Fatahillah

Fatahillah
Bab 134



"Mbah..Mbah Mamad" wanita itu berlari keluar memanggil seorang laki-laki yang sedang duduk bersila di sebuah gazebo yang ada di samping rumah.


"Mbah... tolong Mbah"


Merasa semedinya diganggu, laki-laki yang sebenarnya masih terlihat begitu muda membuka matanya dan menatap wanita yang kini sedang diraup kegelisahan dan kekhawatiran.


"ada apa...?" suara beratnya terdengar.


"tolong Mbah, kiriman teluh itu dikembalikan dan sekarang dia dalam keadaan sekarat di dalam"


Laki-laki muda itu dapat dilihat memiliki usia yang sama dengan Fatahillah, masih begitu muda namun sepertinya memiliki kekuatan yang juga sakti.


"bukannya dia sakti lalu kenapa meminta bantuanku" Mamad acuh dan kembali menutup matanya.


"dia bisa mati kalau tidak diobati Mbah. Ayolah mbah, masa diam saja seperti ini"


Mamad menghela nafas berat kemudian mengakhiri semedinya dan turun dari gazebo itu. Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah. di sebuah kamar, laki-laki itu terbaring tidak berdaya, begitu kesakitan bahkan luka bakar itu telah mengeluarkan asap bagai asap pembakaran ikan.


Mamad mendekati laki-laki itu sementara wanita tadi keluar kamar sebab ponselnya berdering. Di ruang tamu, wanita itu sedang berbicara dengan seseorang.


[bagaimana...?] suara seorang laki-laki terdengar di sebrang sana.


[kamu menanyakan keberhasilan kita...? Gagal...gagal total. Dia malah kalah dan bahkan teluh itu dikirim kembali kepadanya. makan apa sih Gara sialan itu sampai sekarang dirinya begitu sakti. Harusnya dulu itu, Hafshah langsung membunuhnya saja. Brengsek memang Gara Sukandar, ayah dan anak benar-benar membuat pusing]


[Gara bisa mengembalikan kiriman teluh itu, mana mungkin...?]


[jelas mungkin dan buktinya benar-benar terjadi. Kamu dimana sih, bukannya mau ke pulau bambu]


[iya saya memang akan pergi bersama Alex dan Akmal namun aku masih harus mengurus beberapa urusan. Tenang saja, Gandha Sukandar akan kita habisi bersama saudaranya itu. Mereka tidak akan bisa kabur dari sana]


[kamu ingin mengotori tanganmu dengan darah mereka...?]


[bukan tanganku tapi tangan yang lainnya. sudah dulu aku harus melanjutkan pekerjaanku. Urus saja dia, lagi pula ada mbah Mamad kan]


[oh iya tentang Mbah Mamad, kenapa aku merasa laki-laki itu seperti tidak berpihak kepada kita]


[kenapa kamu berpikiran seperti itu. Aku sudah membayarnya mahal, mana mungkin dia tidak berpihak kepada kita. Bahkan kekuatanku berlipat-lipat lebih kuat karena dirinya. Tidak sia-sia aku membayarnya untuk menjadi guruku]


[ya maksud ku, dia...ah sudahlah. aku matikan ya, dia berteriak keras di dalam kamar. Kamu saja pasti bisa mendengar suaranya]


[semoga saja dia nggak mati, beritahu Mbah Mamad kalau dia harus bisa menyembuhkannya]


[ya ya ya, nanti aku sampaikan]


"aaaggghh"


Suara teriakan dari dalam kamar membuat wanita itu dengan cepat berlari ke arah kamar. Mamad sedang mengobati laki-laki itu yang kini sudah bermandikan keringat. Luka bakar itu sedikit demi sedikit terlihat membaik walaupun belum sepenuhnya sembuh. Tapi berkat Mamad, laki-laki itu kini tidak begitu kesakitan seperti sebelumnya.


"bagaimana Mbah...?" wanita itu mendekati ranjang.


"kamu bisa lihat sendiri, untungnya dia tidak mati" Mamad menjawab santai dan berlalu keluar dari kamar.


wanita itu duduk di samping laki-laki itu, nanah dan juga asap dari luka bakar itu tidak terlihat lagi. Memang luar biasa ilmu Mamad, ia dapat menyembuhkan luka bakar yang diakibatkan oleh energi mustika merah.


"Ki Samidi sudah mati, Hafsah pun ditangkap oleh Gara. Dan Henry, laki-laki itu malah kini berpihak kepada Gara, benar-benar sialan. Harusnya aku membunuh keluarga Henry agar dirinya tau dia berurusan dengan siapa" dalam keadaan terbaring lemah, masih juga laki-laki itu mengumpat"


"tenanglah, masih banyak jalan untuk membuat perhitungan dengan Gara" wanita itu tersenyum licik, begitu licik dengan pikirannya yang sekarang.


"kenapa kamu tersenyum seperti itu...?"


"memangnya kenapa, kamu tergila-gila padaku dengan senyuman ini...?" wanita itu menyeringai.


"aku malah melihat kamu seperti tukang sihir di dunia barat" laki-laki itu mencari posisi ternyaman untuk dirinya.


"kamu benar-benar tidak tertarik padaku...?" ia malah mendekatkan wajahnya ke wajah laki-laki itu.


"apa aku terlihat begitu tertarik padamu...?" laki-laki bukannya salah tingkah namun malah menikkan satu alisnya.


"ck...kamu ini sepertinya penyuka sesama jenis. Bisa-bisanya kamu tidak deg degan bersama wanita cantik sepertiku. malah si tua Bangka kemarin yang keluar air liurnya ingin memangsaku. Amit-amit deh. Mending juga sama Mbah Mamad, masih muda ganteng pula"


"ya sudah kamu pergi saja sana sama Mbah Mamad. Aku mau istirahat. Setelah ini, kita pikirkan cara untuk menyingkirkan Gara sialan itu juga Henry di penghianat. Dia masih menjalankan perannya kan...?"


"tentu saja, dirinya sudah bagai Gandha Sukandar sungguhan dan bahkan bermesraan dengan istri orang" wanita itu menjawab malas.


"kamu cemburu...?"


"sama sekali tidak, yang aku sukai ada sini. ngapain aku cemburu sama dia"


Laki-laki itu menghela nafas kemudian menutup mata untuk tidur. Wanita itu keluar dari kamar membiarkan laki-laki itu istirahat. sementara Mbah Mamad, kembali bersemedi di luar rumah.


"permainan belum berakhir Gara, aku pastikan kamu akan kehilangan orang-orang yang kamu sayang, sama seperti kamu kehilangan Bulan" dengan seringai licik, wanita itu tersenyum.


_____


"dia baik-baik saja kan...?" Tegar memperhatikan wajah Henry yang tertidur.


"harusnya aku tau kalau pak Henry tidak akan di biarkan bebas begitu saja. Harusnya aku memasang pagar gaib agar serangan seperti tadi tidak terjadi lagi. Untungnya kamu dengan cepat menghubungi kami, terimakasih Tegar" Fatahillah menepuk pelan bahu Tegar.


"aku tadi hanya ingin melihat keadaannya, namun saat masuk dia sudah tergelatak kejang-kejang di lantai"


"lalu bagaimana dia sekarang Fatah...?" tanya Hasan.


"dia baik-baik saja, dia aman sekarang"


"syukurlah" mereka bernafas lega.


Saat itu Fatahillah mulai memasang pagar gaib di ruangan Henry dan juga di kamar rawat yang ditempati Tegar juga Yusrif. Meskipun dua pemuda tidak diincar namun Fatahillah merasa bertanggungjawab untuk melindungi mereka. Dirinya harus waspadai dan tetap was-was agar kejadian seperti Henry tidak terulang lagi.


(apa kabar ibu dan Genta sekarang ya, kenapa aku jadi kepikiran mereka saat ini)


Fatahillah melamun, seketika ia memikirkan keadaan keluarga Gara yang belum ia hubungi sampai sekarang. Dilihatnya jam tangan miliknya, sudah menjelang larut malam. Pastinya ibunya tidak akan mengangkat telepon darinya karena ia berpikir wanita itu sudah tidur.


"kenapa mas...?" Akmal bertanya ketika melihat Fatahillah diam.


"tidak kenapa-kenapa, aku hanya memikirkan keadaan ibu saja"


"di sana kan ada Fauzan juga Yusuf. Lagipula mereka belum tau siapa kamu sebenarnya" Hasan menimpali.


"bukan keluarga yang ada di kota S, melainkan ibu Laksmi, istri Gandha Sukandar. Entah kenapa aku tiba-tiba malah memikirkan mereka"


"ini baru jam 11 malam, belum terlalu malam untuk menghubungi mereka" ucap Hasan.


"tapi mungkin saja mereka sudah tidur dan lagi kita tidak tau jangan sampai Gandha Sukandar yang palsu itu bersama ibu Laksmi sekarang. Bisa gawat kalau dia tau keberadaan kita" ucap Tegar.


"benar juga, lebih baik besok saja menghubungi mereka" Akmal setuju dengan Tegar.


Fatahillah mengangguk dan menyuruh mereka untuk istirahat. Di dalam kamar Henry mereka beristirahat sementara Tegar kembali ke kamarnya.


_____


suara Adzan subuh membangunkan Najihan. Ia pun bangun sementara Kaindra masih betah dengan selimut tebal yang membungkus dirinya.


"Kai, bangun Sayang sholat subuh dulu" Najihan membuka selimut putranya dan mencium wajahnya beberapa kali.


Euugghh....


Kaindra merenggangkan ototnya, membuka mata dan melihat ibunya tersenyum hangat kepadanya. namun saat itu Kaindra tidak menggubris Najihan, dirinya malah beralih menatap ke samping ibunya untuk melihat keberadaan ayahnya. Ketika melihat di samping ibunya kosong, Kaindra bangun dengan cepat dan melihat sekeliling kamar.


"papaaaaa...hiks...hiks...papa mana mah, papa kok nggak ada. papa kenapa ninggalin Kai. huwaaaa...papaaaa"


Suara serak khas bangun tidur sudah konser di pagi hari itu. Najihan bahkan sampai menutup kedua telinganya karena suara anaknya.


"papa....hiks....hiks....papaaaaa"


"ya ampun sayang, kok malah nangis. Papa ada kok nak, nggak kemana-mana" Najihan hendak meraih tubuh anaknya, namun Kaindra malah menepis dan semakin menangis.


"papa....aku mau papa" Kaindra terisak dan dengan kesal membuang bantal ke lantai.


Aji Wiguna membuka mata perlahan karena suara tangis yang samar-samar ia dengar. ketika tau jika itu adalah tangis anaknya, ia pun segera berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Kaindra sedang memberontak di pangkuan ibunya.


"kenapa nangis...?" Aji Wiguna mendekat dan meraih Kaindra kemudian menggendongnya.


"kok malah nangis anak papa, kenapa humm...?


Kaindra tidak menjawab dan ia hanya menenggelamkan wajahnya di celuk leher Aji Wiguna. Anak itu masih terisak-isak dan memeluk leher ayahnya dengan erat.


"saat tau kamu tidak di sini, dia mulai menangis dan ya seperti itulah sekarang" Najihan memberitahu.


"papa nggak kemana-mana kok sayang, tadi papa ke dapur soalnya papa haus" terpaksa Aji Wiguna berbohong padahal sebenarnya ia semalaman tidur di sofa ruang tengah.


"kita sholat subuh ya, mau nggak...?"


"mau, tapi papa janji nggak ninggalin Kai ya. Pokoknya papa harus sama-sama Kai terus"


"ya nggak bisa dong sayang, papa kan harus kerja. nanti kalau nggak kerja, papa nggak bisa beliin Kaindra motor balap" Najihan dengan lembut berucap.


"kalau pulang kerja berarti papa harus pulang ke rumah ini. Iya kan pah...?" dengan mata yang sudah basah, Kaindra menatap wajah Aji Wiguna.


"iya...kan anak papa ada di sini jadinya papa harus pulang di sini. Sekarang kita cucu muka, sikat gigi terus wudhu, oke"


"oke" Kaindra kembali ceria. "mama sholat bareng kita kan...?" ia memutar kepala untuk melihat Najihan.


"iya sayang"


"mama kok nggak maju...?" Kaindra beralih menata ibunya.


"maju kemana nak...?" Najihan nampak bingung.


"maju dekatin papa buat cium tangan papa dong mah"


"ekhem" Aji Wiguna bagai orang yang lehernya gatal, merasa canggung dengan permintaan putranya itu.


"ayo dong mah, mama Asyila saja kalau selesai sholat, langsung cium tangan papa Asyila. Kai lihat itu di rumah mereka saat mama nitipin Kai sama mama Asyila"


Najihan kikuk dan tersenyum paksa, sementara Aji Wiguna diam seribu bahasa. Dengan keberaniannya, Najihan maju di depan Aji Wiguna.


"maaf mas" Najihan meraih tangan Aji Wiguna dan mencium punggung tangan laki-laki itu. begitu lama bahkan tanpa sadar Najihan meneteskan air mata. Merasa tangannya basah, Aji Wiguna menarik tangannya. Sementara Najihan menghapus air matanya dan berusaha tersenyum kembali.


"kamu menangis...?" Aji Wiguna melihat Najihan membuang wajah, sebab tidak ingin dilihat kalau saat ini dirinya sedang menahan tangis.


"tidak...aku kelilipan. Kai, sekarang mengaji di temani papa ya, mama mau masak dulu"


"iya mah"


Najihan berdiri dan melepas mukenah yang ia pakai. Dengan baju gamis dan jilbab instan yang dipakainya, dirinya keluar kamar untuk turun ke lantai bawah. Sementara Aji Wiguna mulai memperhatikan putranya mengaji. Anak seusia itu sudah bisa membaca ayat suci Al-Qur'an.


"dia berhasil mendidiknya dengan baik" Aji Wiguna mengelus kepala Kaindra dengan penuh kasih sayang.


Setelah sarapan pagi, Aji Wiguna berpamitan untuk pergi. Kaindra pun kini kembali lengket padanya. Anak itu bahkan berkaca-kaca saat Aji Wiguna menggendongnya mendekat mobil.


"sini sayang, papa harus pergi kerja" Najihan mengulurkan tangan untuk mengambil Kaindra.


"papa nanti pulang kan...?" Kaindra mencoba untuk mendapatkan jawaban kembali padahal Aji Wiguna sudah berulang kali menjawab akan pulang.


"iya sayang, papa akan pulang" Aji Wiguna menoel hidung mancung putranya itu, persis sama seperti hidungnya. Wajah, Mata, bahkan senyuman Kaindra begitu mirip dengannya.


"ayo den, kamu kan harus ke sekolah" bi Sumi datang mengambil alih Kaindra.


"dadaaaa papa...cepat pulang ya, Kai tunggu di rumah sama mama" lambaian tangan kecil anak itu di balas oleh Aji Wiguna. Kaindra di bawa masuk ke dalam rumah untuk dimandikan oleh bi Sumi.


"hati-hati mas" ucap Najihan.


"aku mungkin tidak bisa pulang, hari ini atau bahkan beberapa hari kedepannya. Kamu tau ada hal penting yang harus kami urus. Katakan pada Kaindra kalau aku pasti pulang nantinya"


"iya, akan aku beri pengertian kepada Kaindra" Najihan tersenyum.


"kamu tidak ke rumah sakit...?"


"pergi, tapi setelah mengantar Kaindra ke sekolah. Aku juga harus melihat keadaan pak Henry"


"Najihan"


"ya mas"


"aku harap kamu selalu bahagia meski tidak denganku" ucapan itu lolos juga dari mulut Aji Wiguna.


Berat Najihan mendengarnya namun dirinya harus bisa untuk menerima.


"mas Aji juga harus bahagia, mas harus menemukan wanita yang lebih baik lagi dan pastinya dia harus menyayangi Kaindra" teriris hari Najihan mengatakan itu, akan tetapi dirinya tidak bisa memaksa keadaan. Dia tau hati Aji Wiguna sudah begitu membeku untuk dirinya.


"hatiku telah mati untuk seorang wanita, aku tidak berkenan mencari pendamping hidup"


"apa karena aku...?" tatapan sendu itu membuat Aji Wiguna tidak dapat memalingkan wajah.


"menurutmu...?" keduanya saling tatap, begitu lekat dan bahkan ada rasa kerinduan yang dipendam oleh mereka berdua.


"aku....aku masih begitu mencintai mu mas. Jika luka kemarin tidak dapat sembuhkan lagi, bolehkah izinkan aku untuk berusaha menyembuhkannya dengan lembaran baru yang kita bangun. Demi Kaindra anak kita. Beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku, aku tau itu tidak akan mudah bagimu, tapi....aku mohon mas, satu kesempatan saja" Najihan kini sudah berkaca-kaca.


"bagaimana aku bisa percaya kamu tidak akan...."


"aku bersumpah demi langit dan bumi, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku bahkan telah memenjarakan om Felix karena ternyata dialah yang membunuh kak David. Aku mohon mas, satu kesempatan saja untuk aku, aku mohon"


Air mata wanita yang ia cintai tidak sanggup bagi Aji Wiguna untuk melihatnya. Helaan nafas panjang keluar dari lubang hidungnya. Tidak mudah baginya untuk mengambil keputusan, luka itu sekarang kembali basah. Dirinya masih begitu ingat bagaimana Najihan sama sekali tidak mempercayainya dan memberikan kesempatan satu kali saja untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Bahkan wanita itu tega untuk menghabisi nyawanya hanya karena dendam yang salah alamat.


"maaf, aku tidak bisa" Aji Wiguna masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Najihan yang berurai air mata karena dirinya tidak lagi mempunyai tempat di hati laki-laki yang pernah meratukannya.


_____


[halo bu]


[tumben pagi-pagi kamu menelpon nak, ada apa...?]


[tidak, aku hanya kangen saja. Genta dan Afnan mana bu...? Kakek juga sehat-sehat kan...?]


[Alhamdulillah kami semua sehat, kamu bagaimana, jangan lupa makan ya, jangan terlalu dipaksakan untuk bekerja]


[iya bu, emmm ayah apakah ada di rumah...?]


[tidak, sudah beberapa hari ini ayah tidak pulang. Mungkin dia sibuk, kamu tidak mencoba menelponnya...?]


[nanti saja kalau aku tidak sibuk lagi. Aku hanya mau memberitahu, nanti akan ada mobil yang datang menjemput ibu, Genta, Afnan dan juga kakek]


[loh memangnya mau dibawa kemana kami...?]


[ke tempat yang aman, ibu tidak perlu khawatir orang-orang itu ada anak buah aku. Untuk sementara kalian tinggal di tempat yang sudah aku siapkan ya, sampai semua urusan aku selesai]


[memangnya kenapa kami harus pindah nak, apakah kamu diincar lagi, apakah keluarga kita kali ini yang akan menjadi incaran musuhmu...?]


[maaf atas semua situasi sekarang ini bu, tapi hanya dengan begitu ibu dan semuanya akan aman. Mereka tidak akan menemukan kalian, percaya padaku ya bu]


[lalu ayahmu bagaimana...? Apa perlu ibu memberitahunya]


[jangan...ayah akan menjadi urusanku nanti. Maksud ku, nanti ayah akan aku beritahu]


[kamu masih sakit Gara, apakah kamu sanggup menahan semuanya. ibu tidak ingin melihat kamu menderita lagi seperti sebelumnya. Berjanjilah pada ibu ya nak, kamu harus tetap selamat. Demi ibu, demi Genta dan semua orang]


(ya Allah...betapa besar kasih sayang ibu Laksmi untuk Gara) Fatahillah sungguh terharu, wanita yang masih terlihat begitu muda, begitu menyayangi Gara layaknya anaknya sendiri.


[nak, kamu dengar ibu kan...?]


[iya bu, aku dengar. Aku janji semuanya akan baik-baik saja, aku janji aku tidak akan terluka lagi. ibu siap-siap ya, Samuel nanti akan menjemput kalian. Aku akan menghubunginya sekarang]


[tapi... bagaimana dengan sekolah kedua adikmu...? Afnan bahkan baru saja masuk sekolah dua hari yang lalu]


[untuk sementara, mereka harus belajar dari rumah saja. Samuel akan menghubungi gurunya nanti]


[baiklah, kamu hati-hati ya]


[iya bu]


"memangnya kamu akan membawa mereka kemana mas...?" tanya Akmal saat Fatahillah telah mematikan panggilan dan kini ia sedang menghubungi Samuel.


"ke tempat yang aman pastinya"


Semalaman Fatahillah memikirkan keselamatan keluarga Gara Sukandar. Dia tidak ingin mengambil resiko dan ceroboh lagi karena tidak memperhatikan keluarga saudara kembarnya dan malah memperhatikan keluarga orang lain. Saat ini dirinya merasa, bisa saja orang-orang menyerang keluarga Gara Sukandar sehingga dirinya harus menyelamatkan mereka sebelum semua itu terjadi.


[halo Sam]


[ada apa, apa kamu sudah di pulau bambu...?]


[belum, aku mau kamu agar menjemput keluargaku dan membawa mereka ke tempat yang aman]


[memangnya kenapa, apa ada masalah yang terjadi...?]


[masalah sudah ada sejak kemarin Sam. Dan satu lagi, kalau ayah bertanya kepada kamu dimana keberadaan ibu juga adik-adik ku dan kakek, bilang saja kamu tidak tau. aku percaya padamu Sam]


[bisa jelaskan alasannya kenapa sampai mereka harus mengungsi ke tempat yang aman...?]


[aku tidak bisa menjelaskan lewat telepon. begini saja, setelah mengantar keluargaku maka datanglah ke rumah sakit. Akan aku ceritakan semuanya. Ingat, biarkan orang lain terlebih dahulu yang menjemput mereka setelah itu barulah kamu mengambil alih saat sudah jauh dari rumah. Karena orang-orang yang berjaga di rumah itu pasti suruhan ayah]


[oke, akan aku lakukan. aku hubungi Erik dulu untuk menjemput mereka dan membawa mereka kepadaku]


[ke tempat yang tidak akan ada orang yang bisa menemukan mereka termasuk ayah Sam]


[tenang saja, kamu bisa mengandalkan ku]


[baiklah, aku tutup]


Samuel yang saat itu masih berada di rumahnya, ia langsung menghubungi Erik. Erik menyanggupi dan kemudian Samuel akan mengantar Jeni ke tempat temannya.


"tanggal pelulusanmu kapan dek...?" tanya Samuel, mereka saat ini sudah mengarah ke rumah Tasya.


"tidak lama lagi"


"memangnya Tasya sudah pulang ya, kemarin kan masih di wilayah D di rumah neneknya"


"Tasya sudah pulang kak, kemarin dia sampai"


Samuel manggut-manggut, mobilnya kini berhenti di depan rumah dua lantai. Jeni turun dari mobil setelah mencium tangan Samuel. Laki-laki itu kembali melajukan mobilnya, ia akan ke jalan cendrawasih untuk menjemput keluarga Gara. di lampu merah, sebuah mobil berhenti di disampingnya, saat menoleh nampak Samuel melihat seorang wanita yang begitu ia kenal. Seketika dirinya mengernyitkan dahi dan berpikir, bukankah wanita itu berada di tempat lain lalu sekarang kenapa dia bisa berada di wilayah S.


Ketika lampu hijau menyala, mobil itu bergerak dan Samuel mengikutinya. Namun sayang dirinya harus berbeda arah dengan mobil yang tadi.


"apa aku salah lihat ya" tanpa merasakan gatal, Samuel menggaruk kepalanya.


"ah mungkin saja aku salah, lagipula tadi juga mobilnya bukan seperti mobil yang biasa dia bawa" Samuel tetap menyetir lurus menuju ke jalan cendrawasih.