Fatahillah

Fatahillah
Bab 118



lepas magrib Alex dan Akmal mencari toko pakaian untuk bergantian sebab setelah sholat isya nanti keduanya akan ke wilayah D untuk menjemput barang Gandha Sukandar yang ada di perairan Gantara. awalnya Akmal hanya akan mengawasi Alex dari jauh, namun kemudian rencana mereka diubah. Alex merekomendasikan Akmal untuk menemaninya dalam pekerjaannya.


"tapi bos Gandha hanya meminta satu orang sebagai pengganti Victor dan kamu Alex yang terpilih. kami tidak membutuhkan orang lagi" ucap Baron kala itu


"lihat dulu kemampuanku sebelum memutuskan mas. aku tidak kalah jago dari mas Alex. asal mas tau ya, aku sama mas Alex itu seperti pedang dan sarungnya, tidak dapat dipisahkan. atau ibarat lain seperti pena dan tintanya, tidak akan berfungsi kalau kami berdua tidak bersatu, begitu kata guru kami" celetuk Akmal panjang kali lebar


"guru...? kalian mempunyai guru...?" alis Baron terangkat, Amran hanya memainkan gelas minumannya di samping Baron


Akmal melihat ke arah Alex untuk membantunya berbicara, dirinya telah salah bicara sehingga ia pun harus menjelaskan perihal guru yang ia sebut tadi.


"guru yang mengajari kami ilmu beladiri maksudnya" Alex membuka suara


"nah iya, itu maksud aku" Akmal tersenyum lebar


Baron memindai Akmal dari ujung kaki sampai ujung kepala. ia merasa Akmal masih begitu muda untuk bekerja dengan mereka. Baron meragukan kemampuan Akmal.


"kenapa melihatku seperti itu, seperti ingin memakanku saja" Akmal memeluk dirinya dan menggeser tubuhnya semakin dekat dengan Alex


"apa keahlianmu...?" tanya Baron


"jago beladiri tentunya dan juga bisa angkat yang berat-berat"


"kamu tau cara menggunakan pistol...?"


"seperti ini maksudnya" Akmal secepat kilat mengambil pistol yang ada di atas meja dan mengarahkan benda itu kepada Baron dan Amran. keduanya langsung mengangkat tangan tatkala Akmal menatap mereka dengan lekat


"hei hei...kamu kamu membunuh kami" Amran kaget bukan main


"lah gimana sih, kan tadi mas Baron nanya apakah aku bisa menggunakan pistol. ya aku jawab dengan gerakan lah, bagaimana aksiku tadi, sudah seperti di film Hollywood kan" Akmal kembali menyimpan pistol itu, Baron dan Amran bernafas lega, wajah keduanya tadi begitu tegang


Alex yang merasa lucu dengan ekspresi keduanya, memalingkan wajah sebab tidak bisa menahan tawa. ia menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara yang dapat membuat Baron dan Amran naik pitam.


"kalau begitu sekarang kamu lawan dia" Baron menunjuk Amran dengan dagunya


"siapa takut" Akmal merenggangkan ototnya


baru saja Amran bersiap, Akmal sudah lebih dulu merampas pistol Baron yang tadi ia ambil di atas meja dan mengarahkan benda itu tepat di depan Amran. terkejut tentu saja begitu juga dengan Baron. tidak di sangka Akmal bergerak lebih cepat dari yang mereka pikirkan.


"melawan musuh ya jangan lelet mas, kita harus bisa tangkas dan bergerak lincah kalau nggak ya kita metong" Akmal menempelkan pistol itu di kepala Amran


"oke, aku kalah" ucap Amran


Akmal tersenyum lebar dan kembali duduk di tempatnya. Baron tercengang, ternyata dua orang di depannya itu bukanlah orang yang harus di remehkan.


"ya sudah, aku hubungi bos dulu" Baron mengambil ponselnya di atas meja dan meninggalkan mereka


ternyata keberuntungan berpihak kepada mereka, Gandha Sukandar menyetujui jikalau Alex dan Akmal berdua yang akan menjemput barangnya di wilayah D. dan di sinilah mereka saat ini, memilih pakaian yang cocok untuk berganti pakaian.


jaket kulit dan baju kaos, celana jeans dan sepatu serta masing-masing memakai topi, menempel di tubuh keduanya. setelah sholat isya, mereka meluncur ke wilayah D.


diperjalanan, Akmal memilih menghubungi pujaan hatinya. tadi pagi Nagita membalas pesan yang ia kirimkan namun karena sedang sibuk mengurus dua wanita yang hendak memangsa mereka di dalam kamar hotel, Akmal jadi lupa membalas pesan wanita itu.


sekian detik menunggu, suara yang ia rindukan terdengar di sebrang sana.


[assalamualaikum mbak cantikku]


[wa alaikumsalam, kenapa lama sekali kamu menghubungiku Mal. kamu baik-baik saja kan...?]


Akmal senyum-senyum sendiri mendapatkan perhatian dari wanita itu. dari suaranya saja Akmal dapat menduga kalau Nagita khawatir kepadanya.


"nggak usah cengar-cengir, kita nggak sedang iklan senyum Pepsodent" Alex menegur


"idih, bilang aja iri nggak ada yang nelpon kamu. bleeeek" Akmal menjulurkan lidah sedang Alex hanya geleng kepala


[Mal, kamu dengar aku kan...?]


[iya mbak, aku dengar kok. aku sedang menetralkan jantungku yang dag dig dug karena mendengar suara mu]


[gombal] Nagita tertawa pelan


[mbak...aku rindu]


[aku juga]


[aish...pengen pulang terus bungkus mbak bawa pulang ke rumah]


[kamu pikir aku makanan]


[kan memang nanti mbak akan menjadi makananku, khusus untuk aku dan nggak boleh dimakan oleh orang lain]


[makanya itu cepat selesaikan urusanmu dan pulang agar bisa memakan aku]


[mbak ikhlas aku makan]


[ikhlas lahir batin, tapi minta restu dulu sama ayah dan ibu]


[tentu saja, doakan aku bisa secepatnya meminta mbak kepada paman Danang dan ibu Nining]


[iya]


"Nagita, ayo" suara seseorang memanggil wanita itu


[Mal, udah dulu ya. kamu baik-baik di situ ya, jaga hati dan jaga mata. Miss you]


[Miss you too my dokter cantik]


"pak Danang belum tau soal hubungan kalian...?" Alex melirik sekilas ke arah Akmal


"belum. aku kok jadi minder ya mas" Akmal menyimpan ponselnya di kantung celananya


"minder kenapa...?"


"mbak Gita seorang dokter sedang aku, aku hanya laki-laki biasa. pekerjaan pun hanya bos bengkel. apa mereka mau ya aku mempersunting mbak Gita"


"kamu belum juga mencoba sudah pesimis aja. kalau aku lihat keluarga mereka baik-baik, insya Allah mereka akan menerima kamu"


"kalau nggak bagaimana...?"


"yaaa kalau itu aku juga nggak tau, bagaimana pintarnya kamu aja, mengambil hati dan meyakinkan mereka kalau kamu serius dengan dokter Nagita"


Akmal menghela nafas, ia menurunkan kaca mobil dan membiarkan angin menerpa wajahnya yang tampan.


"kalau mas Alex, punya pacar nggak sih...?"


"kepo"


"ck, tinggal jawab juga apa susahnya coba. apa jangan-jangan mas Alex nggak suka perempuan ya, jangan-jangan mas ini...." Akmal menatap curiga


"aku kenapa, itu otak nggak usah mikir yang macam-macam deh. masih nggak ada yang cocok buat aku, aku masih nyaman sendiri seperti ini"


"idih...jadi bujang lapuk nanti mas"


"nggak masalah asal aku nggak merugikan orang lain" Alex terlihat santai


"mas sukanya wanita dewasa atau yang lebih muda"


"kamu ini seperti detektif saja, banyak tanya. pakar cinta juga bukan"


"ck, gitu aja marah. aku sumpahin mas dapat jodoh yang lebih muda dan manjanya luar biasa"


"idih..emang kamu Tuhan"


"bukan, aku hamba Allah...puas"


Alex hanya tertawa pelan sebab berhasil membuat Akmal kesal karena jawabannya.


tidak terasa mereka telah sampai di wilayah D, sebelum ke pelabuhan keduanya mencari tempat untuk mengisi perut yang sudah terus berbunyi meminta makan. di pinggir jalan, mobil itu berhenti. pedagang nasi goreng menjadi tempat bagi keduanya untuk mengobati lapar yang kian melanda kampung tengah.


"pak, dua porsi nasi goreng ya" teriak Akmal saat keduanya duduk di kursi panjang dan meja panjang di depannya


"siap mas" laki-laki baya itu mengangkat jempol kanannya


beratapkan terpal warna biru dan berdindingkan kain saja, mereka memilih tempat itu sebagai tempat untuk makan malam. banyak juga yang makan di tempat itu, terlihat dari beberapa kursi yang sudah penuh.


"nggak hubungi mas Hasan dan mas Aji, mereka dimana sekarang"


"ini aku sedang menghubungi mereka"


beberapa kali Alex menekan nomor Hasan dan Aji Wiguna, namun keduanya sama-sama tidak mengangkat telepon darinya.


"kenapa mas, nggak diangkat ya...?"


"mungkin mereka sedang sibuk. nanti saja kita menghubungi mereka"


dua porsi nasi goreng kini telah berada di depan mereka. tanpa menunggu lama keduanya melahap makanan itu sampai tandas tidak tersisa. es teh menjadi minuman pelepas dahaga keduanya.


Alex membayar makanan itu dan kemudian mereka kembali masuk ke dalam mobil. baru hendak menyalakan mesin, ponsel Alex bergetar, sebuah nomor baru masuk ke dalam ponsel laki-laki itu.


"kok nggak diangkat mas" Akmal melihat ponsel Alex yang terus bergetar


"nomor baru" Alex memperhatikan dengan seksama nomor yang menghubunginya itu


"angkat saja, mana tau itu dari mas Fatah, mas Hasan atau mas Aji"


mesin mobil dimatikan, Alex menggeser tombol hijau hingga panggilan itu terhubung.


[halo]


[Alex Prayoga, benar itu namamu bukan...?]


[ini siapa...?]


[Gandha Sukandar]


seketika Alex membulatkan mata dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Gandha Sukandar" bisik Alex kepada Akmal


Alex mengangguk kemudian menekan tombol speaker agar Akmal dapat mendengar suara laki-laki itu.


[maaf bos, saya belum menyimpan nomor bos]


[tidak masalah. sekarang kamu dimana...?]


[saya sudah berada di wilayah D bos]


[sendirian...?]


[tidak, saya bersama Akmal]


[masih tersisa beberapa jam lagi untuk penjemputan barang. saya mempunyai tugas lain untuk kalian berdua]


[kami siap menerima tugas]


[bagus. sekarang kalian berdua ke bar yang ada di jalan Kuningan, cari seseorang yang bernama Gatot. dia belum membayar barang yang telah dia ambil. itu menjadi urusan kalian, bagaimana agar dia bisa membayar barangku yang telah dia ambil]


[total pembayarannya berapa bos...?]


[200 juta, ambil uangnya dan bawakan padaku nanti bersama dengan barang yang akan kalian jemput. jika dia tidak mau membayar maka bunuh saja]


[baik bos]


[Victor tidak pernah gagal dalam menjalankan tugasnya]


Gandha Sukandar seakan memberitahu kalau dirinya tidak suka dengan kegagalan.


[kami tidak akan mengecewakan bos]


[bagus]


tanpa membuang waktu, Alex segera meluncur ke tempat tujuan di jalan Kuningan, bar yang di maksud oleh Gandha Sukandar. di depan bar itu keduanya turun dari mobil dan masuk ke dalam.


"bagaimana kita bisa mencari nama yang bernama Gatot itu, wajahnya saja kita nggak tau" Akmal berkata keras sambil menggaruk hidungnya yang gatal


di dalam, baik laki-laki maupun perempuan sedang menikmati alunan musik yang begitu keras hampir memecahkan gendang telinga. aroma minuman alkohol masuk ke lubang hidung keduanya.


"pasti sengaja Gandha Sukandar tidak memberitahu bagaimana ciri-ciri orang itu. dia ingin melihat sejauh mana kemampuan kita bergerak tanpa mengenal target. mungkin hal ini sering dilakukan oleh Victor. sekarang tinggal bertanya saja kepada orang-orang di dalam ini" Alex memindai setiap orang yang ada di depannya


pakaian seksi yang para wanita kenakan, seperti pakaian kurang bahan. itu yang ada dalam otak Akmal bin Rahmat itu.


keduanya melangkah ke tempat pelayan yang sedang membuatkan minuman untuk yang memesan. salah seorang gadis cantik menjadi tempat Alex untuk bertanya sementara Akmal menunggu di tempat duduknya.


"mbak, boleh saya bertanya sesuatu...?" tanya Alex


gadis cantik yang masih begitu muda, melihat Alex dan memindai wajahnya. kemudian ia tersenyum dan mengangguk.


"mau menanyakan hal apa kak...?" jawabnya dengan senyuman


"mbak tau orang yang bernama Gatot...?"


"pak Gatot maksudnya...?" kening gadis itu mengkerut


"iya, pak Gatot"


"ada urusan apa sama pak Gatot kak. sebaiknya jangan temui dia deh, aku takut kakak kenapa-kenapa nanti" gadis itu terlihat khawatir


"aku punya urusan dengannya. bisa tolong tunjukkan padaku dimana orangnya"


gadis itu terlihat ragu untuk memenuhi permintaan Alex. dia yang sedang membuat minuman meminta Alex untuk menunggu sebentar karena ia harus membawakan minuman ke meja yang ada di pojok sebelah kanan. setelah itu gadis itu kembali lagi.


"kamu kerja di sini, apa nggak takut...?" Akmal yang hanya melihat aktivitas gadis itu, akhirnya bertanya juga


"aku sebenarnya nggak kerja di sini kak. aku datang menemui seseorang namun karena teman aku sedang mengurus....emm pak Gatot itu, jadi aku menggantikan dia"


"mengurus bagaimana maksudnya...?" tanya Alex


"menemani minum begitu kak. aku takut kalau kakak berdua akan diapa-apain sama pak Gatot"


"tenang saja, kami akan berhati-hati. katakan saja dimana dia"


"dia...."


"Jen" seseorang datang dan mendekati gadis itu "pergi dari sini Jen, pak Gatot tau kalau kamu adiknya kak Samuel" gadis itu terlihat panik


"loh memangnya kenapa kalau dia tau" Jeni, gadis itu memasang wajah bingung


"dia punya dendam sama kak Samuel dan kak Gara. buruan pergi sebelum anak buahnya datang"


"lalu kamu bagaimana Sya...? kita pergi sama-sama saja ayo" Jeni menarik tangan Tasya


terlambat sudah, anak buah Gatot telah mendatangi mereka dan menarik paksa Jeni dan Tasya untuk ikut bersama mereka. Akmal dan Alex tentu saja tidak tinggal diam. Akmal menahan tangan laki-laki yang menarik tangan Tasya sementara Alex menarik Jeni dan membawanya berlindung di belakangnya.


"hei, kami tidak punya urusan dengan kalian. jadi sebaiknya minggir sana"


"kami juga tidak mempunyai urusan dengan kalian, kami mempunyai urusan dengan bos kalian" Alex menjawab dingin


"serahkan dulu gadis-gadis itu baru bisa bertemu dengan bos kami"


"kalau kami nggak mau...?" Akmal menarik Tasya dengan paksa, hampir saja gadis itu jatuh tersungkur kalau saja Akmal tidak menahannya "maaf, kamu nggak apa-apa...?"


"tidak" Tasya menggeleng dan bersembunyi di belakang Akmal


"kurang ajar, cari mati ya kalian berdua"


"kak" Jeni semakin ketakutan di belakang Alex, lengan Alex ia cengkram dengan begitu kuat


"mati mah nggak usah di cari mas. kalau sudah tiba waktunya, malaikat maut pasti datang menjemput kamu" Akmal menjawab santai


"sialan, hajar mereka"


braaaakkk


Alex melayangkan tendangan kepada salah satunya hingga orang itu terpental dan menabrak meja.


suara teriakan para pengunjung dan juga pertarungan yang tiba-tiba membuat semua orang panik dan melarikan diri keluar dari tempat itu. Jeni bersembunyi di bawah meja sementara Tasya, gadis itu di suruh Akmal untuk ikut keluar bersama yang lain. karena begitu panik, Tasya melupakan Jeni yang meringkuk di bawah meja.


"kak Sam" gadis itu berkaca-kaca memanggil kakaknya


kursi dan meja melayang ke sembarang arah. anak buah Gatot kalah telak dengan dua orang yang menjadi lawan mereka. Alex menginjak kepala salah satu anak buah Gatot dan menyuruh laki-laki itu untuk meminta bosnya datang.


"panggil bos mu atau ku tembak kepalamu" ancam Alex


"hei, berani macam-macam saya ledakkan kepala gadis ini" seseorang meneriaki mereka


Alex memutar kepala begitu juga Akmal. Jeni tertangkap dan kini telah menjadi sandera. gadis itu nampak berkaca-kaca menahan tangis. satu pistol menempel di bagian belakang kepalanya.


"sial" umpat Alex dengan begitu kesal


Alex dan Akmal saling pandang, mereka harus berhati-hati agar tidak membuat Jeni dalam keadaan celaka.


"kamu bisa Mal...?" tanya Alex dengan ambigu namun Akmal mengerti dari pertanyaan itu


Akmal memindai laki-laki yang sedang menodongkan pistol di kepala Jeni. ia kemudian tersenyum menemukan satu titik yang dapat membuat dirinya melumpuhkan orang itu.


"tentu saja bisa mas. lihat ini"


dor


"aaaggghh"


satu tembakan mendarat di paha laki-laki itu, Jeni terlepas darinya. tubuh Jeni luruh di lantai dan gemetar.


"apa kamu tidak mau memanggil bos kalian"


"kamu tidak akan bisa menemukan bos sebab di sudah pergi sejak tadi"


"brengsek"


bugh


Alex menghajar orang itu hingga pingsan. Akmal berlari ke arah pintu belakang, sebuah mobil meluncur meninggalkan tempat itu.


"sialan"


Akmal kembali ke depan dan meminta Alex untuk mengejar mobil tadi. keduanya hendak pergi namun teringat dengan Jeni, Alex menghampiri gadis itu untuk membawanya keluar.


"aku nggak bisa jalan, kakiku nggak bertenaga" Jeni terus memukul kakinya


tanpa bicara, Alex menggendong gadis itu dan membawanya keluar. Akmal membuka pintu kabin tengah kemudian Alex memasukkan Jeni kedalam, setelahnya keduanya masuk di kabin depan.


"apa dia harus ikut bersama kita...?" tanya Akmal memutar kepala melihat Jeni yang masih gemetar takut


"tidak ada pilihan lain. katakan dimana arahnya mobil itu pergi"


"sebaiknya mas tenangkan dia saja, biar aku yang menyetir. aku melihat dia begitu ketakutan"


Alex memutar kepala untuk melihat Jeni, gadis itu terus memanggil nama kakaknya dengan linangan air mata. karena merasa kasihan, Alex keluar dari mobil dan kembali masuk di kabin tengah. Akmal mengambil alih kemudi.


"tenanglah, kamu aman sekarang" Alex menenangkan Jeni dengan mengelus lembut punggung gadis itu


siapa sangka gadis itu malah memeluk Alex seketika, membuat Alex terkejut namun tidak bisa menolak sebab gadis itu sedang ketakutan sekarang.


"jangan pergi kak, jangan tinggalkan aku" Jeni memegang erat jaket milik Alex


"tidak, aku tidak akan meninggalkan mu" Alex terus mengelus punggung Jeni


"jalan Mal, kejar mobil itu"


"baik"


Akmal menyalakan mobil dan bergerak menjauh dari kerumunan orang-orang yang masih berada di depan bar. mobil itu melaju kencang menyusul mobil hitam yang ia lihat tadi. bagaimanapun, mereka harus menangkap laki-laki itu sebelum waktu mereka habis.