
Wiratama mengumpat dengan kesal karena kedua mangsanya telah melarikan diri. hanya tinggal dirinya seorang di tempat sepi itu, semua anak buahnya telah tewas di bunuh oleh Fatahillah dan Hasan.
"brengsek, harusnya tadi kau bunuh saja mereka berdua" dengan emosi yang menggebu-gebu Wiratama melangkah meninggalkan tempat itu menuju ke mobilnya yang ia parkir tidak jauh dari tempat pertarungan
ponselnya berdering, melihat nama di layar benda pipih itu membuat Wiratama menghembuskan nafas sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.
(halo bos)
(kamu dimana Wira, kenapa tidak memberi kabar seharian)
(maaf bos, aku tadi sedang memburu Fatahillah namun sayangnya dia berhasil lolos)
(dia lolos lagi...? bagaimana sih kamu, menangkap satu orang saja tidak becus. bukankah ilmu yang kamu punya juga tinggi. setidaknya kamu bisa melumpuhkan dia karena keadaannya yang lemah. kenapa bisa malah dia meloloskan diri)
(sepertinya ada yang membantu mereka bos, tidak mungkin mereka menghilang begitu saja tanpa sepengetahuan saya)
(ya sudah lupakan tentang itu, sekarang tugasmu cari secepatnya dukun sakti yang dapat membantu kita. kalau perlu kamu pergi malam ini)
(di desa keramat...?)
(desa mana saja yang jelas harus dukun yang dapat kita andalkan dan mengalahkan Fatahillah. berapapun yang dia minta maka berikan saja, aku tidak ingin terus-menerus hanya bergantung pada darah gadis perawan)
(baik bos, aku akan melakukannya sekarang)
(jangan kembali sebelum kamu mendapatkan dukun sakti itu)
(baik bos)
Wiratama masuk ke dalam mobilnya kemudian mengganti pakaiannya. menggunakan pakaian serba hitam, topi dan juga masker. tujuannya adalah ke desa keramat karena memang tempatnya ia berada sekarang adalah jalan yang menuju ke desa tersebut. tempat pertarungan mereka tadi adalah sebuah jalan yang menuju ke desa yang juga di tuju oleh Aji Wiguna dan anak buahnya yang bernama Alex.
"aku yakin yang menculik istri pemuda itu adalah Aji Wiguna. licik juga ternyata dia" Wiratama melangkah kembali ke jalan tadi
dirinya berdiri tepat di mana jalan setapak menuju ke desa keramat berada, tempat pertarungan mereka tadi. ada sebuah mobil di jalan itu, bukan miliknya namun sudah pasti milik seseorang yang sekarang telah berada di desa itu.
jika manusia yang tidak mempunyai keberanian dan ilmu tenaga dalam yang kuat, sudah pasti ia tidak akan berani berdiri di gelapnya malam di sebuah hutan yang begitu jauh dari keramaian. Wiratama mulai mengayunkan langkah menembus gelapnya malam untuk menuju ke desa keramat.
seperti yang dialami oleh Aji Wiguna dan Alex, Wiratama merasakan lelah yang luar biasa saat mendaki tanjakan yang begitu tinggi. bahkan di tanjakan kedua, ia memutuskan untuk beristirahat berbaring di pinggir jalan karena kakinya yang sudah tidak sanggup untuk melangkah. keringat membasahi bajunya, angin malam saat itu membuat dirinya merasakan segarnya di tiup oleh angin alami.
di saat seperti itu, rasa kantuk mulai menghampiri. beberapa kali ia menguap dan mencoba menguasai diri agar tidak terbawa suasana yang begitu nyaman baginya setelah sekian jam melakukan perjalanan yang melelahkan.
ia kembali bangkit untuk melakukan perjalanan namun langkahnya terhenti karena telinganya mendengar suara dua yang sedang berbicara. Wiratama melesat bersembunyi di semak-semak agar tidak di lihat oleh orang-orang itu.
"wanita tadi sepertinya begitu cantik. biasanya kan wanita yang seperti itu memang sengaja menyembunyikan kecantikannya dan hanya akan ia perlihatkan untuk suaminya kelak"
"belum tentu juga, siapa tau karena memang dia jelek makanya ia menyembunyikan wajahnya di balik kain itu"
"ah nggak mungkinlah, aku yakin kalau wanita itu cantik. aku yakin guru pasti akan terpesona padanya jika melihat wajahnya nanti"
"terserahlah aku tidak peduli. sekarang sebaiknya kita secepatnya mencari pemuda itu dan menghabisinya. dia pasti tidak akan bisa berkutik karena istri dan adiknya ada bersama kita"
"kenapa hanya kita saja yang di suruh oleh guru, harusnya laki-laki yang datang bersama dengan mas Aji tadi juga ikut bersama kita. dia juga kan sakti"
"itu mungkin karena ilmu kita masih jauh di atasnya. aku penasaran sesakti apa pemuda itu sampai mas Aji datang meminta tolong kepada guru untuk membunuhnya"
"kamu kan tau setelah terkena racun beberapa tahun lalu, mas Aji Wiguna tidak sesakti dulu. maka dari itu dia kembali lagi untuk meminta guru mengobati dirinya dan memulihkan kembali tenaganya. namun hanya dengan mustika itu mas Aji bisa sepenuhnya pulih kembali"
"sihir racun maksudmu...?
"iya. hanya membaca mantra maka racun itu akan menyatu dengan angin dan siapapun yang terkena dengan racun itu sudah pasti pemulihannya akan sangat lama. kalau memiliki mustika merah, tentu saja secepat itu untuk sembuh kembali"
kedua orang itu semakin dengan Wiratama dan setelahnya mereka melewati laki-laki itu.
(sihir racun yang menyatu dengan angin) batin Wiratama
"tapi bukankah mas Aji menguasai ilmu itu bahkan tidak menutup kemungkinan ia ajarkan itu kepada Alex untuk menghabisi musuh-musuh mereka"
" bisa jadi memang seperti itu. namun untuk menyerang menggunakan sihir itu harus lebih dari satu orang. minimal tiga orang karena mereka harus membuat formasi untuk membentuk lingkaran dan menyerang. jika tidak maka sihir itu tidak berguna. lagi pula dia memang menguasai ilmu itu tapi pengobatannya dia tidak tau. guru Ki Demang mungkin bisa menyembuhkannya namun sudah pasti membutuhkan kekuatan yang besar."
orang-orang itu semakin jauh dari Wiratama. setelahnya laki-laki keluar dari tempat persembunyiannya dan menatap kedua orang itu yang mulai menghilang di kegelapan malam.
"rupanya Aji Wiguna terkena sihir beracun, berarti yang mengenai Fatahillah waktu itu adalah sihir beracun tersebut" gumam Wiratama
tidak ingin semakin berlama-lama di tempatnya, Wiratama meninggalkan tempat itu kembali melakukan perjalanan untuk menuju ke desa keramat.
tepat setelah berhasil berada di puncak tanjakan ketiga, Wiratama dapat melihat di bawah sana lampu-lampu rumah para warga yang menyala menerangi perkampungan. ia pun segera melanjutkan langkahnya agar bisa secepatnya sampai di desa itu.
dalam kegelapan malam Wiratama dapat dengan Leluasa untuk berjalan di tengah-tengah perkampungan karena tentunya tidak ada yang akan melihatnya. semakin dirinya masuk ke pedesaan itu dan semakin dekat rumah yang menjadi tujuannya. rumah dengan dinding papan yang seadanya, terletak di ujung kampung dimana di kelilingi oleh pohon-pohon bambu di sekitarnya. bagai rumah angker yang ada di film horor, jikalau manusia biasa sudah pasti ia akan merinding ketakutan. di halaman depan rumah hanya di terangi dari lampu balon yang berwarna kuning, khas seperti lampu zaman dulu.
berjarak dari beberapa meter di depan pintu rumah, tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan melesat dua buah pisau tajam ke arahnya. Wiratama menghindari keduanya dengan cara kayang sehingga dua pisau itu tertancap di pohon bambu.
Wiratama melihat sekeliling mencari pemilik suara namu matanya tidak menangkap seorang pun.
"apa kamu bisu...?"
"maaf saya datang mengganggu Ki, saya hanya ingin bertamu dan meminta bantuan"
"kalau begitu masuklah"
Wiratama mengayunkan langkah mendekati pintu rumah kemudian masuk ke dalam. setelah ia masuk, pintu rumah tertutup kembali. kini ia telah berada di sebuah rumah dukun yang ia cari.
***
dua orang tergelatak di sebuah ruang tengah yang hanya beralaskan tikar dari daun kelapa yang dianyam. keduanya sama-sama tidak sadarkan diri.
"akan kita apakan mereka bos...?" tanya Alex kepada Aji Wiguna
"tentu saja menjadikan mereka sandera. dengan mengancam nyawa keduanya, pemuda yang bernama Fatahillah itu pasti akan menyerahkan mustika merah itu" dengan senyuman tipis Aji Wiguna melihat ke arah dua orang itu
keduanya adalah Zelina dan Arjuna, mereka di culik oleh murid Ki Demang dan saat ini keduanya tengah berada di rumah laki-laki itu.
pintu rumah terbuka dan berderit sehingga baik Alex maupun Aji Wiguna sama-sama menoleh ke arah sumber suara. laki-laki yang berpakaian hitam dan ikat kepala hitam menghampiri mereka berdua.
"bawa keduanya ke dalam kamar. jangan lupa ikat mereka agar tidak dapat meloloskan diri" perintah Ki Demang kepada Alex
"baik guru" Alex patuh kepada Ki Demang
"Aji"
"saya guru"
"ikut aku"
Ki Demang dan Aji Wiguna meninggalkan ruang tengah, mereka melangkah ke arah dapur dan setelahnya Ki Demang membuka pintu belakang. mereka berdua keluar dari rumah tersebut sementara Alex kini sedang memindahkan kedua sandera mereka ke dalam kamar.
"ada apa guru...?" tanya Aji Wiguna karena ia bingung kenapa mereka berdua keluar
"jika menunggu kamu mendapatkan mustika merah, maka semakin lama tubuhmu akan semakin lemah, racun itu bisa melumpuhkan semua organ syarafmu. perlahan-lahan anggota tubuhmu satu persatu akan lumpuh"
penjelasan dari Ki Demang membuat wajah Aji Wiguna menegang, degub jantungnya begitu cepat membayangkan dirinya dalam keadaan lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. hal itu akan membuat dirinya seakan enggan hidup mati tak mau.
"masih ada mustika putih guru, bagaimana kalau kita merebut mustika putih. Umar tidak memiliki kesaktian seperti yang dimiliki oleh Fatahillah. kita bisa membunuhnya dengan mudah dan merebut mustika itu darinya"
"bukannya kamu bilang kalau Umar tidak tau menahu tentang mustika itu...?
"memang, tapi aku yakin itu semua bohong. mana mungkin pak Kusuma tidak memberitahu anaknya tentang mustika itu, siapa lagi yang akan ia percayakan untuk menjaga mustika itu kalau bukan keturunannya"
Ki Demang menghela nafas. ia yang sedang berdiri membelakangi Aji Wiguna mulai berbalik dan menghadap ke arah laki-laki itu.
"dua mustika itu diciptakan sepasang. akan sempurna mustika putih jika mustika merah ada bersamanya begitu juga sebaliknya. pemuda yang bernama Fatahillah itu tidak bisa menggunakan kekuatan mustika merah karena dirinya tidak memiliki mustika putih. penyatuan dua energi antara dirinya dan mustika merah tanpa mustika putih itu sangat membahayakan dirinya. dia bisa celaka dan bahkan tewas jika memaksakan diri. tapi jika dirinya tetap nekad melakukan penyatuan energi tanpa mustika putih dan hal itu berhasil, berarti dia memang adalah pemuda yang begitu kuat dan akan semakin kuat jika mustika merah telah menyatu dengan dirinya"
"tapi Alex serta anak buah ku yang lain telah melukainya menggunakan sihir racun. aku yakin dirinya tidak akan bisa melakukan penyatuan energi karena tubuhnya yang masih lemah dan terluka"
Aji Wiguna berpikir bahwa Fatahillah terluka parah sama seperti dirinya dan akan sulit bagi Fatahillah untuk pulih kembali.
"bukankah kamu bilang dia tinggal di pesantren Abdullah dan di sana ada kiayi Zulkarnain"
"iya guru"
"sebelum racun itu menyebar ke dalam tubuhnya, sudah pasti Zulkarnain telah mengeluarkan semua racun itu. yang membuat Fatahillah masih lemah adalah efek keras dari sihir racun itu. kamu pikir Zulkarnain akan membiarkan racun itu menyebar ke dalam tubuh pemuda itu. kasusnya beda dengan mu Aji. racun itu telah menyebar masuk ke sel darah mu dan menyatu dengan tubuhmu. itulah yang aku katakan tadi semakin lama tubuhmu akan semakin lemah bahkan mengalami kelumpuhan"
"lalu apa yang harus aku lakukan guru, aku tidak mau lumpuh. aku harus membalas dendam kepada orang yang telah membuatku seperti ini"
Aji Wiguna mulai panik, dirinya tidak bisa membayangkan sesuatu yang tidak pernah ada dipikirannya selama ini, kata lumpuh...akan menyerang tubuhnya.
"tenanglah, aku tetap akan mengobatimu meskipun membutuhkan kekuatan besar. semoga dua murid ku bisa menemukan pemuda itu dan merebut mustika merah"
"kita harus segera mendapatkan kedua mustika itu guru, aku tidak mau Regina lebih dulu mendapatkan mustika itu"
"kita lawan mereka, kamu tidak perlu cemas. sekarang kita ke tempat pelatihan. aku harus mengeluarkan sedikit demi sedikit racun itu di dalam tubuhmu"
"kenapa tidak semuanya saja guru"
"bukankah aku sudah mengatakan harus membutuhkan kekuatan besar. terlebih lagi, kamu harus bertapa di dalam air sungai selama tiga hari. sekarang ikut aku"
Ki Demang berjalan terlebih dahulu sementara Aji Wiguna mengikuti gurunya itu. apapun akan ia lakukan, mengikuti semua perintah sang guru asal dirinya sembuh dari sihir racun itu.