
Zelina mengerutkan kening melihat saudara sepupunya bersama dengan istri dari pamannya ada di rumah utama. kedua wanita itu menghampiri Zelina yang sedang dirangkul bahunya oleh Fatahillah.
Akmal, Arjuna dan Najwa yang tidak mengenal keduanya langsung berjalan ke arah teras rumah dan duduk di kursi yang memang sengaja disediakan.
"ada taman bermain ternyata ya" ucap Najwa
halaman depan rumah sudah disulap oleh Afkar menjadi taman bermain untuk anak-anak panti nantinya.
"sepertinya aku akan betah tinggal di sini" gumam Arjuna menelisik sekitar
ibu Arum dan Andini berdiri tepat di depan suami istri itu. Zelina dengan takzim mencium tangan ibu Arum dan memeluk Andini. sementara Fatahillah tetap di tempatnya dengan wajah datarnya. bahkan dirinya sebenarnya malas berhadapan dengan kedua wanita itu. apalagi ibu Arum yang menatapnya dengan tatapan seperti dulu pertama kali mereka bertemu, tatapan menghina.
"apa kabar bi, Andini...?" tanya Zelina dengan ramah
"kamu ini sebenarnya darimana, bukannya mengatur perusahaan malah keluyuran nggak jelas. mau jadi apa perusahaan kalau kamu saja seenaknya main pergi begitu saja" ibu Arum langsung mencerca Zelina, bahkan senyumpun tidak
"aku dan mas Fatah dari kota B menjenguk keluarga mas Fatah di sana. lagipula selama ini kan Afkar yang selalu memantau perusahaan semenjak ayah masih ada" Zelina menjawab sopan
"jangan terus mengandalkan Afkar dong, dia itu orang luar. bagaimana nanti kalau dia korupsi atau semacamnya kita kan nggak tau. lebih baik percayakan saja kepada Andini untuk mengelola perusahaan selama kamu tidak ada" cerocos ibu Arum
Fatahillah jengah mendengarnya, dirinya sudah tau ujung-ujungnya akan seperti itu sementara Zelina menaikkan satu alisnya.
"maaf bi tapi aku tidak akan pernah mengganti Afkar dengan siapapun termasuk Andini" Zelina berucap dengan tegas
"kamu meragukan kemampuan ku Zel...?" ujar Andini
wanita itu memberenggut dalam hati karena Zelina dengan tegas menolak dirinya untuk menggantikan Afkar.
"sayang, sebaiknya kita masuk ke dalam. tidak baik berbicara diluar seperti ini" ucap Fatahillah yang masih merangkul bahu Zelina dengan mesra
"aku hubungi Afkar dulu mas" ujar Zelina
hendak menelpon Afkar namun ternyata laki-laki itu datang dari arah samping rumah. dengan wajah yang sumringah, ia berjalan cepat mendekati bosnya.
"masya Allah mbak Zelina, padahal baru saja tadi aku meminta mas Fatah untuk menghubungi mbak, eh ternyata mbak sudah di sini" Afkar tersenyum ramah
"kamu sehat Af...?" tanya Zelina begitu peduli
"Alhamdulillah sehat mbak. ayo masuk, renovasinya dan perlengkapan semua keperluan untuk anak-anak nanti sudah tersedia mbak. tinggal taman bermain ini, insya Allah besok sudah selesai" ajak Afkar
Zelina dam Fatahillah mengikuti langkah Afkar yang mulai berjalan lebih dulu. ibu Arum dan Andini pun mengikuti mereka dengan sikap seperti pemilik rumah.
"Mal, ayo masuk ke dalam" ajak Zelina
"baik mbak" jawab Akmal
ketiganya berdiri setelah Zelina dan Fatahillah telah masuk. saat ibu Arum dan Andini yang lewat di depan mereka, mereka tersenyum ramah namun senyuman mereka dibalas dengan tatapan sinis.
"idih...ngeri banget tuh mata" ucap Akmal yang memang orangnya suka blak-blakkan
"apa kamu bilang...?" Andini berhenti dan menatap Akmal dengan tajam
"memangnya saya bilang apa mbak...? Akmal memasang wajah polos
Andini sekali lagi menatap sinis ke arah mereka dan masuk ke dalam menyusul ibunya. ketiganya pun ikut masuk dan menghampiri semua orang yang tengah duduk di ruang tamu.
"kalau sudah selesai berarti lusa bisa dibuka ya Af" ucap Zelina
"iya mbak" jawab Afkar
"oh iya Af. itu Arjuna yang saya ceritakan kemarin. tolong urus dia ya, penuhi semua kebutuhannya dan juga keperluan sekolahnya nanti" Zelina melihat ke arah Arjuna
"mbak tidak usah khawatir, saya akan menjaga dan memantau dia" jawab Afkar
"dia siapa...?" ibu Arum melihat ke arah Arjuna
"adik angkat ku" jawab Zelina
"kamu ini, kenapa sembarangan sekali membawa orang asing masuk ke rumah ini. mau menghidupinya lagi" dengan sinis ibu Arum menatap Arjuna yang kini sedang menunduk
"bukan urusan bibi saya mau membawa masuk siapa saja di rumah ini. lagi pula Arjuna saya yang tanggung bukan bibi"Zelina langsung menskak ibu Arum membuat wanita itu semakin geram
"kasian" Akmal tersenyum mengejek
"kamu mengejekku...?" dengan nada marah, ibu Arum melihat Akmal
"suudzon banget tante, aku dari tadi duduk anteng loh" Akmal menjawab santai
Fatahillah menggeleng kepala, ia tau kalau memang Akmal sedang mengejek ibu Arum. sementara Andini mengelus lengan ibunya untuk menenangkan.
"Afkar, yang perempuan itu adalah Najwa. dia akan bekerja di perusahaan. tolong bimbing dia juga ya. Arjuna dan Najwa akan tinggal di sini membantu kamu di panti asuhan" ujar Zelina
"Akmal gimana, kamu nggak mau masuk perusahaan ya...?" Fatahillah mengalihkan pandangan ke arah Akmal
"kamu gimana sih Zelina, tadi aku yang ingin menggantikan Afkar malah kamu tolak sekarang dengan suka hati malah memasukkan orang untuk masuk ke perusahaan. apalagi mereka orang luar, nggak bisa gitu dong Zel" Andini menampakkan ketidaksukaan kepada orang-orang yang datang bersama dengan sepupunya
"Andini, kalau kamu mau menggantikan Afkar jelas aku tidak akan mau. bukannya dulu kamu nggak mau bekerja di perusahaan ayah, sekarang kenapa malah ingin masuk"
"Zelina, kamu lebih memilih mereka daripada sepupumu sendiri" ibu Arum menunjuk Najwa dan Akmal
"setelah ayah meninggal perusahaan miliknya jatuh ke tanganku. aku berhak memasukkan siapa saja yang menurut ku memiliki potensi untuk berkerja di perusahaan. bibi dan Andini tidak berhak ikut campur dalam urusanku" Zelina berucap tegas kali ini
"kami ini keluargamu Zelina, berani sekali membentak saya" ibu Arum mulai emosi
semua orang diam tanpa ikut campur. Zelina menghela nafas, ia benar-benar jengah dengan tingkah keduanya.
"katakan apa yang kalian inginkan sehingga datang ke sini...?" Zelina tidak ingin berbasa-basi dan langsung menanyakan keinginan mereka
"kami ingin tinggal di sini dan juga Andini akan ikut andil dalam perusahaan" jawab ibu Arum
"hhh" Zelina tersenyum sinis dibalik cadarnya
"memangnya Andini siapa sampai harus ikut andil dalam perusahaan. Andini tidak punya hak apapun atas jerih payah ayah yang membangun perusahaan dari nol"
"aku keponakan paman Harun, jelas punya haklah" tegas Andini
"kamu hanya keponakan bukan anakknya. paman Hutomo tidak mempunyai ikatan apapun dengan perusahaan milik ayahku. bukannya semua harta warisan kakek sudah jatuh ke tangan kalian, apalagi yang kalian minta. dan untuk rumah ini, saya tidak izinkan kalian tinggal di sini"
"jangan kurang ajar kamu ya Zelina, kami mempunyai hak atas rumah ini" ibu Arum membentak Zelina
"cukup bi" Zelina membalas membentak, ibu Arum dan Andini sampai kaget melihat untuk pertama kalinya Zelina melawan mereka
bukannya kedua wanita itu yang kaget. Fatahillah dan yang lainnya tentu saja melongo, wanita yang penuh dengan kelembutan kini menampakkan kemarahannya.
"rumah ini adalah hasil keringat ayahku sendiri, bukan milik kakek ataupun milik paman Hutomo. rumah ini adalah milik orang tuaku. jangan serakah jadi manusia bi, bukannya rumahku sudah aku berikan kepada kalian berdua. sudah aku katakan bukan, aku serahkan rumah itu kepada kalian tapi jangan berani lagi meminta yang lebih. bahkan sekarang apapun yang aku punya, kalian tidak berhak untuk mengambilnya"
dengan menahan emosi, Zelina menatap tajam keduanya. kalau bukan keluarga mungkin Zelina sudah mengusir kedua orang itu.
"berani sekali ya kamu melawan saya" ibu Arum menunjuk Zelina dengan telunjuknya
"jaga sikap anda terhadap istri saya ibu Arum" tegas Fatahillah mengeraskan rahangnya
"diam kamu, saya tidak punya urusan denganmu"
"jelas semua akan menjadi urusanku jika anda menghardik istri saya. lebih kalian berdua pergi atau saya panggilkan satpam" Fatahillah sejak tadi sudah menahan emosi
"awas saja kalian, akan aku balas nanti" ibu Arum menendang meja dengan kerasnya. Akmal dan Arjuna bahkan kaget dan melompat ke atas sofa
hampir saja meja itu mengenai lutut Zelina juga Najwa. untungnya Fatahillah dengan cepat menahan menggunakan kakinya sehingga istrinya dan Najwa tidak terluka.
"kamu akan menyesal Zel" ucap Andini penuh kebencian
kedua wanita itu beranjak berdiri meninggalkan mereka. Fatahillah yang tidak suka dengan tingkah keduanya menatap tajam ke arah keduanya. begitu fokus melihat ke arah ibu Arum hingga detik berikutnya wanita itu terpeleset dan jatuh berguling di tangga teras rumah.
memang manusia kurang akhlak namun dirinya tidak bisa menahan tawa. seperti halnya juga dengan yang lain. bukannya ingin menertawakan orang yang sedang terkena musibah namun jatuhnya wanita itu membuat mereka tidak bisa untuk tidak tertawa.
"astaghfirullah... durhaka sekali kita" ucap Zelina
"itu namanya azab" Fatahillah tersenyum simpul
dengan umpatan dan kata-kata makian, ibu Arum mengeluarkan sumpah serapah bahkan sampai melempar kaca rumah menggunakan sepatunya. satpam yang melihat itu segera meringkus keduanya dan mengusir mereka.
"sejak kemarin mbak Andini terus datang ke sini mbak. saya sampai jengah juga" Afkar mengeluarkan suara
"mulai hari ini jangan ikuti apapun yang mereka perintahkan"
"baik mbak. bagaimana kalau mbak dan mas Fatah tidur di sini malam ini" ucap Afkar
"belum bisa Af, insya Allah lain waktu. sekarang kami harus pulang lagi. Arjuna dan Najwa akan kesini kalau sudah dibuka panti asuhan lusa ya"
"baiklah, saya akan persiapkan semuanya. sudah ada anak-anak yang akan masuk ke sini. insya Allah lusa akan dibuka. apa sekalian kita adakan syukuran mbak...?"
"bagaimana mas...?" Zelina meminta pendapat Fatahillah
"terserah kamu saja sayang, kalau memang perlu ya kita adakan" Fatahillah menjawab
"atur saja bagaimana baiknya ya Af. saya percayakan padamu"
"baik mbak"
kini mereka berpamitan untuk pulang. hari sudah semakin sore, apalagi Fauzan mengirimkan pesan kepada Fatahillah kalau sebentar lagi dirinya akan pulang.
sebelum pulang ke rumah, mereka mampir di toko kue untuk membeli persiapan lamaran besok. bahkan mereka singgah di pasar untuk belanja keperluan dapur agar jika besok mereka memasak, tidak repot-repot lagi untuk keluar rumah.
Akmal yang hanya membawa beberapa potong pakaian memutuskan untuk belanja baju di pasar itu. Arjuna pun dan Najwa ikut memilih.
pukul setengah enam barulah mereka tiba di rumah. saat itu kedatangan mereka bertepatan dengan kedatangan Fauzan dan Hasan.
"dari belanja...?" tanya Hasan menghampiri mereka
"iya, ayo masuk" ajak Fatahillah
dengan belanjaan yang lumayan banyak, mereka masuk ke dalam rumah.
setelah sholat magrib, mereka semua langsung makan malam. begitu ramai rumah ibu Fatimah setelah kedatangan Zelina dan tiga orang lainnya. selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah. hanya beberapa menit saja karena setelah itu azan isya berkumandang. kembali mereka menunaikan kewajiban sholat isya.
kini mereka sudah berada di ruang tengah setelah melaksanakan sholat isya. hal yang akan dibicarakan mulai dibahas oleh Fatahillah.
"jika Zulaikha setuju maka tentunya saya pun tidak keberatan" ucap Fauzan
"bagaimana nak...?" ibu Fatimah bertanya kepada anaknya
meskipun sebenarnya mereka telah mendengar jawaban Zulaikha tadi siang namun mereka ingin memastikan sekali lagi kalau gadis itu setuju dan didengar langsung oleh Fauzan.
"Icha mau bu" jawabnya dengan pelan
"Alhamdulillah" semuanya mengucapkan syukur
ibu Fatimah memeluk putrinya sementara Hasan merangkul bahu Fauzan karena temannya itu akan melepas masa lajangnya. Fauzan segera pamit untuk pulang karena ia harus memberitahu orang tuanya tentang rencana pernikahannya. kendatipun ia telah memberitahu orang tuanya bahwa dirinya akan menikah dalam waktu dua bulan lagi namun karena rencana yang disusun untuk kebaikan mereka maka pada akhirnya ia harus pulang malam itu.
kepulangan Fauzan beberapa menit kini kembali mereka kedatangan tamu yaitu Yusuf dan Anisa. Yusuf membawa pulang Anisa setelah menjemput orang tuanya di bandara dan makan malam di rumah Yusuf dengan makanan yang telah di masak oleh art yang Yusuf pekerjakan.
"loh...mbak Zelina, kapan datang...?" Anisa tersenyum saat melihat Zelina dan juga Akmal. namun kemudian keningnya mengkerut melihat Najwa dan Arjuna
"tadi siang. kamu tidak mengenal Najwa...? waktu itu saat ke kota B dia dan ayahnya yang mengantar kami. kita bertemu di rest area. kalau Arjuna jelas kamu tidak akan tau" Zelina memahami raut wajah Anisa
"iyakah, aku lupa pernah bertemu dengannya" Anisa tersenyum ke arah Najwa dan senyumannya dibalas
"orang tuamu sudah datang nak Yusuf...?" tanya ibu Khadijah
"sudah bi, insya Allah besok kami akan datang ke sini" jawab Yusuf
"bersamaan dengan Fauzan dan Zulaikha, insya Allah Fauzan juga besok akan melamar Zulaikha" ucap ibu Fatimah
"mbak dokter sudah mau menikah ya, selamat kalau begitu" ucap Akmal
"makasih Akmal" Anisa menjawab ramah tidak seperti dulu selalu ketus dengan pemuda itu
pukul 11 malam, Yusuf berpamitan untuk pulang karena besok dirinya harus bersiap untuk datang melamar. kepulangan Yusuf membuat semua orang memutuskan untuk istrahat.
Najwa dan Anisa tidur di kamar Zulaikha, para lelaki seperti biasa akan tidur di ruang tengah sementara Fatahillah dan Zelina sudah pasti satu kamar.
di luar Hasan, Akmal dan Arjuna sudah melalang buana ke alam mimpi namun tidak dengan sepasang suami istri yang kini masih terjaga.
"sayang" panggil Fatahillah dengan lembut
"ya mas" Zelina yang sudah memakai baju tidur dengan rambut terurai memutar kepala untuk melihat suaminya
"apakah...malam ini aku boleh..."
"boleh mas" dengan cepat Zelina memotong ucapan suaminya
"kamu tidak kelelahan...?"
"lelahku terbayar setelah melihat wajahmu mas"
"kalau begitu kita sholat sunah dulu ya" Fatahillah begitu semangat
Zelina mengangguk patuh. keduanya berwudhu dan melaksanakan sholat sunah. selesai mengucapkan salam, Fatahillah memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah istrinya. Zelina mencium tangan suaminya sementara Fatahillah mencium kening istrinya dan memanjatkan doa yang baik untuk wanita yang telah memiliki sepenuh hatinya.
Fatahillah melepaskan mukenah yang dipakai oleh Zelina. ia pun juga melepaskan peci dikepalanya. jantung keduanya semakin berdebar-debar, untuk kedua kalinya selama mereka menikah, malam itu keduanya akan merengguk indahnya ritual malam suami istri.
Fatahillah menggendong Zelina dan membaringkannya di atas ranjang. perlahan ia naik ke atas dan memeluk istrinya. Zelina pun membalas pelukan suaminya dengan erat.
Fatahillah menarik diri dan mengelus wajah Zelina dengan lembut. perlahan tapi pasti wajah Fatahillah semakin dekat dan kini bibir keduanya saling bertemu. Zelina mencengkram dada Fatahillah membuat Fatahillah refleks menarik diri dan meringis sakit.
"kenapa mas...?" Zelina bangun karena Fatahillah tiba-tiba melepaskan ciuman mereka
"kamu tunggu disini ya, aku mau ke dapur dulu ambil air minum"
"mas baik-baik saja....?"
"aku baik-baik saja, tunggu di sini ya"
Fatahillah mencium kening istrinya kemudian keluar kamar. tidak lupa ia membawa tasbih miliknya karena ada yang harus ia lakukan dengan tasbih itu. di dapur, Fatahillah mengobati lukanya hingga luka itu perlahan menghilang.
"huufffttt... untung Zelina belum melihatnya"
Fatahillah kembali mengambil air minum dan meneguknya dengan habis setelah itu ia kembali ke kamar. di dalam kamar Zelina sedang bersandar di kepala ranjang. melihat Fatahillah masuk, ia hendak turun dari ranjang namun Fatahillah melarang dan mendekati istrinya.
"mas kamu baik-baik saja kan...?" seakan tidak percaya kalau suaminya baik-baik saja, Zelina terus menanyakan hal itu
Fatahillah mengangguk kemudian menarik tengkuk Zelina dan mulai mencium bibirnya. Zelina pasrah apa yang dilakukan oleh suaminya kepadanya. malam itu, dengan keringat yang membasahi tubuh keduanya, malam itu menjadi malam kedua mereka bercampur merengguk cinta yang halal untuk dilakukan sepasang pasangan yang halal.
______________________________________
catatan :
jangan dibayangkan ya apa yang dilakukan Fatahillah dan Zelina karena aku nggak mau tanggung jawab 😁🤭
terimakasih untuk kalian semua yang selalu setia membaca Fatahillah. semoga kalian semua sehat walafiat, diberikan rejeki yang berlimpah dan jangan lupa berbagi.
salam hangat dari aku author Awan Biru....