
dari kejauhan seseorang sedang mengintai dari luar, masuk ke dalam mobil dan menghubungi seseorang.
"halo bos, pemuda itu sepertinya sedang terluka. aku melihatnya dia digendong masuk ke dalam rumah"
"terluka...? kamu yang melakukannya...?"
"bukan, sejak kemarin aku hanya mengintai saja dari jauh. sebenarnya semalam aku akan melakukannya namun ternyata ada juga seseorang yang sedang mengintainya dan menyerang pemuda itu tadi pagi. sepertinya mereka adalah orang-orang suruhan dari Aji Wiguna"
"sial, kenapa laki-laki itu selalu membuat rencana kita gagal"
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang bos...?"
"kembali, kita pikirkan cara selanjutnya. sekarang yang harus kita tangani adalah selain mengambil mustika itu kita juga harus mengurus Aji Wiguna"
"aku melihat orang-orang itu begitu sakti sampai dapat melumpuhkan pemuda itu namun meskipun begitu mereka semua mati di tangan laki-laki itu kecuali satu orang yang berhasil kabur. sebaiknya kita mencari dukun sakti untuk menangani Aji Wiguna dan membantu kita mengambil mustika merah dan mustika putih"
"ya kamu benar, jika saja kekuatanku kembali pulih sudah pasti aku yang akan turun tangan. kembalilah, aku tunggu kamu"
"baik bos"
"jangan lupa Wiratama, aku membutuhkan lagi darah perawan"
"aku akan mencari apa yang bos inginkan"
"bagus"
panggilan dimatikan, laki-laki yang bernama Wiratama itu meninggalkan pesantren Abdullah. dia adalah laki-laki yang menjadi kaki tangan dari wanita Samantha Regina.
sementara itu di gedung yang menjulang tinggi, setelah menghubungi orang kepercayaannya, Samantha Regina meneguk minumannya. jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan di gelas kaca itu.
"kamu sangat merepotkan Aji Wiguna" gumamnya kembali meneguk minuman yang berwarna merah kental
di dalam kamar kiayi Zulkarnain menyingkap selimut yang dikenakan Fatahillah dan mengangkat baju pemuda itu sampai terlihat dadanya. dada Fatahillah menghitam bagai terkena racun, wajahnya begitu pucat seperti mayat hidup.
kiyai Zulkarnain keluar dari kamar dan menemui semua orang yang ada di ruang tengah.
"dimana tasbih milik suamimu...?" tanya kiayi Zulkarnain kepada Zelina
"tasbih...?" Zelina mengulang ucapan kiyai Zulkarnain
"tasbih itu dipakai oleh Hanum kiyai. waktu kesurupan massal itu, Fatahillah memberikan tasbihnya kepada Hanum untuk dipakainya agar Hanum tidak diincar oleh makhluk gaib. sempat dikembalikan namun Hanum memakainya kembali" ibu Rosida menjawab
"bagaimana keadaan suamiku kiayi, dia baik-baik saja kan...?" wajah Zelina nampak begitu tegang
"berdoa saja semoga dia akan baik-baik saja. saya membutuhkan tasbih itu"
"akan saya ambilkan" ucap ibu Rosida bergegas menuju ke kamar untuk mengambil tasbih milik Fatahillah
hanya berselang beberapa menit ibu Rosida kembali lagi dengan sebuah tasbih yang ada di tangannya.
"ini kiayi" ibu Rosida memberikan tasbih itu kepada kiyai Zulkarnain
"Hasan, ambilkan saya air di mangkuk dan bawa ke kamar"
"baik kiayi" Hasan patuh dan pergi ke dapur
"apa dia terluka parah...?" kiyai Anshor tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya
"dia terkena sihir racun yang mematikan. kalau manusia biasa sudah pasti dia akan langsung meninggal namun karena Fatahillah mempunyai kemampuan tinggi, maka energi di dalam tubuhnya menghambat penyebaran racun itu namun tetap saja racun itu meskipun lambat karena energi dalam tubuhnya, tetap saja akan membuat Fatahillah meregang nyawa jika kita hanya membiarkannya saja" jawab kiayi Anshor
"astaghfirullah, mas Fatah" Zelina tiba-tiba saja pusing dan hampir jatuh. untungnya di tahan oleh ibu Afifah
"tolong selamatkan suami saya kiayi" Zelina memohon dengan air mata
"berpasrah kepada sang pencipta, saya akan berusaha semampuku" timpal kiayi Anshor
Hasan datang dengan mangkuk yang berisi air. kiyai Zulkarnain mengajak Hasan dan kiayi Anshor untuk masuk ke dalam kamar. saat mereka masuk, sudah ada seseorang yang duduk di samping Fatahillah. harimau putih pun ada di tempat itu sedang berada di atas ranjang dan menatap iba tuannya yang kini tidak berdaya.
"assalamu'alaikum Halim" kiayi Zulkarnain mengucapkan salam setelah mengetahui siapa yang kini bersama dengan Fatahillah
"wa alaikumsalam" jawab guru Halim, guru dari Fatahillah
semuanya mendekat ke arah guru Halim dan Fatahillah. Hasan menyimpan mangkuk yang ia pegang ke atas nakas.
"kalau saja dia tau cara menggunakan kekuatan mustika merah, mungkin dirinya tidak akan seperti ini" ucap guru Halim
"jadi mustika itu ada di dalam tubuh pemuda ini...?" tanya kiayi Anshor
"pemilik mustika itu telah memberikannya kepada Fatahillah, karena memang mustika merah itu yang memilih sendiri Fatahillah sebagai tuannya. meskipun dirinya memiliki mustika itu namun ia belum tentu dapat menggunakan kekuatannya karena belum adanya penyatuan antara dirinya dan mustika itu" jawab guru Halim
"kekuatan mustika itu sangatlah sakti, apa dia dapat melakukan penyatuan itu. jika salah selangkah saja maka dirinya yang akan celaka" kiayi Zulkarnain menimpali
"akan lebih mudah kalau dia memiliki lagi mustika yang satunya, mustika putih" guru Halim menghela nafas melihat keadaan muridnya sekarang
"bukankah mustika putih itu berada di tangan pak Kusuma, ayah dari pak Umar" kali ini Hasan bersuara
"berarti pak Umar tau dimana mustika itu" ucap kiayi Anshor
"dia tidak tau kiyai, almarhum pak Kusuma tidak pernah membahas tentang mustika itu kepada pak Umar. saya dan Fatahillah sempat berpikir mungkin mustika itu ada di dalam tubuh pak Umar namun dia tidak menyadarinya. seperti halnya mustika merah itu berada di dalam tubuh Fatahillah" jawab Hasan
"kalau dia terluka seperti ini, bagaimana bisa dia akan menyelamatkan...."
aaaggghh
ucakan kiyai Anshor terhenti karena Fatahillah mengerang sakit. racunnya semakin menyebar dan bahkan sudah naik dibagian leher.
"cincin yang dipakainya itu pun mempunyai kekuasaan sakti. harusnya dia menggunakan kekuatan dari cincin itu juga" ucap kiayi Zulkarnain
"itu karena kita tidak memberitahunya tentang kesaktian cincin itu bang" timpal kiayi Anshor
semuanya terdiam sebelum akhirnya guru Halim meminta tasbih yang ada di tangan kiayi Zulkarnain.
"berikan itu padaku" guru Halim meminta tasbih Fatahillah yang ada di tangan kiayi Zulkarnain
kiyai Zulkarnain memberikan tasbih tersebut kepada guru Halim. setelah itu guru Halim mengalungkan tasbih itu di leher Fatahillah. seketika tubuh Fatahillah menegang dan bahkan urat-urat di lehernya nampak begitu jelas.
racun yang menyebar itu mengeluarkan asap dari tubuh Fatahillah. sungguh luar biasa tasbih itu, dengan izin dari yang Maha Kuasa tasbih itu mampu mengangkat rasa panas yang ada di dalam tubuh Fatahillah karena efek racun itu.
"baiklah" jawab kiayi Anshor
"Langon, kamu berjaga-jaga di sini ya" guru Halim mengelus kepala harimau putih
goaaaaarrrrr
Langon mengangguk dan turun dari ranjang mendekat ke arah Hasan. keduanya memperhatikan saja ketiga orang itu yang mengelilingi Fatahillah. guru Halim berada di sebelah kanan, kiayi Anshor di bawah kaki dan kiayi Zulkarnain di sebelah kiri.
guru Halim bisa saja menyembuhkan Fatahillah seorang diri namun ia harus mengeluarkan energi yang cukup besar karena sihir racun yang mengenai Fatahillah begitu berbisa dan kuat. dengan bantuan dari kedua sahabatnya itu, mereka hanya perlu mengeluarkan energi secukupnya dan menggabungkan kekuatan untuk menyembuhkan Fatahillah.
goaaar
Langon bersuara lirih, hewan itu jelas merasakan kesedihan melihat tuannya. Hasan berjongkok dan memeluk Langon dengan penuh kasih sayang.
"dia akan baik-baik saja, tenanglah"
Langon merebahkan tubuhnya di atas paha Hasan dan bermanja-manja di laki-laki itu. sementara Hasan mengelus kepala harimau putih itu dengan lembut.
tidak lama terdengar teriakan yang keluar dari mulut Fatahillah. bahkan teriakannya sampai terdengar oleh semua orang di ruang tengah.
"mas Fatah" Zelina hendak bangkit namun ibu Afifah menahannya
"dia sedang diobati nak, bersabarlah sebentar" ibu Afifah mengelus lembut punggung Zelina
Fatahillah begitu kesakitan, keringat sudah membasahi bajunya. perlahan-lahan tubuhnya yang menghitam mulai menghilang dan kembali seperti semula.
guru Halim melepas tasbih yang ada di leher Fatahillah dan menyimpannya di mangkuk yang berisi air. ayat-ayat Allah dibacakan ke dalam mangkuk itu setelahnya guru Halim meminumkan air itu kepada Fatahillah.
tiga teguk masuk ke kerongkongan Fatahillah. hanya beberapa detik sesuatu pun terjadi. dada Fatahillah begitu sakit dan kemudian ia memuntahkan darah merah yang menggumpal. kembali guru Halim memberi minum Fatahillah dan lagi Fatahillah kembali muntah darah. tiga kali Fatahillah meminum air itu dan tiga kali juga ia muntah darah. yang ketiga kalinya, darah yang keluar sudah seperti darah pada umumnya. tidak lagi begitu kental dan menggumpal.
"Alhamdulillah" ucap guru Halim menyimpan mangkuk yang ada di tangannya
kiyai Zulkarnain dan kiayi Anshor berhenti berdzikir dan mengucapkan syukur.
Fatahillah tertidur setelah mengalami masa pengobatan tadi. nafasnya mulai teratur tidak seperti sebelumnya yang hanya rasa sakit yang dirasakannya.
Hasan dan Langon mendekat setelah mendengar suara yang keluar dari ketiga orang itu.
"apa racunnya berhasil di keluarkan...?" tanya Hasan
"sudah, setelah ini hanya masa pemulihan saja" jawab guru Halim
di ruang tengah semua orang nampak tegang. sudah terlalu lama mereka berada di dalam namun ketiga orang itu belum juga keluar.
"kenapa mereka begitu lama" ucap pak Umar
baru hendak selesai berbicara, pintu kamar terbuka. terlihatlah tiga orang tadi keluar dari kamar Fatahillah. semua orang berdiri setelah melihat mereka keluar dari kamar.
"bagaimana kiayi...?" tanya pak Odir
"racunnya berhasil di keluarkan, sekarang tinggal menunggu pemulihan saja" jawab kiayi Zulkarnain
"Alhamdulillah"
semua orang mengucapkan syukur. Zelina begitu bahagia mendengar kabar gembira itu. dirinya langsung pamit untuk masuk ke dalam kamar melihat keadaan suaminya.
"duduklah, saya ingin membicarakannya hal penting" ucap kiayi Zulkarnain
semua orang patuh dan duduk kembali, setelahnya kiyai Zulkarnain membuka suara.
"pak Umar, apakah betul bapak adalah anak dari almarhum Kusuma...?" tanya kiyai Zulkarnain menatap pak Umar
"betul kiyai, saya memang anak dari Kusuma. ada apa ya...?" pak Umar bertanya
"apakah kamu tau keberadaan mustika putih yang dipegang oleh almarhum ayahmu...?"
"kalau soal itu saya tidak tau kiyai. di saat ayah masih hidup dan bahkan sekarang beliau sudah meninggal, ayah tidak sedikitpun menyinggung tentang mustika itu"
kiyai Zulkarnain manggut-manggut dan bersandar di sofa. satu helaan nafas panjang terdengar dari mulutnya.
"mustika merah yang ada di dalam tubuh Fatahillah membutuhkan mustika putih itu, karena memang mustika itu ditakdirkan sepasang. kekuatan dari masing-masing mustika itu begitu besar. jika jatuh ke tangan orang yang salah, maka sudah pasti akan hancur alam semesta ini" ucap kiayi Anshor
"apa bapak tidak pernah melihat ada satu ruangan yang tidak bisa bapak masuki saat ayah masih ada. mungkin bisa saja mustika itu ada di tempat rahasia yang kita tidak tau" ucap ibu Rosida
"kalau ruangan yang tidak bisa bapak masuki ya hanya di ruang baca ayah bu, itupun ada di rumah lama kita. ayah kan sudah lama meninggal sebelum kita menjadi sukses seperti sekarang ini bu" jawab pak Umar
"mungkin saja mustika itu ada di rumah itu" Akmal ikut menimpali
"kalau seperti itu kita harus mencari ke rumah itu pak, di ruang baca almarhum pak Kusuma" ucap Hasan
"baiklah, sepulang dari sini kita akan mencari ke sana. rumah itu sudah lama tidak berpenghuni" ucap pak Umar
"tidak dijual saja pak rumahnya...?" Ali yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan mereka
"tidak nak, kami akan merenovasi ulang dan akan dijadikan kontrakan" ibu Rosida menjawab
"saya berharap kalian bisa menemukan secepatnya mustika itu sebelum orang lain yang mendapatkannya" ucap kiayi Zulkarnain
di dalam kamar Zelina mengompres kepala suaminya karena Fatahillah kini mengalami demam namun tidak begitu tinggi. harimau putih masih setia berada di kamar itu tanpa enggan untuk pergi.
"Langon, kemarilah" panggil Zelina
Langon berjalan dan melompat ke atas ranjang kemudian duduk di samping Fatahillah.
"terimakasih telah membantu tuanmu tadi. kami ternyata begitu hebat dan kuat" puji Zelina
goaaar
Langon mengangguk lemah kemudian ikut berbaring di samping Fatahillah dan memeluk tuannya itu. mereka seperti saudara yang dimana satu sakit maka satunya akan merasakan kesedihan.
"dia akan baik-baik saja" Zelina tersenyum karena hewan itu begitu khawatirnya kepada Fatahillah
harimau putih yang sejak kecil sudah bersama dengan Fatahillah dan mereka KPP tumbuh bersama, tentunya akan merasakan kesedihan yang mendalam jika terjadi sesuatu hal yang buruk dengan tuannya. meskipun hanya hewan namun Langon memiliki perasaan seperti yang dimiliki oleh manusia.