangkap dan di isolasi"
"anak buah mu banyak lalu apa yang kamu pusingkan. jika kamu memikirkan cara menyembuhkan mereka maka kita akan memikirkan itu bersama-sama. sekarang tidurlah, setelah bangun nanti kita temui dokter Najihan"
"dia sudah bisa di hubungi...?"
"bukannya kamu sudah mengirimkan pesan padanya. pastinya dia sudah membaca pesanmu"
"aku tidak tau. coba aku cek dulu"
kepala Fatahillah sudah ia rasakan membaik setelah meminum obat. ia mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan memeriksa pesan yang ia kirim ke dokter Najihan. wanita itu membalas pesan darinya. namun ternyata bukan hanya dokter Najihan yang mengirimkan dirinya pesan. ada Alex dan juga Hasan yang sempat ia lihat di layar ponselnya.
Najihan : aku tunggu di tempat biasa
kening Fatahillah mengekerut, memikirkan tempat biasa itu artinya Gara dan Najihan sering bertemu. ia kemudian membaca pesan dari Alex.
Alex : aku berhasil masuk ke dunia ayahmu
Fatahillah : hati-hati, jika ada apa-apa maka hubungi aku segera
pesan terkirim ke nomor Alex, kini dirinya membaca pesan yang dikirim oleh Hasan.
Hasan : kami sedang dalam perjalanan ke wilayah X untuk mencari tahu sebab apa yang membuat orang-orang itu terkena virus yang menjadikan mereka seperti monster. Aji Wiguna mengatakan kalau mereka seperti itu karena ada penyebabnya dan maka dari itu kami sedang dalam perjalanan untuk ke tempat zona berbahaya. kami akan menghubungi kamu lagi
Fatahillah merasa bersyukur dirinya tidak datang seorang diri di tempat itu. ada keempat pemuda yang menemaninya dan sekarang membantunya dalam mengatasi masalahnya.
ia pun membalas pesan dari Hasan meminta agar kedua pemuda itu berhati-hati. setelahnya ia memejamkan mata untuk tidur sejenak. dirinya membutuhkan waktu untuk istirahat sebelum nantinya harus berjibaku dengan permasalahan yang akan semakin pelik untuk dia hadapi