Fatahillah

Fatahillah
Bab 94



"memangnya kalian nggak tau maksud dari aku tentang tukar posisi...?" tanya Aji Wiguna


"nggak" serempak keempatnya menggeleng, begitu polos dan membuat Aji Wiguna menepuk dahi


"kasih tau lah mas, kita kan penasaran" ucap Akmal


"oke, jadi begini"


Aji Wiguna mulai mengutarakan maksudnya. keempatnya diam dan mendengarkan, sesekali mengangguk paham.


"jadi seperti itu"


"kalau ketahuan bagaimana...?" tanya Alex


"ya jangan sampai ketahuan" jawab Aji Wiguna "sebelum melakukan itu, kita harus melakukan pemantauan terlebih dahulu. kenali orang-orang di sekitarnya, siapa teman terdekatnya dan juga kebiasaannya seperti apa. dengan begitu Fatahillah akan dengan mudah beradaptasi nantinya" lanjut Aji Wiguna "satu lagi, nama panggilannya seperti apa, sebab kadang orang menyebut nama seseorang yang bukan nama aslinya. siapa tau kan dia punya nama panggilan khusus"


"wah...mas Aji pintar, dapat nilai berapa mata pelajaran senibudaya di sekolah...?" tanya Akmal


"lah kenapa senibudaya...?" Hasan bingung


"iyalah, pasti mas Aji sering bermain peran sampai mempunyai ide brilian seperti itu. berarti mas Fatah mulai dari sekarang harus belajar main drama mas, biar nggak kaku aja gitu"


"kamu pikir kita mau syuting" cebik Fatahillah


"kita kan memang mau bermain peran mas. aku jadi apa dong nantinya...?"


"jadi gembel" celetuk Alex


"ondeh mandeeeeeh... wajahku macam sultan begini mau jadi gembel, apa kata cicak di dinding" Akmal menggerutu


melihat ekspresi Akmal yang sengaja dibuat-buat, mereka hanya geleng kepala. kadang-kadang memang otak pemuda itu, ada rada-rada gresek.


"tapi aku kok jadi ragu ya" ucap Fatahillah


"ragu karena takut ketahuan begitu...?" tanya Aji


"iya, memangnya aku sama dia begitu mirip ya...?


"mirip mas, cuman suara aja yang beda. tapi kan mas bisalah menangani itu. bilang saja mas batuk sampai masuk rumah sakit dan hampir metong"


plaaaak


"aw...aduh....kenapa sih di dunia ini nggak laki-laki nggak perempuan, suka sekali main pukul. malah sakit pula" Akmal meringis mengelus pahanya yang dipukul oleh Fatahillah


"makanya jangan asal nyerocos napa Mal, dapat hadiah kan sekarang" Hasan mengejek


"sungguh terlalu" Akmal mencebik kesal


Fatahillah sedang memikirkan usul rencana dari Aji Wiguna, sepertinya tidak ada salahnya untuk mencoba. lagipula masalah wajah, kemiripannya dengan saudara sepupunya sendiri bisa di bilang begitu mirip.


"jadi bagaimana...? hanya dengan cara ini kamu bisa leluasa bertindak tanpa ada yang melarang ataupun menangkapmu nanti jika kamu berusaha melepaskan ayahmu" ucap Aji Wiguna


"baiklah, aku setuju" Fatahillah mengangguk


"berarti sekarang penampilanmu harus diubah seperti dirinya" ucap Hasan


"apa itu harus...?"


"jelas harus. kamu kan akan menjadi seperti dia, lebih tepatnya kamu adalah dia, jadi gaya rambut, cara berpakaian harus sama seperti dia. jika kamu ke sana dan penampilan seperti ini, orang-orang pasti bertanya-tanya" timpal Alex


"benar juga sih" Fatahillah menggaruk hidung


"tenang saja mas, kita tinggal ke salon untuk make over dirimu. banyak jalan menuju roma" celetuk Akmal


"tapi jika mau melakukan tukar posisi berarti Gara yang asli harus di sembunyikan. pertanyaannya, sekarang dia dimana. kita aja nggak tau dimana dia tinggal di sini. lebih baik meringkusnya sekarang sebelum dia kembali ke gunung Gantara. kalau sudah di sana otomatis kita akan kesulitan sebab dia kan penguasa disana" ucap Alex


"ah benar juga, terus bagaimana dong...?" tanya Hasan


"yah...aku lupa tadi minta nomornya" Akmal menepuk keningnya


"tidak apa-apa, kalau memang rencana kita ini diridhoi oleh yang Maha Kuasa, insya banyak jalan yang akan Dia bukakan" timpal Fatahillah


"oh iya Mal, kamu akan ikut bersama kami atau mengantar ibu Kamila dan Haninayah ke kota B...?" Hasan membahas lainnya


"mana baiknya sajalah, tapi kan mustika putih sudah ditangan mas Fatah, berarti Haninayah aman sekarang, paling yang diincar ya pastinya mas Fatah lagi. orang-orang yang hampir menculik mbak Hani kemarin, pasti masih mengincar mustika itu" jawab Akmal


"apa tidak sebaiknya dia di sini saja dulu, kalau di sini sepertinya mereka akan aman" ucap Aji


"kalau tentang itu mungkin kita harus bicarakan langsung dengan pak Danang, karena ini rumah beliau. takutnya nanti malah merepotkan" imbuh Fatahillah


mendekati magrib, semua anak murid pak Danang berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. semua orang di dalam rumah bersiap untuk melaksanakan sholat magrib.


setelah sekian lama meninggalkan kewajibannya, barulah kali ini Aji Wiguna ikut melaksanakan sholat magrib di masjid terdekat yang ada di komplek itu. jika kemarin para Laki-laki sholat di rumah, kini mereka sholat di masjid. alasannya kemarin, sebab Haninayah masih menjadi incaran orang-orang yang ingin memiliki mustika putih sehingga mereka harus tetap waspada. hanya ada Rangga di dalam rumah sebagai laki-laki.


setelah melaksanakan sholat, mereka kembali pulang. tepat memasuki halaman rumah, terlihat Nagita keluar dari pintu masuk sedang terburu-buru menuju mobilnya. melihat dokter cantik itu, Akmal langsung berlari menghampiri dan menahan pintu mobil yang akan Nagita tutup.


"ada apa Mal...? aku sedang buru-buru"


"memang mbak Gita mau kemana...?"


"ke rumah sakit, ada operasi mendadak yang harus aku lakukan. lepaskan tanganmu, aku harus pergi sekarang"


"aku ikut"


"Mal...aku bukan mau pergi ke tempat hiburan tapi ke rumah sakit, ngapain kamu ikut"


"aku ikut untuk menjaga mbak agar nggak diambil orang di rumah sakit, siapa tau nanti di sana ada dokter yang matanya jelalatan dengan mbak. pokoknya nggak boleh"


"udah deh Mal, aku nggak punya waktu buat ladenin rayuanmu itu. sekarang lepaskan tanganmu"


"aku nggak merayu mbak cantik, aku berkata apa adanya. mbak keluar dan pindah ke samping kiri biar aku yang nyetir"


karena tidak ingin berdebat semakin lama, Nagita akhirnya mengalah. ia turun dan memutari mobil kemudian masuk ke kabin samping kemudi sementara Akmal langsung masuk ke dalam.


"lah itu si Akmal mau kemana...?" tanya Hasan


"entah" Fatahillah mengedikkan bahu


pak Danang, Alex, Aji Wiguna dan Guntur sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. sementara Fatahillah dan Hasan, keduanya memilih untuk duduk santai di gazebo.


"mas, aku ke rumah sakit dulu ya" teriak Akmal saat mobil itu akan melewati Fatahillah dan Hasan


"mau ngapain...?" Fatahillah sedikit berteriak juga


"mau mengantar dokter cintaku" Akmal mengerling mata kepada Nagita, kemudian ia kembali memutar kepala "pergi dulu ya, bye... bye" Akmal melambaikan tangan kemudian mobil itu keluar pagar dan menuju ke jalan utama


"apa dia bilang tadi...? dokter cintaku...? tanya Hasan, keningnya mengkerut memikirkan dua kata itu


"yang aku dengar sih juga begitu" jawab Fatahillah


"Akmal suka sama dokter Nagita...?"


"ya mana aku tau, lagipula kalau suka memangnya kenapa...?"


"ya nggak apa-apa sih, cuman cepat banget gitu dia move on dari Maryam"


"baguslah kalau dia udah move on. mengharapkan istri orang lain itu kan tentunya nggak benar, apalagi Maryam sekarang telah menjadi bibinya sebab dia menikah dengan paman kandung Akmal. lagipula perasaan Akmal belum sedalam itu, sehingga rasa sakitnya perlahan cepat menghilang. beda kalau misalnya keduanya sudah saling berkomitmen untuk ke jenjang pernikahan namun Maryam malah menikah dengan laki-laki lain, aku rasa Akmal akan gantung diri di pohon tomat" ucapan terakhirnya, Fatahillah terkekeh sendiri membayangkannya


"kamu benar, kemarin aja dia galau padahal belum berkomitmen apapun. tapi ya, usia Akmal sama dokter Nagita itu beda jauh loh Fatah. dokter Nagita pemikirannya pastinya sudah sangat dewasa, nah Akmal pecicilan seperti itu. aku nggak yakin dokter Nagita mau sama dia"


"jangan melihat dari casingnya saja San. biar pecicilan begitu tapi Akmal pemikirannya dewasa loh San. sikap dewasa seseorang tidak harus dilihat dari umurnya. banyak tuh yang usianya sudah matang namun sikapnya seperti anak SD. suka semaunya sendiri, merepotkan orang lain. intinya kita doakan saja semoga Akmal mendapatkan yang terbaik. kalau dia suka sama dokter Nagita, semoga kali ini dia nggak patah hati lagi"


"mending patah hati daripada patah tulang. kalau di urut rasanya mau pingsan" Hasan membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit gazebo


"aku mau hubungi istriku dulu" Fatahillah bangkit dan sedikit menjauh dari Hasan


Hasan terpikir oleh Hanum. bagaimana kabar wanita itu dirinya tidak tau sebab sampai sekarang ia belum menghubunginya. Hasan kembali bangun dan bersandar di tiang gazebo, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Hanum. sayangnya ponsel wanita itu tidak aktif sehingga Hasan hanya mengirimkan pesan saja.


karena merasa bosan dirinya hanya berdiam diri, Hasan membuka YouTube dan menonton video yang bermanfaat di sana. mungkin tidak sampai sepuluh menit, ponselnya berdering, Hanum menghubunginya. sepertinya wanita itu telah membaca pesan yang dikirimkan olehnya tadi.


(assalamualaikum)


(wa alaikumsalam mas, tega sekali kamu mas. dua hari kamu pergi sampai sekarang tidak memberikan kabar kalau bukan aku yang menghubungimu)


(maaf Han, kemarin-kemarin aku di sini sedang sibuk)


(sampai segitu sibuknya sampai tidak menghubungi aku atau karena kamu sudah melihat wanita lain di situ)


(astaghfirullah... ngomong apa sih kamu Han. wanitaku hanya kamu nggak ada yang lain)


(bohong)


huufffttt....


Hasan menghela nafas, berurusan dengan wanita memang begitu rumit. dikatakan yang sebenarnya malah tidak percaya, giliran mengatakan yang tidak benar mereka malah percaya. sungguh membuat pusing.


(aku nggak bohong Han, kamu kan tau kami ke sini bukan untuk datang jalan-jalan. tugas kami berat Han)


(kamu nggak tertarik sama tante Hani kan...?)


(aku bukan tali tambang yang main ditarik aja loh Han)


(ish...nyebelin, bukan itu maksud aku)


Hanum semakin kesal karena Hasan hanya menjawab dengan candaan.


(aku sayang sama kamu Han, hanya kamu. sejak dulu sampai sekarang perasaan itu nggak akan berubah. aku cinta kamu my mine)


(kok my mine...?)


(karena aku yakin kamu akan menjadi milikku. tunggu aku pulang ya)


(aku selalu menunggu kamu pulang, tetap jaga diri dan jaga hati juga)


(tentu saja. i love you my mine)


(love you more)


(aku tutup ya, salam sama pak Umar dan ibu Rosida)


(iya mas)


"ayo masuk San"


"sudah menelpon Zelina...?"


"ponselnya nggak aktif, nanti saja aku hubungi kembali"


keduanya masuk ke dalam rumah, mereka bergabung bersama yang lain di ruang tengah. rupanya saat itu semua orang sedang membahas Haninayah dan ibu Kamila. keduanya duduk dan mendengar apa yang disampaikan oleh pak Danang.


"kalau memang sekiranya sudah aman untuk Haninayah dan ibu Kamila pulang ke rumah, tidak masalah. lagipula mustika putih sudah berada di tangan Fatahillah. hanya saja bagaimana kalau orang-orang itu belum mengetahui mustika putih berpindah tuan, pastinya mereka akan tetap mengincar Haninayah" ucap pak Danang


"tapi saya sudah dua hari tidak masuk mengajar pak, kalau dari sini semakin jauh ke sekolah tempat saya mengajar" ucap Haninayah


"bagaimana kalau Guntur yang mengantar kamu setiap harinya, sampai kemudian keadaan kembali aman barulah kamu dan ibu Kamila kembali pulang ke rumah kalian" timpal ibu Nining


"aku bi...?" Guntur menunjuk dirinya sendiri


"ya iyalah Gun, memangnya yang namanya Guntur di sini ada berapa...?" ibu Nining mendelik


"antar sajalah mas, siapa tau cinta hadir karena tiap hari mengantar mbak Hani ke sekolah" Rangga ikut berkomentar, matanya berkedip-kedip menggoda kakak sepupunya


"anak kecil nggak usah komen, cuci kaki terus tidur sana" Guntur mengusap wajah Rangga


"aku udah gede kali mas, masa iya mau kecil terus" Rangga cemberut


"jadi bagaimana Gun...?"


"nggak usah bu, saya tidak ingin merepotkan siapapun. sudah di berikan tumpangan di rumah ini saja saya dan ibu saya sudah sangat bersyukur. lagi pula mungkin saya dan ibu saya akan ke kota S, untuk tinggal bersama kakak saya" Haninayah menolak


"siapa yang akan mengantar...?" tanya ibu Halima


"Akmal bu" jawab Haninayah


"tapi bukannya Akmal akan ke gunung Gantara, setau aku seperti itu rencana mereka" timpal pak Danang


"memang begitu mas Fatah...?" Haninayah melihat ke arah Fatahillah


Haninayah memang tidak tau kalau selain mengambil mustika putih, dirinya juga akan melanjutkan perjalanan ke gunung Gantara, dan Fatahillah belum sempat memberitahuku itu kepada Haninayah.


"iya, tapi kalau memang kamu ingin ke sana maka Akmal akan mengantarmu" jawab Fatahillah


"nggak usah mas Akmal, biar mas Guntur saja yang antar. sekalian silaturahmi sama calon kakak ipar, yuuuhuuiii" Rangga semakin edan, sepertinya sifat remaja itu sebelas dua belas dengan Akmal


"aku jitak ya kepalamu ngga" Guntur ingin meraih tangan Rangga namun remaja itu melompat dan duduk di samping ibunya


sementara Haninayah, dirinya menunduk sebab merasa malu Rangga dan juga Nagita selalu menjodoh-jodohkan dirinya dan Guntur.


"tidak perlu sampai mengantar, biar kami pulang saja ke rumah dan menghubungi anak saya. saya tidak ingin merepotkan orang lain termasuk nak Guntur" ucap ibu Kamila


"kalau begitu biar Akmal saja yang mengantar bu, pak Umar sudah berpesan seperti itu" timpal Fatahillah


"antar sajalah Gun, kamu kan sering punya waktu senggang. nggak apa-apa kan Halima, Guntur mengantar Haninayah ke kota S...?" ibu Nining memintakan izin


"ya nggak apa-apa, asal Guntur bisa menjaga mereka dengan baik sampai tujuan" jawab ibu Halima


Haninayah melirik Guntur yang sedang menggaruk kepala. pemuda itu sepertinya sedang memikirkan hal itu. entah kenapa menatap wajah pemuda itu membuat dadanya terasa berdebar-debar. di saat Guntur melihat ke arahnya, Haninayah memalingkan wajah, ia merasa malu karena kepergok sedang memperhatikan pemuda itu.


"baiklah, biar aku yang mengantar mereka" Guntur akhirnya setuju


"nah gitu dong mas, dari tadi kek" Rangga tersenyum menaik turunkan alisnya, sementara Guntur mendelik dan ingin sekali memutar kepala remaja itu


di dalam mobil, Nagita tidak hentinya mengehela nafas. jemarinya meremas ujung jilbab yang ia kenakan. Akmal sesekali melirik, ia dapat melihat ketegangan yang dirasakan dokter cantik yang duduk di sampingnya saat ini.


"kenapa sih mbak, ada masalah ya...?"


"memang kelihatan kalau aku gugup ya Mal...?" Nagita menoleh untuk melihat wajah Akmal


"sangat kentara mbak. memangnya kenapa, apa yang sedang mbak pikirkan...?"


"Selmi... Selmi masuk rumah sakit Mal. dan apakah kamu tau kalau ternyata dia...."Nagita mencoba untuk menguasai emosinya.


"dia kenapa...?"


"dia ternyata sedang hamil"


"hamil...?"


Nagita mengangguk. bukan karena dirinya saat ini begitu kecewa karena kekasih dan sahabatnya membohonginya mentah-mentah, hanya saja dirinya tidak habis pikir kenapa sampai mereka melakukan itu.


"kamu kecewa ya mbak...? masih mengharapkan mas Alvian ya...?"


"untuk apa mengharapkan suami orang Mal, aku hanya kasihan saja sama Selmi. demi mendapatkan Alvian, dia rela merelakan tubuhnya untuk dijamah sebelum keduanya sah. sekarang dirinya di ruang ICU, aku takut dia kenapa-kenapa"


Akmal tanpa kata mengambil tangan Nagita dan menggenggamnya. ia tersenyum lembut penuh kehangatan dan entah mengapa Nagita merasakan gejalar aneh yang menjalar ke dalam hatinya.


"semua akan baik-baik saja mbak, mbak akan menyelamatkan mbak Selmi. sebagai dokter, mbak harus kuat demi keselamatan pasien. aku akan selalu ada di samping mbak Gita"


"kenapa kamu begitu perhatian padaku Mal...?"


"karena aku sayang sama mbak Gita" genggam itu semakin erat


Nagita memalingkan wajah, dirinya tidak sanggup ditatap dengan dalam oleh pemuda yang kini sedang menggenggam erat tangannya. detak jantungnya semakin kencang, semakin lama semakin terasa.


(perasaan apa ini) batin Nagita


setelah renggang dengan Alvian, belum ada laki-laki yang dapat menggetarkan hati Nagita. bahkan setelah di kecewakan oleh laki-laki yang hampir akan menjadi suaminya itu, Nagita tidak ingin lagi menjalin hubungan sampai akhirnya Akmal datang dan kembali menumbuhkan perasaan aneh dalam dadanya.


mobil putih itu, berhenti di parkiran rumah sakit besar. padahal dirinya akan pindah ke rumah sakit lain namun karena dokter yang bertugas sedang tidak sehat maka pihak rumah sakit menghubungi Nagita, dirinya masih diperlukan di rumah sakit itu.


keduanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam lobi rumah sakit. Akmal yang hendak mengiringi langkah kaki Nagita karena wanita itu sedikit berlari, menghentikan langkah karena dirinya melihat seseorang yang ia kenal. senyuman di bibirnya mengembang, jarinya menjetik di udara.


"selalu ada jalan menuju kasus" gumamnya dengan langkah kaki panjangnya mendekati orang tersebut