Fatahillah

Fatahillah
Bab 101



"serius mas...?"


pekikan Akmal membuat semua orang menutup telinga, mata pemuda yang usianya lebih muda dari mereka yang ada di tempat itu membulat sempurna dengan mulut yang menganga, tidak percaya dengan apa yang ia dengar sekarang.


"oi Mal, nggak usah teriak juga kali" Hasan memukul pelan bahu Akmal


"aku shock loh mas Hasan. ternyata benar kalau mas Fatah dan mas Gara itu adalah saudara kembar. pantas saja begitu mirip, suara saja yang membedakan" Akmal masih memindai keduanya dari ujung kepala sampai ujung kaki


"hampir saja kita jadikan perkedel saudara kembarmu Fatah" timpal Aji


"maksudnya...?" Gara bertanya mengangkat alis


"nggak, nggak ada maksud apa-apa" Alex memotong dan menggeleng kepala, dirinya melotot kepada Aji yang kini memasang wajah polos


sekarang ini Fatahillah dan Gara telah berkumpul dengan yang lainnya di ruang tengah. cerita tentang hubungannya dengan Gara telah ia beritahu dan tentu saja membuat mereka kaget, apalagi Akmal yang seakan mendramatisir keadaan.


"ibu Laila pasti senang melihat kalian berdua. jadi benar ya kita akan kembali lagi ke kota B" ucap Hasan


"iya, Gara ingin bertemu dengan ibu" jawab Fatahillah


"lalu bagaimana dengan bibi khadijah...? kalau dia tau anaknya mempunyai kembaran, bisa kaget banget dia" ucap Akmal


"bibi khadijah siapa...?" Gara bertanya menatap Fatahillah meminta jawaban


akhirnya saat itu Fatahillah menceritakan tentang dirinya. dimana ia mempunyai dua ibu yang kini telah hadir di kehidupannya. ibu kandung dan ibu yang selama ini merawatnya sampai besar dan sekarang ia tetap menganggap ibu Khadijah adalah ibunya sendiri. cerita bagaimana dirinya bisa diasuh oleh ibu khadijah, Fatahillah beritahukan kepada Gara. semuanya tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.


"aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan ibu" gumam Gara


"kita akan segera bertemu dengannya" Fatahillah menepuk pelan bahu saudara kembarnya itu


"jadi siapa yang menjadi kakak diantara kalian berdua...?" tanya Aji Wiguna


"guru bilang, aku yang menjadi kakak. hanya berselang lima menit setelah aku lahir, Gara pun ikut lahir" jawab Fatahillah


"nama kalian bagus ya, Muhammad Firdaus Alqadaffi dan Muhammad Farhan Hamid. Firdaus dan Farhan" ucap Hasan


"tapi kenapa gurumu tadi memanggil kamu dengan naman Malik...?" Gara bertanya kepada Fatahillah


"karena namaku sekarang adalah Fatahillah Malik, guru lebih suka memanggil aku dengan panggilan Malik"


"begitu ya" Gara manggut-manggut


Akmal yang tadinya masih duduk, kini ia berdiri dan berjalan mengelilingi kedua saudara kembar itu.


"kamu ngapain sih Mal...?" tanya Fatahillah


"kira-kira nih ya mas, apakah mbak Zelina bisa membedakan kalian berdua. wajah kalian yang begitu mirip, sepertinya mbak Zelina akan sulit membedakan kalian" Akmal lagi-lagi kembali memperhatikan wajah keduanya. dirinya duduk jongkok di depan keduanya


"Zelina itu siapa...?" tanya Gara


"istri aku, nanti aku perkenalkan padamu. dia dan ibuku sekarang ada di kota S" timpal Fatahillah


"ibu kita...?"


"emmm ibu khadijah, kalau kamu mau menganggap dia sebagai ibu kamu jelas tidak masalah. ibu juga pasti senang bertemu denganmu. saat ini ibu Khadijah sedang di kota S bersama istriku, Zelina"


baru juga membahas Zelina, wanita penguasa hati Fatahillah Malik itu kini menghubungi Fatahillah. melalui panggilan video call, Zelina menghubungi suaminya.


"panjang umur istriku, dia nelpon" Fatahillah tersenyum sumringah melihat nama yang tertera di ponselnya


"angkatlah mas, jangan nyengir mulu nanti gigimu kering" celetuk Akmal tanpa dosa


"ku jitak pala kau nanti ya Mal" Fatahillah melirik kesal, sedang Akmal hanya cengengesan dan berdiri kembali ke tempat duduknya


Fatahillah menggeser tombol hijau ke atas dengan begitu terlihatlah wajah istrinya yang setiap hari selalu ia rindukan.


"assalamualaikum sayang"


"wa alaikumsalam mas, aku ganggu ya mas...?"


"nggak sayang, aku sedang berkumpul bersama yang lain. kamu sedang apa...?"


"biasa, kalau sudah pagi anak-anak kita pada ribut mau disiapkan baju sekolah"


Zelina mengarahkan kamera ke arah anak-anak panti yang kini sedang sibuk mengurus diri untuk bersiap ke sekolah.


"ibu mana sayang...?"


"di dapur mas, lagi masak sama bibi Fatimah. oh ya mas, dua hari lagi pernikahan Zulaikha dan Anisa, sayang sekali mas nggak ada di sini"


"aku titip doa untuk mereka saja sayang. kalian di situ baik-baik saja kan, tidak ada lagi yang mengganggu kan...?" Fatahillah memperbaiki posisi duduknya hingga tanpa ia sadari kamera ponselnya mengambil wajah Gara yang sedang duduk di sampingnya


Gara menatap lurus ke depan, dapat ia lihat seorang wanita bercadar sedang memakaikan baju sekolah kepada seorang anak kecil yang mungkin dalam pikirannya baru saja kelas satu SD.


"kami Alhamdulillah baik mas, kalian di situ baik-baik juga kan. Akmal dan mas Hasan bagaimana...?" Zelina langsung melihat ke arah kamera setelah memakaikan baju anak panti namun saat itu juga dirinya berteriak dan mengucapkan istighfar dengan keras


"astaghfirullah... astagfirullahaladzim"


ibu khadijah yang baru saja datang memanggil anak-anak untuk sarapan pagi, ikut kaget dengan teriakan menantunya itu. dengan tergesa-gesa ibu Khadijah mendekati Zelina.


"kenapa Zelina, kenapa teriak...?" wajah panik ibu khadijah tidak dapat ia sembunyikan


"i-itu bu...mas Fatah...mas Fatah" Zelina ternyata menjauhkan ponselnya dari wajahnya, ponsel itu ia lempar di atas sofa saking kagetnya dia tadi


"kenapa dengan Fatahillah, apa yang terjadi dengannya...?"


pikiran buruk mulai memenuhi kepala ibu Khadijah. takut terjadi sesuatu dengan putranya yang begitu dia cintai. segera ia mengambil ponsel Zelina dan mengarahkan ke wajahnya. Zelina yang tadinya panik mencoba kembali mendekati ibu khadijah.


"ibu" Fatahillah tersenyum di layar ponsel itu "Fatah rindu banget sama ibu, ibu sehat kan...?"


namun yang ditanya tidak menjawab, ibu Khadijah dan Zelina menutup mulut tidak percaya. keduanya saling pandang dan kembali menatap layar ponsel dimana di sana ada dua wajah yang begitu mirip. Gara bahkan tersenyum dan melambaikan tangan, hal itu membuat ibu Khadijah dan Zelina semakin kaget.


"nak, itu.... yang dibelakang kamu siapa...?" ibu khadijah bertanya pelan


Fatahillah memutar kepala melihat Gara yang ternyata sudah mencondongkan wajah lebih dekat dengannya. Fatahillah kemudian merangkul Gara dan mendekatkan wajah mereka.


"coba tebak dia siapa bu...?"


"ya Allah mas...kalian mirip sekali" Zelina sungguh dibuat kaget


ibu Khadijah memindai keduanya, mendapatkan pertanyaan seperti itu tentunya ibu Khadijah tidak dapat menjawab sebab dirinya tidak tau siapa kini yang sedang bersama dengan putranya dan bahkan keduanya begitu mirip.


"dia Farhan bu, Muhammad Farhan Hamid saudara kembar Fatah"


"Allahuakbar"


gemetar seluruh tubuh ibu khadijah setelah mendengar apa yang diucapkan oleh putranya. kedua mata wanita itu mulai nampak berkaca-kaca.


"F-Farhan...?"


"iya bu, dia Farhan. Gara Sukandar yang dianggap anak dari Gandha Sukandar ternyata adalah Muhammad Farhan Hamid, saudara kembar aku. kematiannya dimanipulasi oleh Samsir Sukandar hingga semua orang menganggap kalau Farhan telah meninggal, padahal ternyata semua itu adalah kebohongan. mereka merawat Farhan dan Gandha Sukandar mengangkatnya sebagai anak"


"ya Allah" ibu Khadijah menutup mulut, tidak menyangka hal yang sama sekali tidak dipikirkan olehnya, akan muncul tiba-tiba


sementara Gara, melihat ibu Khadijah sudah berlinang air mata, pemuda itu merasakan kesedihan yang dirasakan oleh ibu khadijah.


"assalamualaikum ibu" ucap Gara


"ya Allah anakku, kamu ternyata masih hidup nak. ya Allah, Laila pasti sangat bahagia bertemu denganmu"


saat itu ibu Khadijah begitu bahagia melihat keduanya, sungguh tidak menyangka Allah memberikan kejutan yang sangat tidak disangka olehnya. Zelina mundur dan menjauh sebab selain suaminya ada laki-laki lain di layar ponsel itu. biarlah ibu khadijah berbicara dengan keduanya, untuk melepas rindu dengan anaknya yang sudah berhari-hari pergi meninggalkannya.


setelah berbicara dengan ibunya, Fatahillah kini ingin bicara dengan istrinya. ibu Khadijah memberikan ponsel itu kepada Zelina.


"sayang"


"iya mas"


"halo mbak, assalamualaikum" sapa Gara tersenyum


"wa alaikumsalam" Zelina menjawab canggung sebab wajah Gara begitu dekat dengan suaminya


hanya setelah mengucapkan salam, Gara menarik diri dan menjauh dari Fatahillah. ia sadar kalau kakaknya itu pasti ingin berbicara berdua dengan istrinya. Fatahillah beranjak dari tempat duduknya dan menjauh dari semua orang, sementara Akmal pun ikut menjauh karena Nagita menghubunginya.


(halo mbak)


(Mal, kamu kenapa nggak hubungi aku)


(jangan geer, aku hanya khawatir saja)


(cieee yang khawatir)


(Mal, nggak lucu tau)


(iya iya maaf, sebentar lagi kami akan ke rumahmu untuk berpamitan karena kami harus kembali ke kota B)


(loh bukannya kalian mau ke gunung Gantara ya)


(itu tetap jadi mbak, hanya saja kami ada keperluan mendadak di kota B, sekalian mau memberitahu ibu kalau dia sekarang sudah punya calon menantu di kota X)


(aku belum mengiyakan permintaan kamu loh Mal)


(hummm...iya juga ya, jadi aku harus menunggu berapa lama...?)


(ada yang ingin aku bicarakan denganmu Mal, dan ini penting)


(mau bicara apa mbak...?)


(aku....aku dijodohkan oleh ayah)


deg...


bagai tersambar petir disiang bolong, Akmal membeku di tempatnya. bahkan bibirnya sulit untuk membuka suara, rasanya perasaan sesak menghantam dirinya.


(di... jodohkan...?)


(iya...hari ini mereka akan datang ke rumah)


Akmal menghela nafas panjang, dadanya seakan dihimpit benda berat dan dirinya sulit untuk bernafas.


(lalu mbak mau...?)


(aku...aku nggak bisa menolak keputusan ayah Mal)


(ya Allah... begini amat nasib hambamu ini) Akmal meringis meratapi nasibnya sendiri


(ya sudah, kalau memang menurut pak Danang dia adalah yang terbaik untuk kamu, maka terima saja. orang tua tidak mungkin memilihkan pendamping hidup yang tidak baik untuk anaknya)


(kamu tidak mau berjuang...?)


(aku tanya, apa pekerjaan laki-laki itu...?)


(pengusaha muda di kota Y, keluarganya juga mempunyai rumah sakit besar di kota itu)


(maka semakin tersingkirkan lah aku) batin Akmal


mendengar siapa laki-laki yang akan dijodohkan untuk Nagita, Akmal semakin merasa minder dan tidak percaya diri. apalah dia yang hanya seorang laki-laki juragan bengkel. meskipun bengkelnya itu sudah memiliki cabang di berbagai tempat namun dirinya sama sekali bukanlah saingan laki-laki itu, bisa dikatakan dirinya tidak pantas untuk bersaing.


(selamat ya mbak, terima saja dan tidak usah pikirkan aku. anggap saja kita tidak berjodoh. jika dipikir-pikir, kita memang seperti langit dan bumi yang berjarak begitu jauh)


"Mal ayo, kita harus ke rumah pak Danang" Hasan datang memanggil


(sudah dulu ya mbak, sampai nanti)


(tapi Mal)


Akmal segera mematikan panggilan meskipun Nagita masih ingin bicara dengannya. berkali-kali Akmal menghela nafas, mencoba mengendalikan perasaannya yang kini sedang tidak baik-baik saja.


sebelum ke rumah pak Danang, mereka mencari warung makan untuk mengisi perut. rencananya, mereka hanya sebentar di rumah itu dan setelahnya mereka akan langsung ke kota B. dua orang anak buah Aji Wiguna sudah di suruh lebih dulu untuk ke gunung Gantara. di sana, dua orang itu akan mencari tempat untuk mereka nanti jadikan tempat rumah tinggal mereka.


"Mal, kamu kebelet ya, mukamu kenapa seperti kain yang nggak di setrika gitu" tegur Hasan


bagaimana tidak, Akmal kini tidak setengil biasanya. anak muda itu, hanya diam saja bahkan makanan yang ada di depannya hanya ia mainkan dengan sendok.


"nggak kenapa-kenapa" dengan lesu Akmal menjawab


"kalau nggak kenapa-kenapa, ya dimakanlah itu nasi jangan dianggurin" ucap Alex


"nggak nafsu makan aja aku"


"kamu sakit ya...?" Gara menempelkan telapak tangannya di dahi Akmal "nggak panas"


"kamu kenapa sih Mal...?" tanya Fatahillah namun yang ditanya hanya menggeleng


di warung makan itu, tanpa mereka tau dua mobil berhenti tepat di depannya. orang-orang yang sedang makan lari keluar warung. bagaimana tidak, orang-orang itu membawa senjata tajam masuk ke dalam dan menghancurkan semua isi warung makan.


"keluar kalian semua, kecuali mereka yang ada dipojok sana" salah seorang menunjuk kumpulan Fatahillah


pemilik warung begitu ketakutan dan lebih memilih keluar, tidak ada lagi siapapun di tempat itu selain Fatahillah dan yang lainnya.


"Gara, hari ini adalah hari kematianmu" ucap laki-laki itu. semua orang-orang itu telah bersiap menyerang mereka


Fatahillah hendak berbalik badan namun Gara menahan tubuhnya, hingga kini Fatahillah masih memunggui mereka semua. dengan begitu orang-orang itu tidak akan dapat melihat wajah Fatahillah.


"kalian mencariku...?" dengan santai Gara duduk menyilangkan kakinya


"kamu telah membunuh Gea, maka hari ini nyawamu yang akan kami cabut"


Akmal tertawa sinis mendengar itu "memangnya malaikat Izrail libur dari tugasnya ya sampai kamu yang menggantikannya. aku jadi ragu, jangan sampai malah nyawa kamu yang kami cabut" dengan menopang dagunya, Akmal menatap sinis orang-orang itu


"Gea pantas mendapatkan itu, harusnya tubuhnya aku cincang dan aku kirim kepada ayah. kira-kira bagaimana reaksinya ya melihat wanita itu sudah menjadi daging yang siap untuk dimasak" Gara tersenyum tipis


Akmal, Alex dan Hasan refleks memutar kepala melihat ke arah Gara. mereka bergidik ngeri melihat ekspresi wajah Gara saat itu. sementara Aji Wiguna, hanya duduk santai di depan Fatahillah, kedua tangannya terlipat di depan dada.


saat ini Fatahillah sedang memikirkan cara untuk menutupi wajahnya. bisa bahaya kalau wajahnya terlihat oleh orang-orang itu. ia melihat salah satu meja yang ada di samping kanan mereka, berjarak dua meja dari tempat mereka sekarang, ada sebuah topi di atas meja kemudian ia melihat ada juga sapu tangan di samping topi itu. kini tinggal bergerak ke arah meja itu dan mendapatkan dua benda itu.


"kurang ajar, bunuh mereka semua"


braaaakkk


Gara menendang salah satu kursi sehingga kursi-kursi yang lain ikut terseret dan mengenai beberapa orang membuat mereka terjatuh. Akmal melompat melayangkan tendangan di salah satu kepala orang itu. sementara Alex dan Hasan melemparkan meja ke arah mereka. Aji Wiguna melemparkan garpu ke arah mereka dan tepat mengenai mata salah seorang membuat orang itu berteriak kesakitan.


pertarungan mulai terjadi, Fatahillah mulai bergerak ke arah meja yang dirinya tuju. sayangnya rupanya ada salah seorang yang menarik bajunya hingga Fatahillah terjungkal ke belakang namun saat itu tepat setelah Fatahillah mendapatkan dua benda yang ia mau.


"k-kamu...?" orang itu kaget melihat wajah Fatahillah, ia pun beralih melihat Gara yang sedang melempar salah seorang ke dinding


"k-kalian"


jleb


ughhh


Aji Wiguna datang dan menusukkan pisau di perut orang itu hingga dia tumbang dan mati. Fatahillah segera memakai topi itu dan membungkus wajahnya dengan sapu tangan itu. hanya kedua matanya yang terlihat. dengan begitu orang-orang itu tidak akan dapat melihat wajahnya seperti apa.


"mati kamu sialan"


bugh


bugh


braaaakkk


Akmal yang sudah emosi dari awal, menghajar orang-orang itu habis-habisan. bahkan pertarungan mereka kini telah berpindah tempat di luar warung. sebagian orang-orang yang ada di dekat tempat itu, berlari menjauh karena tidak ingin terkena pukulan dua kubu yang kini saling serang.


"HASAN MENUNDUK" teriak Fatahillah


Hasan berjongkok dan saat itu juga Fatahillah melempar salah satu pisau ke arah seseorang yang hendak menyerang Hasan. tepat mengenai lehernya, orang itu mati di tempat.


Gara fokus mengumpulkan energinya dan menarik semua kursi kayu yang ada di tempat itu. kursi-kursi itu melayang di udara, setelahnya hanya menggunakan gerakan mata, semua kursi itu melayang menghantam orang-orang itu. mereka terjatuh dengan kursi yang menindih tubuh mereka.


"ayo pergi dari sini" teriak Gara


mereka semua berlari ke arah mobil dan meninggalkan tempat itu. bukannya mereka takut hanya saja Gara tidak ingin banyak orang yang menyaksikan mereka membunuh orang-orang itu walaupun sebenarnya mereka sedang membela diri.


"kenapa kita malah lari...? tanya Akmal


"kamu mau kita ditangkap polisi karena melakukan kekacauan...?" ucap Hasan


"tapi kan mereka yang memulai duluan"


"Mal" Fatahillah menegur, alhasil Akmal kini diam dan membuang nafas


Fatahillah melepas topi dan sapu tangan itu. kini mereka akan ke rumah pak Danang untuk berpamitan kembali ke kota B. kejadian tadi membuat mereka harus semakin berhati-hati. sudah jelas nanti selain Gara, mereka juga akan menjadi incaran oleh orang-orang Samsir Sukandar dan Gandha Sukandar.