Fatahillah

Fatahillah
Bab 122



"Langon"


GRAAAAAR


sudah mencari bahkan di seluruh area pelabuhan, namun Fatahillah tidak menemukan apapun. mereka yang berpencar bahkan kembali bertemu di tempat yang tadi. merasa membutuhkan bantuan, Fatahillah memanggil harimau putih. dengan bermanja-manja di kaki Fatahillah, Langon mengelilingi tuannya itu dan sesekali mengaum.


"bagaimana kabarmu Langon...?"


Graaaar


"kamu tidak membawa Gangan sekalian...?"


harimau putih menggeleng pertanda bahwa harimau milik Gara Sukandar, tidak datang bersama Langon.


Fatahillah memeluk dengan sayang harimau putih, kemudian memberikan tugas kepadanya.


"aku mencari seseorang yang memakai jubah hitam namun kami tidak menemukannya, aku membutuhkan bantuan mu kawan" Fatahillah mengelus kepala Langon


graaaar


harimau putih kembali mengelilingi Fatahillah, setelahnya hewan itu melompat berlari ke selatan, di sana adalah tempat pencarian Tegar dan Yusrif.


"kalian ingin ikut denganku atau tetap di sini...?" Fatahillah melihat semua orang.


"aku dan Hasan biar ikut kamu saja. Akmal, Tegar dan Yusrif mereka tetap memantau keadaan di sini, tapi Alex dimana...? sejak pencarian tadi dia tidak bersama kita" Aji Wiguna memang mencari Alex tadi namun laki-laki itu tidak datang bersama mereka. Aji mengira tadi saat mereka berlari, Alex ikut bersama mereka namun nyatanya tidak.


"mungkin mas Alex bersama Arvin dan Utami. kalau begitu kalian pergilah, biar kami tetap di sini" jawab Akmal.


mereka berpisah saat itu juga. Fatahillah, Hasan dan Aji Wiguna mengikuti kemana perginya Langon sementara Akmal, Tegar dan Yusrif kembali ke tempat mereka semula.


mencari sosok yang tidak ditemukan, Langon adalah hewan yang bisa diandalkan oleh Fatahillah. kali ini harimau putih itu berlari di pesisir pantai sementara tiga orang manusia yang tidak jauh darinya, ikut mengayunkan kaki begitu cepat agar tidak ketinggalan dengan hewan yang berwarna putih itu.


semakin jauh dari pelabuhan merak, kali ini mereka memasuki jalan setapak yang menuju ke arah hutan.


"Langon berhenti" perintah Fatahillah


semua orang berhenti berlari setelah Langon yang berada di depan mereka diperintahkan tuannya untuk berhenti. ketiganya jatuh terduduk di tanah, sebab kini sudah hampir dua kilometer mereka berlari. nafas naik turun memburu bagaikan orang yang terkena penyakit asma.


"astaga, kakiku hampir patah. haaah...haaah" Hasan yang begitu kelelahan akhirnya membaringkan tubuhnya tubuhnya di pinggir jalan.


Aji Wiguna ikut berbaring, namun kepalanya ia letakkan di atas perut Hasan sebagai bantal. keduanya sama-sama terlentang. sementara Fatahillah, duduk berselonjor dan kedua tangannya berada di belakangnya untuk menahan berat tubuhnya.


"kamu yakin orang itu lewat jalan ini Langon...?" tanya Fatahillah


graaaar


mengaum kecil, Langon bersuara dan menganggukkan kepala.


Aji Wiguna dan Hasan kembali bangun. mereka berdua dua ikut duduk di depan harimau putih.


"berarti ada sesuatu di dalam hutan sana. pertanyaannya, ngapain orang itu tinggal di hutan. kalau memang dia yang melakukan semua ini, harusnya dia tinggal di tempat ramai, dengan begitu dirinya dapat dengan mudah menyebarkan virus itu kan" Aji Wiguna menatap jalan setapak yang lurus ke depan.


"dia mungkin memang tinggal bersama masyarakat lain tapi markasnya ada di hutan ini. coba lihat, ada bekas kendaraan roda empat yang melewati jalan ini. itu berarti memang di dalam sana ada sesuatu" Hasan menunjuk bekas ban mobil yang terlihat di rerumputan. jalan yang tidak begitu besar, namun bisa di lewati oleh kendaraan terkecuali mobil truk.


mereka masih terus menerka-nerka, tiba-tiba Langon yang bersandar di dada Fatahillah bangkit begitu saja dan meninggalkan mereka. bukan memasuki jalan setapak itu melainkan mengikuti jalan raya.


"loh, kok" Hasan bingung dan menggaruk kepala tatkala Langon berjalan jauh dari mereka dan tidak lama harimau itu berlari.


"ayo" ajak Fatahillah yang ikut beranjak dan mengikuti Langon.


sudah banyak bangunan yang mereka lewati juga beberapa toko yang tertutup rapat, mereka berhenti di sebuah rumah mewah dimana banyak orang di halamannya yang luas. kalau dilihat, itu semacam pesta, entah pernikahan ataukah semacamnya.


"Langon, kita seharusnya masuk ke jalan kecil tadi lalu kenapa kamu membawa kami kemari...?"


graaaar


Langon mengaum dan berjalan pelan ke samping kanan. mereka mengikutinya hingga seseorang yang mereka kenal berdiri di tempat itu, sedang mengintai sekitar.


"Alex...?


tentu saja mereka kaget, bagaimana bisa laki-laki itu tiba di tempat yang sama dengan mereka. padahal sebelumnya dia tidak bersama mereka dalam melakukan pencarian.


"loh kalian di sini...?" Alex terkejut, teman-temannya datang menghampirinya.


"harusnya kami yang bertanya, kamu sedang melakukan apa di sini...?" Aji Wiguna.


"aku tadi sedang mengikuti seseorang yang aku lihat mencurigakan di pelabuhan. saat kalian berlari tadi, aku sempat melihat sosok yang berjalan tergesa-gesa ke arah barat. karena tidak sempat memanggil kalian maka dengan terpaksa aku mengikutinya seorang diri dan di sinilah tempat dia berhenti" Alex menjelaskan.


"bagaimana pakainya...?" tanya Fatahillah


"memakai jubah berwarna hitam"


"itu kan sama seperti yang dilihat Akmal dan Yusrif tadi"


Fatahillah berjongkok di depan Langon, ia mengelus kepala harimau itu.


"Langon, apakah tadi kamu melihat Alex lewat di dekat kita makanya itu kamu mengikutinya...?" tanya Fatahillah.


graaaar


"lalu apakah di jalan kecil yang ada di hutan tadi, yang kami cari ada di dalam hutan itu...?"


graaaar


Fatahillah kembali berdiri dan menatap satu persatu teman-temannya.


"dan tempat ini adalah targetnya sebab banyak orang di dalam, begitu maksudmu bukan...?" timpal Aji Wiguna dan Fatahillah mengangguk.


"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang...?" tanya Alex


"tentu saja kita harus masuk ke dalam" jawab Hasan


"tapi kita tidak tau siapa orang itu, bagaimana cara menemukannya. dan lagi wajah kita telah dia lihat, seandainya dia melihat kita di dalam, sudah pasti dia akan kabur lagi" ucap Alex.


"lihatlah, mereka yang di dalam menggunakan topeng. itu berarti kita bisa masuk dengan menggunakan topeng, dengan begitu orang itu tidak akan melihat wajah kita" Hasan mengintip dibalik pagar.


"sebenarnya untuk menyembunyikan wajah kita itu bukan hal yang sulit namun yang sulit di sini adalah bagaimana cara mencari orang itu. kita tidak mengenal wajahnya, nah sekarang dia akan menggunakan topeng, maka jelas kita sama sekali tidak akan bisa menemukannya" ucap Alex lagi.


"aku tau kita harus melakukan apa" ucap Fatahillah


"caranya...?"


sebelum masuk ke dalam, Fatahillah memberitahukan rencana yang akan mereka lakukan. semuanya mengangguk tanda mengerti. Langon dibiarkan pergi terlebih dahulu, atas perintah tuannya, Langon menghilang dari tempat itu. sekarang mereka berjalan beriringan mendekati pintu masuk. dua penjaga berjaga di depan pagar dengan membagikan topeng kepada setiap yang datang di acara itu. untungnya saat rombongan Fatahillah dan yang lainnya mendekat, dua penjaga itu tidak menanyakan undangan yang akan dibawa, karena biasanya seperti itu. hanya saja sebelum masuk, salah satu penjaga itu menahan Fatahillah dan menyuruhnya untuk membuka masker.


uhuk....uhuk


Fatahillah sengaja memperlihatkan dirinya kalau dia sedang tidak sehat, batuk menyerangnya maka dari itu ia pun memakai masker agar tidak menulari orang lain.


"sakit masih saja datang, harusnya diam saja di rumah" ucapnya


"masalahnya pak, dia ini terus dipaksa datang oleh yang membuat acara ini. kalau mau marah, marah saja sama yang punya acara" ucap Hasan mencari alasan.


"kalian diundang langsung oleh mbak Naomi...?" tanya satunya lagi.


(Naomi...?) batin Fatahillah, nama itu membuatnya langsung teringat dengan seseorang.


"Naomi...? siapa dia...?" tanya Alex.


"lah gimana sih, katanya paksa datang sama yang punya acara, kenapa sekarang malah tidak mengenal mbak Naomi" wajah laki-laki itu mulai menaruh curiga.


"iya pak, saya diundang oleh Naomi. saya pacarnya" kali ini Fatahillah yang bersuara.


"oooh... bilang dong kalau kamu ini mas Zaki. sudah pulang dari jepang yang mas, pasti mbak Naomi senang bertemu dengan mas. kalau begitu silahkan masuk. perlu kami antar"


"tidak perlu, kami bisa masuk sendiri" tolak Fatahillah


mereka itu mengambil topeng yang diberikan oleh dua penjaga itu dan segera masuk ke halaman rumah.


topeng yang menutupi kedua mata mereka dan hidung telah terpakai di wajah. suara alunan musik dansa membuat semua orang kini sedang berdansa dengan pasangan mereka. namun ada juga yang hanya menikmati alunan musik di tempat duduknya sambil menikmati minuman yang ada di atas meja.


"sepertinya pesta ini hanya berada di luar saja, di dalam tidak ada apapun. apa Aji akan melakukannya sekarang...?" tanya Hasan


"aku dan Alex akan masuk ke dalam rumah dan kalian tetap di sini. bisa saja dia akan kabur lewat pintu belakang" ucap Fatahillah


"baiklah"


keempatnya mulai berpisah, dua dari mereka melewati beberapa orang yang sedang berdansa dan masuk ke dalam rumah sementara dua orangnya lagi mencari tempat di paling sudut halaman itu.


Aji Wiguna akan melakukan sesuatu, bibirnya bergerak merapalkan mantra kemudian ia mengeluarkan udara seperti seseorang yang meniup balon. hanya berselang beberapa menit semua orang jatuh tertidur di tanah. semua orang termasuk para penjaga yang sedang berjaga mengamati keadaan acara tersebut.


Hasan mengirimkan pesan kepada Fatahillah kalau di luar semua orang telah tertidur nyenyak. Fatahillah membalas jika di dalam rumah itu tidak ada siapapun selain para pekerja yang kini sedang tertidur di lantai dapur dan juga di ruang tengah.


"memangnya ini akan berhasil...?" tanya Hasan


"justru karena itu kita mencobanya. kalau dia memiliki ilmu sakti, sudah pasti dirinya tidak akan terkena gendam yang aku buat. dan lihatlah mereka semua tertidur"


"kalau mereka semua tidur, berarti orang itu tidak ada di kumpulkan orang-orang ini. apa mungkin dia berada di dalam. kita masuk saja bagaimana"


"tidak perlu, Fatahillah dan Alex akan mengurus itu. kita berjaga saja di sini, mana tau orang itu kabur lewat pintu depan kan"


"benar juga" Hasan mengangguk setuju


"ayo ke samping itu" ajal Aji Wiguna


keduanya berpindah tempat bersembunyi di samping rumah agar tidak terlihat oleh orang lain. jika nanti ada seseorang yang mencurigakan, mereka akan langsung menghadang orang itu.


sementara mencari keberadaan orang yang mereka cari, Alex melihat sekelebat bayangan lewat di samping keduanya. saat dirinya memutar badan, seseorang ternyata sedang berlari cepat keluar dari pintu masuk.


"dia kabur Fatah, di sana" Alex memberitahu


keduanya melesat cepat mengejar orang itu. ternyata di halaman, orang itu dihadang oleh Aji Wiguna dan Hasan. mereka mengepung sosok itu yang masih menggunakan jubahnya tanpa memperlihatkan wajahnya.


"ketemu kamu manusia sialan" Hasan begitu geram dengan perbuatan orang itu di pelabuhan merak.


"siapa kamu, perlihatkan wajahmu jika kamu tidak ingin kami melakukan pemaksaan" Fatahillah maju selangkah untuk lebih dekat dengan orang itu.


"jangan sok jadi pahlawan, kalian pikir setelah menangkap ku masalah ini akan selesai. lagi pula aku tidak yakin kalian bisa menangkap diriku"


suara wanita terdengar jelas di telinga mereka. rupanya sosok itu adalah seorang wanita. mungkinkah itu adalah Naomi, sebab menurut pembicaraan kedua penjaga tadi kalau wanita yang bernama Naomi lah yang mengadakan acara pesta bertopeng itu.


namun pendengaran Fatahillah masih begitu bagus. meskipun baru pertama kali bertemu dengan Naomi saat diadakan rapat dadakan, tapi dirinya mengenal dengan jelas bagaimana suara wanita itu. sementara kini yang ia dengar bukanlah suara Naomi yang ia pikirkan. akankah dirinya salah dalam berprasangka.


"mungkin memang benar apa yang kamu katakan. tapi melenyapkan salah satu dari sekian banyaknya kalian itu tidak masalah buat kami. pelan-pelan dan pasti adalah apa yang kamu lakukan. kalau mau nyawamu selamat, maka perlihatkan wajahmu"


"jangan harap bisa menggertakku dengan ancaman basi itu. mungkin bisa saja kalian berempat yang akan kehilangan nyawa"


(tunggu....suara ini....aku tidak asing mendengarnya) Fatahillah nampak berpikir setelah semakin jelas ia mendengar suara wanita itu.