
Fatahillah ingin mencoba mengobati Gara, entah dirinya bisa atau tidak karena jika dilihat-lihat sakit yang dialami pemuda itu adalah sakit yang sulit untuk ia tangani. namun dirinya tidak akan tau kalau ia tidak melakukannya.
"kalian bisa keluar" Fatahillah melihat semua orang
"nggak mau, aku nggak mau keluar. bagaimana nanti kalau dia menyerang mas Fatah seperti tadi" Akmal menggeleng
"aku akan baik-baik saja, keluarlah karena aku butuh konsentrasi penuh untuk mengobati dia" Fatahillah mengarahkan pandangan ke arah Gara yang sedang terbaring di ranjang, Gangan tetap setia menemani tuanya
"tapi mas"
"baiklah, kami akan keluar" Aji Wiguna menarik Akmal agar keluar dari kamar itu. Hasan menepuk pelan bahu Fatahillah kemudian dirinya keluar bersama Alex
setelah semua orang keluar dari kamar itu, Fatahillah mengunci pintu kamar agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam.
"Langon"
GRAAARR
harimau putih yang dipanggil oleh Fatahillah, datang dan seperti biasa akan bermanja di kaki Fatahillah kemudian mengelilingi tuannya itu.
"Langon, ajak dia pergi bersamamu ya" Fatahillah menunjuk Gangan
GRAAARR
Gangan yang tau ingin dipisahkan dengan Gara, ia langsung menggeleng cepat dan refleks memeluk erat tubuh Gara yang saat ini masih terus kesakitan. harimau itu terus mengguncang tubuh Gara bermaksud agar tuannya bangun namun Gara sama sekali tidak membuka mata, hanya suara rintihan dan teriakan sakit yang keluar dari mulutnya.
Fatahilah yang sedang berjongkok di depan Langon, segera berdiri dan mendekat ke arah ranjang.
"saya akan berusaha mengobati dia, maka dari itu kamu harus keluar sebentar agar saya bisa berkonsentrasi"
GRAAARR
GRAAARR
Gangan terus menggelengkan kepala, seperti manusia yang mempunyai perasaan harimau itu kini bahkan menetaskan air mata. dirinya bahkan menatap Fatahillah dengan garang dan tetap memeluk Gara dengan erat.
Fatahillah menghela nafas, memang akan sulit untuk memisahkan mereka, sama seperti dirinya dan Langon. jika ia terluka maka harimau putih itu akan tetap setia bersamanya dan enggan untuk pergi walaupun guru Halim mengusirnya. namun untuk saat ini dirinya tidak punya pilihan lain, ia harus memisahkan Gangan dan Gara.
Langon mendekat dan naik ke atas ranjang, ia kini merebahkan tubuh besarnya di samping Gangan yang sama sekali tidak ingin dipisahkan dengan tuannya.
"kamu ingin dia sembuh atau terus kesakitan seperti itu...?"
mendapatkan pertanyaan seperti itu, Gangan berhenti mengaum dan menggeleng kepala.
"jika kamu ingin dia sembuh maka patuhi perintahku. saya menang bukan tuanmu namun untuk saat ini kamu harus mendengarkan apa yang saya katakan. saya akan berusaha mengobati dia, tapi kamu harus keluar dari sini"
GRAAARR
Gangan yang begitu berat hati meninggalkan Gara, pada akhirnya luluh juga. harimau itu menatap sendu ke arah Gara kemudian melihat Fatahillah, seakan meminta kalau Fatahillah harus bisa menyembuhkan tuannya dan tentu saja Fatahillah mengerti tatapan dari harimau itu.
"saya akan berusaha, sekarang ikutlah bersamanya ya" Fatahillah menunjuk Langon dengan kedua matanya
Langon melompat ke bawah dan berjalan menjauh, kemudian ia berbalik kembali melihat Gangan. ia sedang mengajak harimau itu untuk pergi bersamanya.
GRAAARR
Gangan lagi-lagi mengalihkan pandangan ke arah Fatahillah.
"iya, semuanya akan baik-baik saja" Fatahillah yang merasa iba mendekat dan mengelus kepala Gangan bahkan ia memeluknya. ia tau apa yang dirasakan oleh harimau itu "sekarang ikut dia ya, tenang saja dia tidak akan berbuat jahat padamu" Fatahillah kembali menyuruh Gangan untuk ikut bersama Langon
dengan berat hati Gangan turun dari ranjang dan mendekati Langon. namun kemudian ia berbalik lagi karena begitu enggan untuk meninggalkan kamar itu. Gangan yang juga belum melangkah pada akhirnya Langon berjalan ke arah depannya kemudian mendorong tubuh harimau itu menggunakan kepalanya. Gangan kembali menatap Fatahillah, melihat tatapan sendu harimau itu Fatahillah semakin merasa iba. dia salut dengan kesetiaan Gangan dan dirinya mengangguk sebab itulah yang diinginkan oleh Gangan, meminta dirinya untuk mengobati Gara.
GRAAARR
Langon yang sudah berjalan lagi lebih dulu memanggil Gangan, keduanya kemudian melangkah dan akhirnya menghilang.
Fatahillah segera naik ke tempat tidur dan duduk di samping Gara. pemuda itu terus saja merintih sakit, wajahnya begitu pucat dan tubuhnya begitu panas.
"baiklah...kamu pasti bisa Fatah, insya Allah"
meskipun sebenarnya ragu namun Fatahillah harus mencoba. dia pernah mengobati Aji Wiguna menggunakan energi kedua mustika miliknya dan ia akan lakukan itu kepada Gara.
Fatahillah melepas tasbihnya dan mengalungkan di leher Gara. beberapa kali dirinya menarik nafas lalu membuangnya lagi. ia tau untuk mengobati saudaranya itu pasti perlu membutuhkan energi yang begitu kuat dan bahkan tenaganya akan terkuras dan dirinya siap melakukan itu.
Fatahillah menaruh telapak tangan kanannya di dada Gara, energi mustika putih mengelilingi tubuhnya agar dirinya tidak kepanasan saat menyentuh tubuh Gara. ia menutup mata kemudian membaca mantra, pengobatan itu kini dimulainya.
sementara di luar kamar, mereka menunggu Fatahillah di ruang tengah. di luar rumah hujan kembali turun, tidak sederas tadi namun semakin membuat tubuh merasakan kedinginan.
"dingin sekali, apa tidak ada selimut di sini" ucap Akmal
"selimut ya di dalam kamar Mal, mana ada di sofa" balas Hasan
"kalau kalian mengantuk maka masuk saja ke dalam kamar" Aji Wiguna merebahkan tubuhnya di sofa
"lalu bagaimana dengan mas Fatah...?"
"memangnya dia kenapa...? dia kan sedang mengobati Gara"
"maksudku nanti kalau dia memerlukan bantuan kita bagaimana"
"kalau begitu jangan ada yang meninggalkan tempat ini. biar aku buatkan kopi sebentar" Alex bangkit dan berjalan ke arah dapur
Aji Wiguna menutup kedua matanya menggunakan lengan, Hasan menutup wajahnya menggunakan bantal sofa sementara Akmal, pemuda itu memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhannya. saat itu dirinya melihat Nagita masih aktif di sosial media, ia pun mengirimkan pesan kepada wanita itu.
Akmal : tidur mbak cantik, besok kerja
Alex datang dengan nampan berisi empat gelas kopi di tangannya dimana asapnya masih mengepul. harumnya minuman itu membuat Aji Wiguna dan Hasan membuka mata dan mengalihkan pandangan ke arah meja. keduanya bangun dan segera mengambil gelas kopi di atas meja.
"kira-kira mas Fatah bisa nggak ya mengobati Gara" Akmal menatap pintu kamar yang tertutup rapat
"dia bisa mengobati bos waktu itu mana mungkin dia tidak bisa mengobati Gara" timpal Alex
"semoga saja" gumam Akmal
sudah menunggu lebih dari satu jam namun Fatahillah belum juga keluar kamar. ingin masuk dan istirahat di dalam kamar namun mereka berpikir jangan sampai Fatahillah membutuhkan mereka nantinya. akhirnya malam itu, mereka tidur di sofa dan ada juga yang tidur di lantai beralaskan karpet.
jarum jam terus berputar waktu terus berlalu. larut malam telah lewat dan kini waktu subuh menghampiri. suara azan subuh membangunkan mereka, dengan wajah kusut dan mulut yang masih terus menguap, mereka bangun dari tempat tidur dan masing-masing duduk di sofa.
"Fatahillah belum keluar juga...?" Hasan tidak menemukan pemuda itu diantara mereka
"apa jangan-jangan semalaman dia di dalam sana...?" tanya Akmal
"mungkin saja kan dia tidur di sana untuk menjaga Gara" timpal Alex
Hasan yang mulai tidak tenang, beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar. ia mengetuk-ngetuk pintu kamar dan memang nama Fatahillah.
"Fatah, kamu di dalam kan. buka pintunya " teriak Hasan "Fatah buka pintunya, kamu baik-baik saja kan"
"Fatah...kamu dengarkan aku kan, buka pintunya. kamu baik-baik saja kan...?"
beberapa kali memanggil nama Fatahillah namun pemuda itu sama sekali tidak menjawab. Hasan yang mulai takut terjadi sesuatu di dalam sana, ia mulai mendobrak pintu kamar.
braaaakkk
braaaakkk
braaaakkk
braaaakkk
"apa yang kamu lakukan" Aji Wiguna melangkah cepat dan menarik Hasan untuk menjauh dari pintu kamar "kamu ingin membuat kerusakan di sini"
"lepaskan, aku ingin melihat Fatahillah. sejak semalam dia tidak keluar dari kamar, kalau terjadi apa-apa dengannya bagaimana" Hasan menepis tangan Aji Wiguna
"tapi bukan dengan mendobrak pintu seperti itu, ini rumah orang lain bukan rumah kita"
"aku nggak peduli, minggir kamu" Hasan mendorong tubuh Aji Wiguna dan ia kembali akan mendekat pintu kamar namun dengan cepat Aji Wiguna menahannya dan menariknya paksa semakin jauh
"AKU BILANG LEPASKAN AJI"
"KAMU YANG HARUSNYA DIAM SAN"
keduanya saling membentak, bahkan Aji Wiguna menarik kerah baju Hasan karena kesal dengan sikap pemuda itu. Akmal hendak melerai namun Alex menahan dan menggeleng kepala.
"aku tau kamu khawatir dengan Fatahillah, bukan cuma kamu tapi kita semua. tapi apa kamu lupa apa yang dikatakan oleh Fatahillah semalam, dia sengaja menyuruh kita keluar agar dirinya dapat berkonsentrasi untuk mengobati Gara. bukankah hal semacam ini sudah kalian alami saat Fatahillah mengobati aku waktu itu di rumah pak Danang. kalian bahkan harus menunggu berjam-jam di luar, apa kamu lupa dengan itu" Aji Wiguna mendorong pelan tubuh Hasan
"tapi saat itu tidak sampai tembus pagi seperti ini. ini sudah terlalu lama dia berada di sana"
"San, tidak semudah itu untuk mengalahkan pemilik dua mustika sakti. belum memiliki mustika saja Fatahillah sudah sakti apalagi sekarang, dua mustika telah dia miliki. kamu pikir akan segampang itu untuk mencelakai dirinya"
"mas Aji benar mas Hasan, tidak semudah itu untuk mengalahkan mas Fatah. mungkin saja memang benar kalau mas Fatah belum selesai mengobati mas Gara. sebaiknya kita sholat saja dulu, baru setelahnya kita memikirkan langkah selanjutnya" ucap Akmal
Hasan menghela nafas kasar, dirinya terpaksa mengalah karena tidak ingin terus berdebat dan menimbulkan keributan diantara mereka.
suara azan telah selesai, mereka segera menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. saat itu Akmal hendak menyimpan ponselnya di atas meja namun ia memeriksa terlebih dahulu apakah ada pesan masuk atau tidak, dan dilihatnya pesan Nagita yang masuk sejak semalam namun tidak sempat lagi ia buka.
Nagita : kamu baik-baik saja kan Mal, hubungi aku kalau kamu sedang tidak sibuk
senyuman di bibir Akmal terukir saat membaca pesan dokter cantik itu. dirinya merasa kalau Nagita mengkhawatirkannya sekarang. dua ibu jarinya mulai mengetik pesan untuk wanita yang sekarang telah mengisi sebagian relung hatinya.
Akmal : aku baik-baik saja mbak. tapi maaf ya aku belum bisa menghubungi mbak sekarang karena ada yang hal penting yang harus kami lakukan. tapi mbak tenang saja, aku tidak akan pernah lupa sama mbak Gita kok, mbak Gita selalu ada dalam pikiran aku. jangan lupa sholat subuh ya cantik, jangan molor mulu. nanti kalau kita nikah terus anak kita ngikutin kebiasaan bundanya kan ayahnya nanti yang repot
send....
pesan itu terkirim, Akmal menyimpan ponselnya di atas meja kemudian ia menuju ke kamar mandi.
"kenapa dia harus dibawa kesini guru"
"karena di sini tempat yang aman untuknya"
"apa memang benar kalau ayahnya mengincar nyawanya...?" Fatahillah mengalihkan mata kepada Gara yang kini terbaring di lantai beralaskan tikar seadanya
guru Halim tidak menjawab, ia keluar dari kamar sementara Fatahillah kemudian mengikutinya. mereka duduk di ruang tengah di sebuah gubuk yang lumayan besar untuk ditinggali guru Halim seorang diri.
semalam Fatahillah didatangi oleh gurunya itu dan mengatakan kalau Gara harus dibawa ke gunung Sangiran dan di sinilah Fatahillah berada sekarang.
"Malik"
"iya guru"
"kamu sudah bertemu dengan Laila bukan...?"
"sudah guru, ibu sekarang masih berada di pesantren Abdullah"
"apa ibumu tidak mengatakan sesuatu padamu...?"
"sesuatu...?" kening Fatahillah mengkerut "sesuatu yang bagaimana maksudnya guru...?"
diamnya guru Halim semakin membuat Fatahillah penasaran, sesuatu apa yang dimaksud oleh gurunya itu.
"perlihatkan tanda lahirmu"
"memangnya kenapa dengan tanda lahirku guru...?"
"perlihatkan saja"
Fatahillah patuh dan membuka dua kancing kemeja yang ia pakai. ia menurunkan bajunya di bahu sebelah kanan hingga terlihatlah tanda lahir yang berbentuk naga di bahunya itu. tanpa bicara guru Halim beranjak dari duduknya untuk menuju ke kamar Gara. Fatahillah menyusulnya namun guru Halim melarang muridnya itu.
"tetap di tempatmu"
"tapi guru"
"tetap ditempat mu Malik, saya hanya ingin memastikan sesuatu"
meskipun sebenarnya dirinya begitu penasaran namun Fatahillah tidak ingin membantah perkataan gurunya. selama menjadi murid dari sahabat ayahnya itu, baru satu kali Fatahillah melanggar perintah gurunya. waktu itu dia yang masih berumur 13 tahun. dirinya kabur dari tempat latihan bersama harimau putih. keduanya melarikan diri ke arah hutan hanya untuk melihat hal yang luar biasa yang pernah mereka temukan di dalam hutan yang ternyata itu hanyalah tipuan makhluk penghuni hutan itu untuk mengelabui Fatahillah agar bisa kembali ke tempat itu.
untungnya guru Halim menyelamatkan mereka. selamat dari tempat itu, Fatahillah dan Langon dihukum bergelantungan di pohon dengan tubuh terbalik. sejak saat itu keduanya kapok melanggar perintah guru Halim.
"hoaaam"
merasa begitu mengantuk, Fatahillah kembali ke tempatnya dan membaringkan tubuhnya di sana, di atas tikar dengan bantal kecil sebagai ganjalan kepalanya. baru juga menutup mata, Fatahillah harus terpaksa membuka matanya dengan lebar sebab ia mendengar amukan dari dalam kamar.
"guru"
segera Fatahillah bangun dan berlari ke arah kamar. tepat saat tubuhnya berada di ambang pintu, sebuah gelas melayang ke arahnya. untungnya ia menghindar jika tidak sudah pasti kepalanya terkena lemparan gelas itu.
"MANUSIA BRENGSEK, BERANINYA KALIAN MENCULIKKU DAN MEMBAWAKU KE TEMPAT INI"
Gara rupanya telah sadar. dirinya begitu marah, semua isi di dalam kamar itu hancur berantakan karena ulahnya.
"kami hanya ingin menyelamatkan mu" ucap Fatahillah
"omong kosong, kalian pikir aku tidak tau kalau kalian pasti suruhan dari ayah. tidak segampang itu untuk membunuhku"
"tenangkan dirimu anak muda, mari kita bicara baik-baik" guru Halim begitu tenang menghadapi Gara
"cih...jangan sok baik tua bangka, jangan harap kalian bisa menyentuhku"
"GANGAN"
GRAAARR
GRAAARR
Gangan datang setelah tuannya memanggilnya namun dia tidak sendiri. harimau putih datang bersamanya, Langon berdiri tepat di depan Fatahillah memasang badan untuk melindungi tuannya.
"Gangan, bantu aku melawan mereka"
GRAAARR
GRAAARR
Langon tentu saja tidak akan membiarkan Gangan menyentuh Fatahillah apalagi guru Halim. harimau putih saling berhadapan dengan harimau Gara, keduanya mengeluarkan taring tajam dan kuku tajam mereka. saling menatap nyalang bersiap untuk bertarung.
"SERANG GANGAN" teriak Gara
"LANGON BERSIAP" Fatahillah memerintah