
dikepung empat orang, wanita itu mulai waspada. dirinya belum mengetahui siapa empat laki-laki yang kini sedang mengepung dirinya sebab keempatnya masih mengenakan topeng untuk menutupi wajah mereka.
"apa kalian tau, hanya laki-laki pengecut yang mengepung wanita seperti ini" ucapnya mencoba merecoki pikiran empat laki-laki itu.
"wanita sepertimu harusnya bukan hanya dikepung, tapi dicincang seperti daging dan diberikan kepada anjing. tidak perlu sok merasa lemah, padahal sebenarnya kamu manusia licik berhati iblis" Alex merasa geram sendiri dengan wanita yang ada di depan mereka ini.
"baiklah kalau kalian mau melawanku, jangan salahkan aku jika berbuat lebih. apa kalian tau, pemimpin gunung Gantara saja, sampai saat ini terluka parah karena melawanku. harusnya aku membunuhnya waktu itu. namun ya sudahlah, meskipun dia berhasil membuatku terluka juga dan menyelamatkan dirinya, namun tidak segampang itu untuk kembali hidup normal. kehidupannya ada digenggaman ku"
"itu karena kamu licik, mengelabui dirinya dan Menggunakan ilmu beracun untuk membunuhnya. sayangnya sampai sekarang Gara Sukandar masih terlihat baik-baik saja. dan aku rasa kamu frustasi bukan, sebab racunmu itu tidak dapat membunuhnya dan sekarang kamu dan entah siapa bosmu, ingin kembali menjatuhkan dirinya dengan virus yang kalian sebar itu. harusnya kalian tau di belakang Gara Sukandar berdiri ribuan pasukan yang siap berperang dengannya. memangnya kalau mau menginginkan dia mati, akan semudah itu...? bangunlah dari mimpimu nona" Fatahillah meremehkan wanita itu
"kamu" wanita itu geram menunjuk Fatahillah, dirinya begitu kesal diremehkan oleh orang asing.
"sebaiknya perlihatkan wajahmu, karena sekarang aku tau siapa kamu" ucap Fatahillah lagi.
"hhh...kamu pikir aku bodoh dibohongi olehmu. tidak ada yang tau siapa diriku. sebaiknya kalian minggir sebelum aku menghabisi kalian"
"banyak bacot lah ini cewek, serang saja lah" Hasan mulai gatal ingin mencekik leher wanita itu.
"aku yang akan menghadapinya, kalian mundur lah" perintah Fatahillah
"tapi Fatah" Aji Wiguna tidak setuju.
"tidak apa-apa, mundurlah"
dengan terpaksa ketiganya mundur selangkah dan membiarkan Fatahillah tetap berhadapan dengan wanita misterius itu. mereka pun tidak merasa khawatir, sebab Fatahillah tidak mudah untuk dikalahkan. siapa yang bisa mengalahkan pemuda yang menguasai dua mustika sakti terkecuali mereka yang berilmu tinggi darinya.
"cih, rupanya kamu bersedia aku cabut nyawamu sebelum teman-teman mu yang lain" wanita itu tersenyum licik. dirinya begitu meremehkan Fatahillah yang kini hanya seorang diri melawannya.
"wah hebat sekali kamu, sudah berubah profesi menggantikan pekerjaan malaikat maut mencabut nyawa. berapa gaji mu perbulan...?" Alex sungguh membuat kedua temannya melongo menatap dirinya.
"harus ya kamu menanyakan itu...?" ucap Aji Wiguna
"siapa tau saja kan bos, aku bisa ikut bekerja dengannya, tapi bukan mencabut nyawa orang lain melainkan mencabut nyawanya sendiri" Alex menatap dingin wanita yang tidak terlihat wajahnya itu.
"oh kalau begitu aku mau menjadi asisten mu. aku paling pandai mencincang tubuh manusia setelah dia mati" Hasan ikut menimpali.
"berhenti bicara kalian. lihat saja, teman kalian ini akan mati di tanganku"
wanita itu secepat kilat menyerang Fatahillah, namun tentu saja dengan begitu mudah Fatahillah menghindar dan ia memberikan satu pukulan telapak tangan di punggung wanita itu sehingga wanita itu terjungkal ke depan.
"ya ampun, belum apa-apa sudah terkena pukulan. cemen banget" Alex memberikan jari jempolnya ke bawah menunjukkan kalau wanita itu payah. ternyata Alex bisa juga membuat orang kesal.
Aji Wiguna dan Hasan tertawa pelan saat wanita itu belum apa-apa sudah terkena pukulan.
"kurang ajar"
wanita itu kembali menyerang Fatahillah. pertarungan di malam itu tidak dapat lagi dihindari. suara ledakan keras sesekali terdengar karena kekuatan yang saling bertemu namun saling bertolak belakang. wanita itu tidak putus asa terus melawan Fatahillah yang dengan tenang tetap meladeni dirinya.
bugh
bugh
braaaakkk
Fatahillah berhasil melayangkan tendangan dan pukulan sehingga wanita itu terbang dan menabrak pot bunga ukuran besar di samping rumah.
(brengsek...siapa laki-laki ini, kenapa dia begitu kuat) wanita itu mengusap darah yang keluar dari mulutnya menggunakan punggung tangannya.
wanita itu duduk bersila menutup kedua matanya dan merapatkan kedua tangannya di depan dada. seketika ular-ular kecil muncul di permukaan tanah dengan begitu banyaknya. ratusan bahkan mungkin ribuan. bibir wanita itu komat kamit membaca mantra. ular-ular itu merayap dengan cepat mengarah ke empat pemuda yang nampak terkejut dengan munculnya ribuan ular itu.
Fatahillah ikut duduk bersila dan menutup mata. seketika cahaya merah menyelimuti dirinya, mustika merah mengelilingi tubuhnya dan kembali lagi masuk ke dalam tubuhnya. telapak tangan kanannya ia letakkan di tanah. dari tangannya itu muncullah api yang kemudian merayap begitu cepat dan melahap membakar habis ular-ular kecil itu. tidak ada yang tersisa, semua menjadi abu akibat panasnya api mustika merah.
"apa-apaan ini...tidak mungkin" wanita itu kaget. sungguh sangat terkejut Fatahillah dapat memusnahkan semua ular-ular miliknya hanya dalam hitungan detik.
tidak ingin kalah begitu saja, wanita itu kembali merapalkan mantra. dari dalam tanah terdengar suara bergemuruh dan keempatnya saling berpegangan agar tidak jatuh ke tanah. tidak lama seekor ular yang begitu besar muncul dari dalam tanah dan menatap tajam kearah empat pemuda yang mundur beberapa langkah. taring yang tajam siapa menerkam dan mencabik-cabik tubuh manusia. lidahnya sesekali keluar seakan tidak sabar ingin menelan bulat-bulat empat manusia yang begitu kecil baginya.
"astaghfirullah...besar sekali. apakah itu anakonda" Hasan bergidik melihat ular yang begitu besar untuk pertama kalinya.
"Fatah, Alex kalian hadapi ular itu. aku dan Hasan akan menghadapi wanita ular itu" ucap Aji Wiguna.
"baiklah" Fatahillah setuju.
Aji Wiguna begitu juga Hasan hendak berlari ke arah wanita itu, namun mereka terhalang oleh kibasan ekor ular itu sehingga Hasan terpental menabrak pagar tembok yang begitu tinggi, sementara Aji Wiguna melompat menghindar sehingga dirinya selamat dari serangan tiba-tiba itu.
Alex yang belum sempat berdiri tegak, kembali diserang oleh ular itu. kalau saja dirinya tidak menghindar, mungkin saja ular itu sudah menelan dirinya ke dalam perut ular itu.
swing
Alex melesatkan sinar kuning keemasan tepat di kepala ular itu. ular itu menabrak beton membuat dinding tinggi yang keras itu, hancur berantakan.
Aji Wiguna membantu Alex menghadapi ular itu sementara Fatahillah dan Hasan mengamankan semua orang ke tempat aman agar tidak menjadi mainan mereka saat bertarung nanti. untungnya Fatahillah memanggil Langon dan ternyata harimau putih itu datang bersama Gangan. kedua harimau sakti itu membantu Fatahillah dan Hasan memindahkan semua orang yang tertidur pulas karena terkena gendam yang dilakukan oleh Aji Wiguna.
tubuh-tubuh itu melayang dan diturunkan di samping rumah. Hasan dan Fatahillah memperbaiki posisi mereka sehingga tidak saling menindih satu dengan lainnya.
ddduuuaaaar
ledakan keras membuat Fatahillah dan Hasan saling pandang. dengan terburu-buru mereka kembali ke depan melihat apa yang telah terjadi. ular raksasa itu berhasil dikalahkan oleh Aji Wiguna. tubuh ular itu terbelah menjadi dua kemudian menghilang bagaikan debu. wanita tadi terpental menabrak dinding rumah. ia terbatuk-batuk dan memegang dadanya yang terasa sakit.
dengan cepat mereka menghampiri wanita itu. Hasan berniat mengikatnya namun ucapan wanita itu membuat mereka terhenti.
"di dalam, seorang wanita telah menjadi monster seperti orang-orang yang terkena virus itu. kalian masih ingin mengurus ku ketimbang menolong wanita itu...?" dengan menyeka darah yang keluar dari mulutnya, wanita itu berusaha untuk berdiri. wajahnya tetap saja tidak terlihat, karena selain dirinya menggunakan jubah, ia pun juga memakai kain hitam untuk menutupi wajahnya.
"tentu saja kami akan menolongnya, tapi setelah membuat perhitungan denganmu nona Hafshah"
jawaban Fatahillah membuat wanita itu tersentak kaget. dirinya sama sekali tidak percaya bagaimana bisa Fatahillah mengenali dirinya. dan saat Fatahillah membuka topengnya seketika membuat wanita itu membelalakkan matanya, terkejut dan sama sekali tidak menyangka.
"G-Gara"
"kenapa...? kamu ingin meracuniku lagi...?" Fatahillah tersenyum menyeringai
"bagaimana bisa kamu...."
"tidak ada yang tidak bisa jika Gara Sukandar bertindak. termasuk menghukum dirimu dengan seberat-beratnya karena membuat kekacauan dan bahkan membuat banyak nyawa melayang"
"kalau begitu kamu juga pantas aku kirim ke alam baka, karena siapapun musuhku tidak akan aku biarkan bersenang-senang di atas bumi dan menyebabkan semua orang menderita. bagaimana, sepertinya sekarang ini kamu sudah siap bertemu malaikat maut bukan...?" Fatahillah mengancam Hafsah, wajah wanita itu mulai ciut.
"jelas saja dia sudah siap, mereka kan partner. tapi dia nggak tau saja kalau malaikat maut tetap akan mencabut nyawanya" Alex tersenyum mengejek Hafsah.
Hafshah semakin terdesak. dirinya mundur perlahan dan berlari untuk menyelamatkan diri namun sayangnya dua harimau bertubuh besar menghadangnya di depan. kedua harimau itu menatap dirinya dengan tatapan lapar, Hafsah semakin ketakutan.
"jangan macam-macam padaku, aku bisa melenyapkan kalian berdua" Hafshah mengancam Langon dan Gangan. kedua harimau itu semakin melangkah maju sementara Hafsah semakin melangkah mundur.
tidak sadar dirinya malah kembali mendekat ke arah empat pemuda yang sedang menunggunya. setelah dekat, Hasan dengan cepat meringkus Hafsah dan mengikat kedua tangannya di belakang pinggangnya.
"kalian pikir setelah menangkap ku semuanya akan berhenti begitu saja. sama sekali tidak, bahkan masih ada permainan yang lebih menyenangkan daripada ini. aku akan menikmati kehancuran mu tiba Gara Sukandar" Hafsah menatap Fatahillah penuh kebencian.
"diamlah, kamu sangat berisik" Alex langsung menyumpal mulut Hafsah dengan kain
sebenarnya setelah menangkap wanita itu, mereka akan segera kembali namun ada satu orang wanita dengan langkah gontai berjalan ke arah mereka.
"Naomi" Fatahillah mengenal siapa wanita itu.
wanita yang pernah menyudutkan dirinya saat rapat dadakan yang mereka adakan di kantor.
"p-pak Gara... tolong... tolong aku" Naomi mengulurkan tangan meminta tolong.
"sepertinya dia akan menjadi seperti orang-orang yang terkena virus itu. apa yang harus kita lakukan" Aji Wiguna melihat Naomi akan tumbang di tanah.
Fatahillah berlari cepat ke arah Naomi dan menotok bagian tertentu dari tubuh wanita itu. agar virus itu yang sebenarnya sudah mulai menyebar, tidak sampai menyebar ke seluruh aliran darah wanita itu. Fatahillah juga membuat Naomi pingsan dengan memukul tengkuknya.
"kenapa kamu pukul...?" tanya Hasan
"hanya seperti ini dirinya bisa diselamatkan. kita bawa dia ke tempat isolasi" Fatahillah menggendong Naomi
mereka menggunakan mobil yang ada di parkiran dan untung saja ada satu mobil yang dimana kuncinya ada di dalam mobil dan pintu mobil itu tidak dikunci sehingga mereka bisa masuk dengan mudah.
di perjalanan, Alex dihubungi oleh Akmal dan memberitahu kalau keduanya harus tetap membawa barang-barang milik Gandha Sukandar kepada laki-laki itu.
[kamu masih di pelabuhan...?]
[iya, kami semua menunggu kamu mas. apakah kalian belum akan datang...?]
[kami sedang dalam perjalanan ke tempat isolasi. baiklah, tunggu aku di situ. sebentar lagi aku akan sampai]
[cepat mas, Gandha Sukandar bisa menembak kepala kita jika kita terlambat satu jam lagi]
[iya, aku mengerti]
"kenapa Al...?" tanya Aji Wiguna.
"Akmal memberitahu, kami harus tetap membawa barang-barang Gandha Sukandar kepadanya" Alex menjawab sambil melirik kepada wanita yang duduk di dekatnya.
"kalau begitu kita pelabuhan saja dulu untuk mengantar kamu" ucap Fatahillah.
"tidak perlu, turunkan saja aku di depan. aku bisa pergi sendiri, kalian sebaiknya membawa Naomi ke tempat isolasi" Alex menolak.
"benar kamu tidak apa-apa tidak diantar...?" tanya Fatahillah lagi.
"iya, aku bisa pergi sendiri. nah berhenti di sini"
Fatahillah menginjak rem, mobil itu berhenti dan segera Alex turun kemudian kembali menutup pintu.
"hati-hati, hubungi kami jika terjadi sesuatu nanti" ucap Aji Wiguna
"tentu bos. kalian pergilah"
mereka berpisah di persimpangan jalan. mobil itu kembali bergerak dan meninggalkan Alex, sementara Alex berjalan mengambil jalur kanan untuk ke pelabuhan merak.
"bagaimana, apakah Alex sudah kamu hubungi...?" Arvin bertanya saat Akmal mendekati laki-laki itu yang sedang bersama Utami.
"sudah dan dia dalam perjalanan ke sini" jawab Akmal.
mayat-mayat orang-orang tadi, sudah ditempatkan di tempat aman. sementara yang masih hidup dievakuasi ke tempat isolasi. Tegar dan Yusrif pun sudah meninggalkan pelabuhan itu menuju ke tempat isolasi.
Alex datang menumpang di sebuah mobil pickup, laki-laki itu menghampiri ketiganya.
"maaf aku lama. kita berangkat sekarang" ucapnya
"ya sudah, bos sudah menunggu sejak tadi" ucap Arvin.
"nona Utami apakah masih ingin satu mobil dengan kami...?" Akmal melihat wanita seksi itu.
"tidak, aku bersama Arvin saja" kali ini Utami menolak. ia ingin menemani Arvin sebab laki-laki itu seorang diri di dalam mobil. Arvin harus menyetir mobil boks yang di dalamnya adalah barang-barang Gandha Sukandar. semua anak buah Gandha Sukandar telah mati dan menyisakan Arvin seorang.
"okelah" Akmal segera menyusul Alex yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
dua mobil beriringan keluar dari pelabuhan merak dan meninggalkan tempat itu.
_____
mobil yang dikemudikan Fatahillah berhenti di tempat isolasi. di lapangan luas yang berdiri banyaknya tenda. mereka keluar dari mobil dan membawa Naomi bertemu dokter, sementara Hafsah tetap berada di dalam mobil dan dijaga oleh Hasan.
"ada banyak pasien yang akan datang, aku harap kalian bisa membuat mereka tidak melarikan diri"
"baik pak"
mereka patuh dan tunduk kepada Fatahillah sebab saat ini Fatahillah tidak lagi menutup wajahnya.. kedatangan Fatahillah yang mereka anggap adalah Gara Sukandar, membuat mereka kaget namun juga merasa senang.
setelah mengantar Naomi, mereka kembali meninggalkan tempat itu. tujuan mereka saat ini adalah kembali ke hutan tempat penemuan Langon tadi.
sementara Hafshah dibawa oleh orang-orang Gara Sukandar untuk mengamankan wanita itu. di tempat yang aman agar wanita itu tidak membuat ulah lagi. Fatahillah telah mengikat kedua tangan Hafsah dengan mantra yang ia baca. dengan begitu wanita itu tidak akan bisa melepaskan diri dari ikatan tangannya.
malam yang larut berganti dengan fajar yang akan datang. sebelum ke hutan itu, mereka mencari tempat untuk bisa melaksanakan sholat subuh. bagaimanapun dan masalah apapun yang mereka hadapi, mencari jalan keluar dan pertolongan hanyalah kepada sang pencipta langit dan bumi.