Fatahillah

Fatahillah
Bab 67



kekuatan dalam diri keduanya saling mendorong satu sama lain. mata Fatahillah begitu sengit dan tajam, seakan ingin mengkoyak tubuh lawannya saat ini.


"kamu yakin akan melawanku...? waktu itu saja kamu malah melarikan diri dariku" Wiratama tersenyum mengejek


"hhh...kita lihat saja nanti siapa yang akan muntah darah" Fatahillah tersenyum kecil


Fatahillah memutar tubuhnya ke arah samping kanan kemudian ia menarik tangan Wiratama dan melayangkan lututnya di perut Wiratama. karena Wiratama adalah seseorang yang mempunyai ilmu beladiri yang sama kuat seperti Fatahillah, dia menahan serangan itu menggunakan kedua tangannya dan ia pun mengarahkan tendangan ke arah pinggang Fatahillah. Fatahillah menangkis dengan tendangan pula hingga keduanya sama-sama mundur beberapa langkah.


swing


swing


dua sinar merah dilesatkan, seketika Fatahillah melompat menjauh dan sinar merah itu hanya mengenai semak-semak. langsung meledak dan mengeluarkan api.


kembali Wiratama melesatkan serangan, Fatahillah melayang di udara dan melesatkan kekuatannya hingga kedua sinar itu saling bertemu.


ddduuuaaaar


ddduuuaaaar


ledakkan terjadi di tengah-tengah. Fatahillah mendarat di tanah menatap lurus ke depan.


Wiratama mengambil pedang yang tergeletak di tanah. ia pun berlari secepat mungkin dan melompat melayangkan pedang itu ke arah Fatahillah. Fatahillah mengarahkan telapak tangannya ke arah pedang yang tidak jauh darinya. ia menggunakan pedang itu untuk menahan serangan pedang Wiratama. kini mereka berdua mulai beradu pedang. seperti pendekar yang begitu mahir dalam memainkan pedang, bahkan saat ini keduanya masih sama-sama unggul.


bunyi dua pedang yang saling bertemu terdengar di telinga Samantha Regina dan Mbah Ganta. mata wanita cantik itu begitu fokus menonton pertarungan keduanya. dirinya begitu berharap, Wiratama dapat mengalahkan Fatahillah dan memenggal kepalanya.


bugh


bugh


keduanya sama-sama mendapatkan pukulan di dada dan mundur beberapa langkah. Wiratama membaca mantra dan seketika semua pedang yang tergeletak di tanah langsung terbang melayang dengan cepat menyerang Fatahillah.


sayangnya semua pedang itu tidak sampai mengenai seujung rambut Fatahillah, hanya berjarak satu jengkal saja dari tubuhnya, semua pedang itu berhenti dan mengambang di udara, setelahnya tanpa diduga pedang-pedang itu berbalik menyerang Wiratama.


prang


prang


prang


Wiratama menangkis semua pedang itu mengunakan pedang miliknya. semuanya terpental ke sembarang arah. sayangnya tanpa dirinya sadari, rupanya Fatahillah bergerak cepat menyerangnya dan melukai lengannya. baju Wiratama lecet akibat pedang tajam Fatahillah, darah pun mengucur keluar mengubah warna sebagian bajunya.


"1-0" ucap Fatahillah tersenyum tipis


"brengsek" Wiratama mengumpat dan menahan darah yang keluar menggunakan tangannya. ia pun merobek lengan bajunya dan mengikat lukanya agar darah tidak terus keluar.


"dia ternyata sangat hebat" gumam Mbah Ganta namun Samantha masih bisa mendengarnya


"bukannya Mbah juga hebat, kenapa tidak bantu Wiratama saja. bunuh pemuda itu dan rebut mustika merah" Samantha menoleh ke samping untuk melihat wajah Mbah Ganta


"bukankah kesepakatan mereka adalah bertarung sampai mati. tidak boleh ada yang mendapat bantuan, siapapun itu orangnya" Mbah Ganta menjawab tenang


"Mbah hanya akan menonton saja...?"


"kita lihat saja nanti" Mbah Ganta sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari kedua pemuda yang sedang bertarung di depannya


kekuatan yang seimbang membuat pertarungan antara Fatahillah dan Wiratama masih tetap belum ada yang terkalahkan. bahkan Wiratama tidak menyangka kalau Fatahillah bukanlah pemuda yang harus ia sepelekan.


hampir dua jam lamanya akhirnya Fatahillah dapat melukai Wiratama menggunakan kerisnya. keris itu tertancap di punggung Wiratama bahkan hampir saja melukai perutnya kalau saja Mbah Ganta tidak datang menolongnya.


"bukankah bertarung sampai mati, ternyata kalian memang bukanlah orang-orang yang bisa menepati janji" Fatahillah menatap Wiratama yang sudah kesakitan di papah oleh Mbah Ganta


"dia sudah kalah, biar aku yang akan menggantikannya" Mbah Ganta memapah Wiratama dan memasukkannya ke dalam mobil


Samantha melihat Wiratama terluka, langsung murka seketika. ia pun melesat menyerang Fatahillah namun secepat kilat Langon melompat dan mengaum. hampir saja wanita itu terpental namun Mbah Ganta datang menyerang Langon. karena harimau putih miliknya akan diserang, Fatahillah berlari dan menghadang kekuatan Mbah Ganta menggunakan cincin miliknya.


ddduuuaaaar


ledakan lagi-lagi terjadi. saat ini Fatahillah menghadapi Mbah Ganta sementara Langon menghadapi Samantha. sudah terlalu lelah untuk melawan membuat Fatahillah terkena beberapa serangan dari Mbah Gantah.


(kuat juga dukun ini) batin Fatahillah menyeka darah di bibirnya


"jika kamu dalam keadaan terjepit, jangan menahan kekuatanmu untuk dikeluarkan. bila perlu, bunuh siapa saja yang akan berusaha untuk membunuhnumu. ingat, nyawa tidak bisa kita beli di pasar seperti membeli sayur kapan saja kita butuhkan. jika tidak ingin terbunuh maka tentu saja kamu harus membunuh"


pesan guru Halim selalu terlintas di kepala Fatahillah, itulah mengapa selama ini dirinya jika ia berada dalam keadaan yang benar-benar akan merenggut nyawanya maka dia tidak segan untuk membunuh.


"baiklah, mari kita selesaikan ini. aku sudah bosan menghadapi orang-orang seperti ini" gumam Fatahillah


kini Fatahillah mengumpulkan semua kekuatannya di dalam tubuh. kedua tangannya terkepal kuat dan bersiap untuk melanjutkan pertarungan.


"Langon, mundur" teriak Fatahillah kepada harimau putih yang masih melawan Samantha


sepertinya Fatahillah akan melawan kedua orang itu sekaligus. memikirkan kepergian pak Imam membuat darahnya mendidih dan amarah naik sampai di ubun-ubun.


harimau putih patuh dan menjauh dari Samantha. kini dua orang itu berdiri saling bersampingan dan bersiap melawan Fatahillah.


"aku akan membunuhmu pemuda sialan" ucap Samantha dengan mimik wajah yang cantik namun menakutkan


Samantha melesat dengan cepat akan menyerang Fatahillah. melihat wanita itu berlari ke arahnya, Fatahillah tersenyum tipis kemudian mengangkat keduanya tangannya. ia mengumpulkan kekuatan miliknya di kedua telapak tangan dan dirinya berputar kemudian melesatkan serangan ke arah Samantha. serangan yang bertubi-tubi membuat Samantha kewalahan menangkis hingga dirinya terkena serangan Fatahillah membuat wanita itu terpental jauh dan menabrak mobilnya.


Mbah Gantah kemudian akan menyerang Fatahillah namun pemuda itu malah mengurung Mbah Ganta di pagar gaib yang ia buat dengan keris pusaka yang digunakannya. tujuan Fatahillah mengurung Mbah Ganta adalah agar dirinya dapat dengan mudah menghadapi Samantha tanpa harus ada gangguan dari dukun itu.


"Langon, jaga dia agar tidak bisa keluar dari pagar gaib ini" perintah Fatahillah


GRAAARR


Langon mendekati Mbah Ganta yang sudah terkurung. kemudian harimau putih itu semakin memperkuat pagar gaib milik Fatahillah sehingga Mbah Ganta kewalahan menghancurkan pagar gaib itu.


Samantha berdiri dengan tertatih. Fatahillah sudah berdiri beberapa jarak di depannya. wanita itu meringis sakit karena dada dan perutnya terluka akibat terkena kekuatan Fatahillah.


"sungguh cantik dirimu nona sayangnya kamu tidak lebih hanyalah seorang wanita iblis yang menjelma menjadi manusia. sekarang, apakah ada kata-kata terakhir untuk membuat wasiat, karena sebentar lagi nona sudah akan berada di alam lain" Fatahillah rupanya berniat menghabisi Samantha Regina


"hahaha" Samantha Regina tertawa begitu keras setelahnya diam dan menatap tajam Fatahillah


"kamu pikir semudah itu menghabisiku. harusnya kamu yang membuat wasiat karena sebentar lagi kamu yang akan mati seperti pamanmu yang sombong itu. dia begitu bodoh yang memilih mati daripada bekerjasama denganku"


"jelas manusia malaikat seperti pamanku tidak akan mau bekerjasama dengan wanita iblis seperti kamu"


"hahaha. banyak bicara kamu anak muda, sekarang lawan aku"


pertarungan antara keduanya mulai terjadi. rupanya Samantha Regina bukanlah wanita biasa, dia ternyata memiliki kemampuan yang dapat menangkis setiap serangan Fatahillah. hanya saja tentunya kemampuan wanita itu tidak seberapa dengan yang dimiliki oleh Fatahillah.


bugh


bugh


dua kali serangan mendarat di dada dan punggung Samantha Regina, wanita itu terpental muntah darah. Fatahillah menggerakkan kerisnya untuk menusuk Samantha namun ternyata Mbah Ganta yang rupanya bisa menghancurkan pagar gaib Fatahillah menangkis keris itu sehingga keris itu berbalik kepada tuannya. Fatahillah menangkap kerisnya dan melesatkan sinar biru dari cincin yang ia pakai. Mbah Ganta melindungi dirinya dan Samantha menggunakan tabir pelindung sehingga serangan Fatahillah tidak dapat melukai mereka.


setelahnya Mbah Ganta melemparkan bola kecil yang mengeluarkan asap membuat mata Fatahillah perih. Mbah Ganta menggunakan itu sebagai kesempatan untuk membawa pergi Samantha dan Wiratama yang terluka akibat pertarungan.


asap lenyap dan ketiga orang itupun ikut lenyap. bahkan Fatahillah memeriksa ke dalam mobil dan Wiratama sudah tidak berada di dalamnya.


GRAAARR


Langon datang dan duduk di bawah kaki Fatahillah. saat menyentuh harimau putih itu, ia mengaum sakit rupanya Langon terluka dan sepertinya itu adalah perbuatan Mbah Ganta.


"tenang ya, aku akan mengobatimu. bagaimana kalau kamu kembali ke tempat biasa, setelah sampai di tujuan aku akan mengobati lukamu" Fatahillah memeluk Langon


GRAAARR


Langon mengangguk kemudian ia menghilang. Fatahillah bangkit dan kembali ke motornya. segera ia meninggalkan tempat itu untuk ke rumah utama menemui Afkar. laki-laki itu pasti sudah menunggu Fatahillah sejak tadi. mayat-mayat anak buah Samantha tidak ia hiraukan, biar saja nanti ada orang yang lewat dan melihat mereka. Fatahillah tidak ingin pusing dengan orang-orang jahat itu.


kini motornya telah sampai di halaman rumah setelah pak satpam mempersilahkan dirinya masuk. rupanya Afkar telah memberitahu satpam bahwa suami dari bos mereka akan datang, ia juga memperlihatkan foto Fatahillah yang dikirimkan Zelina kepadanya agar orang-orang yang Zelina pekerjakan di rumah itu mengenal suaminya.


baru saja turun dari motor, seorang laki-laki yang memakai baju koko biru berlengan panjang dan memakai celana jeans hitam datang menghampirinya.


"assalamu'alaikum mas Fatah" sapa laki-laki itu


"wa alaikumsalam" Fatahillah menjawab dan menatap laki-laki itu dengan raut wajah penuh tanya


"saya Afkar mas" ucapnya memperkenalkan diri


"oh iya" Fatahillah tersenyum "maaf, habisnya saya tidak tau wajahmu seperti apa makanya saya penasaran" Fatahillah berucap ramah


"sekarang mas sudah melihat wajahku dengan jelas" Afkar bersikap ramah dan sopan "ayo masuk mas, kunci mobil ada di dalam kamar saya soalnya"


"ah iya, ayo" Fatahillah mempersilahkan Afkar terlebih dahulu setelah itu dirinya menyusul dibelakang


rumah itu telah jadi seratus persen, Afkar menjelaskan bahwa secepatnya rumah itu akan di isi oleh anak-anak yang terlantar dan tidak memiliki lagi keluarga. panti asuhan kasih ibu adalah nama yang akan tertancap di depan rumah itu. Afkar menjelaskan bahwa Zelina memberikan nama kasih ibu karena kasih sayangnya yang begitu tulus kepada semua anak-anak asuhannya nanti. dirinya akan menjadi sosok ibu bagi mereka semua.


"istriku memang luar biasa" gumam Fatahillah


"mas tunggu di sini ya, saya mau ke kamar dulu ambil kunci mobilnya"


"iya, silahkan"


Fatahillah menunggu di ruang tamu yang begitu luas dengan sofa-sofa besar dan tentunya sangat empuk. hanya beberapa menit Afkar kembali lagi menemuinya.


"ini kunci mobilnya mas" Afkar memberikan kunci mobil kepada Fatahillah


"terimakasih banyak Afkar" Fatahillah mengambil kunci mobil itu


Afkar yang melihat tangan Fatahillah terluka dan terdapat bercak darah, membuat laki-laki itu penasaran dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"tangan mas Fatah kenapa, kok berdarah seperti itu...?"


Fatahillah refleks melihat ke arah tangannya, benar saja tangannya terluka bahkan ia merasakan sakit di bagian dada dan punggung.


Afkar menelisik penampilan Fatahillah saat itu, ia berpikir sepertinya suami bosnya itu baru saja berkelahi.


"mas habis berkelahi ya...?"


"iya...tadi pas ke sini ada beberapa orang yang menghadang ku. kalau tidak melawan bisa-bisa saya di bunuh sama mereka"


"astaghfirullah" Afkar langsung beristighfar "harus diobati segera mas, tunggu sebentar saya ambil kotak p3k dulu" Afkar bangkit namun Fatahillah melarangnya


"tidak usah AF, saya baik-baik saja. hanya saja bisakah saya meminta izin untuk istrahat sejenak di kamar, saya merasa lelah sekali"


"subhanallah, tentu saja mas. ayo saya antar di kamar Mbak Zelina, kamar itu meskipun rumah ini akan dijadikan panti asuhan namun kamar itu tidak akan di huni oleh siapapun selain penghuninya sendiri. ayo saya antar"


afkar bangkit dan Fatahillah beranjak. mereka menaiki lantai dua dan Afkar membawa ke sebuah kamar milik tuan rumah.


"silahkan mas istrahat di sini, kalau perlu apa-apa tinggal cari saya saja di bawah"


"terimakasih AF, bolehkah saya minta tolong agar art di rumah ini membawakan saya minuman... biasanya kalau saya bangun tidur saya langsung minum"


"tentu saja mas, nanti akan ada art yang membawakan minuman hangat"


"air putih saja AF, lebih sehat"


"oh baiklah" Afkar manggut-manggut


tujuan Afkar untuk membawakan Fatahillah teh hangat agar Fatahillah dapat merasa rileks namun sebenarnya bukan itu yang diinginkan Fatahillah. ia meminta air putih karena sebuah alasan untuk menyembuhkan Langon.


Afkar pergi dan Fatahillah masuk ke dalam kamar. ruangan itu begitu luas, apalagi ranjangnya yang begitu besar. lemari besar berjejer dan juga sebuah foto keluarga terpampang di dinding kamar. itu adalah foto istrinya bersama kedua mertuanya dan juga adik iparnya.


"aku berjanji akan membahagiakan Zelina ayah" ucap Fatahillah menatap wajah pak Harun yang tersenyum cerah


wanita di samping pak Harun adalah istrinya. wanita itu begitu mirip dengan Zelina, Fatahillah berpikir pantas saja istrinya begitu cantik ternyata ibu yang melahirkan wanita itu begitu cantik luar biasa.


ketukan pintu membuyarkan lamunan Fatahillah. segera ia mendekat dan membuka pintu, seorang art datang membawakan minuman.


"terimakasih bi"


"sama-sama tuan"


Fatahillah menutup pintu setelah art itu pergi. ia pun mengunci pintu kamar dan naik ke atas ranjang.


"Langon"


tanpa suara harimau putih sudah berada di pangkuan Fatahillah. Fatahillah segera melepas tasbihnya dan menaruhnya di gelas air minum tadi. tidak lupa ia membaca sholawat setelahnya ia membasahi luka harimau putih dengan air tadi.


begitu luar biasa, dengan izin Allah luka harimau putih berangsur membaik dan kemudian menghilang.


GRAAARR


Langon bangkit dan mengelilingi Fatahillah. lalu kemudian ia menjilati wajah tuannya bentuk rasa terimakasih telah diobati.


Fatahillah tertawa pelan dan memeluk harimau putih. ia bersyukur dapat menyembuhkan hewan yang sudah menemaninya sejak kecil itu.