Fatahillah

Fatahillah
Bab 21



POV (Fatahillah)


seperti yang aku dan Yusuf sepakati, bahwa setelah sholat isya kami akan bertemu di rumah pak Umar. saat ini aku baru saja selesai melaksanakan sholat isya tentunya bersama dengan istriku.


kalau dulu aku akan sholat seorang diri namun kali ini dan seterusnya, wanita yang kini menjadi istriku ini akan menjadi makmum di belakangku.


seperti biasa Zelina akan mencium tanganku setelah selesai sholat sedangkan aku, tentunya tidak melakukan apapun padanya. biasanya seorang suami akan mencium kening istrinya namun saat ini aku belum terbiasa. kecanggungan masih ada dalam diriku. jangankan untuk mencium keningnya, memegang tangannya saja aku tidak berani.


"aku akan keluar sebentar bertemu Yusuf" ucapku setelah aku melepas peci hitam yang ada di kepalaku


"apakah mas akan pulang larut malam...?" tanya Zelina


"aku belum tau, memangnya ada apa...?"


"bibi Arum dan Andini ada di sini, maksudku mereka berada di rumahku. aku berniat mengajak mas untuk menemui mereka, tapi kalau seandainya mas ada urusan lain, biar aku pergi sendiri saja" ucapnya dengan lembut


Zelina, setiap kali berbicara pasti akan terdengar lembut dan sopan. beruntungnya aku memiliki istri wanita seperti dirinya.


"aku minta maaf tidak bisa menemanimu tapi mungkin aku bisa menjemputmu di sana. kalau urusanku sudah selesai, aku akan menghubungi mu"


Zelina mengangguk patuh dan tersenyum. kecantikan wanita ini sungguh luar biasa Tuhan, aku begitu memujinya. sungguh indah ciptaan yang Engkau berikan untukku.


aku menatap lekat setiap inci wajahnya. matanya yang indah, bibirnya yang tipis, senyumannya yang begitu menawan. aku bersyukur keindahan ini hanya aku yang dapat melihatnya.


"kenapa menatapku seperti itu mas...?" Zelina membuyarkan lamunanku


"ah tidak. aku hanya sedang berpikir, bukankah ayahmu memiliki perusahaan yang akan direnggut oleh pamanmu selain mustika merah yang kini ada di tanganku. kalau kamu ikut bersamaku, lalu siapa yang mengelola perusahaan itu...?"


aku sengaja menanyakan hal itu karena malu telah ketahuan memperhatikan wajahnya. sebenarnya aku memang ingin menanyakan hal ini.


"aku yang mengelolanya mas. namun aku hanya pergi ke kantor jika itu urusan penting, selebihnya aku serahkan kepada orang kepercayaanku untuk menghandle semuanya. namanya adalah Afkar"


aku manggut-manggut tanda mengerti. bukannya kepo, hanya saja aku ingin memastikan saja.


setelah itu aku berdiri untuk mengganti pakaian sholat dengan pakaian biasa. Zelina menyiapkannya untukku dan aku masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju. bukan apa-apa hanya saja aku belum terbiasa memperlihatkan tubuhku di depan wanita walaupun di depan istriku sendiri.


setelah mengganti bajuku, aku keluar dari kamar sementara Zelina duduk di ranjang dan melihat ke arahku.


"sudah mau pergi mas...?" tanyanya


"iya. kamu hati-hati kalau pergi menemui ibu Arum dan Andini. aku akan menghubungimu nanti" jawabku


Zelina mengangguk. aku mencari kunci motor sebagai kendaraan untukku menuju ke rumah pak Umar. sebenarnya dari dulu aku ingin membeli mobil dan sepertinya memang itu harus aku lakukan. tidak mungkin mengajak istriku jalan hanya menaiki motor. dia adalah anak orang kaya, pasti sudah terbiasa mengendarai mobil. aku jadi merasa kasihan padanya, dia datang dan ingin hidup sederhana bersamaku.


setelah mengambil kunci motor, aku memakai jaket dan topi. kemudian beralih menatap Zelina yang sejak tadi sedang memandangku.


"aku pergi ya" ucapku


Zelina bangkit dari duduknya dan mendekati ku kemudian mengambil tanganku dan menciumnya. tingginya hanya sampai di dadaku, jadi jika dia ingin melihat wajahku maka ia harus mendongakkan kepalanya.


mata kami saling beradu tatap sekian detik. seperti biasa, jantungku akan bertalu-talu saat kami berdekatan seperti ini.


"mas tidak ingin mencium keningku...?"


"hah...?"


pertanyaan itu tentu saja membuat ku kaget. bagaimana tidak, dia meminta untuk dicium. aku begitu gugup karena baru kali ini aku akan mencium seorang wanita.


"kita biasakan hal-hal kecil seperti ini mas, dengan begitu kita akan semakin terbiasa. dari hal-hal kecil perasaan cinta akan tumbuh di hati kita. bukankah kita sudah sepakat untuk saling menerima satu sama lain"


aku menelan ludah sebelum akhirnya aku memberanikan diri menangkup wajahnya dan mendekatkan bibirku di keningnya. satu kecupan lembut dariku mendarat di keningnya yang putih. aku menutup mata dan menciumnya dengan durasi lama. setelah itu aku menjauhkan wajahku namun tanganku masih menangkup wajahnya.


"hati-hati mas" ucapnya dengan lembut


aku mengangguk dan melepaskan tanganku dari wajahnya. setelah itu aku keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu.


aku ingin pamit kepada ibu namun biarlah Zelina yang memberitahunya karena aku buru-buru ingin cepat sampai di rumah pak Umar.


dengan motor ku, ku lalui setiap jalan yang mengarah ke rumah pak Umar. masih terbayang saat aku mencium Zelina tadi bahkan debaran jantungku masih terasa sampai sekarang.


ya Allah, apakah aku sudah jatuh cinta pada istri ku sendiri. perasaan ini tidak aku rasakan saat aku bersama dengan wanita lain, terutama Anisa. aku tidak merasakan apapun saat bersamanya.


tanpa aku sadari rupanya aku telah sampai di rumah pak Umar. motorku masuk ke halaman rumah dan ternyata saat itu juga Yusuf baru saja datang. kami bertemu di halaman rumah yang luas itu.


"aku pikir kamu sudah datang lebih dulu" ucap Yusuf saat keluar dari mobilnya dan mendekatiku


"dan aku pikir kamu sudah sampai di sini lebih dulu" jawabku setelah menurunkan standar motorku


"ayo masuk" ajak Yusuf


kami berdua masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke ruang tengah dimana rupanya mereka semua sudah menunggu kami di sana. kami duduk bergabung bersama mereka.


"jadi bagaimana keputusan kalian berdua...?" tanya pak Odir


"aku akan ikut" jawabku


"Alhamdulillah" ibu Rosida dan pak Umar mengucapkan syukur


"tapi maaf, aku akan membawa istriku. tidak masalahkan jika aku membawa serta istriku dalam perjalanan kita" lanjut ku lagi


"tentu saja tidak masalah" ibu Rosida langsung menjawab


"lalu bagaimana dengan dokter Yusuf...?" tanya pak Umar


"maaf pak, aku tidak bisa ikut. aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku terlalu lama" jawab Yusuf


aku langsung menoleh ke arah Yusuf dengan sejuta pertanyaan.


"kenapa Yus...?" tanyaku


"biarkan aku di sini saja menjaga bibi Khadijah dan keluargamu yang lain. apa kamu tidak ingat dengan ucapan pak Harun setelah memiliki mustika merah itu, kamu akan di incar oleh orang-orang jahat. pastinya mereka juga akan mengincar keluargamu. kalau kita berdua pergi, siapa yang akan menjaga mereka" bisik Yusuf di telingaku


aku menatap lekat wajah Yusuf. sungguh aku terharu mendengar ucapannya. dia benar, kalau aku dan dirinya pergi lalu siapa yang akan menjaga ibu. hanya Yusuf yang aku percaya untuk menjaga ibu, bibi Fatimah dan yang lainnya.


"kalau Yusuf tidak bisa ikut, biar Hasan saja yang pergi. lagipula Hasan juga mempunyai kemampuan bela diri dan ilmu Kanuragan. dia dan Fatahillah bisa melindungi kita di perjalanan" ucap pak Odir


"berarti jika Hasan pergi maka yang mengelola perusahaan adalah kamu Zan. aku percayakan padamu perusahaan selama kami pergi" ucap pak Umar


"baik pak, aku akan menjalankan amanah dari bapak" jawab Fauzan


"sebenarnya aku juga ingin kamu ikut Zan, karena aku melihat kamu memiliki kemampuan seperti yang dimiliki oleh Fatahillah dan dokter Yusuf. tapi jika kita pergi semua, siapa yang akan melindungi perusahaan kita" ucap pak Umar lagi


memang benar apa yang dikatakan pak Umar. Fauzan memiliki kemampuan seperti kami karena aku telah melihatnya langsung.


"aku di sini saja pak, Fatahillah dan Hasan sudah cukup untuk mengawal kalian" timpal Fauzan


keputusan sudah kami ambil, aku dan Hasan yang akan menemani pak Umar, ibu Rosida, pak Odir dan Hanum ke gunung Sangiran desa Malanda.


"pak Umar, kami ingin memberitahu sesuatu" ucap Yusuf


aku tau apa yang akan di katakan oleh Yusuf, dia pasti akan memberitahu tentang mustika putih itu.


"ada apa dokter Yusuf...?" tanya pak Umar


"semalam saat kalian menghubungi kami dan kami tidak angkat, itu karena bukan kami sibuk hal lain tapi kami sedang membantu seseorang yang terkena santet sama seperti Hanum. dia adalah ayah dari istri Fatahillah" ucap Yusuf


"pak Harun namanya. saat itu dia memberikan mustika merah kepada Fatahillah. mustika itu diincar oleh orang-orang jahat yang ingin memilikinya. maka ketika mustika itu berada di tangan Fatahillah otomatis orang-orang itu akan mengincar Fatahillah termasuk keluarganya, maka dari itu aku memutuskan untuk tidak ikut ke gunung Sangiran dan lebih memilih tinggal karena jikalau kami berdua pergi, siapa yang akan menjaga keluarga Fatahillah"


"lalu...?" tanya pak Umar


aku melihat ada rasa penasaran dalam dirinya sehingga ia menanyakan kelanjutan pembicaraan Yusuf saat Yusuf menjeda ucapannya.


"karena mustika merah itu telah berpindah tangan, pak Harun kini telah meninggal. namun dirinya sempat memberitahu kalau sebenarnya mustika merah itu memiliki pasangan yaitu mustika putih dan beliau mengatakan kalau mustika itu ada di tangan pak Kusuma"


"pak Kusuma ayahku...?" pak Umar jelas saja kaget


bukan hanya dirinya namun ibu Rosida serta yang lainnya pun tampak tegang mendengar cerita Yusuf.


"sepertinya begitu. karena beliau memberitahu bahwa mungkin sepeninggalan pak Kusuma, mustika putih itu di wariskan kepada anaknya. beliau tidak tau nama anaknya pak Kusuma namun yang ia tau, adalah nama perusahaan yang dibangun oleh pak Kusuma yaitu kusumajaya grup. bukankah Kusumajaya grup adalah nama perusahaan bapak...?"


"iya memang, itu adalah perusahaan saya. tapi.... apa iya ayah memiliki mustika seperti yang kamu maksud. karena saat ayahku meninggal, beliau tidak mengatakan apapun tentang mustika itu" ucap pak Umar


"mungkin di simpan di suatu tempat yang tidak bapak ketahui" timpal Hasan


"jika memang itu benar berarti orang-orang yang mengincar ayah selama ini adalah mereka yang menginginkan mustika itu yah" ucap ibu Rosida


"kami juga sependapat dengan ibu Rosida. jikalau bapak tidak tau apa alasan mereka menginginkan nyawa bapak, berarti jawabannya memang benar kalau mustika itu yang mereka cari namun bapak tidak tau menahu soal itu" ucapku


"apa mungkin mustika itu ada di dalam tubuh bapak namun bapak tidak tau. karena mustika merah itu kini berada di dalam tubuh Fatahillah" ucap Yusuf


aku mengangguk setuju. bisa jadi memang mustika itu ada di dalam tubuh pak Umar namun pak Umar tidak menyadari itu karena mungkin pak Kusuma menyimpan di dalam tubuh pak Umar tanpa sepengetahuannya dirinya.


"kalau memang seperti itu, pantas saja orang-orang itu ingin mencelakaiku. tapi...aku tidak merasakan ada energi apapun di dalam tubuhku. kalaupun memang ada, bagaimana caranya kita bisa mengetahuinya dan mengeluarkan dari tubuhku" ucap pak Umar


"itu juga yang harus kita pikirkan" ucap ku sembari berpikir


"kita minta bantuan kiayi Zulkarnain saja jika kita sudah tiba di gunung Sangiran. yang penting kita sudah tau alasan kenapa para ninja kiriman seseorang itu mengincar pak Umar" ucap pak Odir


"kalau begitu kita akan berangkat besok pagi. biar Fatahillah dan istrinya, Hasan yang akan menjemput mereka" ucap ibu Rosida


"baiklah, aku akan menunggu besok di rumah" ucapku


pukul 22.00, aku dan Yusuf pamit terlebih dahulu. Yusuf langsung pulang ke rumahnya dan kami akan bertemu lagi besok di rumah ini. sementara aku, sebelum menjalankan motorku, aku menghubungi Zelina terlebih dahulu. aku sudah mengatakan untuk menjemputnya dan tentu saja aku tidak ingin mengingkari ucapanku.


"assalamualaikum Zelin, apakah kamu masih di rumah mu...?" tanyaku setelah Zelina menerima panggilanku


"wa alaikumsalam. iya mas, mas Fatah dimana sekarang. apa sudah selesai urusannya...?"


"sudah. kalau begitu aku akan ke sana untuk menjemputmu ya"


"iya mas, aku tunggu"


aku pun mematikan panggilan dan segera menyalakan motorku kemudian meninggalkan pekarangan rumah pak Umar. sekian menit berkendara, aku tiba di rumah besar yang di tempati oleh Zelina dan keluarganya.


aku turun dan membuka helm kemudian memperbaiki posisi topi yang aku kenakan. jika aku perhatikan, rumah ini sangat besar sama seperti rumah pak Umar. sayang sekali jika tidak di tempati.


aku melangkahkan kakiku mendekati pintu masuk dan menekan tombol yang ada di samping pintu.


ting tong


sambil menunggu dibukakan pintu, aku membelakangi pintu masuk dan mataku menyusuri sekian meter halaman yang ada di depanku.


cek lek


ku dengar pintu telah di buka, aku berbalik dan melihat seseorang wanita seusia istriku yang berdiri di depanku menatapku dengan bingung.


"cari siapa ya mas...?" tanyanya


"Zelina ada...?" aku bertanya balik


mungkin Zelina tidak memberitahu kedatanganku sehingga wanita ini tidak mengenalku. atau mungkin Zelina belum memberitahu kalau dirinya telah menikah


saat hendak menyuruhku masuk ke dalam, wanita yang aku cari datang dan langsung merangkul lenganku dengan mesra. astaga, aku semakin keki dibuatnya.


"sudah datang mas" ucapnya dengan tersenyum. meskipun tidak terlihat karena terhalang cadarnya, namun aku tau kalau dia sedang tersenyum


"iya, aku baru saja datang" jawabku


"oh iya Dini, perkenalkan ini suamiku Fatahillah yang aku ceritakan tadi" Zelina memperkenalkan aku kepada wanita tadi yang ternyata adalah Andini sepupunya


"Andini" Andini mengulurkan tangan berniat menjabat tanganku namun aku membalas dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada


"Fatahillah" ucapku


"oh maaf" Andini menarik kembali tangannya


"ayo masuk" ajaknya


"ayo mas"


Zelina tetap merangkul lenganku dan kami berdua masuk ke dalam rumah menyusul Andini. di ruang tengah rumah ini, ada seorang wanita seumuran ibu yang sedang duduk sendiri dan menatap ke arah kami bertiga.


"bibi perkenalkan, ini Fatahillah" ucap Zelina setelah kami berdua duduk di sofa empuk


"jadi dia suamimu...?" wanita itu bertanya, yang aku tau namanya ibu Arum, ibu dari Andini


"iya bu, saya Fatahillah" jawabku dengan sopan


"apa pekerjaan mu...?" tanya ibu Arum


entah mengapa saat dia menanyakan pekerjaanku aku mulai merasa tidak enak. apalagi matanya menelisik setiap pakaian yang aku kenakan.


"aku dosen di salah satu universitas xxx negeri di kota ini" jawabku


"pilihanmu rendah sekali Zelina" ucapnya menatap ke arah istriku dengan sinis


"bu" Andini menegur ibunya, mungkin ia pun tidak suka dengan ucapan yang dilontarkan oleh ibunya


"semua manusia sama derajatnya di mata Tuhan bi, tidak ada yang rendah ataupun tinggi derajatnya. tolong bibi jaga ucapan terhadap suamiku" Zelina menjawab membelaku


tanganku di genggamnya dengan erat, aku merasakan ada kilatan emosi dalam matanya.


"kamu anak pengusaha kaya dan sukses, tapi malah memilih dosen yang gajinya mungkin lebih tinggi dari pendapatan mu. apa kata orang nanti Zelina. harusnya kamu memilih pengusaha juga seperti Arga misalnya" ibu Arum menatapku beberapa detik dan tersenyum sinis


aku kira istrinya pak Hutomo tidak akan sama seperti dirinya, serakah dan gila harta namun ternyata mereka berdua sama saja. aku tidak tau bagaimana sifat Andini anak mereka.


"bu, kita datang bukan untuk mencampuri urusan kak Zelina" ucap Andini


dalam penilaian ku, wanita ini sepertinya tidak mempunyai sifat seperti ayah dan ibunya. tapi sepertinya suaminya pasti orang berada. tidak mungkin ibu Arum menerima laki-laki yang biasa saja untuk putrinya. aku saja di hina seperti ini, apalagi jika untuk anaknya.


"istirahatlah di sini sebelum bibi dan Andini pulang. aku akan pulang bersama suamiku ke rumahnya" ucap Zelina


ternyata istriku tidak ingin menanggapi ucapan yang tidak berarti dari bibinya. aku tersenyum dan membalas genggaman tangannya dengan erat. dia melihatku sekilas kemudian tersenyum di balik cadarnya.


"berikan rumah ini pada kami. warisan yang di dapatkan pamanmu tidak seberapa untuk memenuhi kebutuhan kami berdua. kamu kan masih punya perusahaan dan aset yang lain" ucap ibu Arum


"astaghfirullah bu. ibu sudah benar-benar keterlaluan" Andini mengeraskan suara


"diam saja kamu Dini, kita harus mendapat bagian karena ayahmu sudah meninggal. tidak ada lagi yang akan memberikan uang kepada kita" ibu Arum malah membentak anaknya


wanita ini benar-benar nenek lampir, tidak tau diri dan tidak punya malu. sayangnya aku tidak berhak ikut campur atas masalah ini sehingga aku hanya diam saja sejak tadi.


"ambillah kalau bibi mau" jawab istriku


"kamu yakin...?" aku langsung bertanya kepada istriku dan ia mengangguk pelan


"rumah ini untuk bibi dan Andini, terserah kalian mau jual atau tidak. tapi setelah itu, jangan pernah meminta apapun padaku lagi" ucapan Zelina penuh penegasan


"ayo mas kita pulang" ajak Zelina.


kami berdua berpamitan kepada dua manusia yang ada di depanku. untuk Andini dia menjawab sopan dan lembut bahkan berpelukan dengan Zelina sementara ibu Arum membuang wajah dan sama sekali tidak menegur kami berdua.


Zelina membawaku keluar dari rumah besar itu. kami berdua kini telah berada di halaman rumah.


"kamu kenapa memberikan rumah ini kepada mereka Zelina, bukannya ini adalah rumah peninggalan ayahmu...? tanyaku karena penasaran dengan jawaban istriku ini


"ini sebenarnya adalah rumahku yang dihadiahkan ayah padaku mas. rumah utama kami bukan rumah ini tapi di tempat lain. masih di renovasi karena sempat mengalami kebarakan dan sekarang mungkin sudah bagus seperti sebelumnya"


pantas saja dirinya dengan tenang memberikannya kepada ibu Arum, ternyata ini adalah rumahnya. rupanya, benar-benar kaya istriku ini, aku benar-benar jadi merasa minder.


"kapan-kapan aku akan mengajak mas ke rumah utama, mungkin kita bisa tinggal di sana bersama ibu. rumah itu sekarang milikku. kalau rumah itu yang dimintanya bibi Arum tadi, tentu saja aku tidak akan memberikannya"


"Zelina, sepertinya benar apa yang dikatakan ibu Arum tadi, aku tidak pantas bersanding denganmu"


"bicara apa sih kamu mas. bibi Arum memang seperti itu orangnya, gila dengan harta. lebih baik kita pulang sekarang, pakai mobil ku saja ya"


"mobil...?"


"iya, sayang kan kalau hanya disimpan saja tanpa kita pakai. mas bisa nyetir mobil kan..?


"bisa tapi... bagaimana dengan motorku...?"


"iya juga ya" Zelina melihat motorku yang aku parkir sedikit jauh


"kalau begitu kita naik motor saja, mobil ini nanti kita datang ambil besok pagi" ucap Zelina


aku pun mengangguk setuju. kemudian kami berdua meninggalkan rumah ini menggunakan motorku.


sepanjang jalan jantungku tidak hentinya berdetak. bagaimana tidak, Zelina memeluk perutku menggunakan satu tangannya. baru kali ini aku merasakan hal semacam ini. berboncengan bersama wanita dan dia memelukku erat.


ya Allah, semoga cinta cepat hadir di antara kami berdua. tapi sepertinya, aku memang sudah mulai jatuh hati kepada istriku sendiri.