
"ibu tidak mengenal mereka" ibu Khadijah hendak bangkit dari duduknya namun Fatahillah mencekal lengannya
"apakah ibu tau kalau wanita yang ada di foto ini pernah bertemu denganku"
wajah ibu Khadijah semakin tegang, bahkan kini Fatahillah dapat merasakan tangan ibunya yang begitu dingin seperti es.
"dia memanggil aku dengan sebutan nama Firdaus, dia menganggap aku sebagai anaknya setelah melihat tanda lahir aku di bahu kananku"
"kamu anak ibu, sampai kapanpun kamu adalah anak ibu" ibu Khadijah membentak Fatahillah membuat pemuda itu begitu terkejut dengan reaksi yang ibunya perlihatkan
setelah mengatakan itu, ibu Khadijah menghentakkan tangan Fatahillah agar terlepas dari lengannya kemudian ia melenggang pergi. baru saja membuka pintu, langkah ibu Khadijah terhenti karena perkataan Fatahillah.
"apa yang ibu sembunyikan dariku. kalau tidak ada apapun kenapa reaksi ibu berlebihan seperti itu"
ibu Khadijah mematung di tempatnya, bahkan tangannya yang hendak memegang handel pintu berhenti di udara.
Fatahillah mendekat dan memegang kedua bahu ibu Khadijah, ia memutar badan wanita itu agar dapat menghadap ke arahnya.
"pemilik cincin ini masih hidup bu, guru Halim bilang dia sedang menungguku untuk menyelamatkannya"
"H-Halim...?" mata ibu Khadijah membulat mendengarkan nama guru Fatahillah itu
"ibu mengenal guru Halim...?"
selama ini ibu Khadijah tidak pernah tau kalau Fatahillah mempunyai guru yang ternyata bernama Halim. Fatahillah hanya menjelaskan bahwa ia belajar ilmu beladiri dari seseorang yang bersedia mengajarkannya namun ia tidak memberitahu siapa orangnya karena itu adalah permintaan dari guru Halim sendiri. namun sekarang Fatahillah menyebut nama gurunya itu.
"aku tidak mengenalnya" ibu Khadijah menjawab dan hendak meninggalkan Fatahillah
"bu, kenapa ibu bersikap seperti ini. apa ada yang salah dengan pertanyaan ku...?"
bukannya menjawab, ibu Khadijah menepis kasar tangan Fatahillah dan pergi meninggalkannya. melihat perubahan sikap ibunya membuat Fatahillah mendesah berat dan memijit kepalanya yang mulai terasa pusing.
Hasan yang hendak akan ke dapur namun harus melewati kamar tersebut, melihat Fatahillah berpegangan di daun pintu. refleks ia berlari dan memegang tubuh Fatahillah agar tidak terjatuh.
"Fatah, kamu baik-baik saja...?" tanya Hasan
"aku baik-baik saja" Fatahillah mulai merasa tenang
"ada apa, kenapa kamu merasa kesakitan seperti itu...?"
"entahlah, tiba-tiba saja kepalaku sakit"
"kamu butuh istirahat kalau seperti itu. kamu pasti lelah apalagi kemarin sempat terluka, ayo aku bantu ke tempat tidur"
"aku baik-baik saja San. sebenarnya aku ingin meminta tolong kepadamu"
"meminta tolong apa...?"
Hasan membawa Fatahillah ke tempat tidur. lalu Fatahillah bersandar di kepala ranjang dan Hasan duduk di dekatnya.
"aku ingin meminta tolong, kamu membantuku menggeledah rumah pak Umar"
"hah...? kita mau ngerampok...?"
pertanyaan Hasan membuat Fatahillah mencebik dan menyoyor kepala pemuda itu.
"bukan merampok bodoh, aku ingin mencari mustika putih itu"
"ooo" bibir Hasan maju ke depan membentuk huruf o " bilang kek dari tadi, aku kiranya kamu mau merampok" lanjutnya lagi
"tapi kamu mau kan...?"
"sebaiknya kita minta izin sama pak Umar saja dulu, kalau nggak jelas perbuatan kita kita adalah hal yang salah. aku tidak mau menghianati pak Umar, bagaimanapun dia adalah orang tua aku semenjak aku mengenal beliau"
"tapi...apa pak Umar akan mengizinkan"
"kalau itu sih aku nggak tau. lagipula siapapun itu pastinya dia nggak mau rumahnya kita geledah. seperti pihak kepolisian saja"
"aku serius loh San"
"aku punya hal yang lebih serius"
"apaan...?"
"Yusuf akan menikah dengan Zulaikha"
"APA...?
tentu saja Fatahillah kaget bahkan Hasan menutup kupingnya akibat suara keras dari temannya itu.
"biasa aja kenapa sih, sakit nih kuping aku" Hasan menggerutu
"kamu dengar itu darimana, jangan nyebarin gosip murahan deh San, yang berkualitas dikit Napa"
"bahkan itu adalah berita yang berkualitas tas tas tas, menjadi tranding topik pembicaraan sekarang."
"siapa yang memberitahumu...?"
"Fauzan"
"mana Fauzan, akan aku hajar dia kalau beritanya bohong"
Fatahillah menyibakkan selimutnya dan bergegas keluar. Hasan pun tentu saja tidak ingin ketinggalan.
di dalam kamar ibu Khadijah sedang menatap foto seseorang, seorang anak kecil yang begitu terlihat manis dan ceria. anak itu memegang sebuah mainan kayu yang berbentuk senjata. anak itu digendong oleh seorang laki-laki yang berwajah penuh kebahagiaan, keduanya mengembangkan senyum dan melihat ke arah kamera.
"apa kalian bahagia di sana. kalian tau kalau ibu sangat rindu" ibu Khadijah mulai berkaca-kaca
ia mendekap foto itu dan mulai menangis dalam diam. entah siapa mereka tapi yang jelas ibu Khadijah benar-benar merasakan kesedihan yang mendalam saat melihat foto itu.
setelah perasaannya mulai membaik, ia menyimpan kembali foto itu di laci meja dan dirinya mulai menghapus air mata yang sejak tadi tumpah. kini ia teringat dengan perkataan putranya tadi, sekelabat ingatan mulai menghampiri kepalanya.
"apa benar Laila dan Amsar masih hidup" gumamnya
"tidak...tidak bisa, aku tidak akan pernah membiarkan Fatahillah untuk bertemu dengan mereka. Fatahillah anakku, hanya anakku"
dengan sorot mata penuh amarah, ibu Khadijah mengepalkan tangannya dan bahkan kini nafasnya terdengar memburu. kilasan peristiwa yang membuat ia seperti itu kini mulai menari-nari di kepalanya.
"astagfirullahaladzim.... astagfirullahaladzim"
sadar apa yang telah merasuki dirinya, ibu Khadijah mengucapkan istighfar berulang kali dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"ya Allah, apa yang harus aku lakukan. ampuni aku Allah, aku tidak bisa melupakan peristiwa itu" ibu Khadijah kembali terisak, bahunya naik turun
sementara itu di luar, Fatahillah sedang mencari Fauzan untuk menanyakan perihal yang dikatakan oleh Hasan. di ruang tengah ia melihat saudara pak Imam serta anak-anak mereka sedang bercerita bersama Zulaikha.
"cari siapa mas Fatah, kenapa celingukan seperti itu...?" tanya Hana, anak dari ibu Intan
ibu Intan mempunyai dua putri bernama Anjani dan Hana sementara saudara pak Imam yang laki-laki yang bernama Ilham, mempunyai seorang putri yang bernama Aminah. gadis itu juga sedang memperhatikan Fatahillah dan Hasan yang baru saja datang.
"apakah kalian melihat Fauzan...?" tanya Fatahillah
"dia izin pulang karena katanya ada sesuatu yang terjadi di kantor. namun dia akan datang jika sore nanti" Aminah menjawab
"lalu Yusuf...?" tanya Fatahillah lagi
"mas Yusuf ke rumah sakit mas. katanya ayah dari dokter Anisa sedang kritis" kali ini Zulaikha yang menjawab
dengan terburu-buru Fatahillah menarik tangan Hasan untuk menyusul Yusuf ke rumah sakit. sebelum pergi ia sempat berhenti dan memberitahu Zulaikha agar jika ibunya mencarinya maka gadis itu harus memberitahukan dimana ia pergi.
"ayo San, aku yang bawa mobil"
"NO" Hasan menolak tegas "aku nggak mau cari mati ya Fatah. kamu itu belum pulih, jangan ngada-ngada, bisa-bisa bukannya menjenguk orang sakit malah kita nanti yang masuk rumah sakit. biar aku saja yang menyetir"
Fatahillah mengalah, ia kemudian masuk di kabin depan samping Hasan. setelah menyalakan mesin mobil, Hasan mulai menjalankan mobil itu.
si rumah sakit, Anisa tidak hentinya menangis di depan ruang ICU sementara di dalam saat ini Yusuf sedang menangani ayahnya. bukannya tidak ingin menjadi dokter yang akan menangani ayahnya namun dari awal memang Yusuf lah yang bertanggung jawab dalam hal memeriksa pak Agung.
seorang wanita yang juga berprofesi sebagai dokter saat ini sedang menemani Anisa. dia adalah Aina, teman dokter Anisa.
"yang kuat Nis, berdoa kepada Tuhan agar ayah kamu bisa sembuh" Aina mengelus punggung Anisa yang saat ini sedang tertunduk lemah
"bagaimana kalau Tuhan mengambil ayah seperti dia mengambil ibu. apa aku akan sanggup menjalani hidup ini Ai"
"hei kenapa bicara seperti itu. masih ada aku, ada Yusuf yang selalu perhatian sama kamu. yang berpulang tetap akan berpulang Nis sementara kita yang di tinggalkan harus tetap menjalani hidup. banyak orang-orang diluar sana yang kehilangan anggota keluarga namun mereka tetap bertahan hidup karena kenapa, karena mereka tau semua manusia di dunia ini akan pulang kepada Tuhannya"
Aina memberitahu Anisa dengan nada lembut dan perhatian. ia tau Anisa tidak akan berpikir jernih jika sudah dalam keadaan seperti itu.
sudah berjam-jam Yusuf di dalam sana namun dokter itu belum juga kembali. kemudian dua wanita itu mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Aina mengangkat kepala untuk melihat, Fatahillah dan Hasan memenuhi ruang matanya.
"Nis" Fatahillah segera duduk di samping Anisa
"mas Fatah...hiks hiks" Anisa segera memeluk Fatahillah
Aina merasa lega karena Fatahillah datang. ia pun berpamitan untuk pergi karena harus melihat kondisi pasien yang ia tangani. setelah Aina pergi, Hasan duduk di dekat keduanya dengan sedikit jarak.
"apa yang terjadi dengan pak Agung...?" tanya Fatahillah
"ayah...ayah terkena serangan jantung dan akhirnya di larikan ke rumah sakit" Anisa terguguk di dada Fatahillah
Fatahillah menghela nafas berat. kenapa hari ini begitu berat cobaan yang harus ia alami. kehilangan saudara dan istrinya, kehilangan paman yang begitu baik untuk selamanya dan sekarang dirinya harus menyiapkan hati jika terjadi sesuatu dengan laki-laki baik yang telah menolong hidupnya.
tidak lama pintu ruangan ICU terbuka, Yusuf keluar dan seketika Anisa bangkit mendekati dokter itu.
"bagaimana ayah saya Yus, ayah baik-baik saja kan...?"
Yusuf menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan. ia kemudian memegang bahu Anisa.
"apapun yang terjadi nanti, kamu harus kuat Nis. sekarang masuklah, pak Agung ingin bertemu denganmu dan juga Fatahillah"
Fatahillah bangkit dai duduknya dan mendekati keduanya. ia pun menarik tangan Anisa untuk masuk ke dalam. di dalam ruangan itu, terlihat pak Agung terbaring dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya.
tubuh Anisa bergetar melihat keadaan ayahnya yang begitu menderita.
"ayah" Anisa memanggil lirih "ini Nisa yah, Anisa datang" ucapnya lagi, Fatahillah berdiri di samping Anisa
pelan pak Agung membuka mata, saat melihat putrinya ia pun tersenyum meski sebenarnya kaku.
"Anisa" suara pak Agung begitu lemah
"iya, ini Nisa" Anisa memegang tangan pak Agung dan membawanya di pipinya
"ayah akan pergi menyusul ibumu. semalam ayah bermimpi, ibumu datang untuk menjemput ayah" ucap pak Agung
Anisa menggeleng cepat dengan deraian air mata. siapa yang akan sanggup mendengar kata-kata itu jika kita berada di posisinya sekarang.
"bagaimana dengan Nisa jika ayah pergi. Nisa tidak punya siapa-siapa selain ayah"
pak Agung menghapus air mata putrinya kemudian matanya mengarah kepada pemuda yang kini sedang menatap ke arahnya.
"Fatah"
"iya pak, saya di sini"
"tolong jaga Anisa, hanya kamu yang saya percaya"
tidak dapat berkata-kata karena sesungguhnya Fatahillah berharap pak Agung masih bertahan. namun untuk melapangkan hati laki-laki baya itu, Fatahillah mengangguk sebagai jawaban.
"menikahlah dengan Anisa"
deg
deg
deg
seperti dihantam benda yang keras, Fatahillah tidak mampu untuk mengeluarkan suara. bahkan kini jantungnya berpacu lebih cepat, perkataan pak Agung adalah sesuatu hal yang sangat tidak mungkin untuk ia lakukan. tanpa ia sadar, rupanya pak Agung telah menyimpan tangannya di atas tangan Anisa.
"saya ingin melihat Kalian menikah sebelum saya pergi" ucap pak Agung
Fatahillah menutup mata mencoba mencari jalan keluar. bagaimana pun juga dirinya telah menikah dan saat ini istrinya sedang menunggu dirinya untuk menyelamatkannya.
Anisa menatap Fatahillah dengan penuh harap. ia hanya ingin mengabulkan keinginan ayahnya. namun siapa sangka, Fatahillah malah menarik tangannya.
"maafkan saya pak, saya tidak bisa. saya sudah menikah"
"aku tidak masalah jadi yang kedua mas, tapi tolong kabulkan permintaan ayah, aku mohon mas" Anisa memohon dan memegang tangan Fatahillah namun lagi-lagi Fatahillah melepaskan tangan diri dari Anisa
"hanya Zelina istriku satu-satunya, aku tidak berniat untuk mencari istri baru lagi" Fatahillah berucap tegas
aaaggghh
pak Agung teriak kesakitan dan memegang dadanya, tentu saja hal itu membuat Anisa dan Fatahillah panik. dengan cepat Anisa keluar dan memberitahu Yusuf. setelahnya mereka kembali masuk ke ruangan itu.
"sebaiknya kalian berdua keluar" ucap Yusuf
"Fatah tolong.... tolong kabulkan permintaan ayah. aku mohon Fatah" Anisa terguguk dan menangis melihat ayahnya di tangani oleh Yusuf
Fatahillah mengacak rambutnya dengan kasar, ia bahkan tidak sanggup melihat keadaan pak Agung. padahal Yusuf telah menyuruh keduanya untuk keluar namun mereka masih tidak bergeming di tempatnya.
setelah keadaannya kembali stabil, pak Agung ingin bertemu Anisa dan Fatahillah kembali. kedua orang itu mendekat ke arahnya. sementara kini Yusuf bersama dengan mereka di dalam ruangan itu.
"tolong kabulkan permintaan ku Fatah" ucap pak Agung dengan suara yang begitu lemah
(ya Allah...apa yang harus aku lakukan) Fatahillah benar-benar frustasi
"menikahlah dengan Anisa" lanjut pak Agung
Yusuf tentu saja kaget mendengar permintaan pak Agung. ia kemudian menatap kedua orang yang kini hanya diam tidak menjawab.
"aku takut Anisa akan sendirian jika aku pergi. setidaknya setelah menikah denganmu, Anisa akan mempunyai pelindung" ucap pak Agung
"aku bisa melindungi Anisa tanpa harus menikah dengannya pak. maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa" Fatahillah tetap menolak. bukannya tidak menghormati pak Agung hanya saja dirinya hanya mencintai istrinya dan tidak ingin menyakiti wanita itu
pak Agung menutup mata begitu lama, kemudian detak jantungnya mulai bermasalah, ia kembali kritis. Fatahillah dan Anisa keluar sementara Yusuf berusia kembali untuk menyadarkan pak Agung.
di luar Fatahillah meraup wajahnya dengan kasar, Anisa semakin terguguk menunggu kabar dari Yusuf. Hasan hanya diam tidak bersuara. hingga kemudian Yusuf keluar dari ruangan itu.
"Yus" panggil Anisa dengan lirih
Yusuf menggeleng memberikan jawaban, Anisa seketika jatuh ke lantai tidak sadarkan diri.